Rabu, Oktober 14

Mengenal Sayyidah Zainab putri Imam Ali as

Sayyidah Zainab (sa) (5 atau 6 SH-62 SH) putri Imam Ali (as) dan Sayyidah Zahra (sa) yang dalam peristiwa Karbala, setelah kesyahidan saudaranya Imam Husain (as), menjadi pembawa panji kebangkitan Karbala dan pengasuh para tawanan Karbala. Peristiwa Karbala dianggap sebagai kejadian terpenting dalam masa kehidupan Zainab (sa). Setelah kesyahidan Imam Husain (as) pada hari Asyura, ia bersama para penyintas lainnya ditawan dan dibawa ke Kufah dan dari sana dipindahkan ke Syam. Kepemimpinan para penyintas, dukungan dan penjagaan terhadap Imam Sajjad (as), serta penyampaian pesan para syuhada Karbala kepada masyarakat, disebutkan sebagai tiga misi Zainab (sa) setelah Asyura. Khotbah Sayyidah Zainab di Kufah dan khotbahnya di majelis Yazid di Syam, selain memperkenalkan kedudukan dan kezaliman yang menimpa Ahlulbait (as), juga menyebabkan terungkapnya kezaliman Bani Umayyah, termasuk Ubaidillah bin Ziyad dan Yazid bin Muawiyah, serta membuat Yazid meminta maaf dan menyatakan penyesalan. Dua dari anak-anak Zainab, Aun dan Muhammad, gugur sebagai syuhada dalam peristiwa Karbala.

Sayyidah Zainab (sa) dijuluki Ummul Masaaib (ibu segala musibah) karena begitu banyak kesulitan yang dialaminya dalam hidupnya. Aqilatu Bani Hasyim dan Alimah Ghairu Mu’allamah adalah julukan-julukan lainnya. Para ulama Syiah menilai Zainab memiliki kesempurnaan dan keutamaan-keutamaan penting; di antaranya: ilmu dan kefakihan, kemiripan dengan Imam Ali (as) dalam hal kefasihan berbicara, kemiripan dengan ibunya Zahra (sa) dalam hal ibadah, perwujudan kesabaran dan keteguhan, serta simbol kesabaran yang indah. Sebagian ulama Syiah, dengan memperhatikan keutamaan dan karakteristik Sayyidah Zainab, meyakini bahwa beliau maksum.

Berdasarkan pendapat yang masyhur, Sayyidah Zainab (sa) wafat pada 15 Rajab tahun 62 SH. Mengenai tempat pemakamannya terdapat perbedaan pendapat. Makamnya yang paling terkenal adalah Haram Sayyidah Zainab di Damaskus; namun sebagian meyakini Maqam Sayyidah Zainab di Mesir dan sebagian lagi menganggap pemakaman Baqi sebagai tempat pemakamannya.

Sayyidah Zainab memiliki kedudukan yang tinggi dalam budaya dan sastra Syiah. Kaum Syiah mengadakan acara peringatan pada hari kelahiran dan wafatnya, menamai anak-anak perempuan mereka dengan namanya, dan menyelenggarakan berbagai seminar untuk menghormatinya. Di Iran, hari kelahirannya disebut sebagai Hari Perawat. Banyak buku juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa tentang kehidupan, kepribadian, dan keutamaan Sayyidah Zainab. Lebih dari 334 buku dalam bahasa-bahasa seperti Arab, Persia, Urdu, dan Inggris telah diperkenalkan tentang Zainab, di antaranya adalah Al-Khashaishuz Zainabiyyah karya Sayyid Nuruddin Jazairi.

Kelahiran, Nama, Julukan, dan Kunyah

Zainab adalah putri pertama Imam Ali (as) dan Sayyidah Fatimah (sa) serta saudara Imam Hasan (as), Imam Husain (as), dan Ummu Kultsum. Mengenai tanggal kelahiran Zainab (sa) terdapat perbedaan pendapat: sebagian sumber menyebutkan kelahirannya pada 5 Jumadil Ula tahun kelima dan sebagian lain pada tahun keenam Qamariyah di Madinah. Dalam beberapa sumber, kelahirannya disebutkan lima tahun sebelum wafatnya Nabi (saw). Tanggal-tanggal lain seperti tahun keempat dan kesembilan Qamariyah juga disebutkan. Dikatakan bahwa tidak satu pun dari tanggal-tanggal ini memiliki alasan historis.

