Imam Mahdi aj dan Dajjal di depan Ka’bah

Sayid Ibnu Thawus dalam kitab Iqbal meriwayatkan dari Aban bin Muhammad, bahwa pada suatu tahun Imam Shadiq as pergi menunaikan ibadah haji. Saat itu beliau berada di bawah Ka’bah berdoa. Abdullah bin Hasan di sisi kanan, Hasan bin Hasan di sisi kiri, dan Ja’far bin Hasan[1] berdiri di belakang beliau.

Pada waktu itu Ibad Abu Katsir Bashri memanggil Imam, “Wahai Abu Abdillah.”

Imam diam tidak menjawabnya.

Ibad tiga kali memanggil beliau seperti itu namun Imam tidak menjawab. Akhirnya Ibad memanggil beliau dengan menyebut nama, dan berkata, “Hai Ja’far!”

Imam pun menjawab, “Wahai Abu Katsir, apa yang kau inginkan? Katakan.”

Ibad berkata, “Aku memiliki sebuah kitab yang ditulis di dalamnya bahwa akan ada seorang yang bakal menghacurkan rumah Ka’bah.”

Beliau menjawab, “Abu Katsir, kitabmu berbohong. Demi Tuhan aku tahu orang yang kau maksud. Ia adalah Dajjal, kakinya berwarna kuning, betisnya terluka, lehernya kecil, kepalanya besar, berdiri di samping Rukun Yamani. Ia melarang semua orang bertawaf dan membubarkan mereka. Saat itu Allah swt akan mengutus seseorang dari keturunanku dan ia akan membinasakannya bagaikan kaum ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun.”

Sumber: Biharul Anwar, jil. 51, hal. 376.

Ahlolbait.com


[1] Ketiga orang itu adalah putra Hasan Al-Mutsanna putra Imam Hasan Al-Mujtaba as.

Nasehat Imam Baqir as untuk tinggal di rumah di saat ada wabah

Berkenaan dengan wabah virus Corona atau Covid19 yang melanda dunia akhir-akhir ini, mari kita simak riwayat dari Imam Muhammad Baqir as di bawah ini:

Pada suatu hari Muhammad bin Muslim salah satu sahabat Imam Muhammad Baqir as bertanya kepada sang Imam:

“Ketika ada wabah di suatu daerah, apakah kita perlu untuk tinggal di rumah, menyendiri dan menjauhi orang lain?”

Imam as menjawab: Kenapa tidak? Apa salahnya kita menyendiri untuk menjauhi penyakit? Padahal Rasulullah saw pada suatu hari didatangi seseorang yang bercerita bahwa di rumahnya ia tinggal bersama saudara-saudaranya dan semuanya mati hanya tinggal ia yang tersisa, lalu Nabi berkata kepadanya, “Jauhi rumah itu, sungguh rumah itu tercela.”

Mustadrak Al-Wasail, jil. 2, hal. 96

Teks bahasa Arab riwayat tersebut sebagai berikut:

عن محمد بن مسلم قال : قلت له ـ اي ابا جعفر ( عليه السلام ) ـ : وباء اذا وقع على الأرض انعتزل ؟ قال : « وما بأس ان تعتزل الوباء ؟ وقد قال رسول الله ( صلى الله عليه وآله ) لرجل اخبره انه كان في دار فيها اخوته فماتوا ولم يبق غيره : ارتحل منها وهي ذميمة ».

Sumber: tasnimnews.com

Kematian Merah dan Putih di Akhir Zaman

Pernah diriwayatkan dari Imam Ali as, bahwa beliau berkata,

بین یدی القائم موت احمر و موت ابیض و جراد فی حینه و جراد فی غیر حینه احمر کالوان الدّم فامّا الموت الاحمر فالسّیف و امّا الموت الابیض فالطاعون

“Sebelum kedatangan Al-Qaim (Imam Mahdi aj), akan ada kematian merah dan putih, begitu juga banyak belalang berwarna merah darah secara tidak wajar bersebaran di mana-mana. Adapun kematian merah adalah kematian karena pedang, sedang kematian putih adalah kematian karena wabah penyakit.”

