Mengapa Syiah menyayat kepalanya sendiri saat berduka?

Apa hukum orang-orang Syiah yang menyayat kepalanya dengan benda-benda tajam dalam memperingati hari Asyura?

Jawaban:

Sebelumnya telah dijelaskan, bahwa usaha Syiah dalam memperingati hari Asyura bertujuan untuk menghidupkan ajaran Ahlul Bait dan memajang tinggi kejahatan Bani Umayah dan Bani Abbas terhadap keluarga nabi. Itu termasuk dari dakwah kepada ajaran Ilahi. Namun tidak dipungkiri bahwa ada golongan-golongan tertentu yang berlebihan dalam menjalani ajaran mazhabnya yang mana itu dilarang dan diharamkan; tidak ada satu alim pun yang membenarkan mereka.

Kini giliran saya bertanya kepada si penanya yang jelasnya Wahabi ini: Tahun lalu ada seorang remaja dari Jordania membawa bom di dalam pakaiannya lalu memasuki sebuah acara pernikahan yang diadakan di Iraq lalu meledakkan dirinya. Seratus orang tewas dalam kejadian itu. Ketika kabar kematiannya sampai pada keluarga yang ada di Jordania, mereka semua di sana berduka menangisi kematian pemuda tersebut. Apakah anda sekalian membenarkan aksi terorisme yang menewaskan anak-anak kecil dan wanita-wanita tak berdosa itu

Mengapa Syiah melukai diri saat berduka?

Dalam riwayat-riwayat Syiah disebutkan bahwa kita harus bersabar dalam musibah. Kita tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak menunjukkan kesabaran seperti memukul-mukul diri sendiri. Namun mengapa Syiah tidak mengamalkan riwayat-riwayat tersebut dalam hari-hari berduka?

Jawaban:

Perlu dibedakan antara menangis dan bersedih karena kehilangan orang yang dicintai dengan menyobek-nyobek pakaian dan mencakar muka.

Manusia yang normal, secara naluriah pasti bersedih jika ditinggal orang yang dicintai. Begitu pula para nabi dan sahabat-sahabatnya. Rasulullah Saw saat kehilangan putranya yang bernama Ibrahim berkata, “Mata ini menangis. Air mata bertumpahan. Hati terbakar.”[1]

Di perang Uhud saat Hamzah paman nabi gugur. Shafiyah putri Abdul Muthallib berlari menuju Rasulullah Saw untuk mengabarinya. Sedang jenazah Hamzah dikerumuni oleh orang-orang Anshar. Rasulullah menyuruh mereka untuk minggir. Shafiyah duduk di dekat Hamzah dan menangis. Setiap kali tangisan Shafiyah mengencang, tangisan Rasulullah Saw pun juga bertambah kencang. Setiap kali tangisan Shafiyah berhenti, Rasulullah Saw juga berhenti menangis. Fathimah Az Zahra juga ikut menangis. Kemudian Rasulullah Saw berkata kepada putrinya, “Tidak aka ada orang yang akan mengalami musibah seberat yang akan kau alami nanti.”[2]

Sepeninggal ayahnya, Fathimah Az Zahra selalu menangis dan berkata, “Hai ayahku, engkau telah dekat dengan Tuhanmu dan engkau telah jawab panggilan-Nya. Kini engkau telah berada di surga.”[3]

Sepanjang sejarah Islam dikenal bahwa tangisan terhadap orang yang telah meninggal dunia adalah wajar. Bahkan banyak sekali bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) juga menangisi kerabat kecintaan mereka yang telah pergi.

‘Aisyah berkata, “Setelah Rasulullah Saw meninggal dunia, aku meletakkan kepalanya di atas bantal. Aku berdiri dan bersama wanita-wanita lain memukul kepala dan wajah kami.”[4]

Tak ada yang bisa mengingkari bahwa menangis dalam keadaan sedemikian rupa adalah hal yang alami dan naluriah.

Sejarah mencatat bahwa perempuan-perempuan Anshar berkumpul beruduka dan menangisi suami mereka yang telah meninggal dalam perang Uhud. Lalu Rasulullah Saw meminta mereka agar berkabung pula terhadap pamannya, Hamzah, sebagaimana mereka menangisi keluarga sendiri.[5]

Ketika Rasulullah Saw menangisi kematian salah satu putrinya, Ubadah bin Shamit bertanya mengapa beliau menangis. Beliau menjawab, “Tangisan adalah rahmat (kasih sayang) yang telah dicurahkan oleh Allah Swt dalam hati umat manusia. Sungguh Tuhan kelak akan melebihi rahmat-Nya kepada hamba-hambanya yang berkasih sayang.”[6]

Adapun berkenaan dengan orang-orang yang memiliki kedudukan utama dalam agama, saat kehilangan ia, tidak hanya kita harus menangis, bahkan lebih. Berkabung untuk mereka memiliki arti yang lebih luas. Misalnya, membela dan mengajak kepada jalan mereka.

