Sekilas Sejarah Imam Jawad as dan Tragedi Syahidnya Beliau

Imam ke-9 umat Islam Syi’ah adalah Imam Jawad as. Beliau lahir pada tahun 195 Hijiah di kota Madinah. Nama beliau adalah Muhammad, yang dikenal dengan Al-Jawad. Julukan-julukan lain beliau di antaranya adalah Al-Rodhi, At-Taqi dan Al-Muttaqi.

Imam Muhammad Jawad berusia 8 tahun saat ayahnya wafat di tahun 203 H. Sepeninggal sang ayah, yaitu Imam Ridha as, beliau yang mejadi Imam umat Islam Syi’ah.

Ma’mun si khalifah Bani Abbas, sebagaimana khalifah-khalifah sebelumnya, sangat mengkhawatirkan pengaruh spiritual para Imam Ma’shum as terhadap para pengikutnya. Oleh karena itu mereka sering berupaya mengawasi Aimah as dan bahkan bersiasat untuk menakhlukkan mereka.

Salah satu upaya yang dilakukan Ma’mun adalah menikahkan putrinya dengan Imam Jawad as.

Pernikahan beliau

Ma’mun menikahkan putrinya, Ummul Fadhl, dengan Imam Jawad as dengan niat agar putrinya bisa menjadi pengintai terhadap beliau yang barang kali juga bisa menakhlukkan beliau dari dalam rumah.

Alasan lain Ma’mun menikahkan putrinya dengan Imam Jawad as adalah untuk mengajak beliau bersepaham dengannya. Karena ia kira dengan cara itu Imam as akan terlena dengan harta dan kedudukan yang diberikan Ma’mun, lalu jika ia berhasil pasti martabat sang Imam as akan runtuh dan para pengikutnya akan bercerai berai.

Dengan cara itu pula Ma’mun berupaya mencegah kaum ‘Alawi agar tidak memberontak melawan pemerintahannya. Karena dengan alasan pernikahan itu Ma’mun merasa sebagai orang yang dekat dan dicintai oleh sang Imam as sehingga para pengikut Ahlul Bait as pun segan dengannya.

Para Imam suci as tahu dengan apa yang bakal terjadi di kemudian hari. Oleh karena itu yang mereka lakukan selalu berdasarkan perhitungan.

Dengan berbagai pertimbangan, Imam Jawad as bersedia menikahi putri Ma’mun. Salah satu alasannya adalah agar para pengikut beliau aman dari ancaman Ma’mun.

Namun bagaimanapun juga, Imam Jawad as selalu berhasil mengelak dari tiap tipu muslihat Ma’mun yang sudah direncanakan sebelumnya dan meski beliau menikahi putri Ma’mun, si Ma’mun tak kunjung juga berhasil menipu Imam Jawad as.

Masa kepempimpinan beliau

Imam Jawad as memimpin umat Islam Syiah selama 17 tahun bersamaa dengan masa-masa kekhalifahan Ma’mun.

Ketika Imam Ridha as dipanggil untuk menghadap Ma’mun dari kota Madinah menuju kota Thus (Masyhad yang saat ini di Iran), Imam Jawad as masih berusia anak-anak. Ia bersama anggota keluarga lainnya tetap tinggal di Madinah.

Pada tahun 202 H., Imam Jawad as pergi dari Madinah menuju kota Marv untuk menemui ayahnya, lalu kembali ke Madinah setelah itu.

Salah satu sifat yang paling dikenal dimiliki oleh Imam Jawad as adalah kedermawanannya.

Ibadah haji dan traged syahidnya beliau

Pada suatu hari Imam Jawad as pergi menunaikan ibadah Haji. Setelah itu beliau kembali ke Madinah. Selama Ma’mun kenjadi khalifah, beliau tinggal di kota itu.

Sepeninggal ma’mun, khalifah setelahnya yaitu Mu’tashim, pada tahun 220 H. ia memanggil Imam Jawad as untuk mendatangi kota Baghdad bersama istrinya, Ummul Fadhl.

Menurut berbagai riwayat, di tahun itulah Mu’tashim memerintahkan anak buahnya untuk meracuni Imam Jawad as.

