Mengenal Siapa itu Fathimah Ma’shumah

Fathimah yang terkenal dengan Fathimah Ma’shumah adalah putri Imam Musa Al-Kadhim as, saudari Imam Ali Ridha as. Ia pergi ke Iran untuk menemui saudaranya, Imam Ridha as, lalu di tengah-tengah perjalanannya ia jatuh sakit dan wafat di kota Qom, dan akhirnya ia dimakamkan di kota itu. Dalam referensi-referensi sejarah kuno tidak banyak dijelaskan mengenai kehidupan beliau, termasuk tanggal lahir dan juga tanggal wafat beliau.

Umat Islam Syiah sangat mengagungkan Fathimah Ma’shumah dan meyakini keutamaan ziarahnya. Banyak sekali riwayat yang dinukil mengenai keutamaan menziarahi Fathimah Ma’shumah dan juga syafaatnya kepada umat Islam, yang mana surga adalah ganjaran ziarah itu. Bahkan disebutkan dalam kitab-kitab riwayat bahwa, Fathimah Ma’shumah adalah satu-satunya wanita setelah Fathimah Azzahra as yang mana doa ziarahnya dinukil langsung dari Imam Ahlul Bait as.

Sedikitya informasi sejarah mengenai beliau

Dzabihullah Mahallati dalam kitab Rayahin Al-Syari’ah mengatakan bahwa tidak banyak informasi sejarah yang tercatat mengenai beliau, termasuk tanggal lahir, wafat, umur dan kapan beliau berangkat dari madinah menuju Iran. Bahkan juga tidak diketahui apakah beliau wafat sebelum wafatnya Imam Ridha as ataukah sesudahnya.[1]

Garis keturunan

Fathimah Ma’shumah adalah putri Imam Kadhim as, putri Imam Ridha as. Syaikh Mufid dalam kitab Al-Irsyad menyebutkan adanya dua anak perempuan dari Imam Kadhim as yang dikenal dengan Fathimah Kubro dan Fathimah Sughro, tapi tidak jelas yang manakah Fathimah Ma’shumah.[2]

Ibnu Jauzi yang termasuk ulama Ahlu Sunah di Abad ke-6 Hijriah menyebutkan adanya 4 anak perempuan di antara anak-anak Imam Kadhim as yang bernama Fathimah; namun ia juga tidak menyebutkan yang mana yang disebut Fathimah Ma’shumah.[3] Menurut Muhammad bin Jarir Thabari Saghir, penulis Dalailul Imamah, nama ibu Fathimah Ma’shumah adalah Najmah Khatun, yang juga merupakan ibu Imam Ridha as.[4]

Tanggal lahir dan wafat

Dalam referensi-referensi kuno Syiah tidak pernah disebutkan sejarah dan tanggal lahir Fathimah Ma’shumah. Menurut Redha Ustadi, kitab yang paling pertama yang menyinggung tanggal lahir dan wafat beliau adalah kitab Nurul Afaq tulisan Jawad Syah Abdul Azim[5] yang terbit pada tahun 1344 Hijriah.[6] Dalam kitab itu disebutkan tanggal lahir Fathimah Ma’shumah adalah 1 Dzulqa’dah tahun 173 Hijriah dan tanggal wafat beliau 10 Rabi’ul Tsani tahun 201 Hijriah. Lalu setelah kitab itu, kitab-kitab lainnya menyebutkan hal yang sama merujuk ke kitab tersebut.[7] Oleh karena itu dalam penanggalan resmi Iran (sebagai penghormatan kepada Fathimah Ma’shumah) hari pertama bulan Dzulqa’dah ditetapkan sebagai Hari Anak Perempuan Nasional. Sebagian ulama seperti Ayatullah Mar’asyi Najafi, Ayatullah Syubairi Zanjani, Ridha Ustadi dan Dzabihullah Mahallati menentang pendapat tersebut dan menganggap tanggal-tanggal tersebut dibuat-buat.

Julukan-julukan beliau

Beliau dikenal dengan julukan Ma’shumah dan Karimah Ahlul Bait.[8] Disebutkan bahwa julukan “Ma’shumah” diambil dari sebuah riwayat dari Imam Ridha as.[9] Dalam riwayat yang ditulis oleh Allamah Muhammad Baqir Majlisi dalam kitab Zadul Ma’ad dikatakan bahwa Imam Ridha as mengenang beliau dengan sebutan Ma’shumah.[10]

Fathimah Ma’shumah juga dikenal dengan Karimah Ahlul Bait.[11] Julukan ini dipercaya berkaitan dengan mimpi Sayid Mahmud Mar’asyi Najafi, ayah dari Ayatullah Mar’asyi Najafi, yang mana ia pernah bermimpi salah satu Imam Ahlul Bait as menyebut Fathimah Ma’shumah dengan sebutan Karimah Ahlul Bait.

Pernikahan

Kitab Rayahin Al-Syari’ah juga tidak menyinggung pernikahan beliau, apakah beliau pernah menikah atau tidak dan apakah beliau punya anak.[12] Namun meski demikian, yang masyhur diyakini saat ini adalah bahwa beliau tidak pernah menikah.[13] Ada beberapa alasan yang disebutkan sebagai bukti bahwa beliau belum menikah, misalnya Ya’qubi menulis bahwa Imam Kadhim as berwasiat kepada putri-putrinya agar tidak menikah.[14] Namun pendapat tersebut ditentang dan mereka mengatakan bahwa wasiat seperti itu tidak pernah disebutkan dalam wasiat-wasiat yang diriwayatkan oleh Kulaini dari Imam Kadhim as dalam kitab Al-Kafi.[15] Alasan lainnya seperti tidak ditemukannya orang yang sepadan untuk menjadi suaminya.[16]

Perjalanan ke Iran dan tiba di kota Qom hingga wafat

Menurut kitab Tarikh e Qom, Fathimah Ma’shumah berangkat dari Madinah menuju Iran pada tahun 201 Hijriah untuk menemui saudaranya, yaitu Imam Ali Ridha as. Namun di perjalanan beliau sakit lalu wafat.[17] Menurut yang dipercayai Sayid Ja’far Murtadha Amuli, beliau wafat di daerah Saweh karena diracun.[18]