Mereka adalah pejuang Muslim yang sebenarnya. Mereka mati karena perlawanan mereka terhadap khulafa zalim Bani Umayah dan Bani Abbasiah. Hai’at dan perkumpulan-perkumpulan yang bertugas menciptakan suasana berkabung di hari kepergian mereka berperan dalam menghidupkan ajaran-ajaran Ahlul Bait. Segala yang mereka lakukan seperti memukul dada serta keluar ke jalanan tidak lain untuk terus menghidupkan pemikiran-pemikiran junjungan mereka; bahwa “Kematian berdarah lebih baik daripada kehidupan penuh hina.”

Dalam dunia akhlak pun kita fahami bahwa tangisan adalah lawan dari kekeras hatian. Itulah mengapa tangisan adalah rahmat. Tidak seperti orang yang keras hati; tidak dapat menerima pengaruh positif dari orang lain juga tidak mengasihi selainnya.

Acara-acara yang diadakan dalam memperingati hari-hari berkabung Ahlul Bait tidak hanya tak dilarang, bahkan terpuji. Karena segalanya bertujuan untuk menjaga hidupnya ajaran suci Itrah nabi.

Sebenarnya pun, acara-acara duka Syiah di hari Asyura memilki sisi politik juga. Agar keburukan Bani Umayah dan ketersiksaan keluarga nabi tetap terus teringat hingga hari akhir nanti.

Memang diakui, bahwa banyak juga golongan-golongan yang berlebihan dalam Syiah. Namun, tidak ada satu ulama pun yang membenarkan mereka. Perbuatan mereka jelas haram. Oleh karenanya kita harus bedakan mana ajaran dan mana pengikut ajaran itu.

[1] Majma’ Az Zawaid, jilid 3, halaman 8.

[2] Amta’ Al Asma’, halaman 154.

[3] Shahih Bukhari, bab “Sakitnya Nabi dan Wafatnya”; Musnad Abi Dawud, jilid 2, halaman 197; Sunan Nasa’i, jilid 4, halaman 13; Mustadrak Al Hakim, jilid 3, halaman 163; Tarikh Al Khatib, jilid 3, halaman 262.

[4] Tarikh Thabari, jilid 2, halaman 441.

[5] Majma’ Az Zawaid, jilid 6, halaman 120.

[6] Sunan Abi Dawud, jilid 2, halaman 58; Sunan Ibnu Majah, Jilid 1, halaman 481.

Mushaf Fathimah bukanlah Al-Qur’an Syiah yang berbeda

Kami membaca dalam Al Kafi bahwa Syiah memiliki suatu kitab yang disebut Mushaf Fathimah. Yang kami fahami dari Al Kafi, Mushaf Fathimah adalah Al Qur’an-nya orang Syiah. Benarkah itu?

Jawaban:

Tidak, tidak demikian. Bukan seperti itu maksud dari apa yang disebutkan dalam Al Kafi.

Hadits dalam Al Kafi tersebut hanya sekedar menjelaskan sesuatu yang bernama Mushaf Fathimah. Mushaf tidak berarti Al Qur’an. Mushaf berasal dari kata Shahifah yang berarti lembaran, yang artinya Mushaf adalah kumpulan lembaran-lembaran; tidak harus berarti Al Qur’an.

Dalam Al Qur’an disebutkan:

“Saat itu lembaran-lembaran amal perbuatan telah disebarkan.”[1]

“(hal) ini telah disebutkan dalam lembaran-lembaran terdahulu, dalam kitab Ibrahim dan Musa.”[2]

Dalam sejarah dapat kita baca bahwa yang disebut mushaf adalah segala lembaran-lembaran yang dikumpulkan menjad satu. Sepeninggal nabi pun Al Qur’an bahkan tidak pernah disebut dengan sebutan mushaf.

Ibnu Abi Dawud Sajistani mengenai disusunnya Al Qur’an dalam satu mushaf berkata, “Ketika nabi meninggal dunia, Ali bersumpah untuk tidak mengenakan rida’ (semacam pakaian) kecuali untuk shalat Jum’at hingga selesai Al Qur’an dikumpulkan menjadi satu mushaf.”

Abu Al ‘Aliyah menukilkan, “Mereka melihat Al Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa kekhilafahan Abu Bakar.”

Ia juga menukil, “Umar bin Khatab mengeluarkan perintah pengumpulan Al Qur’an dan ia adalah orang pertama yang telah mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf.”[3]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa pada waktu itu yang disebut Mushaf adalah suatu kumpulan lembaran-lembaran yang telah dikumpulkan menjadi satu agar tidak tersebar berceceran. Lalu lama kelamaan Al Qur’an pun disebut dengan mushaf.

Demikian pula riwayat-riwayat dari kalangan kami, misalnya:

Imam Ja’far Shadiq berkata: “Barang siapa membaca Al Qur’an yang telah menjadi Mushaf (lembaran-lembaran yang telah dijilid), ia akan mendapatkan banyak manfaat untuk matanya.”[4]

Ia juga pernah berkata, “Membaca Al Qur’an dalam bentuk mushaf akan menyebabkan diringankannya adzab kubur ayah dan ibu kalian.”[5]

Para ahli sejarah mengenai Khalid bin Ma’dan menulis:

“Khalid bin Ma’dan menulis ilmunya dalam mushaf yang memiliki kancing (pengunci) dan pegangan.”[6]

Khalid bin Ma’dan adalah salah seorang yang termasuk Tabi’in dan mengalami 70 sahabat dalam hidupnya.[7]

Sampai akhir abad ke-1 Hijriah, kata mushaf memiliki arti umum, yaitu kumpulan lembaran terjilid yang mana kebanyakan orang menjadikannya sarana menuangkan isi pikiran.

