Sabtu, April 4

14 kisah menarik dan inspiratif dari Fathimah Azzahra as

1. Pembelaan Ilmiah terhadap Kaum Mukmin

Diceritakan bahwa dua orang perempuan berselisih dalam suatu masalah agama. Mereka lalu datang kepada Fāṭimah az-Zahrāʾ (as) untuk meminta keputusan.
Salah satu dari mereka adalah perempuan mukminah, sementara yang lain adalah perempuan kafir dan penentang Islam.

Sayyidah Fāṭimah (as) menuturkan:

“Aku menjelaskan dalil-dalil yang menguatkan kebenaran pihak perempuan mukmin itu dan membuktikan bahwa ucapannya benar. Dengan itu, ia menang atas perempuan yang memusuhi Islam, dan ia pun merasa sangat gembira.”

Namun Fāṭimah (as) berkata kepadanya:

“Ketahuilah, kegembiraan para malaikat atas kemenanganmu lebih besar daripada kebahagiaanmu sendiri. Dan kesedihan Iblis serta para pengikutnya atas kekalahan perempuan kafir itu jauh lebih dalam dari kesedihannya sendiri.”
(Bihār al-Anwār, jilid 2, hal. 8)


2. Kepedulian terhadap Sesama

Imam Hasan (as) menuturkan:

“Pada suatu malam Jumat aku melihat ibuku, Fāṭimah, berdiri lama dalam mihrab ibadahnya. Ia terus-menerus rukuk dan sujud hingga malam berlalu dan fajar tiba. Aku mendengar ia berdoa satu per satu untuk kaum mukmin laki-laki dan perempuan, menyebut nama-nama mereka satu per satu, memohonkan rahmat dan ampunan bagi mereka. Namun aku perhatikan, beliau tidak sekali pun berdoa untuk dirinya sendiri.”

Aku bertanya,

“Wahai Ibu, mengapa engkau tidak berdoa untuk dirimu sebagaimana engkau berdoa untuk orang lain?”

Beliau menjawab,

“Anakku, tetangga lebih dahulu, baru penghuni rumah sendiri.”
(Kasyf al-Ghummah, jilid 2, hal. 96)


3. Nilai Pengajaran Agama

Seorang wanita datang kepada Fāṭimah (as) dan berkata,

“Ibu saya sudah tua dan lemah, ia mengalami kesulitan dalam hal salatnya. Karena itu, ia menyuruhku untuk menanyakan persoalan itu kepadamu.”

Fāṭimah (as) menjawab pertanyaan itu dengan sabar. Wanita itu lalu bertanya lagi, dan lagi — hingga sepuluh pertanyaan berbeda. Setelah itu, ia merasa malu karena telah terlalu banyak bertanya, dan berkata,

“Wahai putri Rasulullah, maafkan aku, aku tidak ingin mengganggumu lebih lama.”

Namun Fāṭimah (as) tersenyum dan berkata,

“Tidak usah malu. Silakan ajukan semua pertanyaanmu. Karena, jika seseorang dibayar seribu dinar untuk membawa beban berat ke atas atap, apakah ia akan merasa lelah?”

Wanita itu menjawab, “Tentu tidak, karena upahnya besar.”

Fāṭimah (as) bersabda:

“Demi Allah, pahala yang aku terima atas setiap pertanyaan agama yang kujawab lebih berharga daripada langit dan bumi yang dipenuhi mutiara. Maka aku tidak akan pernah merasa lelah menjawab pertanyaanmu.”

Kemudian beliau menambahkan:

“Pada hari kiamat, para ulama dari kalangan Syiah kami akan dibangkitkan dengan pakaian kehormatan, sebanding dengan jumlah ilmu dan bimbingan yang telah mereka berikan kepada manusia. Salah satu dari mereka akan diberi sejuta jubah cahaya. Lalu suara dari langit menyeru:
‘Wahai para pengasuh yatim dari keluarga Muhammad! Mereka yang kalian bimbing dan ajari adalah murid-murid kalian; sekarang berikanlah sebagian dari anugerah yang telah diberikan kepadamu.’
Maka setiap ulama akan membagikan pahala dan kemuliaan itu sesuai dengan kadar ilmu yang telah mereka ajarkan.”
(Bihār al-Anwār, jilid 43, hal. 3)


4. Siapakah Syiah Fāṭimah (as)?

Seorang lelaki berkata kepada istrinya:

“Pergilah kepada Fāṭimah (as), putri Rasulullah, dan tanyakan apakah aku termasuk Syiah mereka atau bukan.”

