Segala hal berkaitan dengan proses Istihlal (melihat dan mentukan Hilal awal bulan) – Wawancara dengan Hujjatul Islam Muwahhidnejad

Tulisan yang akan Anda baca di bawah ini adalah terjemahan teks bahsa Parsi wawancara Hujjatul Islam Muwahhidnejad salah seorang pakar di salah satu fakultas Universitas Industri Syarif di Tehran dan juga anggota Lembaga Istihlal Kantor Rahbar.

Setiap tahun, dengan tibanya bulan suci Ramadhan dan juga menjelang hari raya Idul Fitri, muncul berbagai masalah penting yang slaah satunya adalah menentukan awal bulan dengan cara Istihlal (melihat hilal). Oleh karena itu Lembaga Istihlal yang dibentuk oleh Kantor Rahbar dengan 150 tim ahli yang ada di dalamnya di saat-saat penting itulah mereka meneliti dan mengirimkan laporan mereka kepada Rahbar untuk dianalisa. Setelah melakukan analisa mendalam, Rahbar menyampaikan pendapat beliau dan mengumumkannya.

Kali ini kita akan mewawancarai Hujjatul Islam Alireza Muwahhidnejad salah seorang anggota Lembaga Istihlal Kantor Rahbar.

Sebenarnya masalah Istihlal di jaman Ma’shumin as seperti apa? Apakah di jaman mereka juga sering terjadi masalah-masalah ikhtilaf dan perbedaan penentuan awal bulan seperti sekarang?

Saat kita merujuk riwayat-riwayat yang ada, kita mendapati bahwa memang masalah ini terkadang menimbulkan ikhtilaf. Di jaman Ma’shumin, ada orang-orang yang mengaku telah melihat hilal, dan sebagian lainnya mengaku belum melihat hilal. Karena sebagaimana yang kita tahu hilal itu sangat tipis sekali dan susah dilihat, begitu pula waktu dan kesempatan untuk melihatnya sangatlah singkat. Jelas kondisi seperti ini memicu perbedaan di tengah-tengah masyarakat.

Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa jika hilal tidak terlihat maka hendaklah puasa digenapkan hingga 30 hari.

Ada riwayat menarik di zaman Imam Ali as, yang mana pada zaman beliau masyarakat berpuasa semenjak mereka melihat hilal bulan Ramadhan dan berhenti berpuasa ketika melihat hilal berikutnya. Lalu tak lama kemudian mereka sadar saat mereka hitung jumlah hari puasa mereka hanya 28 hari. Akhirnya Imam Ali as memerintahkan mereka untuk mengqadha 1 hari puasa yang terlewatkan di bulan Ramadhan. Karena satu bulan Hijriah tidak pernah kurang dari 29 hari. Ini salah satu contoh adanya ikhtilaf dalam Istihlal di zaman para Aimah.

Di riwayat-riwayat Ahlu Sunah juga ada hal sedemikian rupa, misalnya di zaman Umar bin Khattab ada orang tua yang mengaku telah melihat hilal namun semua orang lainnya tidak melihat hilal. Kemudian khalifah menengok orang tua itu. Ternyata ada sehelai alis putih yang menggantung di depan matanya. Khalifah memerintahkan agar alisnya dirapikan lalu orang tua itu diminta melihat hilal kembali. Akhirnya si orang tua sadar kalau ia salah lihat.

Perbedaan lokasi geografis di penjuru dunia apakah berpengaruh pada penentuan hilal?

