101 kutipan hadis para manusia suci Ahlul Bait as

“Tidak ada kebaikan sama sekali pada orang yang tidak berusaha keras mengumpulkan uang halal agar ia dapat menjaga harga dirinya dan membayar hutangnya dengannya.” – Imam Shadiq as, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 7, hadis 30

“Muslim adalah saudara Muslim. Tidak halal bagi Muslim untuk menjual sesuatu kepada saudaranya jika ada cacatnya kecuali ia menjelaskannya.” – Rasulullah saw, Kanz Ummal 4/59

“Dalam fitnah, jadilah seperti anak onta yang tidak memiliki punuk untuk ditunggangi dan susu untuk diperah.” – Imam Ali as, Nahjul balaghah, hal. 469

“Orang yang tidur di malam hari (kelelahan) setelah bekerja mencari nafkah halal, dia tidur dalam keadaan diampuni.” – Rasulullah saw, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 2, hadis 1

“Barang siapa mencari rizki halal untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya maka ia bagai orang yang berjihad di jalan Allah.” – Imam Musa Al-Kadhim as, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 3, hadis 7

“Tidak ada kebaikan sama sekali pada orang yang tidak berusaha keras mengumpulkan uang halal agar ia dapat menjaga harga dirinya lalu membayar hutangnya dengannya.” – Imam Shadiq as, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 7, hadis 30

“Saat Tuhan mencintai hamba-Nya, Ia menampakkan padanya betapa kotor dan buruk harta dunia lalu merendahkan angan-angannya. Namun jika Tuhan menginginkan keburukan untuknya, Ia tumbuhkan rasa cinta dunia di hatinya dan meninggikan angan-angannya.” – Imam Ali as, Ghurarul Hikam, jil. 3, hal. 166, hadis 4110

“Ibadah memiliki tujuh puluh bagian dan bagian yang terbaik adalah mencari nafkah dan rizki halal.” – Rasulullah saw, Tsawabul A’mal wa ‘Iqabuha, hal. 385, hadis 1

“Harta benda dunia adalah amanah Allah swt atas makhluk-Nya. Ia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk makan darinya secukupnya, minum darinya secukupnya, berpakaian darinya secukupnya, menikah dengan menggunakannya secukupnya, menaiki tunggangan sepantasnya, lalu selainnya diberikan kepada fakir miskin yang beriman. Maka barang siapa berlebihan dari batasnya, haram apa yang ia makan, yang ia minum, yang dia kenakan, yang ia nikahi dan yang ia tunggangi.” – Imam Shadiq as, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 16, hadis 74

“Dinar dan Dirham telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, begitu juga kalian nanti.” – Rasulullah saw, Al-Kafi, jil. 2, hal. 316 hadis 6

“Anak yang saleh adalah sekuntum bunga yang wangi dari bunga-bunga surga.” – Rasulullah saw, Al-Kafi, jil. 6, hal. 3

“Anak-anak perempuan adalah kebaikan dan anak-anak lelaki adalah nikmat. Adapun kebaikan, akan diberikan pahala karenanya. Sedangkan nikmat, akan dipertanyakan tentangnya.” – Imam Ja’far Shadiq as, Wasailus Syiah, jil. 15, hal. 104

Ketika Imam Ali putra Imam Husain as diberitahu tentang lahirnya sang anak, dia tidak bertanya apakah anak itu lelaki atau perempuan. Namun beliau bertanya, “Apakah anaknya sehat sempurna?” Lalu beliau bersyukur, “Puji syukur Tuhan yang tidak menciptakan anak yang kekurangan dariku.” – Wasailus Syiah, jil. 15, hal. 143

“Tidak ada susu yang diberikan kepada seorang anak yang lebih berkah (berbarokat) daripada susu sang ibu.” – Imam Ali as, Wasailus Syiah, jil 15, hal. 175

“Janganlah kalian lakukan perbuatan baik dengan tujuan riya’, dan juga jangan tinggalkan karena alasan malu.” – Rasulullah saw, Tuhaf Al-Uqul, hal. 85

“Bergegaslah kalian dalam melakukan pekerjaan baik, sebelum kalian di sibukan oleh pekerjaan yang lainnya.” – Imam Ali as, Tuhaf Al-Uqul, hal. 110

“Barang siapa yang di sibukan dengan pekerjaan yang tidak sesuai dan tidak bermanfaat maka ia akan kehilangan pekerjaan yang sesuai dan bermanfaat.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 10943

“Jauhilah sifat keras kepala, karena hal itu di awali dengan kebodohan dan diakhiri dengan penyesalan.” – Rasulullah saw, Tuhaf Al-’Uqûl, hal. 13

“Jangan kau katakan seluruh yang kau tahu, cukup dengan itu tanda kebodohanmu.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 4137

“Beruntunglah bagi orang yang sibuk dengan aibnya sendiri dari pada aib-aib orang lain.” – Imam Ali as, Nahj Al-Balâghah, hikmah ke-176

“Barang siapa yang mencari teman tanpa aib, maka ia tidak akan mendapatkan teman.” – Imam Ali as, Bihâr Al-Anwâr, jil. 71, hal. 282

“Berfikir sebelum bertindak itu dapat menjagamu dari penyesalan.” – Imam Ali as, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqih, jil. 4, hal. 388

“Sahabat itu bagaikan tambalan (pada pakaian), maka jadikanlah ia satu bagian denganmu.” – Imam Ali as, Uyun Al-Hikam wa Al-Mawa’idh, hal. 45

“Ada 3 hal yang menyebabkan cinta: Baik akhlaqnya, sopan dan tawadhu.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 5372

“Hendaknya kalian Saling memberi hadiah, karna hal itu dapat menghilangkan dendam.” – Rasulullah saw, Al-Kâfi, jil. 5, hal. 144

“Sebaik-baiknya ucapan ialah yang tidak membuat lelah dan nilainya tidak berkurang.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 4053

“Apabila salah satu di antara kalian mencintai sahabatnya atau saudaranya, maka beritahulah dia (ajari dia).” – Wasâil Al-Syi’ah, jil. 12, hal. 55

“Sesungguhnya paling bakhilnya manusia ialah orang yang bakhil dalam salam.” – Rasulullah saw, Wasâil Al-Syi’ah, jil. 12, hal. 61

“Keramahan adalah kebaikan yang tidak dilakukan dengan susah dan berat hati.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 9928

“Rendahkanlah diri kalian di hadapan orang yang kalian menuntut ilmu darinya.” – Imam Ja’far Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 1, hal. 36

“Ilmu tidak diperoleh dengan tanpa usaha.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 104

“Orang yang paling celaka adalah orang yang bodoh.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 1101

“Ilmu dan pengetahuan adalah akar segala kebaikan.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 17

“Nilai seseorang ada pada kepandaiannya, bukan pada paras wajahnya.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 10292