Mengenai bagaimana beliau dimakamkan di kota Qom ada dua pendapat, yang pertama dikatakan bahwa saat beliau sakit di daerah Saweh beliau meminta orang-orang di sekitarnya untuk membawanya ke kota Qom. Menurut pendapat kedua, orang-orang Qom yang meminta beliau untuk datang ke kota itu. [19]

Di kota Qom, Fathimah Ma’shumah tinggal di rumah seseorang yang bernama Musa bin Kazraj Asy’ari dan setelah tinggal di situ selama 17 hari beliau wafat. Jenazah beliau pun dimakamkan di pekuburan yang saat itu dikenal dengan Babelan. [20]

Kedudukan beliau bagi umat Syiah

Ulama Syiah sangat mengagungkan Fathimah Ma’shumah dan banyak riwayat yang menyebutkan fadhilah dan keutamaan menziarahi beliau. Allamah Majlisi dalam kitab Biharul Anwar meriwayatkan sebuah hadis dari Imam Ja’far Shadiq as, yang mana berdasarkan riwayat tersebut, pengikut Ahlul Bait as dengan syafa’at Fathimah Ma’sumah dapat masuk surga.[21]

Syusytari dalam Qamus Al-Rijal menulis: Di antara anak-anak Imam Musa Al-Kadhim as, tidak ada yang sebanding dengan Fathimah Ma’shumah.[22] Syaikh Abbas Qumi juga menyebut Fathimah Ma’shumah sebagai putri terbaik Imam Musa bin Ja’far as.[23]

Berdasarkan riwayat dari Imam Shadiq as, Imam Kadhim as dan Imam Jawad as, surga adalah ganjaran orang yang menziarahi Fathimah Ma’shumah.[24] Namun dalam riwayat lain dinyatakan bahwa balasan surga itu hanya didapat oleh orang yang menziarahi beliau dengan penuh makrifat dan keyakinan yang benar.[25]

Riwayat mengenai doa ziarah beliau

Allamah Majlisi dalam kitab-kitabnya Zad Al-Ma’ad, Bihar Al-Anwar dan Tuhfah Al-Zair meriwayatkan doa ziarah yang dinukil dari Imam Ridha as untuk Fathimah Ma’shumah.[26]

Sampai saat ini diyakini bahwa di kalangan para wanita, hanya Fathimah Azzahra as dan Fathimah Ma’shumah saja yang doa-doa ziarah mereka diriwayatkan secara langsung dari Imam Ahlul bait as.[27]


[1] Mahalati, Rayahin Al-Syariah, jil. 5, hal. 31.

[2] Mufid, Al-Irsyad, jil. 2, hal. 244.

[3] Ibnu Jauzi, Tadzikratul Khowash, hal. 315.

[4] Thabari, Dalailul Imamah, hal. 309.

[5] Ustadi, Ashanai ba Hazrat Abdol Azim wa Masader e Syarh e Hal e U, hal. 301.

[6] Ibid, hal. 397.

[7] Ibid, hal. 301.

[8] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 23 dan 41; Asgharinejad, Nazari bar Asomi wa Alqob e Hazrat Masumeh.

[9] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 29.

[10] Majlisi, Zadul Ma’ad, hal. 547.

[11] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 41.

[12] Mahalati, Rayahin Al-Syari’ah, jil. 5, hal. 31.

[13] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 150.

[14] Ya’qubi, Tarikh Al-Ya’qubi, jil 2, hal. 361.

[15] Qureshi, Hayatul Imam Musa bin Ja’far, jil. 2, hal. 497.

[16] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 151.

[17] Qomi, Tarikh e Qom, hal. 213.

[18] Amuli, Hayatus Siyasiyah Lil Imam Ridha as, jil. 1, hal. 428.

[19] Ibid.

[20] Ibid.

[21] Majlisi, Biharul Anwar, jil. 99, hal. 267.

[22] Syusytari, Tawarikh Al-Nabi wa Al-Aal, hal. 64.

[23] Qumi, Muntaha Al-Aamaal, jil. 2, hal. 378.

[24] Kamil Al-Ziyarat, hal. 536; Majlisi, Bihar Al-Anwar, jil. 99, hal. 265.

[25] Majlisi, Bihar Al-Anwar, jil. 99, hal. 266.

[26] Majlisi, Zad Al-Ma’ad, hal. 548; Majlisi, Bihar Al-Anwar, jil. 99, hal. 266; Majlisi, Tuhfah Al-Zair, hal. 4.

[27] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 126.

Referensi: WikiShia

Peran luar biasa kaum perempuan dalam masyarakat menurut Imam Khumaini

Imam Khumaini dalam salah satu ceramahnya pernah berkata, “Baik dan buruknya sebuah komunitas masyarakat tergantung dengan baik dan buruknya kaum perempuan di dalam mereka. Kaum perempuan adalah satu-satunya kaum yang bisa mempersembahkan individu-individu terbaik kepada sebuah masyarakat. Berkat keberadaan merekalah, tidak hanya seseorang, masyarakat seutuhnya pun dapat diarahkan menuju nilai-nilai luhur manusiawi. Begitu juga sebaliknya.”[1]

Pada kesempatan lainnya beliau juga mengatakan, “Orang yang bisa mendidik umat manusia adalah perempuan. Kebahagiaan dan kesengsaraan sebuah umat tergantung pada bagaimana kaum perempuannya. Dengan caranya yang baik mendidik anak, kaum perempuan dapat memakmurkan sebuah negara.”[2]


[1] Pesan Imam Khumaini di hari 25/1/69

[2] Ceramah di Qom, 17/12/57, kitab Sima ye Zan dar Kalam e Emam Khomaini

Sumber: hawzah.net

Benarkah Ziarah Syah Abdul Adzim Hasani Menyamai Ziarah Imam Husain as?

Banyak sekali riwayat Ahlul Bait as yang mejelaskan bahwa pahala menziarahi Syah Abdul Adzim Hasani menyamai pahala menziarahi Imam Husain as di Karbala. Benarkah demikian?