Beliau wafat pada akhir bulan Dzul-Qa’dah tahun 220 H. dan makam beliau saat ini berada di kota Kadhimain, Iraq.

Sumber: Tabnak.ir

Imam Mahdi aj dan Dajjal di depan Ka’bah

Sayid Ibnu Thawus dalam kitab Iqbal meriwayatkan dari Aban bin Muhammad, bahwa pada suatu tahun Imam Shadiq as pergi menunaikan ibadah haji. Saat itu beliau berada di bawah Ka’bah berdoa. Abdullah bin Hasan di sisi kanan, Hasan bin Hasan di sisi kiri, dan Ja’far bin Hasan[1] berdiri di belakang beliau.

Pada waktu itu Ibad Abu Katsir Bashri memanggil Imam, “Wahai Abu Abdillah.”

Imam diam tidak menjawabnya.

Ibad tiga kali memanggil beliau seperti itu namun Imam tidak menjawab. Akhirnya Ibad memanggil beliau dengan menyebut nama, dan berkata, “Hai Ja’far!”

Imam pun menjawab, “Wahai Abu Katsir, apa yang kau inginkan? Katakan.”

Ibad berkata, “Aku memiliki sebuah kitab yang ditulis di dalamnya bahwa akan ada seorang yang bakal menghacurkan rumah Ka’bah.”

Beliau menjawab, “Abu Katsir, kitabmu berbohong. Demi Tuhan aku tahu orang yang kau maksud. Ia adalah Dajjal, kakinya berwarna kuning, betisnya terluka, lehernya kecil, kepalanya besar, berdiri di samping Rukun Yamani. Ia melarang semua orang bertawaf dan membubarkan mereka. Saat itu Allah swt akan mengutus seseorang dari keturunanku dan ia akan membinasakannya bagaikan kaum ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun.”

Sumber: Biharul Anwar, jil. 51, hal. 376.

Ahlolbait.com


[1] Ketiga orang itu adalah putra Hasan Al-Mutsanna putra Imam Hasan Al-Mujtaba as.

Cerita bertemunya Imam Zaman aj dengan tukang besi

Ada seorang ahli ilmu ghaib, berhasil mendapatkan ilham untuk mengetahui di mana ia bisa menemukan Imam Zaman aj, yang mana saat itu beliau berada di sebuah pasar. Ia pun bergegas menuju pasar itu.

Sesampai di tujuan, ia melihat seseorang yang menurutnya adalah Imam Zaman aj, ia berada bersama seorang pandai besi. Ia melihat si pandai besi itu sepertinya tidak tahu kalau ada Imam Zaman aj di dekatnya, seperti itu yang ia kira. Ternyata perkiraannya salah, karena tak lama kemudian bapak tua si pandai besi itu berkata kepada Imam Zaman aj, “Wahai putra Rasulullah saw, di sini panas sekali. Engkau ingin kubawakan air minum?”

Tak lama kemudian ada seorang wanita tua mendatangi pandai besi. Ia berkata kepadanya, “Anakku sakit. Aku perlu uang tujuh Dirham untuk membayar biaya pengobatannya. Aku hanya punya gembok ini yang tidak ada kuncinya. Di pasar ini tidak ada yang mau membelinya kecuali hanya seharga enam Dirham saja. Mohon belilah gembok ini dengan harga tujuh Dirham.”

Pak tua si pandai besi memeriksa gembok tersebut dan berkata, “Barangmu ini meski tidak ada kuncinya laku 10 Dirham. Jika kuncinya dibuat, bisa laku 12 Dirham. Mana yang kamu mau? Semuanya bisa saya lakukan.”

Akhirnya si nenek memilih untuk menjualnya kepada pandai besi. Pandai besi membayar 10 Dirham kepada nenek itu. Lalu Imam Zaman aj berkata kepadanya, “Tidak perlu kau bersusah payah mencariku dengan ilmu ghaibmu. Jika seorang Muslim berperilaku seperti pak tua ini, aku yang akan datang.”

ana.press

Imam Ali Ridha as dan orang yang meragukannya

Husain bin Umar bin Yazid dulunya termasuk orang yang hanya mempercayai Imamah hanya berlanjut sampai Imam Musa bin Ja’far Al-Kadhim as saja dan tidak mempercayai bahwa Imam Ali Ridha as sebagai Imam.