Salah satu hal yang sering dipermasalahkan dalam Istihlal adalah ketebalan hilal itu sendiri. Ketika hilal lebih tebal, maka lebih mudah dilihat. Kalau hilal itu tipis sekali, susah sekali dilihat. Oleh karena itu jelas perbedaan posisi seseorang secara geografis berpengaruh pada penentuan hilal. Secara alami daerah yang matahari tenggelam lebih lambat di situ, semakin lama bulan terlihat semenjak masa Muqoronah/Waxing Crescent Moon (yaitu saat matahari dan bulan sejajar lurus dengan bumi), maka semakin besar kemungkinan hilal terlihat lebih tebal. Dalam kondisi seperti itu, semisal masa Muqoronah/Waxing telah berlalu, jika hilal bulan tidak terlihat di suatu kota misalnya di Tokyo, bisa jadi tak lama kemudian hilal bakal terlihat di Tehran (karena matahari tenggelam di Tehran lebih lambat daripada di Jepang). Artinya peluang melihat hilal di Tehran lebih besar daripada di Tokyo. Bisa dikatakan semakin ke barat suatu tempat, maka semakin besar kemungkinannya lebih cepat hilal terlihat; karena semakin lama masa berlalu sejak masa Muqaranah/Waxing maka semakin tebal hilal terlihat.

Masalah lain yang sering dibicarakan adalah ketinggian bulan dari ufuk/horizon. Misalnya saat posisi bulan sangat dekat sekali dengan horizon maka sangat susah sekali hilal dilihat. Coba kita lihat matahari di siang hari yang terik, matahari begitu terang sinarnya sampai tidak bisa dilihat dengan mata telanjang (karena silau); tapi begitu matahari mulai hendak terbenam dan berada dekat dengan horizon, kita bisa melihat bulat matahari dengan mudah. Nah seperti itu sebaliknya saat melihat hilal yang posisinya lebih tinggi dari horizon maka itu lebih mudah daripada melihat hilal yang posisinya sangat dekat dengan horizon.

Itu tadi perbedaan lokasi dari sisi barat dan timurnya bumi. Begitu juga perbedaan lokasi utara dan selatan bumi, berpengaruh juga. Misalnya bagi orang yang berada di daerah lebih utara lebih kesulitan melihat hilal di saat matahari terbenam daripada orang yang lokasinya lebih ke selatan daripada mereka. Semua ini berperan dalam munculnya perbedaan terlihatnya hilal.

Bagaimana di Iran sendiri? Apakah bisa terjadi sebagian kota di Iran melihat hilal namun di kota lainnya tidak bisa melihatnya?

Di Iran mungkin saja kota-kota yang berada di bagian selatan lebih mudah melihat hilal, namun di bagian utara lebih sulit melihatnya.

Sebetulnya sangat jarang sekali terjadi jika kota-kota di selatan sudah melihat hilal namun di utara sama sekali tidak bisa melihatnya. Sejauh ini yang di bagian selatan tetap bisa melihat hilal namun sedikit lebih sulit dibanding dengan yang di selatan.

Peran Lembaga Istihlal sejauh ini seperti apa?

Lembaga Istihlal memiliki dua tugas, yang pertama menerbitkan kalender resmi negara, dan yang kedua adalah kegiatan-kegiatan Istihlal seperti ini. Adapun dalam Istihlal, kami hanya mengumpulkan data-data di lapangan, setelah itu kami melaporkannya kepada Rahbar dan beliau yang menentukan awal bulan jatuh pada hari apa. Jadi kami tidak menentukan awal bulan. Selain data-data lapangan dalam melihat hilal, Rahbar juga mempertimbangkan prediksi para ahli. Jadi terkadang beliau tidak hanya bertumpu pada terlihatnya hilal saja, namun beliau juga mempertimbangkan prediksi para ahli lalu memberikan kesimpulannya.

Apa dasar fikih Rahbar dalam masalah melihat hilal? Mengapa terkadang terjadi perbedaan pendapat antara para Marja’ mengenai Istihlal?