“Tidaklah lebih banyak pahala orang yang berjihad dan mati di jalan Allah dari orang yang mampu berbuat dosa namun menjaga diri untuk tak melakukannya. Orang yang seperti itu seakan-akan hampir seperti malaikat.” – Imam Ali as, Nahjul Balaghah, hikmah 474

“Allah swt maha penyayang dan Ia menyayangi hamba-Nya yang penyayang.” – Rasulullah saw, Al-Amali Syaikh Thusi, hal. 516

“Orang yang paling mirip denganku adalah orang yang paling baik akhlaknya.” – Rasulullah saw, Wasail Al-Syi’ah, jil. 2, hal. 151

“Menjaga kebersihan termasuk dari akhlak para nabi.” – Imam Ali Al-Ridha as, Tuhaf Al-‘Uqul, hal. 442

“Shalat adalah benteng dari serangan setan.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 3343

“Sebaik-baiknya orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” – Rasulullah saw, ‘Awali Al-La’aali, jil. 1, hal. 99

“Segala sesuatu berkurang dengan diinfaqkan (diberikan), kecuali ilmu.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 37

“Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” – Rasulullah saw, Tuhaf Al-‘Uqul, hal. 36

“Orang yang terburu-buru menjawab tak bakal mencapai jawaban yang benar.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 4216

“Pertanyaan yang baik (tepat) adalah separuh dari ilmu.” – Rasulullah saw, Kasyf Al-Ghummah, jil. 1, hal. 575

“Orang yang pemalu (malu bertanya) sedikit ilmunya.” – Imam Shadiq as, Al-Kafi, jil. 2, hal. 106

“Nilai seseorang seukuran ilmu yang dimilikinya.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 68

“Ucapkan salam sebelum berbicara.” – Imam Shadiq as, Jami’ Al-Akhbar, hal. 89

“Kebanyakan dari umatku memasuki surga karena: ketakwaan kepada Allah dan perangai yang baik.” – Rasulullah saw, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 100

“Barang siapa berbuat baik kepada keluarganya maka umurnya akan dipanjangkan.” – Imam Shadiq as,Al-Amâli, Syaikh Thusi, hal. 245

“Bangunnya seseorang di malam hari karena penyakit yang dideritanya pahalanya lebih banyak dari ibadah setahun.” – Imam Baqir as, Al-Kâfi, jil. 3, hal. 114

“Orang yang menutupi penyakitnya dari tabib sama dengan orang yang mengkhianati dirinya sendiri.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 11189

“Selama penyakitmu tak memaksamu untuk berbaring, janganlah kau baringkan dirimu di atas ranjang.” – Imam Ali as, Mustadrak Al-Wasail, jil. 2, hal. 72

“Kerjakanlah shalat malam, karena itu adalah sunah nabi kalian dan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian serta dapat menjauhkan penyakit dari tubuh kalian.” – Imam Shadiq as, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, jil. 1, hal. 472

“Berbuatlah untuk duniamu seakan engkau hidup selamanya dan berbuatlah untuk akheratmu seakan engkau mati esok.” – Rasulullah saw, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, Majmu’ah Warrâm, jil. 2, hal. 234

“Manusia hidup lebih panjang lebih dikarenakan kebaikan mereka daripada karena panjangnya umur mereka dan mereka cepat mati lebih dikarenakan dosa-dosa mereka daripada karena dekatnya ajal.” – Imam Shadiq as, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, Bihâr Al-Anwâr, jil. 5, hal. 140

“Kafarah (hukuman) untuk meramal dengan ramalan buruk adalah tawakal.” – Rasulullah saw, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, Al-Kâfi, jil. 8, hal. 198

“Berhati-hati dan waspada ada batasannya, yang jika batasan itu terlewati maka akan berubah menjadi sifat pengecut dan penakut.” – Imam Hasan Askari as, Bihâr Al-Anwâr, jil. 66, hal. 407

“Bagi kalian untuk memberi perhatian kepada anak-anak muda; karena mereka lebih bersemangat dan cepat dalam melakukan setiap kebaikan.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 8, hal. 93

“Barang siapa yang merasa cukup untuk duduk di belakang majlis (tidak di barisan paling depan) maka selama ia duduk hingga bangkit Allah serta malaikat-malaikat-Nya senantiasa mengucapkan salam sejahtera untuknya.” – Imam Shadiq as, Wasâil Al-Syi’ah, jil. 12, hal. 107

“Nasehat yang kau berikan di depan umum adalah pukulan.” – Imam Ali as, ‘Uyun Al-Hikam wa Al-Mawâ’idh, hal. 497

“Barang siapa tidak mau menerima maaf seseorang yang memohon maaf entah ia (yang meminta maaf) jujur atau tidak, maka ia takkan pernah mendapat syafa’atku.” – Rasulullah saw, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqih, jil. 4, hal. 353

“Barang siapa memberikan fatwa (aatau menghukumi sesuatu) tanpa didasari oleh ilmu, maka apa yang ia rusak dalam agama lebih bayak dari apa yang ia benahi.” – Rasulullah saw, Bihâr Al-Anwâr, jil. 2, hal. 118

“Banyak bicara membuat orang yang bijaksana tergelincir dan orang yang bersabar menjadi lelah.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 4101

“Beruntunglah orang yang menginfakkan hartanya yang berlebihan dan mencegah dirinya untuk berlebihan dalam berbicara.” – Imam Ali as, Wasâil Al-Syi’ah, jil. 15, hal. 284

“Katakanlah kepadanya bahwa jika ia berperilaku sesuai dengan yang kami perintahkan, dan meninggalkan hal-hal yang kami larang, maka ia termasuk dari golongan Syiah kami. Jika tidak, maka bukanlah ia termasuk dari syiah kami.” – Fathimah Azzahra as, Tafsir’e mansub be emam Hasane askari as. Hal. 308

“Anak yang saleh adalah bunga harum yang dibagikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.” – Rasulullah saw, Al-Kâfi, jil. 6, hal. 2.

“Sesungguhnya Allah mengasihi seorang hamba yang begitu mencintai anaknya.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 6, hal. 50.

“Tak ada sedikitpun kesusahan, kesedihan, kekhawatiran dan segala peristiwa yang menimpa seorang mukmin kecuali dengan itu Allah swt menghapus dosa-dosanya.” – Rasulullah saw, Tuhaf Al-Uqûl, hal. 38.”

“Tidak ada pemberi syafaat yang lebih berpengaruh di sisi Tuhan selain keridhaan sang suami terhadap istrinya.” – Imam Baqir as, Al-Khisâl, jil. 2, hal. 585.

“Sesungguhnya perangai yang buruk dapat merusak amal sebagaimana cuka merusak madu.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 321.

“Barang siapa membuat seorang mukmin bersedih lalu meskipun setelah itu ia memberinya seluruh isi dunia, hal itu tidak bisa menjadi penebusnya dan ia takkan diberi pahala karenanya.” – Rasulullah saw, Mustadrak Al-Wasâil, jil. 9, hal. 99.

“Ada tiga perkara yang mana jika ketiganya ada pada seseorang maka ia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat: Ridha terhadap qadha’, sabar atas bala’ dan syukur dalam keadaan leluasa.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 6283.