(Biharul Anwar, jil. 52, hal, 113)

Nama-nama Fathimah Azzahra as dalam hadis Ma’shumin as

Diriwayatkan dari Rasulullah saw:

إنَّما سُمِّيَت ابنَتي فاطِمَةُ لأنَّ اللّه َ عزّوجلّ فَطَمَها وفَطَمَ مَن أحَبَّها مِنَ النَّارِ .

“Putriku diberi nama Fathimah karena Allah swt memisahkannya dan memisahkan orang-orang yang mencintainya dari api neraka.” (Al Amaali, Syaikh Thusi : 300) Continue reading “Nama-nama Fathimah Azzahra as dalam hadis Ma’shumin as”

101 kutipan hadis para manusia suci Ahlul Bait as

“Tidak ada kebaikan sama sekali pada orang yang tidak berusaha keras mengumpulkan uang halal agar ia dapat menjaga harga dirinya dan membayar hutangnya dengannya.” – Imam Shadiq as, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 7, hadis 30

“Muslim adalah saudara Muslim. Tidak halal bagi Muslim untuk menjual sesuatu kepada saudaranya jika ada cacatnya kecuali ia menjelaskannya.” – Rasulullah saw, Kanz Ummal 4/59

“Dalam fitnah, jadilah seperti anak onta yang tidak memiliki punuk untuk ditunggangi dan susu untuk diperah.” – Imam Ali as, Nahjul balaghah, hal. 469

“Orang yang tidur di malam hari (kelelahan) setelah bekerja mencari nafkah halal, dia tidur dalam keadaan diampuni.” – Rasulullah saw, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 2, hadis 1

“Barang siapa mencari rizki halal untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya maka ia bagai orang yang berjihad di jalan Allah.” – Imam Musa Al-Kadhim as, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 3, hadis 7

“Tidak ada kebaikan sama sekali pada orang yang tidak berusaha keras mengumpulkan uang halal agar ia dapat menjaga harga dirinya lalu membayar hutangnya dengannya.” – Imam Shadiq as, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 7, hadis 30

“Saat Tuhan mencintai hamba-Nya, Ia menampakkan padanya betapa kotor dan buruk harta dunia lalu merendahkan angan-angannya. Namun jika Tuhan menginginkan keburukan untuknya, Ia tumbuhkan rasa cinta dunia di hatinya dan meninggikan angan-angannya.” – Imam Ali as, Ghurarul Hikam, jil. 3, hal. 166, hadis 4110

“Ibadah memiliki tujuh puluh bagian dan bagian yang terbaik adalah mencari nafkah dan rizki halal.” – Rasulullah saw, Tsawabul A’mal wa ‘Iqabuha, hal. 385, hadis 1

“Harta benda dunia adalah amanah Allah swt atas makhluk-Nya. Ia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk makan darinya secukupnya, minum darinya secukupnya, berpakaian darinya secukupnya, menikah dengan menggunakannya secukupnya, menaiki tunggangan sepantasnya, lalu selainnya diberikan kepada fakir miskin yang beriman. Maka barang siapa berlebihan dari batasnya, haram apa yang ia makan, yang ia minum, yang dia kenakan, yang ia nikahi dan yang ia tunggangi.” – Imam Shadiq as, Biharul Anwar, jil. 103, hal. 16, hadis 74

“Dinar dan Dirham telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, begitu juga kalian nanti.” – Rasulullah saw, Al-Kafi, jil. 2, hal. 316 hadis 6

“Anak yang saleh adalah sekuntum bunga yang wangi dari bunga-bunga surga.” – Rasulullah saw, Al-Kafi, jil. 6, hal. 3

“Anak-anak perempuan adalah kebaikan dan anak-anak lelaki adalah nikmat. Adapun kebaikan, akan diberikan pahala karenanya. Sedangkan nikmat, akan dipertanyakan tentangnya.” – Imam Ja’far Shadiq as, Wasailus Syiah, jil. 15, hal. 104

Ketika Imam Ali putra Imam Husain as diberitahu tentang lahirnya sang anak, dia tidak bertanya apakah anak itu lelaki atau perempuan. Namun beliau bertanya, “Apakah anaknya sehat sempurna?” Lalu beliau bersyukur, “Puji syukur Tuhan yang tidak menciptakan anak yang kekurangan dariku.” – Wasailus Syiah, jil. 15, hal. 143