Suatu hari ia bercerita:

Pada suatu hari bersama ayahku kami mendatangi Imam Kadhim as. Ayahku menanyakan tujuh pertanyaan. Imam pun menjawab enam pertanyaan tersebut dan tidak menjawab yang ketujuh.

Selang beberapa masa, di hatiku aku berkata, aku akan menanyakan tujuh pertanyaan yang sama kepada Ali bin Musa Al-Ridha, jika ia bisa menjawabnya sama seperti ayahnya, aku mempercayainya sebagai Imam setelah ayahnya.

Akhirnya aku menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, dan beliau pun menjawabnya tepat seperti ayahnya. Begitu pula ia tidak menjawab pertanyaan ketujuh.

Lalu saat aku hendak berpamitan, beliau berkata kepadaku, “Setiap pengikut kami di dunia ini akan mengalami cobaan dan kesulitan; jika mereka sabar, Tuhan akan memberikan pahala ribuan syahid kepada mereka.”

Saat itu aku masih tidak faham dalam rangka apa beliau mengatakan hal itu.

Tak lama kemudian kakiku sakit dan penyakit itu sangat menyusahkanku. Sampai pada musim haji, waktu aku pergi haji aku pun bertemu Imam Ridha as. Akhirnya aku mengadukan penyakitku kepadanya dan memintanya berdoa untukku agar penyakitku segera sembuh.

Imam pun berdoa untuk kesembuhan kakiku. Ternyata tak lama kemudian kakiku benar-benar sembuh.[1]

Sumber: ahlolbait.com


[1] Bihar Al-Anwar, jil. 49, hal. 67, h. 88; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 248, h. 7.

Tragedi Syahidnya Imam Ja’far Shadiq as

Imam Ja’far Shadiq as diracun oleh kaki tangan Mansur Davaniqi hingga akhirnya beliau wafat pada tahun 148 Hijriah. Ada perbedaan riwayat mengenai tanggal berapa beliau wafat, ada yang bilang pertengahan bulan Rajab dan ada yang menyebutkan tanggal 25 Syawal. Beliau wafat pada usianya yang ke-65.

Ketika Mansur Davaniqi menjabat sebagai khalifah dan menyaksikan semakin bertambah banyaknya pegikut Imam Ja’far Shadiq as, ia sering mendatangkan Imam Ja’far Shadiq as ke istananya di Iraq dan sampai lima kali atau lebih beliau mau dibunuh. Tapi karena mukjizat yang disaksikannya, berkali-kali itu pula Mansur mengurungkan niatnya.

Syaikh Thusi meriwayatkan dari Salimah, budak Imam Shadiq as, ia berkata: Menjelang akhir hayatnya, aku bersama beliau. Saat itu beliau pingsan. Ketika sadar, beliau berkata kepadaku, “Berilah 70 koin emas keada Hasan bin Ali bin Ali bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib as yang dikenal dengan Aftas, berikan juga beberapa koin kepada beberapa orang lainnya.” Aku bertanya, “Apakah engkau memberi kepada orang yang pernah menyerangmu dengan pisau dan hendak membunuhmu?” Beliau menjawab, “Apakah engkau tidak ingin Allah menjadikanku orang terpuji karena silatur rahmi? Yang mana Allah swt berfirman:

وَ الَّذِین َ يَصِلُونَ ما اَمَرَاللهُ بِهِ اَن يُوصَلَ وَ يَخشَونَ رَبَهُّم وَ يَخافُونَ سُوءَ الحِسَابِ

“dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Ar Ra’d : 21)

Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai Salimah, ketahuilah bahwa Allah swt menciptakan surga yang wangi nan jauh di sana dan harumnya aroma surga itu bisa mencapai penciuman kita setelah dua ribu tahun. Aroma itu tidak akan pernah tercium oleh orang yang memutus hubungan kekeluargaan dan memotong tali silatur rahmi.”