“Seorang mukmin saat melihat pahala dan ganjaran akhirat berharap andai doanya di dunia ini tidak terkabulkan.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 490.

“Pahala suatu amal perbuatan tergantung pada tingkat kesusahannya.” – Imam Shadiq as, Ghurar Al-Hikam, hadis 2946.

“Barang siapa mengucapkan belasungkawa kepada seorang ibu yang kehilangan anaknya, Allah akan meletakkannya di bawah bayangan ‘Arsy-Nya di hari dimana tak ada lagi bayangan selain milik-Nya.” – Imam Ali as, Al-Kâfi, jil. 3, hal. 227.

“Jenguklah orang yang tidak menjengukmu dan berilah hadiah orang yang tak memberi hadiah kepadamu.” – Imam Ali as, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, jil. 3, hal. 300.

“Sesungguhnya silaturrahmi dapat mensucikan amal, melipat gandakan harta kekayaan, memudahkan hisab, menolak bala’ dan menambah rizki.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 157.

“Dunia lebih sempit, lebih hina dan lebih tak berharga dari harus menuruti dendam dan kedengkian.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 2544.

“Seharusnya orang yang paling kau benci dan kau jauhi adalah orang yang suka memburu kesalahan orang lain.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 9601.

“Barang siapa yang menahan diri dari mencoreng kehormatan orang lain maka Allah swt akan melupakan ketergelincirannya kelak di hari kiamat.” – Imam Ali Zainal Abidin as, Bihâr Al-Anwâr, jil. 68, hal. 426.

“Barang siapa menggunjing seorang muslim atau muslimah maka Allah swt tidak akan menerima shalat dan puasanya selama empat puluh hari dan empat puluh malam kecuali orang yang digunjingnya memaafkannya.” – Rasulullah saw, Mustadrak Al-Wasa’il, jil. 7, hal. 322.

“Bukanlah Syiah kami orang yang mengaku dengan lidahnya namun bertentangan dengan perilaku dan perbuatan kami.” – Imam Shadiq as, Misykat Al-Anwar, hal. 70.

“Dasar keimanan adalah pasrah tunduk pada perintah Allah.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 1444.

“Orang yang beriman adalah orang yang jika marah amarahnya tidak mengeluarkannya dari jalan kebenaran dan jika senang kesenangannya tak memasukkannya ke dalam kebatilan.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 233.

“Orang yang beriman tidak selayaknya duduk di suatu majelis yang di dalamnya Allah swt dimaksiati dan ia tidak bisa merubahnya (membenahinya).” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 374.

“Selama engkau berada di jalan Allah, janganlah takut akan cemooh orang lain.” – Rasulullah saw, Wasâil Al-Syi’ah, jil. 15, hal. 289.

“Allah swt berkata: Wahai anak Adam, taatilah Aku dalam apa yang Kuperintahkan dan jangan kau ajari Aku tentang apa yang baik untukmu.” – Rasulullah saw, Al-Amâli, Syaikh Shaduq, hal. 320.

“Barang siapa mempersembahkan sebaik-baiknya ibadah kepada Allah swt, Ia akan menurunkan sebaik-baiknya kemaslahatan untuknya.” – Fathimah Azzahra as, Bihâr Al-Anwâr, jil. 68, hal. 184.

“Dengan iman, puncak kebahagiaan dan kegembiraan dapat digapai.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 1496.

“Jauh sekali jarak antara bermalas-malasan tanpa usaha dengan pencapaian kebahagiaan.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 7605.

“Jihad para wanita adalah upaya menjadi istri yang baik.” – Imam Kadhim as, Al-Kâfi, jil. 5, hal. 507.

“Bahagia dan berungtunglah wanita yang menghormati suaminya, tak menyakitinya dan mentaatinya di setiap keadaan.” – Imam Shadiq as, Wasâil Al-Syiah, jil. 16, hal. 280.

“Tak ada satu pasangan (yang berlomba dalam menyayangi) kecuali salah satunya lebih banyak pahalanya dan lebih dicintai Allah karena lebih besar kasih sayangnya.” – Rasulullah saw, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 120.

“Berberat hati dan terus mengungkit-ungkit dapat membuat kebaikan menjadi pahit.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 8923.

“Jika engkau diperlakukan dengan baik, sebutlah (bicarakanlah) kebaikanya itu. Namun jika engkau yang berbuat baik,  lupakanlah (jangan kau menyebutnya).” – Imam Ali as, Mustadrak Al-Wasâil, jil. 12, hal. 361.

“Terimakasihmu kepada orang yang ridha terhadapmu dapat menambah kesenangan dan keridhaannya. Begitu pula terimakasihmu kepada orang yang membencimu dapat menghilangkan kedengkiannya terhadapmu sehingga ia mencintaimu.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 6183-6198.

“Jangan banyak marah dan mencela, karena hal itu dapat membuahkan kedengkian dan berujung pada permusuhan.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 11007.

“Aib yang paling besar adalah mengkritik orang lain karena aib yang padahal juga ada padamu.” – Imam Ali as, Nahj Al-Balâghah, hikmah 353.

“Dengan percekcokan dan pertengkaran tiada tempat lagi untuk kasih sayang.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 7194.

“Barang siapa yang tidak menganggap banyak masak sebagai angin yang berlalu, maka ia akan merasa hidupnya gelap gulita.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 10375.

“Jauhilah perdebatan, karena akan menyibukkan hatimu, mewujudkan kemunafikan dan membawa kedengkian.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, Hal. 301.

Jika Muawiyah bejat, mengapa Imam Hasan as berdamai dengannya?

Jika Mu’awiyah adalah orang yang buruk, mengapa Hasan bin Ali memlih untuk berdamai dengannya?

Jawaban:

Pertanyaan ini adalah ulangan pertanyaan kedelapan dan tidak membutuhkan jawaban selain yang pernah diberikan sebelumnya. Namun di sini saya ingin memberikan sedikit tambahan:

  1. Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah orang pertama yang menyebarkan budaya mencaci sahabat dan meresmikannya. Ia adalah orang yang pernah mencaci khalifah masanya. Ketika ia mendengar bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash enggan untuk mencaci Ali bin Abi Thalib, ia bertanya padanya, “Mengapa engkau tidak mau mencaci Ali?” Ia menjawab, “Karena Ali memiliki tiga fadhilah (keutamaan) yang tidak dimiliki oleh orang selainnya dan aku ingin sekali memilikinya. Bagiku keutamaan itu lebih berharga dari harta apapun.”

Lalu Sa’ad bin Abi Waqqash menjelaskan tiga fadhilah tersebut yang secara singkatnya seperti ini:

  1. Dalam salah satu peperangan Rasulullah Saw tidak mengajaknya untuk ikut. Beliau memerintahkannya untuk menjadi wakilnya di Madinah. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau, “Apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak?” Rasulullah Saw menjawab, “Apakah engkau tidak rela dalam hubunganmu denganku untuk menjadi seperti Harun bagi Musa? Hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku.”
  2. Di saat perang Khaibar Rasulullah Saw berkata, “Esok aku akan memberikan bendera (untuk berperang) kepada seseorang yang mana ia mencintai Tuhan dan Rasul-Nya. Dan, Tuhan serta Rasul-Nya pun mencintainya.”