Dengan demikian mengapa kita heran kalau putri Rasulullah saw memiliki mushaf? Yang mana ia telah menuang segala yang ada di pikirannya (ilmu-ilmu yang pernah diajarkan oleh ayahnya) ke dalam mushaf tersebut lalu mewasiatkannya kepada anak-anaknya sebagai sebaik-baiknya warisan.

Para Imam kami pun juga telah menjelaskan bahwa mushaf tersebut hanyalah kumpulan tulisan Fathimah Az Zahra yang berisi pengetahuan-pengetahuan yang didapat dari ayahnya. Lagi pula ia dijuluki dengan sebutan Muhaddatsah, yakni orang yang diajak bicara dengan malaikat. Pasti segala yang ia dapat dari pembicaraan itu telah dituliskan ke dalam mushafnya.

Imam Ja’far Shadiq berkata, “Dalam Mushaf Fathimah terdapat penjelasan mengenai halal dan haram yang padahal masih belum ada wujudnya di tengah-tengah masyarakat kita saat ini. Itu bukanlah Qur’an, namun dikte Rasulullah Saw yang dituliskan oleh Ali. Semua itu ada di tangan kami.”[8]

Ia juga pernah berkata, “Di dalamnya banyak sekali hal-hal yang tidak ada di Al Qur’an kalian.” Lalu perawi bertanya, “Apakah di dalamnya ada suatu pengetahuan?” Dijawabnya, “Ya, namun bukan sembarang pengetahuan.”[9]

Jadi Mushaf Fathimah bukanlah sesuatu yang kita anggap Al Qur’an. Namun seringkali dijadikan alat untuk memojokkan kita dengan menuduh Syiah memiliki Qur’an lain.

[1] At Takwir, ayat 10.

[2] Al A’la, ayat 18-19.

[3] Kitab Al Masahif, Hafidz Abu Bakar Abdullah bin Abi Dawud Sajistani, halaman 9-10.

[4] Ushul Al Kafi, jilid 2, halaman 613.

[5] Ibid.

[6] Kitab Al Masahif, Hafidz Abu Bakar Abdullah bin Abi Dawud Sajistani, halaman 134-135.

[7] Al Lubab fi Tadzhib Al Ansab, Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 62 dan 63.

[8] Bashair Ad Darajat, halaman 157.

[9] Al Kafi, jilid 2, halaman 613, hadits 1.

Perdamaian Imam Hasan as dengan Muawiyah

Mengapa Hasan putra Ali memilih untuk berdamai dengan Mu’awiyah? Sedangkan ia memiliki kekuatan yang besar dan ia mampu untuk berperang. Namun Husain, ia tidak memiliki kekuatan apapun tetapi bangkit melawan Yazid. Apakah salah satu di antara mereka salah memberikan keputusan?

Jawaban:

Sungguh aneh. Bukankah kalian selalu mengelu-elukan para pendahulu dan sahabat-sahabat nabi dan menganggap mereka selalu terlepas dari kesalahan? Bukankah Hasan dan Husain termasuk orang-orang terdahulu? Mengapa harus kita pakasakan untuk berkata bahwa salah satu di antara mereka salah?

Orang yang berfikiran seperti pertanyaan di ata lebih layak disebut Nasibi daripada Salafi. Karena Salafi menganggap semua sahabat nabi sebagai orang terhormat dan terjauhkan dari kesalahan yang fatal. Namun si penanya sama sekali tidak menganggap Hasan dan Husain sebagai orang yang terhormat.

Padahal nabi Muhammad Saw telah bersabda, “Barang siapa ada orang yang mencintaiku dan mencintai kedua cucuku ini, begitu pula ayah dan ibu mereka, maka di hari kiamat kelak akan bersamaku dalam satu derajat.”[1]

Begitupula ia bersabda, “Hasan dan Husain adalah tuan para pemuda penghuni surga.”[2]

Mungkinkah si penanya ini berfikiran bahwa Imam Hasan dan Imam Husain sama seperti Mu’awiyah dalam memahami kekhalifahan? Padahal Mu’awiyah setelah berdamai dengan Hasan putra Ali menaiki mimbar dan berkata kepada: “Wahai penduduk, aku tidak berperang agar kalian mau shalat atau puasa. Sungguh aku berperang agar aku dapat menguasai kalian.”

Kedua Imam suci itu mengharapkan terselesaikannya tugas, bukannya menjadikan pemerintahan sebagai tujuan hakiki. Pasti ada banyak faktor yang membuat mereka memilih untuk berperang atau berdamai; semuanya sesuai dengan kemaslahatan yang diperhitungkan. Sebagaimana Rasulullah saw yang berperang dalam peperangan Badar, Uhud dan Ahzab, ia juga berdamai dalam peristiwa Hudaibiyah.

Hasan putra Ali memilih untuk berdamai karena melihat sedemikian banyaknya pengikut yang telah lelah dan terbuai dunia. Apabila mereka diarahkan untuk berperang, mereka pasti binasa dan membawa kerugian lebih besar daripada berdamai.