Alhamdulillah beberapa tahun terakhir ini sedikit sekali terjadi perbedaan penentuan awal bulan. Beberapa tahun terakhir kinerja Lembaga Istihlal cukup bagus. Laporan-laporan yang detil dan valid kami sampaikan ke Kantor Rahbar dan kantor-kantor para Marja’ lainnya. Hanya saja memang ada perbedaan fikih yang diyakini Rahbar, misalnya menurut Rahbar melihat bulan dengan menggunakan optik diperbolehkan sedang bagi Marja’-marja’ lainnya tidak. Menurut beliau orang yang melihat hilal melalui lensa teleskop sama seperti orang yang melihat kawannya di atas gunung dengan menggunakan lensa teleskop. Orang yang melihat kawannya di atas gunung dengan menggunakan teleskop tidak bisa kita sebut dia pembohong atau yang ia lihat salah. Sedang Marja’-marja’ lainnya berpedoman bahwa di jaman Ma’shumin tidak ada orang yang menggunakan teleskop untuk melihat hilal.

Sebagian orang merasa hal ini menunjukkan siapa Marja’ Taqlid yang kekinian dan siapa yang tidak. Padahal bukan begitu, semua ada dasar-dasar hukum yang dijadikan landasan bagi setiap Mar’aj dalam menentukan hukum Syar’iy.

Salah satu perbedaan beliau dengan Marja’-marja’ lainnya adalah, jika seandainya hilal terlihat setelah matahari terbenam itu hukumnya sah dan bisa diterima. Meski beberapa Marja’ lain juga berpendapat yang sama.

Sumber: farsi.khamenei.ir

Tata cara shalat Ied dalam fikih Ahlul Bait as

Shalat Iedul Fitri dan Iedul Adha hukumnya wajib saat ada imam ma’shum dan harus dikerjakan secara berjama’ah. Adapun di jamah ghaibnya Imam Zaman as, hukumnya mustahab (sunah/tidak wajib) dan bisa dikerjakan sendiri, tapi lebih hati-hatinya dikerjakan berjamaah.

Waktu Shalat Eid adalah semenjak matahari terbit hingga adzan Dhuhur.

Mustahab setelah terbit matahari di hari Iedul Fitri untuk makan dan memberi Zakat Fitrah (atau menyisihkan harta untuknya) lalu mengerjakan Shalat Eid.

Tata cara Shalat Eid:

Shalat Eid dua rakaat. Tiap rakaat, seusai membaca surah Al-Fathihah melakukan 5 kali takbir, dan seusai tiap takbir melakukan qunut. Setelah qunut ke-5 kembali melakukan takbir, kemudian ruku’ dan dua sujud untuk menyelesaikan rakaat pertama. Kemudian melanjutkan rakaat kedua dengan cara yang sama, hanya saja di rakaat kedua hanya ada empat qunut, setelah qunut keempat melakukan takbir kemudian ruku’ dan dilanjutkan hingga diakhiri dengan tasyahud dan salam.

Dalam tiap qunut shalat boleh membaca doa apapun, tapi disarankan membaca doa ini:

اللّهُمَّ أَهْلَ الْكِبْرياءِ وَالْعَظَمةِ

Ya Allah pemilik keagungan dan kebesaran

وَ أهْلَ الجُودِ وَالجَبَرُوتِ

pemilik keperkasaan dan kedermawanan

وَ أَهْلَ العَفْو وَالرَّحْمَةِ

pemilik ampunan dan rahmat

وَ أَهْلَ التَقّويٰ وَالمَغْفِرَة

dzat yang menuntut ketakwaan dan penuh maghfirah

أَسْئَلُكَ بَحَقِّ هذَا الْيوَمِ

aku memohon demi hari ini

الّذي جَعَلْتَهُ لِلمُسْلِمينَ عيداً

yang Kau jadikan hari raya untuk umat Islam

وَ لِمُحَمّدٍ صَلّيٰ اللهُ عَليْه وَ آلِهِ ذُخْراً وَ شَرَفاَ وَ کِرامتاً وَ مَزيداً

dan Kau jadikannya kemuliaan, kehormatan dan karunia bagi Muhammad saw dan keluarganya