Kemudian setiap orang mengangkat kepalanya masing-masing dan berharap bendera akan diberikan kepadanya. Seraya memuji orang itu, Rasulullah Saw berkata, “Panggillah Ali.” Ali bin Abi Thalib datang sedang ia mengalami sakit mata. Rasulullah Saw mengusapkan air mulutnya ke mata Ali lalu penyakitnya sembuh. Beliau memberikan bendara kepadanya lalu Ali memenangkan benteng Khaibar.

  1. Saat ayat Mubahalah turun, kedua belah pihak (Rasulullah Saw dengan seorang yang menantangnya) berencana untuk membawa orang-orang terdekatnya masing-masing baik dari lelaki, perempuan dan anak-anak. Lalu di hari Mubahalah Rasulullah Saw membawa Ali, Fathimah, dan Hasan serta Husain. Lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku…”[1]

Kini kami bertanya, Orang yang mencela seorang sahabat seperti ini dan memaksa orang lain untuk mencelanya pula, apakah termasuk seorang Muslim?

Coba kita membaca tafsir Al Manar:

“Di Istanbul pernah diadakan suatu majlis pertemuan yang mana ada seorang pembesar dari Jerman di situ, begitu pula ada banyak para pembesar Makkah yang hadir. Ia berkata, “Bagi kami, bangsa Eropa, perlu untuk dibuat sebuah monumen berbentuk patung Mu’awiyah bin Abi Sufyan untuk dipajang di Berlin.”

Para hadirin bertanya, “Mengapa?”

“Karena ialah yang telah menjadikan pemerintahan Islam sebagai kerajaan. Jika tidak begitu, pasti Islam telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan bangsa Eropa pasti Muslim semuanya.”[2]

Ustad Bukhari, yakni Ishaq bin Rahwiyah berkata, “Tidak ada satupun hadits shahi mengenai Mu’awiyah.” Ia memiliki cara sendiri dalam membicarakan Mu’awiyah. Dalam kitabnya, ia tidak menulis “Bab Keutamaan Mu’awiyah”, namun menulis “Bab Mengenai Mu’awiyah”.

Menurut ungkapan Ahmad bin Hambal, “Karena musuh-musuh Ali tidak dapat menemukan aib dalam diri Ali (untuk dijadikan titik lemahnya), mereka sibuk mengada-ada dan mengarang keutamaan-keutamaan untuk Mu’awiyah. Padahal Mu’awiyah tidak memiliki keutamaan apapun.”[3]

[1] Shahih Muslim, bagian Keutamaan Sahabat, bab Keutamaan Ali, hadits 2404.

[2] Al Manar, jilid 11, halaman 260.

[3] Fathul Baari, bab Keutamaan-Keutamaan Sahabat, bagian Mu’awiyah.

Ikhtilaf umat Islam di bawah kepemimpinan Imam Ali as

Pada masa pemerintahan dua khalifah pertama, Islam mendapatkan kejayaan bermacam-macam seperti memenangkan negri-negri sebrang. Islam tidak mengalami kejayaan lain yang lebih besar dari masa itu. Namun di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib yang kalian anggap sebagai Imam maksum, umat Islam mengalami ikhtilaf di dalam.

Jawaban:

Jika anda menganggap keagungan pribadi seseorang ada pada luas kekuasannya secara geografi, maka sungguh Abu Bakar dan Umar lebih mulia dari nabi Muhammad Saw! Karena kekuatan yang dimiliki oleh Islam saat itu lebih kecil dari masa-masa pemerintahan dua khalifah pertama.

Apakah anda tidak salah mengatakan tidak ada masa Islam yang lebih berjaya dari masa itu? Jika yang anda tekankan adalah luasnya daerah kekuasaan Islam, di masa pemerintahan Harun Ar Rasyid, kekuasaan Islam lebih luas dari sebelumnya. Kalau begitu Harun seharusnya lebih tinggi dari semuanya, bahkan dari nabi!

Hal yang mungkin anda lupakan adalah, menyebarnya Islam dengan cepat bukanlah berkat pemerintahan dua khalifah itu; namun karena memang ajaran Islam mengandung pesan-pesan mulia yang dapat diterima semua orang.

Syi’ar “laa ilaaha illallah” (tiada Tuhan selain Allah) menyerukan teriakan keadilan sosial yang begitu menarik perhatian semua orang. Selain itu juga ada budaya Jihad dan Kesyahidan yang begitu berpengaruh dalam hal ini.

Ikhtilaf umat Islam di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib justru buah yang dihasilkan oleh kekhalifahan-kekhalifahan sebelumnya, khususnya khalifah ketiga yang mana ia telah menyebarkan hasrat kecintaan pada harta benda. Ulah khalifah ketiga lah yang membuat umat Islam berpecah belah. Karena Ali memaksa umatnya untuk kembali ke masa kenabian Rasulullah Saw, kaum pecinta dunia jelas menentangnya lalu dengan bantuan harta yang telah mereka timbun sebelumnya mereka bangkit berperang melawan Ali. Ali pun berdasarkan Al Qur’an dan perintah nabi dengan teguh memerangi mereka.[1]

Oleh karenanya itu ikhtilaf yang ada tidak bisa dinisbatkan kepada kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, namun karena didikan kekhilafahan sebelumnya yang membuat mereka enggan menerima pemerintahan Ilahi yang sebenarnya.

[1] Shahih Ibnu Hayyan, jilid 15, halaman 258; Mustadrak Al Hakim, jilid 3, halaman 122; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 17, halaman 360, hadits 11258.

Setelah Imam Ali as menjadi khalifah, mengapa…?

Setelah Ali bin Abi Thalib mencapai kekuasaan, mengapa:

1. Berkata bahwa sebaik-baik umat setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar.

2. Tidak meramaikan sunah nikah Mut’ah.

3. Tidak mengambil tanah Fadak.

4. Tidak menambahkan “mari bergegas pada sebaik-baiknya amal” (hayya ala khairil amal) pada adzan.

5. Tidak menghapuskan “shalat lebih baik daripada tidur” (asshalatu khairun minan naum) dari adzan.

6. Tidak menunjukkan Qur’an yang lain kepada masyarakat.

Jawaban:

Hendaknya saya bertanya pula mengenai bagaimana anda bisa mengatakan 6 hal di atas? Coba buktikan  terlebih dahulu kebenaran keenam hal di atas. Apakah dengan menyebutkan syubhat-syubhat tidak terbukti seperti di atas anda yakin dapat meyesatkan orang-orang Syiah (agar berpaling dari mazhabnya)?