Memang betul, banyak riwayat yang menyatakan hal itu.[1] Dalam teks doa ziarah Syah Abdul Adzim Hasani pun disebutkan ungkapan-ungkapan yang mengindikasikan hal itu, seperti ungkapan di bawah ini:

السّلامُ عَلَیک یا مَنْ بِزِیارَتِهِ ثَوابُ زِیارَةِ سَیدِ الْشّهَدآءِ یرْتَجی

“Salam atasmu wahai yang semua orang mendambakan pahala ziarah Imam Husain as dengan menziarahimu.”[2]

Muhaddis Qummi dalam menjelaskan siapa itu Abdul Adzim Hasani mengatakan: Ia memiliki kedudukan dan martabat tinggi, dan hal itu lebih jelas dari jelasnya keberadaan matahari. Beliau adalah keturunan suci Rasulullah saw dan termasuk ahli hadis dan perawi riwayat-riwayat Syiah, ulama dan hamba Allah yang saleh serta zuhud. Beliau dikenal dengan sifat wara’, taqwa dan termasuk golongan para sahabat Imam Jawad serta Imam Hadi as. Beliau meriwayatkan banyak hadis dari kedua Imam tersebut.

Imam Hadi as pernah mendoakan beliau agar mendapatkan ketegaran hati dan langkah dalam agama di dunia dan akherat. Jika kita ingin melihat sapa saja para pengikut sejati Rasulullah saw dan Ahlul Bait as, beliau adalah salah satu yang terbaik. Beliau termasuk para pewaris dan khalifah penerus Rasulullah saw.

Saat Rasulullah saw ditanya, wahai Rasulullah saw, siapakah para penerus dan khalifahmu? Beliau mejawab: Mereka adalah orang-orang yang dating setelahku, meriwayatkan hadis-hadis dan sunahku. Para khalifah dan pewaris nabi adalah orang-orang yang menghidupkan sunah dan ajaran Ilahi.

Oleh karena itu mengharapkan pahala ziarah Imam Husain as dengan cara menziarahi Syah Abdul Adzim Hasani bukanlah hal yang mustahil. Karena kedudakannya adalah kedudukan pengganti Nabi dan para Imam.

Dalam teks doa ziarah beliau juga disebutkan ungkapan ini:

اَلسّلامُ عَلَی الْعَبْدِ الصّالِحِ الْمُطیعِ للّهِ رَبّ الْعالَمینَ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَمیرِ الْمُؤْمِنینَ

“Salam atasmu wahai hamba saleh yang mentaati Allah swt Tuhan Semesta Alam dan Rasulnya serta Amirul Mukminin.”

Salah satu kemiripan kriteria antara beliau dengan Imam Husain as adalah di tempat beliau berpijak nama Rasulullah saw dan ajaran Ahlul Bait as hidup dikenal.

Abdul Adzim Hasani lahir pada tahun 173 Hijriah di zaman Imam Musa Kadhim as di kota Madinah. Ayahnya adalah Abdullah dan ibunya adalah Fathimah. Istri beliau bernama Khadijah putri Qasim bin Hasan bin Zayd bin Imam Hasan Al Mujtaba as.

Abdul Adzim setelah memasuki kota Ray (sebuah daerah di kota Tehran saat ini) hidup secara sembunyi-sembunyi di rumah salah satu pengikut Ahlul Bait di kota itu. Tak lama kemudian beliau jatuh sakit dan wafat pada tahun 252 Hijriah di zaman Imam Hadi as.

Untuk membuka peta lokasi makam beliau, klik di sini.

Sumber: Hauzah.net


[1] Hurr Amili, Wasail Syiah, jil. 14, hal. 575; Muhaddis Nuri, Mustadrak Al Wasail, jil. 10, hal. 367, bab 73; Syaikh Shaduq, Tsawabul A’mal, hal. 99; Ibnu Quwalaih Qummi, Kamil Al-Ziyarat, hal. 324.

[2] Ruh va Rayhan, hal. 112.

Pidato Rahbar di Hari Quds sedunia tahun 2020

Berikut ini adalah pidato Ayatullah Ali Khameni bertepatan pada peringatan Hari Quds dunia tanggal 22 Mei 2020:

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabbil ‘Aalamin wa Shallallahu ‘ala Muhammad wa Aalihi at-Thahirin wa Shahbihi al-Muntajabin wa Man Tabiahum Biihsanin ila Yaumiddin

Saya menghaturkan salam kepada saudara-saudari Muslim di seluruh penjuru dunia, dan sebelumnya saya juga mengucapkan selamat menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri 1441H. Semoga Allah Swt menerima ibadah dan ketaatan kita semua di bulan Ramadhan yang penuh berkah, dan kita bersyukur kepada-Nya atas segala karunia dan berkah jamuan Ilahi di bulan suci ini.

Hari ini adalah Hari Quds, hari yang ditetapkan atas inisiatif cerdas Imam Khomeini sebagai rantai penghubung solidaritas umat Islam mengenai al-Quds Sharif dan Palestina yang tertindas. Hari Quds selama beberapa dekade telah berperan penting dalam hal ini dan setelahnya yang akan terus berlanjut, Insya Allah.

Bangsa-bangsa dunia menyambut Hari Quds dan mereka memperingatinya sebagai tanggung jawab perdana, yaitu mengibarkan bendera kebebasan Palestina. Kebijakan utama kekuatan arogan dan Zionisme adalah melunturkan isu Palestina dari benak masyarakat Muslim sehingga isu ini terlupakan. Oleh karena itu, tugas yang paling mendesak saat ini adalah memerangi pengkhianatan yang dilakukan oleh antek-antek bayaran musuh dalam bidang politik dan budaya di negara-negara Muslim sendiri.

Faktanya, isu sebesar masalah Palestina bukanlah sesuatu yang mengizinkan harga diri, rasa percaya diri, dan kewaspadaan yang semakin besar dari bangsa-bangsa Muslim untuk melupakan isu ini, meskipun Amerika Serikat dan kekuatan hegemonik lainnya serta antek-antek mereka di kawasan menggelontorkan seluruh uangnya dan mengerahkan segenap kemampuannya supaya isu Palestina terlupakan.