أَن تُصَلّي عَليٰ مُحَمّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

haturkan shalawat salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

وَ أَنْ تُدْخِلني في كُلِّ خَيْرٍ أَدْخَلْتَ فيهِ مُحَمَّداً وَ آلَ مُحَمَّد

lalu Kau masukkan daku pada segala kebaikan yang Kau telah memasukkan Muhammad dan keluarganya ke sana

وَ أَنْ تُخْرِجَني مِنْ كُلِّ سُوءٍ أَخْرَجْتَ مِنْهُ مُحَمَّداً وَ آل مُحَمَّدٍ

dan Kau keluarkan daku dari segala keburukan yang mana Kau telah mengeluarkan Muhammad dan keluarganya dari sana

صَلَوٰاتُكَ عَلَيُهِ وَ عَلَيْهِمْ

shalawat-Mu senantiasa untuknya dan mereka

اللّهُمَّ إني أَسْئَلَكَ خَيرَ مٰا سَئَلَكَ مِنْهُ عِبادُكَ الصّٰالِحُونَ

ya Allah aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang dimohon oleh hamba-hamba shaleh-Mu

وَاَعُوذُ بِكَ مِمّا اسْتَعاذَ مِنْهُ عِبادُكَ الْمُخْلِصوُنَ

dan aku berlindung pada-Mu dari apapun yang dimintai perlindungan oleh hamba-hamba-Mu yang ikhlas

Adab Berqurban dalam Ajaran Ahlul Bait

Bagi orang yang menunaikan ibadah haji, wajib untuk berqurban di hari ke-10 bulan Dzul Hijjah di kota Mina.

Berqurban bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji

Namun bagi yang tidak melakukan ibadah haji tersebut, disunahkan juga untuk berqurban dan membagi-bagikan daging qurban kepada sesama.

Imam Shadiq as pernah berkata, “Di hari Nahr (yakni Idul Adha) tidak ada amal yang lebih baik dari berqurban.”

Syaikh Shaduq menjelaskan hadis beliau dengan berkata, “Para pembesar berkeyakinan bahwa berqurban secara umum sangatlah dianjurkan, baik di Mina maupun di luar Mina, baik di hari Idul Adha maupun tidak; namun berqurban di Mina dan di hari Idul Adha pahalanya lebih banyak.”

Bahkan berhutang untuk berqurban pun dianjurkan

Dalam kitab Man La Yahduruhul Faqih milik Syaikh Shaduq jil. 2 hal. 213 disebutkan:

وَ جَاءَتْ أُمُّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِلَى النَّبِيِّ ص فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَحْضُرُ الْأَضْحَى وَ لَيْسَ عِنْدِي ثَمَنُ الْأُضْحِيَّةِ فَأَسْتَقْرِضُ وَ أُضَحِّي فَقَالَ اسْتَقْرِضِي وَ ضَحِّي فَإِنَّهُ دَيْنٌ مَقْضِیٌّ.

Ummu Salamah mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah! Telah tiba hari Idul Adha dan saya tidak punya uang untuk berqurban. Apakah aku boleh mencari hutang untuk berqurban?” Rasulullah saw menjawab, “Cari hutang dan berqurbanlah. Karena itu adalah hutang yang bakal terlunasi (jangan mengkhawatirkan hutang itu karena Allah akan melunasinya).”

Memakan daging hewan qurban sendiri

Imam Baqir as berkata:

«قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ (ع) كَانَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ (ع) لَا يَأْكُلُ يَوْمَ الْأَضْحَى شَيْئاً حَتَّى يَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ»

“Imam Ali as di hari Idul Adha tidak memakan makanan apapun sampai beliau memakan makanan dari binatang qurbannya.”

– Man La Yahduruhul Faqih, jil. 1, hal. 508

Dalam riwayat-riwayat lainnya juga disebutkan bahwa memberikan hadiah dan membagikan daging qurban sangat dimustahabkan.