Pertama:

Hadits yang berisi ucapan Imam Ali mengenai dua khalifah di atas adalah hadits palsu. Bukan hanya hadits itu saja yang termasuk hadits palsu yang diaku sebagai ucapan Ali bin Abi Thalib. Ada sekitar 36 hadits palsu sejenis hadits di atas mengenai keutamaan para khalifah yang mana kepalsuan hadits-hadits tersebut benar-benar dapat dirasakan dengan jelas. Untuk membaca lebih lanjut mengenai hal itu silahkan anda merujuk pada kitab Al Ghadir.[1]

Dari membaca hadits-hadits semacam itu, terasa seakan para pemalsu hadits terlalu berlebihan sehingga tergambar di benak kita bahwa Ali tidak memiliki pekerjaan lain selain memuji para khalifah. Jika memang Ali seperti itu mengagungkan para khalifah, lalu mengapa ia mengundur bai’atnya hingga enam bulan? Mengapa perempuan terbaik sedunia, yakni Fathimah Az Zahra tidak membai’at khalifah pertama dan tidak mau berbicara dengannya hingga mati sedang ia dalam keadaan marah dan tidak ridha terhadapnya?

Mengapa kita harus memaksakan diri menerima hadits palsu tersebut sedang kita harus melupakan khutbah Gharra’ yang mana para ulama telah membuktikan keshaihhannya? Yang mana beliau berkata:

“Demi Tuhan, Abu Bakar telah mengenakan pakaian kekhilafahan di tubuhnya. Sedangkan ia tahu dengan baik bahwa aku bagi pemerintahan Islami ini bagaikan poros bagi roda penggiling gandum.”[2]

Apa yang harus kita perbuat dengan ucapan Ali bin Abi Thalib yang lain seperti:

“Mereka menduduki kursi kekhilafahan begitu saja sedangkan aku disingkirkan darinya padahal aku memiliki hubungan yang paling dekat dengan Rasulullah.”[3]

Kedua:

Kurasa cukup kita mendengar ucapan Ali bin Abi Thalib mengenai nikah Mut’ah dan celaan beliau terhadap pelarangan Umar atasnya:

“Jika Umar tidak melarang Mut’ah, tidak akan ada orang yang berzina kecuali benar-benar orang yang celaka.”[4]

Salah satu hal yang paling jelas dalam sejarah bahwa para sahabat menekankan kehalalan nikah Mut’ah. Bahkan menurut apa yang ditukil oleh Dzahabi pun demikian.[5]

            Ketiga:

Mengenai tanah Fadak, tepatnya mengapa ia tidak mengambilnya, alasannya jelas; karena jika Ali bin Abi Thalib berusaha merebut kembali tanah Fadak di saat ia berkuasa, ia pasti dituduh sebagai pecinta dunia oleh kaki tangan khulafa sebelumnya. Beliau dalam suratnya yang ditujukan kepada Utsman bin Hanif menulis:

“Ya, di muka bumi ini waktu itu hanya Fadak yang tersisa untuk kami. Namun para penghasud merebutnya dan orang lain berlaga dermawan dengan membagikannya. Tuhan adalah sebaik-baik hakim. Apa urusanku kini dengan Fadak atau selainnya? Sedangkan tempat tinggal setiap orang di hari esok adalah kuburannya, yang mana dalam kegelapan kubur itu ia tidak lagi bisa merasakan kekayaannya dan semua orang melupakannya.”[6]

Penanya sepertinya belum pernah membaca sejarah tanah Fadak. Sepanjang masa kekhilafahan para Khulafa Rasyidin hingga era pemerintahan Ma’mun tanah Fadak telah berpindah tangan berkali-kali dan ujungnya dikembalikan kepada Ma’mun.

Untuk menyingkat tulisan ini, bagi yang ingin membaca lebih jauh mengenai tanah Fadak, silahkan merujuk kitab Furugh Al Wilayah.

Keempat:

Mengenai kalimat hayya ala khairil amal (mari kita bergegas pada sebaik-baiknya amal), saya pikir cukup saya isyarahkan pada perkataan salah satu teolog Asy’ari:

“Khalifah kedua naik ke atas mimbar dan berkata, “Aku mengharamkan tiga hal atas kalian. Siapapun yang melanggar akan mendapatkan hukuman keras: Nikah Mut’ah, Haji Tamattu’, dan Hayya ala khairil amal.”[7]

Halabi menulis:  “Ibnu Umar dan Imam Zainal Abidin menambahkan hayya ala khairil amal dalam adzan setelah hayya alal falah.”[8]

Sepanjang sejarah, menyebut hayya ala khairil amal dalam adzan merupakan simbol keSyiahan.

Abu Al Faraj Al Isfahani (356-284) menulis: “Ketika salah satu dari para Hasani memimpin di Madinah, Abdullah bin Hasan Afthas naik ke atas menara masjid dan memberi perintah kepada muadzin untuk menambahkan hayya ala khairil amal pada adzannya.”[9]

Adapun mengapa Ali bin Abi Thalib tidak menyemarakkan kebiasaan dalam beradzan itu, jawabannya jelas; karena ia di era pemerintahannya berhadapan dengan tiga kelomok: para pengingkar janji, kaum zalim, dan kaum khawarij.[10] Kondisi yang beliau alami lain sehingga hanya itu yang dapat beliau lakukan. Namun terbukti pada saat-saat tertentu beliau juga sering mencela bid’ah-bid’ah yang diciptakan oleh khalifah-khalifah sebelumnya. Salah satu bid’ah tersebut adalah shalat Terawih; yakni melakukan shalat Nafilah (shalat sunah) bulan Ramadhan dengan cara berjama’ah yang merupakan bid’ah khalifah kedua. Karena di zaman nabi sama sekali shalat nafilah Ramadhan tidak dilakukan seperti ini di masjid-masjid.[11]

Ketika Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah, penduduk Kufah memohon kepada beliau untuk menentukan Imam jama’ah shalat Terawih untuk mereka. Beliau menolak permintaan tersebut karena itu adalah bid’ah. Lalu sikapnya ditanggapi sebagai bentuk kebencian dan perlawanannya terhadap para khalifah sebelum. Selang beberapa saat terdengar teriakan di masjid-masjid “Wahai Umar… (sunahmu telah diinjak-injak-pent.)” Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku tidak mau menunjuk seorang Imam jama’ah, kalian sendiri silahkan tunjuk.”[12]

Menakjubkan sekali bahwa Umar bin Khattab menyebut bid’ah ini sebagai bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Apakah bid’ah dalam agama bisa disebut baik?