Penamaan Sayyidah Zainab (sa) dilakukan oleh Nabi Islam (saw). Dikatakan bahwa Jibril menyampaikan nama ini kepada Nabi (saw) dari sisi Allah. Dalam kitab Al-Khashaishuz Zainabiyyah disebutkan bahwa Nabi (saw) menciumnya dan bersabda: “Hendaknya yang hadir dari umatku memberitahukan kepada yang tidak hadir tentang kemuliaan putriku Zainab ini; sesungguhnya ia seperti neneknya Khadijah.” Zainab secara bahasa berarti “pohon yang baik pemandangan dan harum” dan “perhiasan ayah.”

Kunyah Zainab (sa) disebutkan sebagai Ummu Kultsum dan Ummul Hasan. Untuk membedakannya dengan saudari-saudarinya yang bernama sama, ia dijuluki Zainab Kubra, dan untuk membedakannya dengan ibunya Shiddiqah Kubra, ia dijuluki Shiddiqah Sughra. Julukan-julukan yang banyak juga diriwayatkan untuknya. Sebagian menyebutkan lebih dari enam puluh julukan untuknya, di antaranya adalah: Aqilatu Bani Hasyim, Alimah Ghairu Mu’allamah, Fahimah Ghairu Mufahhamah, Arifah, Mutsaqqah, Fadhilah, Kamilah, Abidatu Ali, Shiddiqah Sughra, Maksumah Sughra, Aminatullah, Naibatuz Zahra, Naibatul Husain, Aqilatun Nisa, Syarikatussyuhada, Balighah, Fashihah, Syarikatul Husain, Mahbubatul Mushthafa.

Sayyidah Zainab (sa) dijuluki Ummul Masaaib karena begitu banyak kesulitan yang dilihatnya dalam hidup: wafatnya kakeknya Nabi (saw), sakitnya dan kesyahidan ibunya Fatimah (sa), kesyahidan ayahnya Amirul Mukminin (as), kesyahidan saudaranya Imam Hasan (as), peristiwa Karbala, dan penawanan di Kufah serta Syam termasuk di antara peristiwa-peristiwa sulit dan pahit dalam kehidupannya.

Suami dan Anak-Anak

Menurut laporan sumber-sumber historis, Zainab (sa) meskipun banyak yang melamarnya, menikah dengan sepupunya sendiri, Abdullah bin Ja’far. Waktu pernikahan mereka tidak jelas dan dalam sumber-sumber historis juga tidak disebutkan waktu pernikahan mereka. Asma binti Umais, ibu Abdullah, menikah dengan Imam Ali (as) dan Abdullah adalah anak tiri Ali (as). Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa salah satu syarat Sayyidah Zainab dalam pernikahan adalah bahwa setiap kali Imam Husain (as) hendak melakukan perjalanan, Zainab harus berada di sisinya dan Abdullah tidak boleh menghalanginya.

Dari empat putra bernama Ali, Aunul Akbar, Abbas, Muhammad, dan satu putri bernama Ummu Kultsum disebutkan sebagai anak-anak Zainab dan Abdullah. Fadhl bin Hasan Thabarsi (wafat: 548 SH), salah seorang ulama Syiah, dalam kitab I’lamul Wara bi A’lamil Huda, menyebutkan tiga putra dan satu putri untuk Zainab dan tidak menyebutkan nama Abbas. Dua dari anak-anak Zainab, Aun dan Muhammad, gugur sebagai syuhada dalam peristiwa Karbala. Sibt bin Jauzi dalam Tadzkiratul Khawash menyebutkan Aun Ashghar sebagai salah satu syuhada Karbala dan nama ibunya sebagai Jumanah binti Musayyab. Dalam Maqatiluth Thalibin disebutkan nama ibu Muhammad, Khausa binti Hafshah. Sebagian sumber juga menyebutkan dari anak-anak Sayyidah Zainab, hanya Aun yang dianggap sebagai syuhada Karbala.

Muawiyah melamar Ummu Kultsum, putri Sayyidah Zainab (sa), untuk putranya Yazid; tetapi Imam Husain (as) menikahkannya dengan sepupunya, Qasim bin Muhammad bin Ja’far bin Abi Thalib. Sebuah cabang dari keturunan Ali disebut “Zainabiyyun.”