Bagaimana cara membagikan daging hewan qurban?

Para Aimah ma’shum as membagikan sepertiga daging qurban kepada para tetangga, sepertiga kepada orang yang membutuhkan dan sepertiga lainnya untuk keluarganya.

«وَ كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ وَ أَبُو جَعْفَرٍ (ع) يَتَصَدَّقَانِ بِثُلُثٍ عَلَى جِيرَانِهِمْ وَ بِثُلُثٍ عَلَى السُّؤَّالِ وَ بِثُلُثٍ يُمْسِكَانِهِ لِأَهْلِ الْبَيْت»

“Yang biasa dilakukan oleh Ali bin Husain as dan Abu Ja’far as di hari qurban adalah, mereka mensedekahkan sepertiga qurubannya kepada para tetangga, sepertiga kepada orang yang meminta dan membutuhkan lalu sepertiga lainnya kepada anggota keluarganya.”

– Man La Yahduruhul Faqih, jil. 1, hal. 493

Sumber: YJC

Hukum orang tua dan keluarga memakan daging aqiqah anaknya dalam Fikih Ahlul Bait

Pertanyaan:

Apa hukum memakan daging aqiqah anak sendiri?

Jawaban:

Memakan daging aqiqah anak sendiri dalam ajaran fikih Ahlul Bait as adalah makruh, terutama bagi sang ibu, lebih makruh lagi.

Tidak hanya bapak dan ibu saja yang makruh memakan daging aqiqah tersebut, begitu pula orang-orang yang harus dinafkahi sang ayah, misalnya kakak atau adik anak yang diaqiqahi mereka makruh memakan daging aqiqah yang dimaksud.

Kecuali jika kakak atau adik tadi sudah bukan orang yang harus dinafkahi oleh sang ayah, misal kakak atau adik itu sudah menikah dengan orang lain (karena jika sudah menikah, ayah tidak lagi harus menafkahi mereka).

Lalu bagaimana jika anak yang diaqiqahi itu sendiri? Apakah ia boleh memakan daging aqiqah? Ia pun tak terkecualikan, makruh hukumnya bagi anak yang diaqiqahi untuk memakan daging aqiqahnya sendiri.

Tidak hanya makruh mengkonsumsi daging hewan aqiqah dalam kasus seperti ini, bahkan sisa-sisanya pun juga makruh, seperti jeroan, tulang-tulangan dan lain sebagainya.

Hal ini bertolak belakang dengan Qurban, dimana saat berqurban seorang yang melakukan Qurban (dalam hadits disebutkan) hendaknya tidak makan apapun kecuali memakan yang ia qurbankan.

Sumber: Portal Anhar

Amalan dan Anjuran Ahlul Bait as di Hari ‘Arafah

Hari ‘Arafah adalah hari ke-9 bulan Dzul Hijjah, tepat sehari sebelum hari raya ‘Idul Qurban.

Berdasarkan fikih Syi’ah, para jama’ah haji harus melakukan Wuquf di Padang ‘Arafah sejak dhuhur hingga maghrib. Bagi umat Islam, hari ‘Arafah termasuk salah satu hari yang sangat banyak fadhilahnya.

Dalam kitab-kitab doa dan amalan-amalan Ahlul Bait as, disebutkan bahwa yang paling berfadhilah di hari ‘Arafah adalah berdoa dan beristighfar. Membaca ziarah Imam Husain as dan juga doa ‘Arafah di hari ini sangatlah dianjurkan.

Mengapa disebut ‘Arafah?

‘Arafah dari bahasa ‘Arab yang memiliki arti “mengetahui” yang diiringi dengan pemahaman, tafakkur dan tadabbur.[1]

Yang disebut Padang ‘Arafah adalah suatu tempat di Makkah. Ada yang mengatakan tempat itu dikenal dengan ‘Arafah karena lokasinya yang terletak di antara gunung-gunung.

