Adab Berqurban dalam Ajaran Ahlul Bait

Bagi orang yang menunaikan ibadah haji, wajib untuk berqurban di hari ke-10 bulan Dzul Hijjah di kota Mina.

Berqurban bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji

Namun bagi yang tidak melakukan ibadah haji tersebut, disunahkan juga untuk berqurban dan membagi-bagikan daging qurban kepada sesama.

Imam Shadiq as pernah berkata, “Di hari Nahr (yakni Idul Adha) tidak ada amal yang lebih baik dari berqurban.”

Syaikh Shaduq menjelaskan hadis beliau dengan berkata, “Para pembesar berkeyakinan bahwa berqurban secara umum sangatlah dianjurkan, baik di Mina maupun di luar Mina, baik di hari Idul Adha maupun tidak; namun berqurban di Mina dan di hari Idul Adha pahalanya lebih banyak.”

Bahkan berhutang untuk berqurban pun dianjurkan

Dalam kitab Man La Yahduruhul Faqih milik Syaikh Shaduq jil. 2 hal. 213 disebutkan:

وَ جَاءَتْ أُمُّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِلَى النَّبِيِّ ص فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَحْضُرُ الْأَضْحَى وَ لَيْسَ عِنْدِي ثَمَنُ الْأُضْحِيَّةِ فَأَسْتَقْرِضُ وَ أُضَحِّي فَقَالَ اسْتَقْرِضِي وَ ضَحِّي فَإِنَّهُ دَيْنٌ مَقْضِیٌّ.

Ummu Salamah mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah! Telah tiba hari Idul Adha dan saya tidak punya uang untuk berqurban. Apakah aku boleh mencari hutang untuk berqurban?” Rasulullah saw menjawab, “Cari hutang dan berqurbanlah. Karena itu adalah hutang yang bakal terlunasi (jangan mengkhawatirkan hutang itu karena Allah akan melunasinya).”

Memakan daging hewan qurban sendiri

Imam Baqir as berkata:

«قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ (ع) كَانَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ (ع) لَا يَأْكُلُ يَوْمَ الْأَضْحَى شَيْئاً حَتَّى يَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ»

“Imam Ali as di hari Idul Adha tidak memakan makanan apapun sampai beliau memakan makanan dari binatang qurbannya.”

– Man La Yahduruhul Faqih, jil. 1, hal. 508

Dalam riwayat-riwayat lainnya juga disebutkan bahwa memberikan hadiah dan membagikan daging qurban sangat dimustahabkan.

Bagaimana cara membagikan daging hewan qurban?

Para Aimah ma’shum as membagikan sepertiga daging qurban kepada para tetangga, sepertiga kepada orang yang membutuhkan dan sepertiga lainnya untuk keluarganya.

«وَ كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ وَ أَبُو جَعْفَرٍ (ع) يَتَصَدَّقَانِ بِثُلُثٍ عَلَى جِيرَانِهِمْ وَ بِثُلُثٍ عَلَى السُّؤَّالِ وَ بِثُلُثٍ يُمْسِكَانِهِ لِأَهْلِ الْبَيْت»

“Yang biasa dilakukan oleh Ali bin Husain as dan Abu Ja’far as di hari qurban adalah, mereka mensedekahkan sepertiga qurubannya kepada para tetangga, sepertiga kepada orang yang meminta dan membutuhkan lalu sepertiga lainnya kepada anggota keluarganya.”

– Man La Yahduruhul Faqih, jil. 1, hal. 493

Sumber: YJC

Hukum orang tua dan keluarga memakan daging aqiqah anaknya dalam Fikih Ahlul Bait

Pertanyaan:

Apa hukum memakan daging aqiqah anak sendiri?

Jawaban:

Memakan daging aqiqah anak sendiri dalam ajaran fikih Ahlul Bait as adalah makruh, terutama bagi sang ibu, lebih makruh lagi.

Tidak hanya bapak dan ibu saja yang makruh memakan daging aqiqah tersebut, begitu pula orang-orang yang harus dinafkahi sang ayah, misalnya kakak atau adik anak yang diaqiqahi mereka makruh memakan daging aqiqah yang dimaksud.

Kecuali jika kakak atau adik tadi sudah bukan orang yang harus dinafkahi oleh sang ayah, misal kakak atau adik itu sudah menikah dengan orang lain (karena jika sudah menikah, ayah tidak lagi harus menafkahi mereka).

Lalu bagaimana jika anak yang diaqiqahi itu sendiri? Apakah ia boleh memakan daging aqiqah? Ia pun tak terkecualikan, makruh hukumnya bagi anak yang diaqiqahi untuk memakan daging aqiqahnya sendiri.

Tidak hanya makruh mengkonsumsi daging hewan aqiqah dalam kasus seperti ini, bahkan sisa-sisanya pun juga makruh, seperti jeroan, tulang-tulangan dan lain sebagainya.

Hal ini bertolak belakang dengan Qurban, dimana saat berqurban seorang yang melakukan Qurban (dalam hadits disebutkan) hendaknya tidak makan apapun kecuali memakan yang ia qurbankan.

Sumber: Portal Anhar

Amalan dan Anjuran Ahlul Bait as di Hari ‘Arafah

Hari ‘Arafah adalah hari ke-9 bulan Dzul Hijjah, tepat sehari sebelum hari raya ‘Idul Qurban.

Berdasarkan fikih Syi’ah, para jama’ah haji harus melakukan Wuquf di Padang ‘Arafah sejak dhuhur hingga maghrib. Bagi umat Islam, hari ‘Arafah termasuk salah satu hari yang sangat banyak fadhilahnya.

Dalam kitab-kitab doa dan amalan-amalan Ahlul Bait as, disebutkan bahwa yang paling berfadhilah di hari ‘Arafah adalah berdoa dan beristighfar. Membaca ziarah Imam Husain as dan juga doa ‘Arafah di hari ini sangatlah dianjurkan.

Mengapa disebut ‘Arafah?

‘Arafah dari bahasa ‘Arab yang memiliki arti “mengetahui” yang diiringi dengan pemahaman, tafakkur dan tadabbur.[1]

Yang disebut Padang ‘Arafah adalah suatu tempat di Makkah. Ada yang mengatakan tempat itu dikenal dengan ‘Arafah karena lokasinya yang terletak di antara gunung-gunung.

Fadhilah dan Keutamaan

Hari ‘Arafah adalah hari dimulainya Manasik Haji. Para jama’ah haji di hari ini berkumpul di padang ‘Arafah, membaca doa, beristighfar serta bersyukur karena mendapatkan taufik dan kesempatan menunaikan ibadah haji.

Dari kalangan Ai’mah Ahlul Bait as banyak riwayat yang menjelaskan fadhilah hari ini serta doa-doa apa saja yang layaknya dibaca di hari ‘Arafah. Beberapa di antara amalan yang paling dianjurkan adalah membaca Do’a ‘Arafah Imam Husain as dan Do’a ‘Arafah Imam Sajjad as.

Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait as disebutkan bahwa di hari ‘Arafah ini pintu pengampunan dosa dan pengabulan doa.[2]

Hukum Fikih terkait Hari ‘Arafah

Dalam fikih Syi’ah para jama’ah haji wajib berada di ‘Arafah untuk Wuquf dari duhur tanggal 9 Dzulhijjah hingga maghrib. Yakni di saat-saat itu jama’ah haji harus berada di ‘Arafah dan tidak boleh keluar dari sana. Wuquf ini adalah salah satu rukun haji, yakni jika ada jama’ah haji yang tidak pergi ke ‘Arafah untuk berdiam diri sejenak sekalipun di sana maka hajinya batal.[3]

Adapun dalam fikih Ahlu Sunnah, terdapat berbedaan pendapat:

  • Wuquf dari maghrib hari ke-10 hingga waktu sahur hari ke-10;
  • Wuquf dari waktu sahur hari ke-9 hingga waktu sahur hari ke-10;
  • Wuquf dari duhur hari ke-9 hingga fajar hari ke-10.

Amalan-amalan yang dimustahabkan

Banyak amalan yang dimustahabkan di hari ‘Arafah, di antaranya adalah:

  • Banyak-bayak beristighfar;
  • Membaca Doa ‘Arafah Imam Husain as;
  • Membaca Doa ‘Arafah Imam Sajjad as;
  • Mandi;
  • Membaca Ziarah Imam Husain as;
  • Bermalam di Mina hingga pagi;
  • Beredekah;
  • Berpuasa.

Sumber: WikiShia


[1] Raghib Isfahani, Mufradat, hal. 560.

[2] Shaduq, Man La Yahdhuruhul Faqih; Kullaini, Al-Kafi, jil. 4, hal. 146 dan 561.

[3] Musawi Syahrudi, Jami’ul Fatawa Manasik Hajj, hal. 173 dan 174.

Kapan Lebaran? Apakah bisa mengikuti hasil sidang isbat pemerintah?

Perkara menentukan awal bulan Qamari seperti menentukan awal bulan Ramadhan dan Hari Raya Iedul Fitri memang dari dulu selalu begini, ada yang lebaran duluan ada yang belakangan.

Kita kalangan Ahlul Bait mempunyai organisasi tersendiri yang juga memiliki tim rukyat hilal, yang tak jarang hasil rukyat hilal tim kita berbeda dengan hasil rukyat hilal dan sidang isbat pemerintah.

Pertanyaannya, apakah kita bisa mengikuti salah satu mereka? Misalnya kita mengikuti hasil sidang isbat pemerintah tanpa mengikuti keputusan organisasi kita sendiri?

Pertanyaan ini pernah dilontarkan langsung ke situs Rahbar (screenshotnya bisa dilihat di atas) dalam bahasa Farsi. Terjemahannya sebagai berikut:

Pertanyaan

Saya adalah warga Indonesia. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia (tapi kebanyakan adalah penganut Ahlu Sunnah), dan negara ini memiliki tim istihlal yang ditempatkan di berbagai titik di seluruh negeri, apakah saya bisa mengikuti hasil keputusan istihlal mereka?

Jawaban

Jika istihlal mereka bagi Anda meyakinkan, cukup. Jika tidak harus dicari jalan yang syar’iy bagi Anda untuk meyakini apakah hilal terlihat atau tidak.

Lalu mari kita kembali ke diri kita sendiri, apakah kita yakin dengan putusan sidang isbat pemerintah? Atau tidak? Kalau kita yakin dengan istihlal pemerintah kita bisa mengikutinya. Jadi jawabannya terserah Anda merasa yakin dengan isbat hilal pemerintah atau organisasi kita.

Sumber: Leader.ir

Hukum Hari Valentine menurut Syiah Ahlul Bait

Syiah Ahlul Bait (Pengikut Ahlul Bait) yang dimaksud di tulisan ini adalah para ulama yang betul-betul tahu tentang hukum Islam di kalangan umat Islam Syiah.

Di bawah ini adalah terjemahan pendapat beberapa ulama dan pakar Syiah mengenai hari Valentine:

Hujjatul Islam Yosefwand salah seorang ulama Syiah di Iran mengatakan:

“Memberi hadiah dalam Islam memang benar dianjurkan. Tapi beberapa tahun terakhir ada pihak-pihak yang sengaja menyelundupkan budaya Barat-Kristen bernama Valentine ke tengah-tengah masyarakat, yang mana dasar dari perayaan hari Valentine itu sendiri tidak bisa dibenarkan. Yang menarik di sini adalah, mereka berusaha menyemarakkan budaya ini untuk melunturkan keengganan masyarakat dalam melakukan hubungan asmara antar non-muhrim, yang mana hal ini jelas dosa dan haram! Menyemarakkan hal-hal seperti ini dengan tidak ada maksud apa-apa sekalipun tidak dibolehkan, karena jika diteruskan masyarakat kita tak lama lagi akan berhadapan dengan kerugian sosia. Jelas perbuatan haram tidak ada akibat baik sama sekali.”

Berdasarkan Istiftaat (Tanya Jawab Fatwa) dengan Ayatullah Ali Khamenei disebutkan:

Tanya: Hari Valentine yang merupakan budaya Barat dari kalangan umat Kristen yang dikenal dengan hari cinta yang dirayakan setiap tahun, apakah boleh umat Islam merayakannya?

Jawab: Jika hal itu menimbulkan semaraknya budaya Barat yang batil, maka tidak boleh.

Begitu pula dalam Istiftaat Ayatullah Makarim Syirazi disebutkan bahwa beliau menjawab:

“Jika merayakan hari itu merupakan pengungkapan cinta kepada seseorang yang non-muhrim maka hal itu haram hukumnya. Meskipun dilakukan oleh pasangan yang muhrim sekalipun, karena ini adalah budaya Barat, bukanlah perbuatan yang baik.”