Imam Hasan sendiri yang telah menggambarkan bagaimana pengikut-pengikutnya waktu itu. Ia berkata:

“Tidak ada keraguan yang dapat menghalangi kita untuk berperang melawan penduduk Syam. Dulu kami berperang bersama kalian melawan penduduk Syam karena aku melihat keteguhan dan semangat kalian. Namun kini, disebabkan api fitnah yang menyebar luas, tidak terlihat lagi kesatuan di antara kalian. Kaliah telah kehilangan ketabahan dan lidah kalian terbiasa dengan alasan serta pengaduan.

Saat berjuang dalam peperangan Shiffin, kalian telah mendahulukan agama daripada dunia kalian. Namun kini, keuntungan-keuntungan telah kalian dahulukan dari agama. Adapun kami tetap sama seperti dahulu kala. Namun kalian tidak menyertai kami sebagaimana sebelumnya kalian menyertai.

Sebagian dari kalian telah kehilangan kerabat tercinta dalam perang Shiffin dan sebagian lagi kehilangan sobatnya di Nahrawan. Yang pertama menangis karena itu, yang kedua bersikeras menuntut darah mereka, dan yang ketiga berpaling enggan mengikuti kami.

Mu’awiyah telah mengajukan saran kepada kita yang mana sangat jauh dari adil dan tidak menghormati kita. Kini jika kalian memang siap untuk mati di jalan Tuhan, maka katakan padaku; supaya aku bersiap untuk berperang dan menjawabnya dengan pedang. Namun jika kaliang menginginkan hidup yang penuh kedamaian, maka katakanlah juga; agar aku dapat menerima sarannya itu dan juga memenuhi keinginan kalian.”

Lalu terdengar teriakan ramai dari mulut mereka, “Kami ingin hidup! kami ingin hidup!”[3]

Jadi Hasan bin Ali memilih berdamai ketika para pengikut meninggalkannya sendiri. Jika beliau tetap memaksakan untuk berperang, dengan melihat pengikut-pengikut yang sedemikian rupa, apakah beliau akan menang?

Adapun mengapa Hasan bin Ali dengan pengikutnya yang berjumlah sedemikian banyak tidak berperang namun Husain bin Ali yang hanya berpengikut sebanyak 72 orang bertekat pergi berperang? Salah satu jawabannya adalah, kematian Hasan bin Ali di medan perang pada waktu itu tidak akan menimbulkan dampak yang cukup besar dan berguna. Sedangkan kematian Husain bin Ali di masa itu memiliki dampak yang sangat luar biasa, misalnya kebangkitan dalam menggulingkan dinasti Umayah, dan lain sebagainya.

[1] Sunan Tirmidzi, jilid 5, halaman 305, nomor 3816, bab 92, bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 77.

[2] Sunan Tirmidzi, jilid 5, halaman 656, hadits 3768; Mustadrak Al Hakim, jilid 3, halaman 154 dan 151; Shahih Ibnu Hayyan, jilid 15, halaman 12, hadits 6959.

[3] Ibnu Atsir, Usd Al Ghabah fi Ma’rifat Al Shahabah, jilid 2, halaman 13 dan 14; Al Kamil fi At Tarikh, jilid 3, halaman 406.

Mana ilmu ghaib para imam Ahlul bait as?

Menurut pendapat Syiah, para Imam maksum mereka adalah orang-orang yang mengetahui ilmu ghaib. Mereka tahu bagaimana mereka akan mati dan mereka mati dengan ikhtiar dan kehendak sendiri. Lalu apakah seorang Imam yang meminum minuman beracun berarti telah bunuh diri?

Jawaban:

Pertama, terkadang dapat dikata bahwa kematian di jalan Tuhan bagi seoang Imam adalah suatu tugas, bahkan itu merupakan bentuk kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Husain bin Ali dengan penuh kesadaran ia memilih untuk menuju Karbala padahal ia tahu dengan jelas ia akan mati di sana. Namun kematian itu baginya merupakan tugas yang harus diselesaikan. Kini terbukti dengan kematian Husain bin Ali kedok tersingkap dan wajah busuk Bani Umayah terpajang jelas. Dengan kematiannya pun beliau telah menjadi motivator untuk para pejuang agar tidak takut mati dan terus berjihad di jalan Tuhan melawan orang-orang yang lalim. Pemerintah seperti Yazid yang telah mengingkari wahyu dan kenabian telah dipertanyakan dengan kematian Al Husain. Yazid si lelaki bengis dendam atas kematian keluarganya di perang Uhud dan kini ia ingin membalasnya. Dalam Sya’ir disebutkan bahwa ia berkata:

“Bani Hasyim telah bermain-main dengan pemerintahan. Dan atas Muhammad, tidaklah ada wahyu yang turun dan tiada pula kitab suci!¬† Aku bukanlah orang yang rela untuk tidak membalas dendam. Andai kini datuk-datukku yang telah mati di perang Uhud hidup kembali; aku ingin merayakan ini bersama mereka. Mereka pasti akan bergembira lalu berterimakasih padaku.”

Di hadapan pemerintah yang zalim, jika memang itu adalah tugas, Imam pasti rela mati di jalan perlawanan. Karena baginya itu adalah tugas yang harus dijalankan sebagai dirinya.