Fadhilah dan Keutamaan

Hari ‘Arafah adalah hari dimulainya Manasik Haji. Para jama’ah haji di hari ini berkumpul di padang ‘Arafah, membaca doa, beristighfar serta bersyukur karena mendapatkan taufik dan kesempatan menunaikan ibadah haji.

Dari kalangan Ai’mah Ahlul Bait as banyak riwayat yang menjelaskan fadhilah hari ini serta doa-doa apa saja yang layaknya dibaca di hari ‘Arafah. Beberapa di antara amalan yang paling dianjurkan adalah membaca Do’a ‘Arafah Imam Husain as dan Do’a ‘Arafah Imam Sajjad as.

Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait as disebutkan bahwa di hari ‘Arafah ini pintu pengampunan dosa dan pengabulan doa.[2]

Hukum Fikih terkait Hari ‘Arafah

Dalam fikih Syi’ah para jama’ah haji wajib berada di ‘Arafah untuk Wuquf dari duhur tanggal 9 Dzulhijjah hingga maghrib. Yakni di saat-saat itu jama’ah haji harus berada di ‘Arafah dan tidak boleh keluar dari sana. Wuquf ini adalah salah satu rukun haji, yakni jika ada jama’ah haji yang tidak pergi ke ‘Arafah untuk berdiam diri sejenak sekalipun di sana maka hajinya batal.[3]

Adapun dalam fikih Ahlu Sunnah, terdapat berbedaan pendapat:

  • Wuquf dari maghrib hari ke-10 hingga waktu sahur hari ke-10;
  • Wuquf dari waktu sahur hari ke-9 hingga waktu sahur hari ke-10;
  • Wuquf dari duhur hari ke-9 hingga fajar hari ke-10.

Amalan-amalan yang dimustahabkan

Banyak amalan yang dimustahabkan di hari ‘Arafah, di antaranya adalah:

  • Banyak-bayak beristighfar;
  • Membaca Doa ‘Arafah Imam Husain as;
  • Membaca Doa ‘Arafah Imam Sajjad as;
  • Mandi;
  • Membaca Ziarah Imam Husain as;
  • Bermalam di Mina hingga pagi;
  • Beredekah;
  • Berpuasa.

Sumber: WikiShia


[1] Raghib Isfahani, Mufradat, hal. 560.

[2] Shaduq, Man La Yahdhuruhul Faqih; Kullaini, Al-Kafi, jil. 4, hal. 146 dan 561.

[3] Musawi Syahrudi, Jami’ul Fatawa Manasik Hajj, hal. 173 dan 174.

Kapan Lebaran? Apakah bisa mengikuti hasil sidang isbat pemerintah?

Perkara menentukan awal bulan Qamari seperti menentukan awal bulan Ramadhan dan Hari Raya Iedul Fitri memang dari dulu selalu begini, ada yang lebaran duluan ada yang belakangan.

Kita kalangan Ahlul Bait mempunyai organisasi tersendiri yang juga memiliki tim rukyat hilal, yang tak jarang hasil rukyat hilal tim kita berbeda dengan hasil rukyat hilal dan sidang isbat pemerintah.

Pertanyaannya, apakah kita bisa mengikuti salah satu mereka? Misalnya kita mengikuti hasil sidang isbat pemerintah tanpa mengikuti keputusan organisasi kita sendiri?

Pertanyaan ini pernah dilontarkan langsung ke situs Rahbar (screenshotnya bisa dilihat di atas) dalam bahasa Farsi. Terjemahannya sebagai berikut:

Pertanyaan

Saya adalah warga Indonesia. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia (tapi kebanyakan adalah penganut Ahlu Sunnah), dan negara ini memiliki tim istihlal yang ditempatkan di berbagai titik di seluruh negeri, apakah saya bisa mengikuti hasil keputusan istihlal mereka?