“Tidak ada susu yang diberikan kepada seorang anak yang lebih berkah (berbarokat) daripada susu sang ibu.” – Imam Ali as, Wasailus Syiah, jil 15, hal. 175

“Janganlah kalian lakukan perbuatan baik dengan tujuan riya’, dan juga jangan tinggalkan karena alasan malu.” – Rasulullah saw, Tuhaf Al-Uqul, hal. 85

“Bergegaslah kalian dalam melakukan pekerjaan baik, sebelum kalian di sibukan oleh pekerjaan yang lainnya.” – Imam Ali as, Tuhaf Al-Uqul, hal. 110

“Barang siapa yang di sibukan dengan pekerjaan yang tidak sesuai dan tidak bermanfaat maka ia akan kehilangan pekerjaan yang sesuai dan bermanfaat.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 10943

“Jauhilah sifat keras kepala, karena hal itu di awali dengan kebodohan dan diakhiri dengan penyesalan.” – Rasulullah saw, Tuhaf Al-’Uqûl, hal. 13

“Jangan kau katakan seluruh yang kau tahu, cukup dengan itu tanda kebodohanmu.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 4137

“Beruntunglah bagi orang yang sibuk dengan aibnya sendiri dari pada aib-aib orang lain.” – Imam Ali as, Nahj Al-Balâghah, hikmah ke-176

“Barang siapa yang mencari teman tanpa aib, maka ia tidak akan mendapatkan teman.” – Imam Ali as, Bihâr Al-Anwâr, jil. 71, hal. 282

“Berfikir sebelum bertindak itu dapat menjagamu dari penyesalan.” – Imam Ali as, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqih, jil. 4, hal. 388

“Sahabat itu bagaikan tambalan (pada pakaian), maka jadikanlah ia satu bagian denganmu.” – Imam Ali as, Uyun Al-Hikam wa Al-Mawa’idh, hal. 45

“Ada 3 hal yang menyebabkan cinta: Baik akhlaqnya, sopan dan tawadhu.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 5372

“Hendaknya kalian Saling memberi hadiah, karna hal itu dapat menghilangkan dendam.” – Rasulullah saw, Al-Kâfi, jil. 5, hal. 144

“Sebaik-baiknya ucapan ialah yang tidak membuat lelah dan nilainya tidak berkurang.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 4053

“Apabila salah satu di antara kalian mencintai sahabatnya atau saudaranya, maka beritahulah dia (ajari dia).” – Wasâil Al-Syi’ah, jil. 12, hal. 55

“Sesungguhnya paling bakhilnya manusia ialah orang yang bakhil dalam salam.” – Rasulullah saw, Wasâil Al-Syi’ah, jil. 12, hal. 61

“Keramahan adalah kebaikan yang tidak dilakukan dengan susah dan berat hati.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 9928

“Rendahkanlah diri kalian di hadapan orang yang kalian menuntut ilmu darinya.” – Imam Ja’far Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 1, hal. 36

“Ilmu tidak diperoleh dengan tanpa usaha.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 104

“Orang yang paling celaka adalah orang yang bodoh.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 1101

“Ilmu dan pengetahuan adalah akar segala kebaikan.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 17

“Nilai seseorang ada pada kepandaiannya, bukan pada paras wajahnya.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 10292

“Tidaklah lebih banyak pahala orang yang berjihad dan mati di jalan Allah dari orang yang mampu berbuat dosa namun menjaga diri untuk tak melakukannya. Orang yang seperti itu seakan-akan hampir seperti malaikat.” – Imam Ali as, Nahjul Balaghah, hikmah 474

“Allah swt maha penyayang dan Ia menyayangi hamba-Nya yang penyayang.” – Rasulullah saw, Al-Amali Syaikh Thusi, hal. 516

“Orang yang paling mirip denganku adalah orang yang paling baik akhlaknya.” – Rasulullah saw, Wasail Al-Syi’ah, jil. 2, hal. 151

“Menjaga kebersihan termasuk dari akhlak para nabi.” – Imam Ali Al-Ridha as, Tuhaf Al-‘Uqul, hal. 442

“Shalat adalah benteng dari serangan setan.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 3343

“Sebaik-baiknya orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” – Rasulullah saw, ‘Awali Al-La’aali, jil. 1, hal. 99

“Segala sesuatu berkurang dengan diinfaqkan (diberikan), kecuali ilmu.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 37

“Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” – Rasulullah saw, Tuhaf Al-‘Uqul, hal. 36

“Orang yang terburu-buru menjawab tak bakal mencapai jawaban yang benar.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 4216

“Pertanyaan yang baik (tepat) adalah separuh dari ilmu.” – Rasulullah saw, Kasyf Al-Ghummah, jil. 1, hal. 575

“Orang yang pemalu (malu bertanya) sedikit ilmunya.” – Imam Shadiq as, Al-Kafi, jil. 2, hal. 106

“Nilai seseorang seukuran ilmu yang dimilikinya.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 68

“Ucapkan salam sebelum berbicara.” – Imam Shadiq as, Jami’ Al-Akhbar, hal. 89

“Kebanyakan dari umatku memasuki surga karena: ketakwaan kepada Allah dan perangai yang baik.” – Rasulullah saw, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 100

“Barang siapa berbuat baik kepada keluarganya maka umurnya akan dipanjangkan.” – Imam Shadiq as,Al-Amâli, Syaikh Thusi, hal. 245

“Bangunnya seseorang di malam hari karena penyakit yang dideritanya pahalanya lebih banyak dari ibadah setahun.” – Imam Baqir as, Al-Kâfi, jil. 3, hal. 114

“Orang yang menutupi penyakitnya dari tabib sama dengan orang yang mengkhianati dirinya sendiri.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 11189

“Selama penyakitmu tak memaksamu untuk berbaring, janganlah kau baringkan dirimu di atas ranjang.” – Imam Ali as, Mustadrak Al-Wasail, jil. 2, hal. 72

“Kerjakanlah shalat malam, karena itu adalah sunah nabi kalian dan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian serta dapat menjauhkan penyakit dari tubuh kalian.” – Imam Shadiq as, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, jil. 1, hal. 472

“Berbuatlah untuk duniamu seakan engkau hidup selamanya dan berbuatlah untuk akheratmu seakan engkau mati esok.” – Rasulullah saw, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, Majmu’ah Warrâm, jil. 2, hal. 234

“Manusia hidup lebih panjang lebih dikarenakan kebaikan mereka daripada karena panjangnya umur mereka dan mereka cepat mati lebih dikarenakan dosa-dosa mereka daripada karena dekatnya ajal.” – Imam Shadiq as, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, Bihâr Al-Anwâr, jil. 5, hal. 140

“Kafarah (hukuman) untuk meramal dengan ramalan buruk adalah tawakal.” – Rasulullah saw, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, Al-Kâfi, jil. 8, hal. 198

“Berhati-hati dan waspada ada batasannya, yang jika batasan itu terlewati maka akan berubah menjadi sifat pengecut dan penakut.” – Imam Hasan Askari as, Bihâr Al-Anwâr, jil. 66, hal. 407

“Bagi kalian untuk memberi perhatian kepada anak-anak muda; karena mereka lebih bersemangat dan cepat dalam melakukan setiap kebaikan.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 8, hal. 93

“Barang siapa yang merasa cukup untuk duduk di belakang majlis (tidak di barisan paling depan) maka selama ia duduk hingga bangkit Allah serta malaikat-malaikat-Nya senantiasa mengucapkan salam sejahtera untuknya.” – Imam Shadiq as, Wasâil Al-Syi’ah, jil. 12, hal. 107

“Nasehat yang kau berikan di depan umum adalah pukulan.” – Imam Ali as, ‘Uyun Al-Hikam wa Al-Mawâ’idh, hal. 497

“Barang siapa tidak mau menerima maaf seseorang yang memohon maaf entah ia (yang meminta maaf) jujur atau tidak, maka ia takkan pernah mendapat syafa’atku.” – Rasulullah saw, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqih, jil. 4, hal. 353

“Barang siapa memberikan fatwa (aatau menghukumi sesuatu) tanpa didasari oleh ilmu, maka apa yang ia rusak dalam agama lebih bayak dari apa yang ia benahi.” – Rasulullah saw, Bihâr Al-Anwâr, jil. 2, hal. 118

“Banyak bicara membuat orang yang bijaksana tergelincir dan orang yang bersabar menjadi lelah.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 4101

“Beruntunglah orang yang menginfakkan hartanya yang berlebihan dan mencegah dirinya untuk berlebihan dalam berbicara.” – Imam Ali as, Wasâil Al-Syi’ah, jil. 15, hal. 284

“Katakanlah kepadanya bahwa jika ia berperilaku sesuai dengan yang kami perintahkan, dan meninggalkan hal-hal yang kami larang, maka ia termasuk dari golongan Syiah kami. Jika tidak, maka bukanlah ia termasuk dari syiah kami.” – Fathimah Azzahra as, Tafsir’e mansub be emam Hasane askari as. Hal. 308

“Anak yang saleh adalah bunga harum yang dibagikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.” – Rasulullah saw, Al-Kâfi, jil. 6, hal. 2.

“Sesungguhnya Allah mengasihi seorang hamba yang begitu mencintai anaknya.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 6, hal. 50.

“Tak ada sedikitpun kesusahan, kesedihan, kekhawatiran dan segala peristiwa yang menimpa seorang mukmin kecuali dengan itu Allah swt menghapus dosa-dosanya.” – Rasulullah saw, Tuhaf Al-Uqûl, hal. 38.”

“Tidak ada pemberi syafaat yang lebih berpengaruh di sisi Tuhan selain keridhaan sang suami terhadap istrinya.” – Imam Baqir as, Al-Khisâl, jil. 2, hal. 585.

“Sesungguhnya perangai yang buruk dapat merusak amal sebagaimana cuka merusak madu.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 321.

“Barang siapa membuat seorang mukmin bersedih lalu meskipun setelah itu ia memberinya seluruh isi dunia, hal itu tidak bisa menjadi penebusnya dan ia takkan diberi pahala karenanya.” – Rasulullah saw, Mustadrak Al-Wasâil, jil. 9, hal. 99.

“Ada tiga perkara yang mana jika ketiganya ada pada seseorang maka ia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat: Ridha terhadap qadha’, sabar atas bala’ dan syukur dalam keadaan leluasa.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 6283.

“Seorang mukmin saat melihat pahala dan ganjaran akhirat berharap andai doanya di dunia ini tidak terkabulkan.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 490.

“Pahala suatu amal perbuatan tergantung pada tingkat kesusahannya.” – Imam Shadiq as, Ghurar Al-Hikam, hadis 2946.

“Barang siapa mengucapkan belasungkawa kepada seorang ibu yang kehilangan anaknya, Allah akan meletakkannya di bawah bayangan ‘Arsy-Nya di hari dimana tak ada lagi bayangan selain milik-Nya.” – Imam Ali as, Al-Kâfi, jil. 3, hal. 227.

“Jenguklah orang yang tidak menjengukmu dan berilah hadiah orang yang tak memberi hadiah kepadamu.” – Imam Ali as, Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, jil. 3, hal. 300.

“Sesungguhnya silaturrahmi dapat mensucikan amal, melipat gandakan harta kekayaan, memudahkan hisab, menolak bala’ dan menambah rizki.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 157.

“Dunia lebih sempit, lebih hina dan lebih tak berharga dari harus menuruti dendam dan kedengkian.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 2544.

“Seharusnya orang yang paling kau benci dan kau jauhi adalah orang yang suka memburu kesalahan orang lain.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 9601.

“Barang siapa yang menahan diri dari mencoreng kehormatan orang lain maka Allah swt akan melupakan ketergelincirannya kelak di hari kiamat.” – Imam Ali Zainal Abidin as, Bihâr Al-Anwâr, jil. 68, hal. 426.

“Barang siapa menggunjing seorang muslim atau muslimah maka Allah swt tidak akan menerima shalat dan puasanya selama empat puluh hari dan empat puluh malam kecuali orang yang digunjingnya memaafkannya.” – Rasulullah saw, Mustadrak Al-Wasa’il, jil. 7, hal. 322.

“Bukanlah Syiah kami orang yang mengaku dengan lidahnya namun bertentangan dengan perilaku dan perbuatan kami.” – Imam Shadiq as, Misykat Al-Anwar, hal. 70.

“Dasar keimanan adalah pasrah tunduk pada perintah Allah.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 1444.