Sang istri pergi dan menyampaikan pertanyaan itu.
Fāṭimah (as) menjawab:

“Katakan kepadanya: Jika engkau mengamalkan perintah kami dan menjauhi larangan kami, maka engkau termasuk Syiah kami. Jika tidak, maka engkau bukan Syiah kami.

Ketika istrinya menyampaikan jawaban itu, sang suami menangis dan berkata,

“Celaka aku! Siapa yang bisa bebas dari dosa dan kesalahan? Kalau begitu aku akan kekal di neraka!”

Istrinya kembali kepada Fāṭimah (as) dan menceritakan ucapannya.
Beliau bersabda:

“Sampaikan kepadanya bahwa tidak seperti itu. Sesungguhnya para Syiah sejati kami adalah orang-orang terbaik di surga. Namun siapa pun yang mencintai kami, mencintai para sahabat kami, membenci musuh kami, serta beriman kepada kami dengan hati dan lisannya, meskipun kadang melanggar perintah kami, maka ia bukan Syiah sejati kami, tapi ia akan masuk surga setelah disucikan — entah melalui musibah dunia, kesulitan di hari kiamat, atau dengan tersentuh api neraka di lapisan paling ringan. Setelah itu, karena kecintaan mereka kepada kami, Allah akan mengeluarkan mereka dan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya.”
(Kasyf al-Ghummah, jilid 2, hal. 127)


5. Keteguhan Logika Fāṭimah (as)

Ketika Amirul Mukminin ʿAlī (as) berkata kepada Fāṭimah:

“Pergilah dan mintalah kembali warisanmu, Fadak, dari Abu Bakar.”

Fāṭimah pun pergi dan berkata kepada Abu Bakar:

“Berikanlah kepadaku tanah Fadak, warisan dari ayahku, Rasulullah.”

Abu Bakar menjawab,

“Para nabi tidak meninggalkan warisan.”

Fāṭimah (as) menjawab:

“Apakah Sulaiman tidak mewarisi Daud?”

Abu Bakar terdiam, lalu mengulang lagi ucapannya.
Fāṭimah (as) menimpali:

“Apakah dalam Al-Qur’an tidak disebutkan bahwa Zakariya berdoa: ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub.’?”

Namun Abu Bakar tetap mengulang-ulang kalimat yang sama tanpa jawaban logis.
Fāṭimah (as) berkata lagi:

“Bukankah Allah berfirman: ‘Allah mewasiatkan kepadamu tentang (warisan) anak-anakmu: bagi laki-laki dua bagian dari perempuan.’?”

Abu Bakar tetap bersikeras.

Menariknya, ketika kemudian Aisyah sendiri meminta warisan dari Rasulullah kepada khalifah Utsman, Utsman menjawab:

“Bukankah engkau dulu mengatakan bahwa Rasulullah tidak meninggalkan warisan, dan dengan ucapan itu engkau telah menolak hak Fāṭimah? Aku pun tidak akan memberimu apa-apa.”
(Kasyf al-Ghummah, jilid 2, hal. 92)


6. Sifat Terbaik bagi Seorang Perempuan

Amirul Mukminin ʿAlī (as) meriwayatkan:

“Suatu hari kami duduk bersama Rasulullah (saw), dan beliau bertanya: ‘Apakah sifat terbaik bagi seorang perempuan?’”

Tak seorang pun menjawab. Setelah majelis bubar, aku pergi kepada Fāṭimah (as) dan menyampaikan pertanyaan itu. Ia menjawab dengan yakin:

“Sifat terbaik seorang perempuan adalah ketika ia tidak memandang laki-laki asing dan laki-laki asing pun tidak melihatnya.”

Aku kembali kepada Rasulullah (saw) dan menyampaikan jawaban itu. Beliau bertanya:

“Wahai ʿAlī, ketika kau bersama kami tadi, kau tidak tahu jawabannya. Siapa yang memberitahumu?”
Aku menjawab, “Fāṭimah.”