Sumber: Hadana.ir

Hukum menjual makanan yang haram kepada non-Muslim

Mungkin Anda pernah bertanya-tanya, apa hukum menjual makanan yang bagi kita haram dimakan, kepada orang lain yang menurut mereka boleh dimakan. Misalnya, para pemeluk mazhab Ahlul Bait tidak diperbolehkan memakan ikan yang tidak bersisik, lalu bagaimana hukum menjual ikan yang tidak bersisik kepada orang lain?

Di bawah ini adalah tanya jawab yang telah diterjemahkan dari bahasa Farsi ke bahasa Indonesia berdasarkan fatwa Ayatullah Ali Khamenei. Terjemahan tanya jawab itu sebagai berikut:

Tanya: Apa hukum menjual makanan-makanan yang mengandung kepiting, kerang serta ikan-ikan yang tidak bersisik kepada non-Muslim?

Jawab: Menjual makanan-makanan yang haram dimakan adalah haram hukumnya dan batal. Uang hasil berjualan itupun haram, meskipun bagi pembeli barang itu halal.

Di bawah ini adalah screenshot tanya jawab tersebut dalam bahasa aslinya:

Kaidah Fikih Ahlul Bait : “Abaikan Jika Sudah Berlalu”

Kaidah ini istilah aslinya dalam bahasa Arab adalah kaidah Farogh/Tajawuz.

Bunyi kaidah ini adalah, jika seusai dilakukannya sebuah amalan timbul keraguan sah atau tidaknya amal tersebut maka keraguan tersebut tidak perlu dihiraukan.

Contohnya jika seusai dilakukannya shalat subuh timbul keraguan apakah bacaan Al-Fatihah di rakaat pertama shalat tersebut benar atau tidak, maka kita abaikan saja keraguan itu.

Dasar kaidah ini adalah beberapa riwayat Aimah, Ijma’ dan juga logika.

Di bawah ini akan disebutkan dua riwayat yang dapat dijadikan dasar kaidah di atas:

Pada suatu hari sahabat Imam Shadiq as yang bernama Zurarah bertanya kepada beliau mengenai keraguan akan beberapa amalan/bagian dalam shalat lalu Imam menjawab,

یَا زُرَارَةُ إِذَا خَرَجْتَ مِنْ شَیْ‌ءٍ ثُمَّ دَخَلْتَ فِی غَیْرِهِ فَشَکُّکَ لَیْسَ بِشَیْ‌ءٍ

Wahai Zurarah, jika engkau telah usai dari satu bagian (shalat) dan masuk ke bagian lainnya, maka tidak perlu dihiraukan keraguanmu itu. (Syaikh Thusi, Tahdzibul Ahkam, jil. 2, hal. 352)

Begitu juga Muhammad bin Muslim pernah meriwayatkan dari Imam Baqir as,

کُلُّ مَا شَکَکْتَ فِیهِ مِمَّا قَدْ مَضَى فَامْضِهِ کَمَا هُوَ

Segala yang engkau ragukan jika sudah berlalu maka biarlah berlalu. (Ibid)

Diterjemahkan bebas dari artikel di link ini.

Kaidah Fikih Ahlul Bait : “Mendahulukan yang Lebih Penting”

Dalam fikih Ahlul Bait ada kaidah fikih yang dikenal dengan “Mendahulukan yang Lebih Penting.”

Inti kaidah ini adalah jika dalam satu keadaan ada dua hukum yang bertentangan (tidak bisa dijalankan dua-duanya) maka yang harus dijalankan adalah yang lebih penting.

Beberapa contoh yang dapat disebutkan di antaranya:

Jika ada seseorang yang nyawanya berada dalam bahaya lalu untuk menolongnya tidak ada cara lain selain menggunakan alat/barang milik orang lain namun kita belum mendapatkan izin dari pemiliknya, maka menggunakan barang itu (yang dalam kondisi biasa diharamkan karena tidak ada izin dari pemilik) diperbolehkan.

Contoh lainnya, jika ada seorang wanita yang hampir tenggelam dan untuk menolongnya terpaksa lelaki yang bukan muhrim harus menyentuhnya, maka menyentuh wanita tersebut (yang dalam kondisi biasa tidak diperbolehkan) diperbolehkan.

Dasar kaidah ini adalah logika.

Diterjemahkan bebas dari artikel di link ini.