Sumber: Ahlolbait.com

Harga gandum melambung tinggi

Pada suatu hari di Madinah harga gandum dan roti melambung tinggi. Semua orang mulai khawatir dan semampunya mereka membeli gandum untuk disimpan selama mungkin. Banyak juga orang yang tidak mampu dan mereka terpaksa membeli gandum dengan harga yang tinggi untuk kebutuhan sehari-hari.

Imam Shadiq as bertanya kepada suruhannya yang bernama Mu’attab, “Seberapa banyak gandum yang kita miliki?”

“Cukup untuk beberapa bulan,” katanya.

Imam Shadiq as berkata, “Jual gandum-gandum kita ke pasar semuanya.”

Mu’attab heran dan bertanya, “Wahai putra Rasulullah saw, bukankah gandum susah didapat di pasaran? Jika kita menjual gandum-gandum ini nanti kita akan kesusahan membelinya kembali.”

“Lakukan apa yang kuperintahkan,” kata Imam.

Mu’attab pun menjual gandum-gandum tersebut ke pasar dan pulang. Setelah itu Imam Shadiq as berkata, “Di rumah ini tidak boleh ada gandum dan roti yang harganya berbeda dengan gandum dan roti yang dibeli masyarakat dari pasar.”

– Biharul Anwar, jil. 11, hal. 121

Satu nasehat

Seseorang dari kalangan Anshar mendesak Rasulullah saw untuk mengatakan sepatah kalimat sebagai nasehat untuknya.

Rasulullah saw bertanya, “Jika aku katakan, apakah kau akan mengerjakannya?”

Lelaki itu berkata, “Tentu wahai Rasulullah saw.”

Beliau bertanya seperti itu sampai tiga kali dan lelaki Anshar menjawabnya dengan jawaban yang sama.

Akhirnya Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau hendak mengerjakan sesuatu, maka pertimbangkanlah akibatnya. Jika akibatnya baik maka bertekatlah untuk mengerjakannya. Namun jika akibatnya buruk maka tinggalkanlah.”

– Wasail Syiah, jil. 2, hal. 457

 

Mengumpulkan ranting di padang pasir

Pada salah satu perjalanannya bersama beberapa sahabatnya, Rasulullah saw singgah di suatu tempat yang tandus gersang. Mereka butuh menyalakan api, oleh karena itu mereka harus mencari kayu dan ranting-ranting di sekitar mereka. Setiap orang berpencar dan mulai mengumpulkan ranting-ranting kecil.

Karena susah dan jarang sekali ditemukan, mulanya ranting-ranting dan kayu yang mereka dapatkan terlihat tak berguna. Namun akhirnya setelah sekian lama mereka terus mencari terkumpullah kayu dan ranting yang banyak sekali sehingga bisa mereka bakar malam itu.

Melihat fenomena itu, Rasulullah saw bersabda kepada mereka, “Begitulah dosa-dosa yang kadang kita remehkan. Suatu saat dosa-dosa yang remeh akan dikumpulkan menjadi tumpukan dosa yang sangat besar.”

– Wasail Syiah, jil. 2, hal. 462

Pesan terakhir

Ummu Hamidah, ibu Imam Kadhim as dan istri Imam Shadiq as, tengah dirundung duka karena kehilangan suaminya.

Abu Bashir salah satu satu sahabat saat itu datang untuk berbela sungkawa atas kepergian Imam Shadiq as. Ummu Hamidah berkata kepada Abu Bashir, “Engkau tidak ada saat beliau memejamkan mata untuk terakhir kalinya. Saat itu ia menyampaikan pesan terakhirnya yang sangat penting.”

Abu Bashir menanyakan pesan apakah itu yang sepertinya penting sekali? Ummu Hamidah menceritakan, “Saat itu kedua mata Imam terpejam dan kami sangat mengkawatirkannya. Tiba-tiba ia membuka mata dan berkata agar semua anggota keluarga berkumpul. Kami bergegas mengumpulkan semua sanak keluarga dan kami bersiap-siap mendengarkan pesan pentingnya. Ketika beliau melihat kami sudah berkumpul, beliau berkata, ‘Syafaat kami tidak akan sampai kepada orang-orang yang menganggap remeh sholatnya.’.”

– Biharul Anwar, jil. 11, hal. 105