Jawaban

Jika istihlal mereka bagi Anda meyakinkan, cukup. Jika tidak harus dicari jalan yang syar’iy bagi Anda untuk meyakini apakah hilal terlihat atau tidak.

Lalu mari kita kembali ke diri kita sendiri, apakah kita yakin dengan putusan sidang isbat pemerintah? Atau tidak? Kalau kita yakin dengan istihlal pemerintah kita bisa mengikutinya. Jadi jawabannya terserah Anda merasa yakin dengan isbat hilal pemerintah atau organisasi kita.

Sumber: Leader.ir

Hukum Hari Valentine menurut Syiah Ahlul Bait

Syiah Ahlul Bait (Pengikut Ahlul Bait) yang dimaksud di tulisan ini adalah para ulama yang betul-betul tahu tentang hukum Islam di kalangan umat Islam Syiah.

Di bawah ini adalah terjemahan pendapat beberapa ulama dan pakar Syiah mengenai hari Valentine:

Hujjatul Islam Yosefwand salah seorang ulama Syiah di Iran mengatakan:

“Memberi hadiah dalam Islam memang benar dianjurkan. Tapi beberapa tahun terakhir ada pihak-pihak yang sengaja menyelundupkan budaya Barat-Kristen bernama Valentine ke tengah-tengah masyarakat, yang mana dasar dari perayaan hari Valentine itu sendiri tidak bisa dibenarkan. Yang menarik di sini adalah, mereka berusaha menyemarakkan budaya ini untuk melunturkan keengganan masyarakat dalam melakukan hubungan asmara antar non-muhrim, yang mana hal ini jelas dosa dan haram! Menyemarakkan hal-hal seperti ini dengan tidak ada maksud apa-apa sekalipun tidak dibolehkan, karena jika diteruskan masyarakat kita tak lama lagi akan berhadapan dengan kerugian sosia. Jelas perbuatan haram tidak ada akibat baik sama sekali.”

Berdasarkan Istiftaat (Tanya Jawab Fatwa) dengan Ayatullah Ali Khamenei disebutkan:

Tanya: Hari Valentine yang merupakan budaya Barat dari kalangan umat Kristen yang dikenal dengan hari cinta yang dirayakan setiap tahun, apakah boleh umat Islam merayakannya?

Jawab: Jika hal itu menimbulkan semaraknya budaya Barat yang batil, maka tidak boleh.

Begitu pula dalam Istiftaat Ayatullah Makarim Syirazi disebutkan bahwa beliau menjawab:

“Jika merayakan hari itu merupakan pengungkapan cinta kepada seseorang yang non-muhrim maka hal itu haram hukumnya. Meskipun dilakukan oleh pasangan yang muhrim sekalipun, karena ini adalah budaya Barat, bukanlah perbuatan yang baik.”

Sumber: Hadana.ir

Hukum menjual makanan yang haram kepada non-Muslim

Mungkin Anda pernah bertanya-tanya, apa hukum menjual makanan yang bagi kita haram dimakan, kepada orang lain yang menurut mereka boleh dimakan. Misalnya, para pemeluk mazhab Ahlul Bait tidak diperbolehkan memakan ikan yang tidak bersisik, lalu bagaimana hukum menjual ikan yang tidak bersisik kepada orang lain?

Di bawah ini adalah tanya jawab yang telah diterjemahkan dari bahasa Farsi ke bahasa Indonesia berdasarkan fatwa Ayatullah Ali Khamenei. Terjemahan tanya jawab itu sebagai berikut:

Tanya: Apa hukum menjual makanan-makanan yang mengandung kepiting, kerang serta ikan-ikan yang tidak bersisik kepada non-Muslim?

Jawab: Menjual makanan-makanan yang haram dimakan adalah haram hukumnya dan batal. Uang hasil berjualan itupun haram, meskipun bagi pembeli barang itu halal.

Di bawah ini adalah screenshot tanya jawab tersebut dalam bahasa aslinya: