Kapan Riya Justru Menjadi Sebuah Kewajiban?
Selama ini, konsep Riya—yaitu melakukan perbuatan baik demi mendapat pujian atau pengakuan dari orang lain—seringkali dipandang secara mutlak sebagai penyakit hati dan penghalang pahala. Namun, benarkah setiap tindakan saleh yang terlihat oleh publik selalu merupakan riya yang terlarang?
Ternyata, ada kalanya keterlihatan suatu amal justru menjadi sebuah kebutuhan, bahkan bernilai pahala yang besar. Kuncinya terletak pada niat yang mendasarinya.
Riya yang Dilarang dan Riya yang Diperlukan
Secara etimologi, riya berakar dari kata ru'yah yang berarti melihat. Meski demikian, tidak setiap perbuatan yang terlihat (disaksikan) oleh orang lain disebut riya.
Menurut para ulama, riya yang diharamkan memiliki ciri-ciri yang bersifat batin, sebagaimana disarikan dari perkataan Imam Shadi...











Dukung Kami