Poin pertama mengenai tragedi besar penjarahan negara Palestina dan pembentukan “tumor ganas” rezim Zionis. Di antara kejahatan kemanusiaan pada masa-masa yang dekat dengan periode sekarang tidak ada kejahatan apapun sebesar kejahatan yang dilakukan Zionis. Penjarahan sebuah negara dan pengusiran penghuninya dari rumah dan tanah mereka untuk selamanya, dengan melakukan pembunuhan dan kejahatan yang paling kejam serta penghancuran yang terus berlanjut beberapa generasi selama puluhan tahun, jelas merupakan catatan baru kejahatan kemanusiaan.

Penyebab dan pelaku utama tragedi ini adalah pemerintah-pemerintah Barat dan kebijakan jahat mereka. Ketika negara-negara pemenang Perang Dunia I membagi kawasan Asia Barat ــyaitu kawasan Asia Kekaisaran Ottomanــ sebagai pampasan perang penting di antara mereka pada Konferensi Paris, mereka telah merasa membutuhkan adanya pangkalan yang aman di jantung kawasan ini guna menjamin dominasi mereka yang berkelanjutan.

Inggris sejak bertahun-tahun lalu telah mempersiapkan landasan pacu melalui prakarsa Deklarasi Balfour dengan menggandeng para pemimpin Yahudi arogan, untuk mewujudkan sebuah plot sesat bernama “Zionisme”. Kini pijakan praktisnya sudah terbentang. Dari tahun-tahun itu, mereka secara bertahap menyatukan persiapan, dan akhirnya setelah Perang Dunia II, mereka melancarkan pukulannya dengan mengambil keuntungan dari kelalaian dan masalah yang dihadapi negara-negara kawasan dengan mendeklarasikan rezim palsu dan pemerintah tanpa rakyat, rezim Zionis.

Target pukulan ini pertama-tama adalah bangsa Palestina dan kemudian semua bangsa di kawasan. Dengan melihat peristiwa-peristiwa berikutnya di kawasan menunjukkan bahwa tujuan utama dan target cepat Barat dan korporasi Yahudi dari pendirian negara Zionis adalah membangun pangkalan dan menacapkan pengaruh permanen mereka di Asia Barat serta akses yang memungkinkan untuk campur tangan dan mendominasi negara-negara di kawasan.

Untuk itu, mereka melengkapi rezim palsu dan perampas (rezim Zionis Israel) dengan segala macam fasilitas yang kuat, militer dan non-militer, bahkan senjata nuklir, dan memasukkan pertumbuhan “tumor kanker ganas” ini dari Nil hingga Eufrat dalam agenda mereka.

Sayangnya, sebagian besar pemerintah Arab secara bertahap menyerah setelah perlawanan pertama mereka, yang beberapa (perlawanan itu) di antaranya sangat mengagumkan. Apalagi setelah kedatangan Amerika Serikat sebagai penjaga kepentingan ini, mereka telah melupakan tugas-tugas kemanusiaan, Islam, dan politik, serta semangat dan kebanggaan Arab-nya; dan dengan harapan palsu, mereka justru membantu musuh mewujudkan tujuannya, di mana perjanjian Camp David adalah contoh nyata dari fakta pahit tersebut.

Kelompok-kelompok pejuang, setelah melakukan beberapa perjuangan yang penuh perngorbanan pada tahun-tahun pertama, mereka secara bertahap juga terseret ke dalam negosiasi tanpa hasil dengan penjajah dan para pendukungnya, dan meninggalkan garis perjuangan yang mengarah pada realisasi cita-cita Palestina.

Bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan pemerintah-pemerintah Barat lainnya serta badan-badan Internasional yang tak berguna adalah pengalaman pahit dan gagal bagi Palestina. Menunjukkan “Cabang Zaitun” di Majelis Umum PBB tidak memiliki hasil apapun, kecuali Perjanjian Oslo yang merugikan, dan pada akhirnya berakhir dengan nasib Yasser Arafat, yang membawa banyak pelajaran.

Bangkitnya Revolusi Islam di Iran membuka babak baru dalam perjuangan Palestina. Salah satu langkah pertama adalah mengusir elemen-elemen Zionis, di mana Iran pada era taghut merupakan salah satu pangkalan paling aman mereka. Penyerahan kedutaan tidak resmi rezim Zionis kepada wakil Palestina dan penghentian pasokan minyak hingga pekerjaan-pekerjaan besar serta aktivitas politik yang luas, semua ini menyebabkan munculnya “Front Muqawama” (Front Perlawanan) di seluruh kawasan. Akhirnya, harapan untuk memecahkan masalah tumbuh dan berkembang di hati mereka.

Dengan munculnya Front Muqawama, ruang gerak rezim Zionis menjadi sulit dan semakin sulit, dan tentu saja akan jauh lebih sulit di masa depan, Insya Allah. Tetapi upaya para pendukung rezim ini, yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk membela dan mempertahankannya juga semakin meningkat.

Munculnya pasukan Mukmin, muda dan penuh pengorbanan seperti Hizbullah di Lebanon dan pembentukan kelompok-kelompok penuh motivasi seperti Hamas dan Jihad Islam di dalam perbatasan-perbatasan Palestina tidak hanya membuat khawatir para pemimpin Zionis, tetapi juga membuat cemas Amerika Serikat dan Barat. Mereka kemudian memprioritaskan upaya untuk meraih dukungan dari dalam kawasan, terutama komunitas Arab dalam agendanya setelah memberikan dukungan perangkat keras dan lunak kepada rezim agresor Zionis. Buah kerja keras mereka hari ini terlihat jelas dalam perilaku dan ucapan beberapa pemimpin negara-negara Arab dan sejumlah aktivis politik dan budaya Arab yang berkhianat.

Kini berbagai kegiatan dilakukan kedua kubu di medan perang, namun terdapat perbedaan. Front Muqawama bergerak ke arah peningkatan ketangguhan dan optimismenya, juga menyerap unsur-unsur kekuatan yang semakin tumbuh. Tapi sebaliknya, Front lalim, kafir dan arogan kian hari semakin lemah dan putus asa. Indikasi yang jelas dari klaim ini adalah kondisi militer Zionis, yang pernah dianggap sebagai pasukan tak terkalahkan dan mampu menghentikan pasukan besar dua negara penyerang hanya dalam beberapa hari, kini terpaksa harus mundur dan mengakui kekalahannya ketika menghadapi pasukan pejuang rakyat di Lebanon dan Jalur Gaza.