Begitu pula dengan seorang Imam yang bersedia meminum minuman beracun padahal ia tahu karenanya ia akan mati. Karena baginya itu adalah bentuk perlawanannya terhadap orang yang harus ia lawan. Itu adalah tugasnya. Imam berkehendak untuk mati tidak boleh disalah artikan. Maksud Imam berkehendak untuk memilih kematian yakni Imam bersedia memilih untuk mengambil sikap melawan yang akhirnya karena perlawanan itu ia harus mati.

Para Imam Syiah tidak hidup menyendiri dan enggan memberikan dampak-dampak positif kepada para pengikutnya. Mereka tetap bersikeras untuk menyampaikan ajaran kakek mereka, Rasulullah Saw. Adanya profesi sedemikian rupa dalam kondisi kekhilafahan para pemerintah zalim yang bertentangan dengan mereka, tidak bisa membuat kita heran mengapa para Imam Syiah mati sedemikian rupa. Segala langkah yang diputuskan para Imam tak lain untuk tercapainya tujuan-tujuan luhur mereka, tujuan Islam.

Lagipula perlu saya jelaskan bahwa pengetahuan Imam akan ilmu ghaib itu tidak seperti yang kalian kira. Imam hanyalah makhkluk Tuhan. Apa yang dimiliki Imam adalah pemberian Tuhannya. Kami Syiah meyakini bahwa ilmu ghaib para Imam adalah ilmu yang diberikan oleh Tuhan atas izin-Nya. Dalam riwayat disebutkan bahwa mereka berkata, “Jika kami ingin mengetahui sesuatu (yang ghaib), maka kami pasti diajarkan (diberi pengetahuan tentangnya).”[1]

Dengan demikian, kita tidak bisa dengan yakin berkata bahwa Imam pasti tahu segala hal yang ghaib tanpa terkecuali. Bisa jadi pada saat-saat tertentu seorang Imam tidak mengetahui apakah ada racun dalam minuman yang ia minum atau tidak; lalu ternyata ia mati karena teracuni. Mungkin dalam keadaan seperti itu tidak ada maslahat baginya untuk tahu apakah minuman tersebut berracun atau tidak.

Pengetahuan para nabi dan Imam akan hal ghaib sama seperti seorang yang membawa sepucuk surat rahasia dan berwewenang untuk membukanya jika ia ingin mengetahui isinya. Namun pasti mereka meminta izin terlebih dahulu dari Tuhan-Nya. Entah mereka tahu akan hal ghaib ataupun tidak tahu, namun jika Tuhan menghendaki mereka untuk melakukan suatu tugas, pasti tugas tersebut akan mereka laksanakan; tidak ada bedanya. Karena mereka adalah manusia-manusia suci yang selalu pasrah atas kehendak Allah Swt.

[1] Al Kafi, jilid 1, halaman 258.

Bukankah Ahlul Bait as juga mendukung para khalifah?

Kebanyakan pembesar dari kalangan sahabat telah mengikat hubungan kekeluargaan dengan Ahlul Bait nabi, hubungan mereka serasi dan Ahlul Bait pun mencintai mereka. Bukankah demikian?

Jawaban:

Kami perlu menjelaskan dua hal penting di sini:

Pertama: penanya berfikiran bahwa hubungan kekerabatan antar kabilah merupakan tanda keharmonisan dan keserasian mereka. Karena para sahabat menikah dengan anggota dari Ahlul Bait, maka hubungan mereka serasi. Sebagaimana yang dikenal dahulu kala bahwa adanya pernikahan antar kabilah menunjukkan keserasian hubungan antara mereka.

Padahal ikhtilaf dan perselisihan antara Ahlul Bait dan sahabat-sahabat nabi bukanlah perselisihan yang bersifat kekabilahan, namun ikhtilaf akidah dan juga prilaku; yang mana tidak dapat diselesaikan dengan jalinan hubungan pernikahan beberapa orang dari anak cucu mereka.

Dengan kata lain, jika seandainya ikhtilaf dan perselisihan antara keluarga nabi dengan kelompok lain merupakan ikhtilaf politik atau keuangan, kita dapat menanggapi adanya pernikahan antar kedua belah pihak sebagai tanda membaiknya hubungan mereka.

Titik ikhtilaf mereka ada pada permasalahan yang sangat prinsip dan mendasar, yaitu kekhilafahan dan kepemimpinan umat Islam sepeninggal nabi. Permasalahan ini tidak akan dapat diselesaikan hanya dengan adanya pernikahan antar keluarga; hingga saat ini pun masih belum tuntas terselesaikan. Jadi, pernikahan Hasan atau Husain putra Ali bin Abi Thalib dengan wanita dari keluarga khulafa tidak menjadi dalil adanya kedekatan pemikiran antara mereka.

Di Iraq, banyak sekali terjadi pernikahan antara keluarga Suni dengan Syiah. Namun itu bukan berarti kedua belah pihak keluarga saling menerima akidah satu sama lain.

Khalifah ketiga memiliki seorang istri beragama Kristen; ia bernama Na’ilah. Apakah hal itu menjadi dalil bahwa Utsman bin Affan adalah orang Kristen?[1]

Kedua: bukankah Allah Swt telah berfirman bahwa tidak ada seorang pun yang menanggung dosa orang lain?[2] Jika seseorang merupakan pendosa besar, anak cucunya tidak akan menanggung dosanya. Jika kakek-nenek seseorang telah menzalimi keluarga nabi, dosa itu tidak akan dipikul oleh cucunya. Karena setiap orang menanggung dosa dan pahalanya masing-masing.

Lebih dari itu, dalam jawaban pertanyaan ketiga kita telah jelaskan bahwa keputusan-keputusan sedemikian rupa diambil oleh para Imam Syiah demi kemaslahatan yang telah mereka pertimbangkan. Mereka tidak ingin pengikutnya terus tertekan keadaan dan penderitaan. Namun sikap itu tidak menjadi dalil adanya persamaan pemikiaran antara mereka dengan para khulafa.

[1] Al Bidayah wa Al Nihayah, jilid 7, halaman 153.

[2] An Najm, ayat 38.

Mengapa Imam Ali as tidak membela istrinya yang dizalimi?

Jika Fathimah Az Zahra memang dizalimi oleh para sahabat, lalu mengapa suaminya yang pemberani tidak membelanya?

Jawaban:

Pertanyaan di atas seakan menjelaskan kenyataan yang ada memang demikian. Padahal tidak ada bukti bahwa Ali bin Abi Thalib tidak membela istrinya.

Ali bin Abi Thalib sesuai dengan tuntutan syari’at telah menjaga kehormatannya. Penjagaan dan pembelaan saat itu tidak bisa kita anggap harus dengan bentuk pertumpahan darah dan peperangan, karena tidak menjadi maslahat Islam. Jika Ali memberontak dan berhadapan dengan mereka, maka akan terbentuk dua kelompok di antara umat Islam: kelompok pendukung khalifah, dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang tetap menjaga bai’atnya terhadap Ali sejak masa Ghadir Khum sebelum wafat nabi. Perpecahan inilah yang tidak diinginkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Banyak sekali orang-orang munafik di waktu itu yang berusaha memperkeruh keadaan. Misalnya Abu Sufyan, musuh bebuyutan Islam, saat itu mendatangi rumah Ali dan berkata kepadanya, “Wahai Ali, berikan tanganmu, aku ingin membai’atmu.”

Ali bin Abi Thalib tahu bahwa Abu Sufyan berlaga menjadi pengikutnya dan ingin membai’atnya hanya demi terciptanya perselisihan. Oleh karenanya Ali berkata padanya:

“Demi Tuhan engkau mengucapkan kata-katamu ini dengan niat agar berkobar api fitnah di anatara umat. Engkau selalu menginginkan keburukann untuk Islam dan Muslimin. Aku tidak menginginkan semua ini darimu.”[1]

Kepada penanya saya ingin jelaskan, bahwa orang pemberani bukanlah orang yang selalu mencabut pedangnya di setiap keadaan. Orang yang berani adalah orang yang menjalankan tugasnya. Betapa banyak orang yang mengaku pemberani namun mereka takut untuk mendengar perkataan yang benar.

Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat sekelompok orang berkumpul. Ternyata mereka terkagum-kagum akan seseorang. Beliau bertanya kepada mereka, “Ia siapa?” Dijawab, “Ia adalah pendekar pemberani yang mampu mengangkat beban yang paling berat.” Lalu beliau berkata, “Orang pemberani adalah orang yang mampu mengalahkan keinginan-keinginan nafsunya.”[2]

Sejarah membuktikan bahwa di masa itu Islam masih belum mengakar di hati umatnya. Islam masih baru tumbuh lemah yang mungkin jika tertiup angin lembut akan tercabut dan sirna dari hati mereka.

Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Jika seandainya Quraisy bukanlah orang-orang yang baru masuk Islam, niscahya aku akan merombak Ka’bah. Lalu sebagai gantinya satu pintu, aku akan letakkan dua pintu untuknya.”[3]

Kita akui tidak ada orang yang lebih pemberani dar nabi Muhammad Saw. Namun beliau tetap melihat kondisi yang sedemikian rupa dan mempertimbangkannya. Apakah benar jika ada sebagian orang-orang munafik yang enggan membayar zakat berkoar sedang umat Islam yang bersaudara saling bertikai?

Orang-orang munafik berharap Ali bin Abi Thalib yang telah menusukkan pedangnya kepada orang-orang kafir di perang Badar dan Uhud melakukan hal yang sama terhadap umat Islam sepeninggal nabi dengan pedang yang sama. Jika ada yang membenarkan hal tersebut, maka ia bukanlah orang yang mengenal sejarah Islam, dan juga tidak mengenal siapa Ali.

[1] Tarikh Thabari, jilid 2, halaman 449.

[2] Bihar Al Anwar, jilid 1, halaman 77 dan 112.

[3] Musnad Ahmad, jilid 6, halaman 176.

Imam Ali as enggan menjadi khalifah sepeninggal Utsman bin Affan?

Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, Muslimin berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib untuk membai’atnya. Ali berkata, “Tinggalkanlah aku, carilah selainku.” Jika Ali memang khalifah Tuhan, lalu mengapa ia meminta umatnya untuk mencari orang lain?

Jawaban:

Kekhalifahan dapat kita bagi menjadi dua macam yang perbedaan keduanya sangat jelas sekali:

  1. Kekhalifahan yang ditetapkan (di-nash-kan). Yang mana penetapan khalifah tersebut dilakukan oleh Tuhan sendiri. Oleh karenanya kekhalifahan sedemikian rupa tidak mungkin bisa digagalkan, dibatalkan dan diingkari. Penetapan khalifah ini telah dijelaskan oleh nabi dan semua orang berkewajiban untuk mengimani kekhalifahan ini.
  2. Kekhalifahan yang dipilih umat. Kekhalifahan tersebut ditetapkan oleh pilihan terbanyak umat. Yang mana kami tidak menerima adanya kekhilafahan bentuk kedua.

Penjelasannya begini, Muslimin setelah terbunuhnya Utsman bin Affan meminta Ali bin Abi Thalib untuk menjadi khalifah sebagaimana khalifah-khalifah sebelumnya dengan cara dibai’at. Namun Ali bin Abi Thalib menolak keinginan mereka.

Penolakan tersebut bukan berarti Ali tidak merasa dirinya adalah khalifah, namun yang ia maksud adalah cara mereka untuk meyakini siapakah khalifah itu yang salah dan tidak bisa diterima.

Lagi pula sangat aneh, mereka meminta Ali untuk menjadi khalifah dalam kondisi yang memprihatinkan, yakni tidak terlihat lagi aura spiritualitas dalam diri sahabat-sahabat waktu itu; kebanyakan telah terbuai dengan kecintaan dunia dan materi.

Coba kita telaah kembali sejarah dan kita baca lagi kisah Thalhah, Zubair, Abdur Rahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Abi Sarh.

Khalifah sebelumnya telah menyerahkan seperlima kekayaan Afrika kepada Marwan bin Hakam. Perbuatan itu benar-benar tidak dibenarkan sampai ada beberapa sahabat lain yang mengkritik dan menyalahkannya.

Sampai ada penyair yang berkata, “Engkau telah menyerahkan seperlima kekayaan Afrika kepada Marwan dan kau memilihnya. Engkau condong untuk menmbela keluargamu sendiri.”

Dalam keadaan seperti ini Imam berkata, “Aku tidak layak untuk menjadi khalifah di antara kalian. Pergilah dan carilah orang lain.” Namun kerena masyarakat Muslimin terus medesaknya, dan demi terjaganya persatuan mereka, Ali tidak menemukan jalan selain menjadi khalifah untuk mereka. Namun sebelum memulai harinya sebagai “khalifah yang diinginkan umatnya”, ia berpidato terang-terangan menyalahkan khalifah-khalifah sebelumnya dan meminta semua orang untuk mengembalikan harta yang telah diterima dari khalifah ke Baitul Maal. Ia berkata:

“Demi Tuhan, dengan uang haram yang telah kalian ambil dari Baitul Maal kalian menjadikannya mahar untuk wanita-wanita kalian, membeli budak-budak perempuan kalian… Sungguh aku akan mengembalikannya ke Baitul Maal. Sesungguhnya keadilan seperti itu. Jika ada yang tidak menyukai keadilan, hendaknya mereka lebih tidak menyukai lagi kezaliman.”[1]

Penanya dalam buku itu tidak menukilkan ucapan Ali bin Abi Thalib secara sempurna. Di sini kami akan menukilkan ucapannya secara sempurna agar kita faham mengapa beliau mulanya menolak permintaan mereka. Ia berkata yang intinya: “Carilah orang selainku. Kalian telah berubah dan hati kalian telah ternodai. Betapa harta benda telah menyelewengkan kalian dari jalan yang benar. Sungguh jika kalian memintaku untuk menjadi pemimpin kalian, aku akan bawa kalian ke tempat yang aku kehendaki dan tentunya aku tidak akan mendengarkan sanggahan, kritikan, atau cacian siapapun terhadap caraku.”[2]

Dengan ucapannya itu Ali bin Abi Thalib telah menjelaskan bagaimana keadaan mereka dan khalifah mereka di saat itu. Ia hanya menginginkan jalannya, bukan jalan orang-orang sebelumnya.

Mari kita sebutkan satu persatu seperti apa kondisi yang menguasai umat saat itu:

  1. Sunah nabi telah terubah secara bertahap. Misalnya kini bangsa Arab telah diutamakan dari bangsa selain Arab; tuan telah dimuliakan daripada budaknya; dan…
  2. Korupsi seperti yang telah dilakukan oleh Utsman, misalnya membagikan harta Baitul Maal secara tidak adil, memberikan keluarganya dari Bani Umayah terhadap Imarat, dan masih banyak lagi. Yang mana itu semua mendorong umat Islam untuk memberontak dan membunuhnya.
  3. Sifat tamak[3] yang tersimpan dalam diri orang-orang yang mendesak Ali bin Abi Thalib untuk menjadi khalifah agar ia dapat memanfaatkan kesempatan politik.[4]
  4. Adanya desakan-desakan terhadap Ali bin Abi Thalib untuk menjabat sebagai khalifah.[5]
  5. Keberadaan Mu’awiyah dan kebenciannya terhadap Ali bin Abi Thalib, karena di zaman nabi ada salah satu dari keluarga dekatnya yang terbunuh di tangan Ali saat peperangan melawan kaum kafir. Mu’awiyah pun tak pernah lelah menggunakan cara apapun untuk menuduh Ali bin Abi Thalib sebagai pembunuh Utsman bin Affan.[6]
  6. Semua fitnah dan kondisi yang ada di zaman Utsman telah diperkirakan oleh Ali bin Abi Thalib sepuluh tahun sebelumnya.[7] Ternyata kini keadaannya lebih parah dari segala yang telah diperkirakannya.