Sesungguhnya shalat nafilah bulan Ramadhan hendaknya dikerjakan sendiri-sendiri di rumah, bukan di masjid secara berjama’ah. Kita cukup dengan membaca hadits yang diriwayatkan dalah Shahih Muslim, yang mana Rasulullah Saw bersabda:

“Bagi kalian untuk shalat di rumah-rumah kalian. Karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib (shalat lima kali sehari, yang mana sangat dianjurkan untuk dikerjakan di masjid-pent.)”[13]

Untuk membaca lebih jauh silahkan anda merujuk pada kitab Al Inshaf fi Masailin Damin Fiha Al Ikhtilaf.[14]

Kelima:

Kalimat asshalatu khairun minan naum (shalat lebih baik daripada tidur) dalam adzan, menurut sebagian para muhaqiq (ahli tahqiq) adalah kalimat yang ditambahkan sendiri oleh Umar secara pribadi. Imam Malik dalam Al Muwatha’ berkata: “Muadzin Umar datang untuk mengajak Umar bin Khattab shalat. Saat itu Umar sedang tidur. Muadzin membangunkannya dengan berkata “Shalat lebih baik daripada tidur.” Umar senang dengan perkataan itu dan berkata pada muadzinnya untuk menambahkan kalimat tersebut dalam adzan Subuh.” [15]

Dalam kitab Al Inshaf disebutkan bahwa menambahkan kalimat tersebut telah menjadi kebiasaan umum.[16] Di sini saya terpaksa harus menjelaskan satu masalah mengenai adzan. Sesungguhnya setiap penggal dari kalimat-kalimat yang dikumandangkan dalam adzan merupakan syi’ar-syi’ar yang mengajak manusia untuk mengenal makrifat luhur Ilahi atau mengajak untuk menunaikan kewajiban-kewajiban penting agama. Kalimat “mari kita bergegas pada sebaik-baiknya amal” yang merupakan bagian dari adzan menjelaskan pada kita bahwa shalat adalah amal yang paling baik. Sedemikian dalam makna kalimat itu. Namun kalimat “shalat lebih baik dari tidur”, tidak lebih dari mengutamakan shalat dari tidur; dengan sedemikian dangkalnya makna yang dimiliki. Kalimat kedua hanya berguna untuk menurunkan arti dan nilai shalat.

Lebih dari itu, di manakah anda dapat menemukan orang berakal yang ragu dalam hatinya apakah shalat lebih baik dari tidur atau tidak? Apakah perlu kita naik ke atas menara dan meneriakkan bahwa shalat lebih baik dari tidur?

Keenam:

            Mengapa Ali bin Abi Thalib tidak menunjukkan Al Qur’an lain saat ia menjadi khalifah?

Pertanyaan ini hanya menunjukkan kebodohan si penanya. Al Qur’an yang sampai saat ini ada di tangan kita semua adalah Qur’an yang pernah dibacakan oleh Ali! Karena ‘Ashim dengan melalui satu perantara orang telah mempelajari Qira’ah (pembacaan) Qur’an dari Ali bin Abi Thalib.

Ya, dalam sebagian riwayat memang disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah menyusun Al Qur’an sesuai dengan urutan turunnya ayat dan surat; yang mana sama sekali tidak ada bedanya dengan Qur’an yang ada selain susunan urutannya saja!

[1] Al Ghadir, jilid 8, halaman 62054; Tadzkiratul Huffadz, jilid 1, halaman 77.

[2] Nahj Al Balaghah, khutbah ketiga; Syarah Nahj Al Balaghah, jilid 1, halaman 205.

[3] Nahj Al Balaghah, 162.

[4] Tafsir Thabari, jilid 5, halaman 9; Ad Durr Al Mantsur, jilid 2, halaman 140.

[5] Shahih Musliam, jilid 4, halaman 131, bab Nikah Mut’ah; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 2, halaman 95 dan jilid 4, halaman 436; Mizan Al I’tidal, jilid 2.

[6] Nahj Al Balaghah, surat ke 45.

[7] Syarah Tajrid Ghoushchi, halaman 484.

[8] Sirah Al Halabi, halaman 305.

[9] Maqatil Ath Thalibin, halaman 277.

[10] Nakitsin, Mariqin, dan Khawarij.

[11] Fath Al Bari Bisharhi Shahih Al Bukhari, jilid 4, halaman 250, hadits 2009 dan 2010.

[12] Tahdzib, jilid 3, bab Keutamaan Bulan Ramadhan, hadits 30; Al Kafi, jilid 4, halaman 154.

[13] Fath Al Bari, jilid 4, halaman 250, hadits 2010.

[14] Al Inshaf, halaman 383-422.

[15] Muwatha’, halaman 78, nomor 8.

[16] Al Inshaf, jilid 1, halaman 151-162.

Mengapa Imam Ali as sendiri membai’at Abu Bakar?

Ali sejak sebelumnya pasti tahu bahwa ia adalah khalifah Tuhan setelah nabi. Lalu mengapa ia membai’at Abu Bakar, Umar dan Utsman? Jika ia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka dia bukan khalifah Tuhan. Jika punya, mengapa tidak menggunakan kekuatan itu? Bukankah itu penghianatan? Apa jawaban anda?

Jawaban:

Dalam sejarah tidak pernah tercatat bahwa Ali bin Abi Thalib membai’at Umar dan Utsman. Karena kekhilafahan Umar bin Khattab telah ditentukan oleh Abu Bakar. Orang-orang banyak yang menanyai Abu Bakar, “Mengapa engkau memilih seseorang yang berwatak keras untuk menjadi khalifah? Kelak ia akan menjadi semakin keras dengan begitu. Apa yang akan kau jawab di hadapan Tuhan nanti karena telah menjadikan orang sepertinya sebagai khalifah kami?”

Abu Bakar menjawab mereka, “Jawabanku untuk Tuhan kelak adalah: Aku telah memilih orang terbaik untuk menjadi khalifah.”[1]

Begitupula kekhilafahan Utsman bin Affan, kekhalifahannya juga atas usaha Abdurrahman bin ‘Auf. Dengan demikian apa arti bai’at Ali bin Abi Thalib? Sama sekali mereka tidak membutuhkan bai’atnya untuk menjadi khalifah.

Lalu bagaimana anda menyatakan bahwa Ali membai’at mereka?

Adapun mengenai pembai’atan Ali bin Abi Thalib kepada Abu Bakar, dapat dikatakan bahwa menurut Syiah itu bukanlah bai’at. Adapun dalam versi Ahlu Sunah, Ali bin Abi Thalib membai’at Abu Bakar setelah enam bulan dan sepeninggal istrinya, Fathimah Az Zahra. Lalu dapat dipertanyakan mengapa Ali bin Abi Thalib mengulur waktu sedemikian lama untuk melakukan perbuatan yang benar (bai’at)? Anggap saja Ali bukan Washi nabi. Siapapun Ali meski ia bukan Washi nabi, tak dielakkan bahwa ia pun juga sahabat. Sedang jelas sahabat nabi seperti apa kedudukannya. Lalu mengapa sahabat nabi ini tidak langsung membai’at Abu Bakar begitu bai’atnya diminta? Apa alasannya? Bahkan istrinya, mengapa ia tidak membai’at Abu Bakar sama sekali sampai akhir hayatnya? Bukankah orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum membai’at (mengakui) Imam zamannya mati sebagai matinya orang jahil?[2]

Satu lagi, ungkapan penanya yang berbunyi: “Jika ia tidak punya kekuatan, maka ia bukan Khalifah.” Apakah ia mengira kekhilafahan adalah kedudukan yang dapat dicapai dengan pendapat masyarakat? Bagi kami kekhilafahan adalah kedudukan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kekhilafahan di mata kami tidak membutuhkan pendapat masyarakat sama sekali. Bagi kami sama seperti kenabian. Apakah menurut anda jika seorang nabi tidak memiliki kekuatan atau pengikut yang banyak maka ia bukan nabi?