Rasulullah (saw) terharu dan bersabda:

“Benar, Fāṭimah adalah bagian dari diriku.”
(Bihār al-Anwār, jilid 43, hal. 91)


7. Haya dan Hijab

Suatu hari, seorang laki-laki buta meminta izin masuk ke rumah Fāṭimah (as). Beliau segera menutupi dirinya.
Rasulullah (saw) berkata,

“Wahai Fāṭimah, ia tidak bisa melihatmu, mengapa engkau berhijab darinya?”

Fāṭimah menjawab,

“Benar, ia tidak melihatku. Tapi aku bisa melihatnya. Dan meskipun ia buta, ia tetap bisa mencium aroma seorang perempuan.”

Rasulullah (saw) bersabda:

“Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar bagian dari diriku.”
(Bihār al-Anwār, jilid 43, hal. 91)


8. Kedekatan dengan Allah

Rasulullah (saw) pernah bertanya kepada para sahabat:

“Kapan seorang perempuan paling dekat dengan Allah?”

Para sahabat tidak dapat menjawab. Ketika Fāṭimah (as) mendengar pertanyaan itu, ia menjawab:

“Seorang perempuan paling dekat dengan Tuhannya ketika ia berada di rumahnya.”

Rasulullah (saw) bersabda:

“Sungguh, Fāṭimah adalah bagian dari diriku.”
(Bihār al-Anwār, jilid 43, hal. 92)


9. Kebebasan dalam Memilih Suami

ʿAlī (as) meriwayatkan:

“Beberapa sahabat menyarankanku untuk melamar Fāṭimah (as). Ketika aku datang kepada Rasulullah (saw), beliau tersenyum dan bertanya: ‘Wahai ʿAlī, apa keperluanmu?’”

ʿAlī menjelaskan nasab, keimanan, dan jihadnya. Rasulullah (saw) membenarkan semuanya. Ketika ʿAlī berkata,

“Wahai Rasulullah, aku datang untuk meminang Fāṭimah,”
Rasulullah menjawab,
“Wahai ʿAlī, sebelum engkau, sudah banyak yang melamarnya. Aku tanyakan kepada Fāṭimah, tapi ketika mendengar nama mereka, wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Sekarang aku akan menanyakannya lagi.”

Beliau pun mendatangi Fāṭimah dan berkata:

“Wahai putriku, engkau tahu siapa ʿAlī — nasabnya, keutamaannya, imannya. Aku telah memohon kepada Allah agar menjodohkanmu dengan hamba-Nya yang paling baik dan paling dicintai-Nya. Kini ʿAlī datang meminangmu. Bagaimana pendapatmu?”

Fāṭimah diam. Tidak menolak, tapi juga tidak menunduk malu.
Rasulullah (saw) berkata:

“Allāhu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”
(Bihār al-Anwār, jilid 43, hal. 93)


10. Kesederhanaan Mahar dan Jihāz Fāṭimah

Ketika Rasulullah (saw) hendak menikahkan Fāṭimah dengan ʿAlī (as), beliau berkata,

“Wahai ʿAlī, juallah baju zirahmu.”

ʿAlī pun menjualnya dan membawa uangnya kepada Rasulullah. Nabi menyerahkan sebagian kepada Bilal untuk membeli wewangian, sebagian kepada Abū Bakar dan ʿAmmār untuk membeli kebutuhan rumah tangga.

Barang-barang yang dibeli untuk jihāz (perabot rumah tangga) Fāṭimah sangat sederhana:

  • Satu gamis,
  • Satu kerudung,
  • Satu selimut hitam dari Khaibar,
  • Satu kasur dari serat kurma,
  • Dua bantal (satu berisi wol, satu serat kurma),
  • Tirai wol,
  • Tikar,
  • Gilingan tangan,
  • Bejana tembaga,
  • Ember kulit,
  • Beberapa kendi tanah liat,
  • Meja kulit,
  • Selembar kain, dan sedikit minyak wangi.

Ketika barang-barang itu diserahkan kepada Nabi, beliau melihatnya satu per satu dan berkata:

“Semoga Allah memberkahinya.”
(Bihār al-Anwār, jilid 43, hal. 94)


11. Keteladanan dalam Rumah Tangga

Suatu pagi, ʿAlī (as) bertanya kepada Fāṭimah (as):

“Apakah ada sesuatu di rumah untuk dimakan?”