Segalanya telah diterangkan oleh Ali bin Abi Thalib sehingga sempurnalah hujjah bagi mereka. Dengan demikian setelah mereka membai’atnya, tidak ada yang boleh berhak untuk mengangkat suara memprotesnya. Oleh karena itulah suatu saat kemudian Ali berkata kepada mereka, “Sungguh bai’at kalian atasku tidaklah merupakah keputusan yang terburu-buru dan tanpa pemikiran sebelumnya.”[8]

Mengenai diamnya ia dalam peristiwa Saqifah dan bersedianya dia untuk menerima pemerintahan pasca terbunuhnya Utsman berkata:

“Maka aku mengangkat tanganku saat melihat sekelompok orang berpaling dari Islam dang menginginkan binasanya agama Muhammad Saw. Aku takut jika aku tidak menolong Islam dan pemeluknya maka kelak tidak terlihat sedikitpun sisa dari agama ini. Melihat binasanya Islam dengan mata kepalaku sendiri lebih menyakitkan bagiku daripada melepaskan hakku sebagai pemimpin kalian. Sungguh kekuasaan hanyalah sesaat saja dan kelak pasti tiada.”[9]

[1] Nahj Al Balaghah, khutbah ke-15.

[2] Nahj Al Balaghah, khutbah ke-92.

[3] Ibid, khutbah ke-164; Al Milal wa An Nihal, Shahristani, halaman 32 dan 33.

[4] Ibid, hikmah ke-191 dan 202.

[5] Ibid, khutbah ke-172.

[6] Ibid, surat ke 10, 28, dan 64.

[7] Syarh Nahj Al Balaghah, Ibnu Abi Al Hadid, halaman 195.

[8] Ibid, khutbah ke-136 dan surat ke-54.

[9] Ibid, surat Ali bin Abi Thalib kepada penduduk Mesir, nomor 63.

Nama para khalifah pada anak-anak Imam Ali as

Kenapa Ali bin Abi Thalib memberi nama anak-anaknya dengan nama para khalifah?

Jawaban:

Kita mengetahui bahwa nama-nama ketiga khalifah bukanlah nama yang hanya khusus dimiliki oleh mereka saja. Sesungguhnya nama-nama tersebut memang ada di tengah-tengah masyarakat Arab baik setelah Islam maupun sebelumnya. Jadi pemberian nama tersebut didak memiliki arti apa-apa yang berkenaan dengan para khalifah. Anda dapat merujuk ke kitab-kitab Rijal ¬†seperti Al Istii’aab tulisan Ibnu Abdul Barr dan Usd Al Ghabah tulisan Ibnu Atsir untuk mencari tahu siapa saja sahabat nabi yang juga memiliki nama Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Di sini kami ingin membawakan bukti kecil dari Usd Al Ghabah, bahwa ada beberapa sahabat yang namanya juga Umar. Seperti: Umar Al Aslami, Umar Al Jam’i, Umar bin Al Hakam, Umar bin Salim Al Khaza’i, Umar bin Saraqah, Umar bin Sa’ad Al Anmari, Umar bin Sa’ad As Salami, Umar bin Sufyan, Umar bin Abi Salamah, Umar bin Amir As Salami, Umar bin Abaidillah, Umar bin ‘Akramah, Umar bin ‘Amr bin Lahiq, Umar bin Malik bin Aqabah, Umar bin Malik Al Anshari, Umar bin Mu’awiyah Al Ghadhiri, Umar bin Yazid, Umar bin Al Yamani.

Mereka adalah nama-nama yang disebutkan Ibnu Atsir dalam kitabnya. Padahal itu baru sahabat, masih banyak lagi yang termasuk Tabi’in dan memiliki nama Umar juga. Oleh karena itu nama-nama tersebut adalah nama-nama masyhur di kalangan Arab dan sering dipakai oleh siapa saja, bukan nama spesial miliki ketiga khalifah.

Lebih dari ini, kelak dalam jawaban pertanyaan keenam akan kami jelaskan mengenai alasan lain penamaan ini.

Dengan demikian, hanya karena nama yang sama kita tidak bisa mengingkari kezaliman-kezaliman yang pernah dilakukan terhadap Ahlul Bait sepanjang sejarah.

Perlu ditambahkan lagi, bahwa para Imam di saat-saat terdesak yang sekiranya menyulitkan pengikut-pengikutnya berhak melakukan tindakan-tindakan seperti memberi nama anak-anaknya dengan nama para khalifah, menjalin ikatan dengan khalifah dengan cara pernikahan, dan lain sebagainya. Tentununya tujuannya adalah untuk mencari aman dari tekanan pemerintah zalim semasa mereka. Lalu dengan itu para khalifah tidak bisa sewena-wena lagi terhadap mereka dan tak bisa menyalahgunakan kedudukannya untuk melakukan kezaliman.