[1] Al Kharaj, Abu Yusuf Baghdadi, halaman 100.

[2] Shaih Muslim, jilid 6, halaman 22; Sunan Baihaqi, jilid 8, halaman 156.

Apa maksud nama-nama seperti Abdul Husain?

Manusia hanya hamba Tuhannya. Namun mengapa sering terdengar di antara kalian ada yang bernama “Abdul Husain”, dan…?

Jawaban:

Penghambaan memiliki banyak makna yang berbeda:

  1. Penghambaan (‘Ubudiyah) yang menjadi lawan kata Ketuhanan (Uluhiyah):

Penghambaan ini berarti ke-dimiliki-an yang mencakup seluruh makhluk hidup. Yakni mereka semuah adalah milik Tuhan dan hamba-Nya. Karena Ia adalah pencipta seluruh makhluk. Penghambaan dalam artian seperti ini hanya untuk Allah Swt. Oleh karena itu kita memberi nama anak-anak kita seperti Abdullah (hamba Allah), dan lain sebagainya.

Mengenai penghambaan dalam artian ini, Allah Swt berfirman:

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”[1]

Ia juga berfirman:

“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,”[2]

  1. Penghambaan yang berarti keterkalahan:

Penghambaan seperti ini disebabkan oleh keterkalahan manusia oleh manusia lain dalam peperangan.

Islam menerima penghambaan atau lebih tepatnya perbudakan ini atas syarat-syarat tertentu yang hukum-hukumnya telah dijelaskan dalam Fiqih. Orang yang terkalahkan dalam peperangan dengan Muslimin, wewenang terhadapnya akan berada di tangan Hakim Syar’i secara total. Dan Hakim Syar’i pun dapat memilih satu dari tiga hal: Membebaskan tanpa menerima Gharamat (kompensasi), Membebaskan dengan mengambil Gharamat, atau menawannya.

Jika Hakim Syar’i memilih untuk menawannya, orang tersebut akan menjadi budak/hamba Muslimin. Oleh karena itu dalam kitab-kitab Fiqih kami ada bab khusus mengenai ‘Abid dan Ama’ (para budak).

Sebagai contoh, dalam Al Qur’an disebutkan:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”[3]

Dalam ayat tersebut Tuhan menganggap mereka sebagai para budak Muslimin. Kata “hamba” dalam ayat di atas tidak berarti “penghambaan terhadap Tuhan”.

  1. Penghambaan yang berarti mentaati:

Dalam referensi-referensi bahasa penghambaan juga memiliki makna seperti ini.[4]

Oleh karena itu, kata-kata seperti Abdul Rasul, Abdul Husain, dan sejenisnya, memiliki arti ketiga ini. Abdur Rasul dan Abdul Husain artinya “orang yang mentaati Rasul” dan “orang yang mentaati Husain.” Karena mentaati nabi dan Imam adalah wajib, jadi semua umat Islam harus mentaati mereka.

Allah Swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”[5]

Sesuai yang disebutkan dalam ayat tersebut, nabi disebut Mutha’ (yang ditaati) dan Muslimin sebagai Muthi’ (yang mentaati). Oleh karena itu, jika ada yang memberi nama anaknya seperti nama-nama di atas, itu bukan hanya tak elok, bahkan patut dipuji. Kami bangga menjadi orang-orang yang mentaati nabi dan Imam Husain.

Hanya sekedar mengingatkan, tidak ada kebertentangan antara penghambaan kepada Allah dengan penghambaan kepada nabi atau Imam. Karena penghambaan kepada nabi dan Imam adalah perintah Tuhan. Jika kita mentaati dan menghamba kepada mereka berarti kita juga mentaati dan menghamba kepada Tuhan. Hanya saja, menghamba kepada selain Allah tidak boleh dalam bentuk “menyembah” kepada mereka.

[1] Maryam, ayat 93.

[2] Maryam, ayat 30.

[3] An Nur, ayat 32.

[4] Lisan Al Arab, dan Qamus Al Muhith.

[5] An Nisa’, ayat 59.

Bukankah banyak riwayat Al-Kafi yang lemah?

Apakah kitab Al Kafi merupakan Syarah dan penafsir Al Qur’an? Padahal kebanyakan riwayat-riwayat Al Kafi adalah Dha’if (lemah).

Jawaban:

Trik mereka adalah menuduh, lalu mempertanyakan.

Pertama, atas dasar apa anda menyatakan bahwa kebanyakan riwayat-riwayat Al Kafi adalah Dha’if?

Riwayat-riwayat yang ada dalam Al Kafi ada empat macam:

  1. Shahih,
  2. Muwatsaq,
  3. Hasan,
  4. Dha’if.

Ketika Syiah sendiri telah membagi riwayat-riwayat penting mereka menjadi empat bagian seperti di atas, itu menunjukkan bahwa Syiah menerima realita yang ada mengenai riwayat-riwayat mereka. Karena bagi kami tidak ada satupun kitab yang Shahih selain Al Qur’an. Adapun kitab-kitab lainnya, kita perlu teliti dan membedahnya.

Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at Al ‘Uqul telah menentukan keempat macam riwayat tersebut.

Penyusun Al Kafi dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan tolak ukurnya dalam menimbang riwayat yang mana tolak ukur tersebut berasal dari para Imam:

“Coba sandingkan dengan Al Qur’an. Jika sesuaui dengan kandungan Al Qur’an, maka ambillah (riwayat itu). Namun jika bertentangan dengan Al Qur’an, maka tolaklah.”[1]

Namun kebalikannya, Ahlu Hadits dan para Salafi, mereka menganggap dari ujung ke ujung Shahih Bukhari dan Muslim semuanya Shahih. Dan akhirnya kini mereka kerepotan sendiri.

Kedua, mengenai Al Kafi adalah Syarah dan tafsir Al Qur’an, jika yang dimaksud adalah Al Kafi menjelaskan hukum-hukum shalat, puasa, zakat, haji dan jihad secara rinci, maka bukan hanya Al Kafi aja yang sedemikian rupa. Semua kitab-kitab riwayat kami juga seperti itu. Bahkan begitu pula seluruh Shihah dan Sunan milik Ahlu Sunah juga menafsirkan Al Qur’an sedemikian rupa. Namun jika yang dimaksud adalah, Al Kafi ditulis dengan tujuan menafsirkan Al Qur’an, dan susunannya adalah susunan tafsir, maka itu tidak betul.