Fāṭimah menjawab:

“Demi Tuhan yang mengutus ayahku dengan kenabian dan memilih engkau sebagai washi (penerus), tidak ada apa pun di rumah sejak dua hari lalu, kecuali sedikit yang sudah kupersembahkan untukmu dan anak-anak kita Hasan dan Husain.”

ʿAlī berkata:

“Mengapa engkau tidak memberitahuku agar aku mencarikannya?”
Fāṭimah menjawab lembut:
“Wahai Abal Hasan, aku malu kepada Allah untuk membebanimu dengan sesuatu yang tidak mampu engkau penuhi.”
(Bihār al-Anwār, jilid 43, hal. 94)


12. Tasbih Fāṭimah

ʿAlī (as) menceritakan kepada seorang lelaki dari kabilah Bani Sa‘d:

“Fāṭimah sering memikul air hingga bekas tali ember tampak di pundaknya. Ia menggiling gandum sampai tangan halusnya melepuh. Ia menyalakan api hingga pakaiannya tertutup jelaga.”

Aku berkata kepadanya:

“Mintalah kepada ayahmu agar memberi seorang pembantu agar engkau terbantu.”

Fāṭimah pergi ke rumah Rasulullah (saw), tetapi karena banyak orang berada di sana, ia malu dan pulang tanpa berbicara. Rasulullah (saw) mengetahui maksud kedatangannya. Beliau datang ke rumah kami pada malam hari dan berkata:

“Wahai Fāṭimah, engkau datang kemarin untuk suatu kebutuhan, bukan?”

ʿAlī menceritakan kondisi istrinya, lalu Rasulullah berkata:

“Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada seorang pembantu? Saat hendak tidur, bacalah 33 kali Subhānallāh, 33 kali Alhamdulillāh, dan 34 kali Allāhu Akbar.”

Fāṭimah (as) berkata tiga kali:

“Aku ridha kepada Allah dan Rasul-Nya.”
(Kasyf al-Ghummah, jilid 2, hal. 97)


13. Menjaga Wasiat Rasulullah (saw)

Beberapa hari setelah wafatnya Rasulullah (saw), seorang lelaki datang kepada Fāṭimah (as) dan berkata:

“Wahai putri Rasulullah, apakah ada sesuatu peninggalan ayahmu yang bisa engkau berikan kepadaku untuk menjadi pelajaran?”

Fāṭimah (as) menyuruh pelayannya mencari secarik tulisan. Setelah dicari lama, tulisan itu ditemukan. Di dalamnya tertulis:

“Bukan termasuk orang beriman siapa pun yang tetangganya tidak aman dari gangguannya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Allah mencintai orang yang lembut, sabar, dan menjaga kehormatan. Dan Dia membenci orang yang kasar, pendendam, dan suka meminta dengan paksa. Rasa malu adalah bagian dari iman, dan iman akan menuntun ke surga. Sedangkan ucapan kotor adalah bagian dari kefasikan, dan kefasikan menuntun ke neraka.”
(Bihār al-Anwār, jilid 43, hal. 82–83)


14. Fāṭimah sebagai Teladan Sejati bagi Kaum Perempuan

Fāṭimah az-Zahrāʾ (as) adalah teladan sempurna, bukan hanya bagi kaum perempuan dalam Islam, tapi juga bagi seluruh umat manusia. Ia adalah matahari yang menerangi jalan hidup setiap perempuan yang beriman dan merdeka.

Meskipun hidupnya singkat, namun setiap fragmen kisahnya cukup untuk menjadi pedoman sepanjang zaman. Ia menunjukkan bahwa nilai sejati seorang perempuan terletak pada iman, kesucian, kepedulian, dan keteguhan dalam kebenaran.

Dari kehidupannya, kaum perempuan dapat belajar bahwa kedekatan dengan Allah, kesederhanaan, kesetiaan kepada suami, dan cinta kepada sesama adalah mahkota kehormatan tertinggi yang dapat dimiliki seorang wanita mukminah.


Sumber:
“قصه‌های تربیتی چهارده معصوم” (Kisah-Kisah Pendidikan Empat Belas Maksum)
oleh Muhammad Reza Akbari,
disarikan dari: Bihār al-Anwār, Kasyf al-Ghummah, ʿIlal al-Syarā’iʿ, dan Dalā’il al-Imāmah.

[ahlolbait.com]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dukung Kami Dukung Kami