Meskipun demikian, perjuangan penting dan dinamis ini membutuhkan perawatan konsisten, karena subjek perjuangan ini sangat penting, menentukan, dan vital. Oleh karena itu, setiap kelalaian dan kesalahan dalam kalkulasi dasar akan menimbulkan kerugian besar.

Berdasarkan pertimbangan ini, saya akan menyampaikan poin-poin penting kepada semua orang yang mendukung perjuangan Palestina.

Pertama, perjuangan untuk pembebasan Palestina adalah jihad di jalan Allah dan kewajiban dalam Islam. Kemenangan dalam perjuangan ini dijamin, karena jikapun gugur, akan meraih tempat terbaik dan mulia.

Selain itu, masalah Palestina adalah masalah kemanusiaan. Pengusiran terhadap jutaan orang dari rumah mereka, lahan pertanian dan tempat tinggal serta mata pencahariannya yang dilakukan dengan pembunuhan dan kejahatan, pasti akan menyakiti setiap hati nurani manusia; dan siapapun yang memiliki keberanian pasti akan menghadapinya. Oleh karena itu, membatasi masalah ini hanya pada isu Palestina semata, ataupun masalah Arab tentu saja merupakan kesalahan besar.

Mereka yang menganggap langkah kompromis beberapa elemen Palestina atau para penguasa sejumlah negara Arab dengan rezim Zionis sebagai legitimasi untuk mengabaikan masalah Islam dan kemanusiaan ini jelas sangat keliru dalam memahami masalah tersebut, dan termasuk pengkhianatan dengan mendistorsi persoalannya.

Kedua, tujuan dari perjuangan ini adalah pembebasan seluruh wilayah Palestina dari laut ke sungai, dan kembalinya semua warga Palestina ke tanah air mereka. Mereduksi masalah ini melalui pembentukan pemerintahan di sudut wilayah ini yang dilakukan dengan cara memalukan, sebagaimana dimaksud dalam literatur Zionis yang kasar, jelas sekali bukanlah tanda kebenaran maupun tindakan yang realistis.

Faktanya, kini jutaan orang Palestina telah mencapai tingkat kematangan pemikiran dan pengalaman serta kepercayaan diri yang menjadikan jihad besar sebagai spiritnya untuk meraih kemenangan akhir dengan bersandar pada pertolongan ilahi, sebagaimana ditegaskan dalam ayat al-Quran,

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّـهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,”.

Ketiga, meskipun diizinkan untuk mengambil keuntungan dari segala cara yang sah dan halal dalam perjuangan ini, termasuk meraih dukungan global, tapi kita harus menghindari untuk menggantungkan harapan secara lahir maupun batin dengan mempercayai negara-negara Barat maupun komunitas dunia afiliasinya.

Mereka memusuhi eksistensi Islam yang berpengaruh, mereka mengabaikan hak-hak manusia dan bangsa-bangsa, mereka sendiri telah menyebabkan kerusakan dan kejahatan terbesar bagi umat Islam; kini lembaga global ataupun kekuatan kriminal mana yang saat ini bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan, pembantaian, perang, pemboman dan kelaparan buatan di sejumlah negara Muslim dan Arab?

Kini, publik dunia terus menghitung jumlah korban virus Corona satu persatu di seluruh penjuru dunia, tetapi tidak ada yang pernah bertanya siapa yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban ratusan ribu martir dan tawanan di negara-negara tempat Amerika Serikat dan Eropa mengobarkan api perang. Siapa yang bertanggung jawab atas semua pertumpahan darah di Afghanistan, Yaman, Libya, Irak, Suriah, dan negara-negara lainnya? Siapa yang bertanggung jawab atas semua kejahatan, perampasan, penghancuran, dan penindasan di Palestina?

Mengapa tidak ada yang menghitung jutaan anak-anak yang tertindas, wanita dan pria di dunia Islam? Mengapa tidak ada yang menyampaikan belasungkawa atas pembantaian terhadap umat Islam? Mengapa jutaan orang Palestina harus hidup di dalam pengasingan selama tujuh puluh tahun jauh dari rumah mereka sendiri? Mengapa Quds Sharif, kiblat pertama umat Islam dihina dan dinistakan? Lalu apa fungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak menunaikan tugasnya. Demikian juga dengan lembaga hak asasi manusia yang sudah mati. Tampaknya, slogan “Membela hak-hak anak-anak dan perempuan” tidak termasuk anak-anak dan perempuan yang tertindas di Yaman dan Palestina.

Inilah kondisi ketika kekuatan Barat yang menindas dan komunitas afiliasinya berkuasa di dunia. Beberapa pemerintahan pengekor mereka di kawasan aibnya terbuka dengan kondisi yang lebih buruk lagi. Oleh karena itu, masyarakat yang bersemangat dan religius tertentu harus mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, dengan menyingsingkan lengan baju bersama ketawakalan dan keimanan kepada Allah swt untuk menghadapi rintangan yang menghadang.

Keempat, poin penting yang tidak boleh diabaikan oleh elit politik dan militer dunia Islam adalah kebijakan Amerika Serikat dan Zionis dalam mentransfer konflik ke belakang front perlawanan. Pecahnya perang saudara di Suriah, pengepungan militer, pembunuhan sehari-hari di Yaman, pembantaian, penghancuran dan pembentukan kelompok teroris Daesh di Irak, dan kasus-kasus serupa di beberapa negara lain di kawasan; semua itu plot untuk mengalihkan perhatian front perlawanan dan memberi peluang untuk bernafas kepada rezim Zionis.

Beberapa politisi di negara-negara Muslim tidak tahu apa-apa, bahkan ada yang mengamini tipuan musuh. Cara untuk mencegah hal ini adalah gerakan serius dari para pemuda aktif di dunia Islam. Orang-orang muda di semua negara Muslim, terutama di dunia Arab, tidak boleh mengabaikan nasihat Imam Khomeini, yang mengatakan, “Apapun yang Anda teriakan lantang tentang [perlawanan terhadap] Amerika Serikat, dan tentu saja Zionisme.”