“Orang yang beriman adalah orang yang jika marah amarahnya tidak mengeluarkannya dari jalan kebenaran dan jika senang kesenangannya tak memasukkannya ke dalam kebatilan.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 233.

“Orang yang beriman tidak selayaknya duduk di suatu majelis yang di dalamnya Allah swt dimaksiati dan ia tidak bisa merubahnya (membenahinya).” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 374.

“Selama engkau berada di jalan Allah, janganlah takut akan cemooh orang lain.” – Rasulullah saw, Wasâil Al-Syi’ah, jil. 15, hal. 289.

“Allah swt berkata: Wahai anak Adam, taatilah Aku dalam apa yang Kuperintahkan dan jangan kau ajari Aku tentang apa yang baik untukmu.” – Rasulullah saw, Al-Amâli, Syaikh Shaduq, hal. 320.

“Barang siapa mempersembahkan sebaik-baiknya ibadah kepada Allah swt, Ia akan menurunkan sebaik-baiknya kemaslahatan untuknya.” – Fathimah Azzahra as, Bihâr Al-Anwâr, jil. 68, hal. 184.

“Dengan iman, puncak kebahagiaan dan kegembiraan dapat digapai.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 1496.

“Jauh sekali jarak antara bermalas-malasan tanpa usaha dengan pencapaian kebahagiaan.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 7605.

“Jihad para wanita adalah upaya menjadi istri yang baik.” – Imam Kadhim as, Al-Kâfi, jil. 5, hal. 507.

“Bahagia dan berungtunglah wanita yang menghormati suaminya, tak menyakitinya dan mentaatinya di setiap keadaan.” – Imam Shadiq as, Wasâil Al-Syiah, jil. 16, hal. 280.

“Tak ada satu pasangan (yang berlomba dalam menyayangi) kecuali salah satunya lebih banyak pahalanya dan lebih dicintai Allah karena lebih besar kasih sayangnya.” – Rasulullah saw, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 120.

“Berberat hati dan terus mengungkit-ungkit dapat membuat kebaikan menjadi pahit.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 8923.

“Jika engkau diperlakukan dengan baik, sebutlah (bicarakanlah) kebaikanya itu. Namun jika engkau yang berbuat baik,  lupakanlah (jangan kau menyebutnya).” – Imam Ali as, Mustadrak Al-Wasâil, jil. 12, hal. 361.

“Terimakasihmu kepada orang yang ridha terhadapmu dapat menambah kesenangan dan keridhaannya. Begitu pula terimakasihmu kepada orang yang membencimu dapat menghilangkan kedengkiannya terhadapmu sehingga ia mencintaimu.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 6183-6198.

“Jangan banyak marah dan mencela, karena hal itu dapat membuahkan kedengkian dan berujung pada permusuhan.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 11007.

“Aib yang paling besar adalah mengkritik orang lain karena aib yang padahal juga ada padamu.” – Imam Ali as, Nahj Al-Balâghah, hikmah 353.

“Dengan percekcokan dan pertengkaran tiada tempat lagi untuk kasih sayang.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 7194.

“Barang siapa yang tidak menganggap banyak masak sebagai angin yang berlalu, maka ia akan merasa hidupnya gelap gulita.” – Imam Ali as, Ghurar Al-Hikam, hadis 10375.

“Jauhilah perdebatan, karena akan menyibukkan hatimu, mewujudkan kemunafikan dan membawa kedengkian.” – Imam Shadiq as, Al-Kâfi, jil. 2, Hal. 301.

Anjuran Imam Ali as terkait pemungutan pajak

Imam Ali as memberikan banyak wejangan kepada Ziyad bin Abih saat menempatkannya di posisi Abdullah bin Abbas sebagai gubernur Persia.

Dalam wejangan tersebut Imam Ali as menekankan agar ia tidak memajukan waktu pemungutan pajak.

Lalu Imam as juga berkata, “Bertindaklah berdasarkan keadilan. Jauhi kekerasan dan penganiyayaan.”

Menurut Imam Ali as, kekerasan dan penganiayaan akan meninbulkan kekacauan; rakyat akan memberotak karenanya.

Nahul Balaghah, Kata Hikmah Imam Ali as no 485