Seperti apapun Al Kafi, kami tidak menganggap seluruh riwayatnya Shahih. Kami selalu memilah-milah riwayat, karena semuanya tidak sama. Kebalikannya, kaum Salafi menerima semua Khabar Wahid tidak hanya dalam masalah-masalah Fiqih saja, namun mereka menerimanya dalam dunia Amali dan bahkan perkara-perkara keyakinan atau Aqidah. Akhirnya mereka sendiri mengalami banyak masalah saat ini dalam dunia Aqidah.

Akhir-akhir ini di Madinah diadakan sebuah pertemuan dan pembahasan mengenai ke-Hujjah-an Khabar Wahid dalam perkara Aqidah. Kurang lebih seluruh pesertanya, yang mana kebanyakan adalah salafi, setuju dengan itu. Oleh karena itu Aqidah mereka berdiri atas dasar Khabar Wahid. Efeknya, mereka kini meyakini Tajsim, Tashbih, dan “keterpaksaan manusia dalam hidup”.

[1] Al Kafi, jlid 1, halaman 8.

Mengapa Imam Ali as diam saja saat Umar bin Khattab melarang nabi menulis wasiat?

Sesaat sebelum kepergian Rasulullah Saw ketika beliau meminta untuk dibawakan pena dan kertas agar dapat menuliskan wasiatnya, lalu Umar bin Khattab mencegahnya untuk menulis wasiat, mengapa Ali bin Abi Thalib diam saja?

Jawaban:

Mari kita simak apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas:

“Rasulullah Saw pada hari kamis, sesaat sebelum ia meninggalkan dunia fana ini, berkata: “Bawakanlah aku pena beserta tintanya agar aku dapat menuliskan sesuatu untuk kalian supaya kalian tidak akan tersesat setelahku.”[1] Namun sebagian dari orang-orang yang hadir di situ bangkit tidak setuju dengan penulisan wasiat itu. Umar bin Khattab berkata, “Rasa sakit begitu menguasai Rasulullah Saw.” Dalam riwayat lain ditukil bahwa ia berkata, “Rasulullah Saw telah mengigau.” Para sahabat bercekcok satu sama lain. Rasulullah Saw kesal atas itu dan berkata, “Keluarlah kalian semua. Tidak pantas kalian ribut di hadapan nabi.” Inilah musibah yang paling besar dalam Islam, yakni saat Rasulullah Saw dihalangi untuk menuliskan wasiatnya. Sampai-sampai dali balik tirai terdengar suara wanita-wanita berteriak mencela para sahabat yang mencegah penulisan wasiat itu.

Da dua pertanyaan di sini:

  1. Mengapa khalifah kedua menentang perintah nabi? Bukankah itu termasuk pembangkangan terhadap Rasulullah Saw? Al Qur’an menyebutkan:

            “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[2]

Bukankah mencegah nabi untuk menuliskan wasiatnya termasuk mendahului Allah dan Rasul-Nya?

  1. Mengapa Rasulullah Saw tidak jadi menuliskan wasiatnya? Jawabannya jelas; karena waktu beliau ingin menulis beliau dianggap mengigau, maka untuk apa menuliskannya? Jikapun beliau tetap menuliskan wasiatnya, kelak pasti dianggap wasiat tersebut igauan nabi. Kalau begini jangan-jangan Islam adalah igauan nabi?

Lalu untuk apa Ali diam saja? Jelas ketika nabi tidak jadi menuliskan wasiatnya, Ali hanya diam menuruti nabinya. Ia tidak akan melakukan hal lain yang menentang keputusan nabi.

Mungkin dengan pertanyaan ini si penanya ingin mencari titik kelemahan Syiah. Namun dengan adanya hadits di atas dan itu pun ditukil oleh Bukhari dalam Shahihnya di setiap jilidnya, itu merupakan pukulan balik terhadap ajaran Bani Umayah, plus, hadits-hadits tersebut mempertanyakan keadilan para sahabat nabi.

Meskipun nabi tidak jadi menuliskan wasiat, tak masalah. Karena secara tidak langsung wasiat tersebut telah sering sekali disampaikan sebelumnya. Contohnya saat beliau pergi ke masjid, beliau bersabda:

“Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian: Kitab Allah dan Itrah (Ahlul Bait) ku. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tak akan tersesat selamanya.”[3]

Dalam hadits di atas Rasulullah Saw juga menggunakan kata “tersesat” sama persis dengan apa yang ada pada hadits sebelumnya.

[1] Shahih Bukhari, hadits nomor 114, 3053, 3186, 4432, 5669, 7366.

[2] Al Hujurat, ayat 1.

[3] Sunan Tirmidzi, jilid 2, halaman 207; Musnad Ahmad, jilid 3, halaman 17, 26, 59, dan jilid 4 halaman 366 dan 371; Mustadrak Al Hakim, jilid 3, halaman 109; Kitab As Sunnah, halaman 629, hadits 1553.

Mengapa sahabat-sahabat nabi yang hadir di Ghadir Khum diam saja?

Mengapa sahabat-sahabat yang pernah hadir dalam peristiwa Ghadir dan juga membai’at Ali di hari itu kini tidak protes saat melihat kekhilafahan Ali dirampas oleh orang lain?

Jawaban:

Sepertinya penanya tidak pernah banyak membaca mengenai sejarah Islam. Dari mana ia tahu bahaw para sahabat tidak memprotes perampasan kekhilafahan itu?

Saya di sini tidak ingin menyebutkan terlalu banyak contoh; hanya beberapa saja perlu saya sebutkan.

Coba kita merujuk pada kitab Al Ghadir. Di situ ada 22 perdebatan para sahabat dan Tabi’in seputar masalah itu.[1]

Yang paling seru saat hubungan Mu’awiyah dengan ‘Amr bin ‘Ash mulai renggang. Putra ‘Ash saat menjawab surat Mu’awiyah berkata:

“Celaka engkau wahai Mu’awiyah… Sungguh Rasulullah Saw telah bersabda di hari Ghadir: “Barang siapa menjadikan aku sebagai walinya, maka jadikanlah Ali sebagai walinya. Ya Tuhan, sertailah orang yang menjadikannya wali dan musuhilah orang yang memusuhinya serta tolong orang yang menolongnya dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[2]

Tunggu sebentar, sepertinya dengan membaca pertanyaan penanya ini terlintas di pikiran saya bahwa dipikirnya sahabat tidak pernah berbuat salah dan suci dari dosa. Ia pikir semua sahabat pasti mentaati Rasulullah Saw. Padahal Rasulullah Saw di akhir hayatnya berkata, “Berilah aku pena dan kertas agar aku dapat menuliskan wasiat untuk kalian dan supaya kelak kalian tak akan tersesat.” Lalu sekelompok orang tidak menjalankan perintah Rasulullah Saw tersebut.[3]

[1] Al Ghadir, jilid 1, halaman 422-327.

[2] Manaqib Al Khwarazmi, halaman 199, hadits 240.

[3] Shahih Bukhari, hadits 114.