Kelima, kebijakan menormalkan kehadiran rezim Zionis di kawasan merupakan salah satu dari kebijakan utama Amerika Serikat. Beberapa negara Arab di kawasan – yang berperan sebagai antek-antek AS – menyiapkan prasarana yang diperlukan termasuk hubungan ekonomi dan sejenisnya. Berbagai upaya ini secara total akan gagal dan tidak membuahkan hasil.

Rezim Zionis adalah penumpang gelap yang membawa kehancuran dan kerugian besar bagi kawasan, dan secara pasti akan tercerabut dan binasa. Rasa malu dan kehinaan akan menjadi milik orang-orang yang menyerahkan sarananya untuk mengabdi kepada kebijakan arogan tersebut.

Beberapa pihak yang berupaya menjustifikasi perilaku buruk ini berpendapat bahwa rezim Zionis adalah sebuah realitas di kawasan, tanpa mengingat lagi bahwa kenyataan yang membawa kehancuran dan kerugian harus diperangi dan dibinasakan.

Hari ini, virus Corona adalah sebuah kenyataan dan semua manusia yang cerdas menganggapnya wajib untuk memerangi virus ini. Virus Zionis yang sudah lama bercokol tentu tidak akan bertahan lama dan berkat kerja keras, iman, dan keberanian kaum muda, akan tercerabut.

Keenam, anjuran utama saya adalah merekomendasikan berlanjutnya perlawanan dan mengoordinasikan lembaga-lembaga jihad, kerja sama di antara mereka, serta memperluas medan jihad di dalam wilayah Palestina.

Setiap orang harus membantu rakyat Palestina dalam jihad suci ini. Setiap individu harus mengisi kepalan tangan pejuang Palestina dan memperkuat punggungnya. Kami dengan bangga akan melakukan ini dengan segenap kemampuan.

Hasil identifikasi kami adalah bahwa pejuang Palestina memiliki agama, semangat, dan keberanian, dan satu-satunya kendala mereka adalah tidak memiliki senjata. Kami telah menyusun rencana dengan petunjuk dan pertolongan Tuhan, dan hasilnya adalah perimbangan kekuatan di Palestina telah berubah dan hari ini Gaza dapat bertahan terhadap agresi militer musuh Zionis dan dapat mencapai kemenangan.

Perubahan perimbangan ini di bagian yang disebut wilayah pendudukan, akan membawa masalah Palestina lebih dekat ke langkah-langkah final. Pemerintah Otorita Ramallah memiliki tugas besar dalam hal ini.

Kita tidak dapat berbicara dengan musuh yang buas, kecuali dengan kekuatan dan dengan posisi yang kuat, dan benih-benih kekuatan ini – segala puji bagi Allah – sudah siap di tengah bangsa berani dan tangguh Palestina.

Para pemuda Palestina sekarang haus untuk mempertahankan martabatnya. Hamas dan Jihad Islam di Palestina serta Hizbullah di Lebanon telah menyempurnakan argumentasi kepada semua.

Dunia belum lupa dan tidak akan pernah melupakan hari ketika tentara Zionis melanggar perbatasan Lebanon dan bergerak ke Beirut, dan hari ketika seorang pembunuh kriminal bernama Ariel Sharon melakukan pertumpahan darah di Sabra dan Shatila.

Dunia juga belum lupa dan tidak akan pernah melupakan hari ketika tentara yang sama berada di bawah pukulan keras Hizbullah, sehingga tidak punya jalan lain kecuali mundur dari perbatasan Lebanon dengan menanggung kerugian besar dan mengakui kekalahan, dan memohon gencatan senjata. Inilah yang dimaksud dengan tangan penuh dan posisi kuat.

Sekarang saksikanlah beberapa pemerintah Eropa – yang seharusnya malu selamanya karena menjual bahan kimia ke rezim Saddam – menganggap Hizbullah, pejuang yang membanggakan sebagai ilegal.

Yang disebut ilegal adalah sebuah rezim seperti Amerika yang menciptakan Daesh, dan rezim seperti pemerintah Eropa yang membunuh ribuan orang di kota Baneh, Iran dan Halabja, Irak, karena bahan-bahan kimia mereka.

Ketujuh, Palestina adalah milik orang-orang Palestina dan harus diatur oleh kehendak mereka sendiri. Prakarsa referendum yang melibatkan semua agama dan etnis Palestina, yang telah kami sampaikan hampir dua dekade lalu adalah satu-satunya kesimpulan yang perlu diambil untuk menghadapi tantangan Palestina saat ini dan esok.

Prakarsa ini menunjukkan bahwa klaim anti-Semit yang ditiupkan orang-orang Barat dengan terompet mereka sama sekali tidak berdasar. Sesuai rencana ini, orang-orang Palestina, baik Yahudi, Kristen, maupun Muslim bersama-sama mengikuti referendum untuk menentukan sistem politik negara Palestina. Pastinya, yang harus sirna adalah sistem Zionis, dan Zionisme itu sendiri merupakan bidah dalam Yudaisme, yang benar-benar asing bagi mereka sendiri.

Sebagai penutup, saya mengajak untuk mengenang perjuangan syuhada Quds dari Sheikh Ahmad Yassin, Fathi Shaghaghi dan Sayid Abbas Mousavi hingga komandan agung Islam dan wajah tak terlupakan dari front perlawanan, Syahid Soleimani dan mujahid besar Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, dan syuhada lainnya, juga salam kepada Imam Khomeini, yang telah membukakan jalan kemuliaan dan jihad di hadapan kita. Selain itu, saya juga memohon rahmat ilahi untuk saudara almarhum Mujahid Hossein Sheikh al-Islam yang berjuang di jalan ini selama bertahun-tahun.

Wassalamualaikum Warahmatullah

Berapa jumlah anak-anak Imam Ali as?

Tahukah Anda berapa jumlah anak-anak Imam Ali as baik dari istri beliau yang pertama Sayyidah Fathimah Azzahra as maupun istri-istri beliau yang lainnya?

Syaikh Mufid dalam kitabnya yang berjudul Al-Irsyad menyebutkan bahwa jumlah anak-anak beliau 27 orang. Sebagian ulama Syiah berkeyakinan bahwa sepeninggal Rasulullah saw Fathimah as mengandung seorang anak yang bernama Muhsin namun ia gugur dalam kandungan, oleh karena itu menurut mereka total jumlah anak Imam Ali as adalah 28 orang.

Adapun Mas’udi dalam kitab Muruj Ad-Dzahab menyebutkan bahwa anak-anak beliau berjumlah 25 orang.

Berdasarkan yang tertulis dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa’ad[1] dan juga Ansabul Asyraf Baladzuri[2], sebagian dari anak-anak Imam Ali as dapat disebutkan sebagai berikut:

Anak-anak beliau dari Sayyidah Fathimah Azzahra as:

Mereka adalah Hasan, Husain, Muhsin (yang gugur di dalam kandungan), Zainab Al-Kubra dan Ummu Kultsum.

Menurut Ibnu Katsir, Muhsin wafat saat ia berusia anak-anak.

Zainab menikah dengan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib dan Ummu Kultsum menikah dengan Umar bin Khattab (meskipun dalam hal ini ada banyak perbedaan pendapat).

Muhammad bin Hanafiyah

Muhammad bin Ali yang dikenal dengan Muhammad bin Hanafiyah ibunya adalah Khoulah putri Ja’far bin Qais.

Anak-anak beliau dari ibu yang bernama Laila putri Mas’ud

Yang pertama adalah Ubaidullah bin Ali. Yang kedua adalah Abu Bakar bin Ali yang syahid di Karbala.

Anak-anak Ummul Banin

Ummul Banin adalah salah satu istri Imam Ali as yang memiliki empat anak laki-laki: Abbas, Utsman, Ja’far dan Abdullah. Keempatnya juga syahid di Karbala.

Anak seorang budak wanita

Muhammad Asghar adalah anak beliau dari seorang budak wanita yang mana Muhammad Asghar pun syahid di Karbala.

Anak-anak Asma’ binti Uwais

Mereka adalah Yahya dan ‘Aun.

Anak-anak istri beliau yang bernama Shahba’

Mereka adalah Umar Akbar dan Ruqayyah.

Anak istri beliau yang bernama Umamah binti Abul ‘Ash

Ibu Umamah adalah Zainab putri Rasulullah saw. Anak Umamah dan Imam Ali as adalah Muhammad Awsath.

Anak-anak Ummu Sa’id putri Mas’ud

Mereka adalah dua putri bernama Ummul Husain dan Ramlah Kubro.

Anak Mahyah putri Imri’ Al-Qais

Adalah seorang anak perempuan bernama Ummu Ya’la yang meninggal saat masih kecil.

[1] At-Thabaqat Ibnu Sa’ad, jil. 3, hal 13.

[2] Ansabul Asyraf, Baladzuri, jil. 2, hal. 136.

Apakah Ma’shumin pernah Nikah Mut’ah?

Nikah Mut’ah menurut fikih Syi’ah sah dilakukan (tidak pernah diharamkan seperti yang dikatakan oleh Ahlu Sunnah).

Namun apakah Rasulullah saw dan para Imam Ma’shum pernah melakukan nikah mut’ah? Siapakah mereka (Imam siapa yang pernah melakukannya)?

Di antara riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab rujukan Syi’ah hanya ada dua Ma’shum yang pernah melakukan nikah mut’ah, mereka adalah Rasulullah saw dan Imam Ali as. Adapun mengenai Imam-imam Ma’shum lainnya tidak ada riwayat yang membuktikannya.

Abdullah bin ‘Atha’ Makki menanyakan Imam Baqir as mengenai ayat 66 surah At-Tahrim, imam menjawab, “Rasulullah saw menikahi seorang wanita merdeka (bukan budak) dengan nikah mut’ah. Lalu beberapa dari istri Nabi mengetahui hal itu dan menuduh Nabi melakukan kemunkaran. Nabi menjelaskan bahwa ia telah menikah mut’ah dengannya. Lalu sang Nabi meminta mereka untuk merahasiakan hal itu. Namun beberapa istri nabi lainnya pun tahu akan hal itu.” (Wasailus Syi’ah, jil. 21, hal. 10)

Selain itu pernah diriwayatkan bahwa Imam Ali as pernah menikah mut’ah dengan seorang wanita dari kabilah Bani Nahsyal di Kufah. (Referensi yang sama)

Sedangkan tidak ditemukan riwayat lainnya mengenai nikah mut’ah yang pernah dilakukan oleh Ma’shumin lainnya. Begitu juga tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa mereka pernah punya anak dari ikatan nikah mut’ah.

Sumber: IslamQuest

Beberapa statistik tragedi Karbala

Di bawah ini Anda dapat membaca semacam statistik terkait sejarah tragedi Asyura, yakni terbunuhnya Imam Husain as cucu Rasulullah saw di padang Karbala.

Dari menolak baiat hingga hari Asyura

Semenjak Imam Husain as menolak untuk membaiat Yazid hingga hari Asyura 175 hari lamanya. 12 hari di Madinah, 4 bulan dan 10 hari di Makkah, 33 hari di perjalanan dari Makkah hingga Karbala dan 8 hari tinggal di Karbala.

Jumlah surat dari warga Kufah untuk Imam Husain as

Banyak perbedaan riwayat mengenai jumlah surat-surat itu. Ada yang menyebutkan jumlahnya 150, 53, 50 dan seterusnya. Dalam kitab Luhuf disebutkan ada 12,000 orang Kufah yang menandatangani surat-surat tersebut.

Riwayat yang mengatakan jumlah surat sebanyak 150 adalah riwayat yang paling dikenal dan referensinya lebih kuat dari pada riwayat-riwayat lainnya.

Jumlah orang Kufah yang membaiat Muslim bin Aqil

Thabari menukil dari Abu Mihnaf mengatakan bahwa jumlah mereka 18,000 orang.

Jumlah orang Kufah yang siap berperang melawan Yazid

Dikabarkan jumlah mereka sekitar 100,000 orang.

Jumlah sahabat Imam Husain as saat di Karbala

Banyak riwayat yang menyatakan jumlah berbeda-beda namun dapat disimpulkan jumlah mereka antara 70 hingga 90 orang. Tepatnya di hari Asyura jumlah sahabat beliau 72 orang.

Jumlah pasukan Umar bin Sa’ad

Diriwayatkan oleh Syaikh Shaduq dari Imam Shadiq as dan Imam Sajjad as, bahwa jumlah mereka 30,000 orang.

Bagaimana para Imam Ma’shum memperingati tragedi Karbala

Apakah di zaman Ma’shumin diadakan acara-acara peringatan tragedi Asyura di hari-hari bulan Muharram? Seperti apa mereka melaksanakannya?

Para Imam Ma’shum sering menangisi dan meratapi kepergian orang-orang yang mereka cintai. Sebagaimana Fathimah Azzahra as di malam hari sering menangisi kepergian ayahnya, Rasulullah saw, sampai beliau dibuatkan tempat khusus yang disebut rumah duka (Baitul Ahzan). Ia menggandeng tangan anak-anaknya, Hasan as dan Husain as, untuk dibawa ke rumah itu lalu meratapi kakeknya. Para Imam Ma’hsum as juga sering meratapi Imam Husain as dan menangisi kepergiannya.

Namun seperti apa dan bagaimana, perlu kita lakukan kajian yang cukup. Kali ini akan kami jelaskan secara global:

Berkabungnya Imam Sajjad as

Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, Imam Sajjad as menangisi dan meratapi kepergian ayahnya sepanjang hidup. Sampai-sampai saat beliau dibawakan makanan air mata mengalir dara mata beliau. Pada suatu hari budak Imam Sajjad as berkata, “Wahai putra Rasulullah saw, kapan kesedihan Anda usai?” Imam menjawab, “Ya’qub as sang nabi yang memiliki 12 anak dan kehilangan nabi Yusuf as terus menangisinya hingga buta; sedang aku kehilangan ayahku, paman-pamankku dan tujuh belas keluargaku, bagaimana kesedihanku bisa berakhir?”[1]

Dalam Al-Majalis As-Saniyyah disebutkan bahwa Imam Shadiq as menceritakan kakeknya Imam Sajjad as dan berkata, “Ia menangisi yahnya selama empat puluh tahun. Di siang hari berpuasa dan menghabiskan malam untuk beribadah. Di saat sahur budaknya membawakan makanan dan berkata, ‘Tuanku, makanlah.’ Beliau berkata, ‘Putra Rasulullah saw syahid kelaparan. Putra Rasulullah saw syahid kehausan.’ Beliau mengulang-ulang kata itu sampai air matanya membahasi makanannya. Keadaan itu terus berlangsung hingga akhir hayatnya.”[2]

Berkabungnya Imam Baqir as

Dalam kitab Nahdhatul Husain as disebutkan, “Ketika bulan Muharram tiba, kesedihan Ahlul Bait Nabi nampak dan mereka memanggil para penyair untuk membacakan puisi-puisi tentang kakek mereka, Imam Husain as.[3] Begitu pula dalam Kamil Al-Ziyarat disebutkan bahwa Imam Baqir as di hari Asyura memerintahkan pengikutnya untuk berkabung memperingati Imam Husain as di rumahnya…[4]

Berkabungnya Imam Shadiq as

Mengenai berkabungnya Imam Shadiq as disebutkan beberapa riwayat seperti diundangnya para penyair untuk membacakan puisi mengenang Imam Husain as dan dari balik tirai keluarga Imam mendengarkan sambil menangis.[5]

Berkabungnya Imam Kadhim as

Imam Ridha as berkata tentang Imam Kadhim as, “Saat bulan Muharram tiba, ayahku tidak pernah terlihat tersenyum. Seperti itu keadaannya di sepuluh hari pertama bulan Muharram. Hingga hari kesepuluh tiba, yaitu hari musibah, tangisan dan kesedihannya. Lalu ia berkata, ‘Asyura adalah hari kakekku mati syahid.’.”[6]

Berkabungnya Imam Ridha as

Da’bal Khuza’i berkata, “Di hari-hari sepuluh hari pertama bulan Muharram aku mendatangi Imam Ridha as di daerah Marv. Aku melihatnya dikelilingi oleh para sahabatnya dan beliau dalam keadaan sedih. Saat Imam melihatku, ia berkata, ‘Selamat datang hai Da’bal. Selamat datang orang yang menolong kami dengan tangan dan lisannya.’ Lalu beliau memintaku duduk di sisinya dan berkata, ‘Hai Da’bal, kamu mau membacakan syair? Karena hari-hari ini adalah hari-hari kesedihan kami Ahlul Bait dan hari kegembiraan musuh-musuh kami, khususnya Bani Umayah.’ Kemudian beliau berdiri dan memasang tirai antara kami dengan keluarganya. Setelah itu beliau berkata kepadaku, ‘Berdirilah hai Da’bal. Engkau adalah penyair kami selama engkau hidup.’.” Lalu Da’bal pun bangkit dan membacakan syair-syairnya.[7]

Berkabungnya Imam-Imam lainnya

Di masa-masa setelah itu, peringatan tragedi Karbala mengalami pasang surut. Misalnya di zaman Imam Jawad as, selama ada kesempatan para pengikut Ahlul Bait as memperingati tragedi Karbala, hingga pada saatnya zaman khalifah Mu’tashim tiba. Setelah itu orang-orang Syiah berada dalam tekanan dan jarang memperingati syiar-syiar Husaini as.[8]

[1] Tarikh An-Niyahah ‘Alal Imam Al-Syahid Al-Husain bin Ali as, Sayid Shaleh Syahrestani; Manaqib Ibn Syahr Asyub, jil. 4, hal. 166.

[2] Al-Majalis As-Saniyyah, Sayid Muhsin Amin, jil. 1, hal. 166.

[3] Kamil Al-Ziyarat, Ibn Qulawaih Qumi, hal. 111 – 114.

[4] Silahkan rujuk Tarikh An-Niyahah ‘Alal Imam Al-Syahid Al-Husain bin Ali as, hal. 566; Al-Majalis Al-Saniyyah, jil. 5, hal. 123.

[5] Tarikh Sayyidus Syuhada, Abbas Shafai Haeri, hal. 566; Amali Syaikh Shaduq, jil. 6, hal. 205.

[6] Tarikh An-Nahiyah, hal. 132; Amali Syaikh Shaduq, jil. 2, hal. 111.

[7] Biharul Anwar, jil. 40, hal. 257; Ibid, hal. 157.

[8] Ibid, hal. 136, 137.