Ciri-Ciri dan Keutamaan

Berbagai ciri dan keutamaan telah disebutkan untuk Sayyidah Zainab (sa): Abdullah Mamaqani dalam Tanqihul Maqal mengatakan: “Zainab, dan apa itu Zainab, dan apa yang membuatmu tahu apa itu Zainab? Ia adalah Aqilatu Bani Hasyim; Zainab itu siapa? Apa kamu tahu siapa Zainab? Ia adalah Aqilah Bani Hasyim.” Menurutnya, setelah Sayyidah Zahra (sa), tidak ada seorang pun yang setara dengannya dalam memperoleh sifat-sifat dan keutamaan-keutamaan yang terpuji. Menurut para ulama seperti Baqir Syarif Qarasyi dan Sayyid Nuruddin Jazairi, Sayyidah Zainab (sa) adalah penghimpun segala keutamaan, kesempurnaan, dan sifat-sifat, sedemikian rupa sehingga lisan dan pena tidak mampu menggambarkannya. Sebagian dari ciri-cirinya disebutkan sebagai berikut:

Ilmu dan Kefakihan
Perkataan dan khotbah-khotbah Zainab (sa) di Kufah serta di istana Yazid yang disertai dengan argumentasi menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dianggap sebagai bukti pengetahuannya. Zainab (sa), dalam Mausu’ah Thabaqatil Fuqaha, dihitung sebagai salah satu fakih abad pertama Qamariyah. Ia meriwayatkan hadis-hadis dari ayahnya Imam Ali (as) dan ibunya Sayyidah Zahra (sa). Berdasarkan laporan kitab Maqatiluth Thalibin, Abdullah bin Abbas meriwayatkan perkataan Sayyidah Zahra (sa) tentang Fadak dengan sanad dari Sayyidah Zainab (sa) dan menyebutnya dengan gelar “Aqilatuna Zainab binti Ali (as).” Imam Sajjad (as) dan para perawi seperti Jabir bin Abdullah Anshari, Muhammad bin Amr, Atha bin Saib, Fatimah putri Imam Husain juga meriwayatkan hadis dari Zainab (sa).

Zainab, ketika Imam Ali (as) berada di Kufah, memberikan tafsir Al-Qur’an untuk para perempuan Kufah. Juga diriwayatkan bahwa ia adalah tempat rujukan masyarakat dalam menjelaskan halal dan haram. Sebagian menganggapnya memiliki ilmu laduni.

Kefasihan Berbicara
Kefasihan berbicara Sayyidah Zainab diserupakan dengan Imam Ali (as) dan dikatakan bahwa ia dalam kefasihan dan kefashihan sedemikian rupa sehingga ketika berkhutbah, seolah-olah Imam Ali (as) yang berbicara dan berkhutbah. Thabarsi dalam Al-Ihtijaj meriwayatkan bahwa pada hari masuknya kafilah tawanan ke Kufah, Imam Sajjad (as) dalam keadaan sakit berbicara kepada orang-orang yang sedang menangis dan meratap, lalu Sayyidah Zainab memberi isyarat kepada orang-orang agar diam. Perawi mengatakan bahwa napas-napas tertahan di dada dan bahkan suara lonceng hewan tunggangan pun tidak terdengar. Kemudian Zainab berkhutbah di hadapan orang-orang.

Ibadah
Sayyidah Zainab dalam beribadah diserupakan dengan ibunya Sayyidah Zahra (sa). Diriwayatkan bahwa ia pada malam-malam hari melakukan ibadah, tahajud, dan membaca Al-Qur’an, dan selama hidupnya tahajudnya tidak pernah ditinggalkan; bahkan pada malam kesebelas Asyura, meskipun terdapat banyak musibah dalam peristiwa Asyura. Fatimah putri Imam Husain mengatakan: “Bibiku Zainab sepanjang malam Asyura berdiri di tempat ibadahnya dan memohon pertolongan kepada Tuhannya.” Juga diriwayatkan dari Imam Sajjad (as) bahwa meskipun terdapat banyak kesulitan dalam perjalanan ke Syam, shalat malam Sayyidah Zainab tidak pernah ditinggalkan. Diriwayatkan bahwa Imam Husain (as) pada hari Asyura saat perpisahan terakhirnya, berkata kepada Zainab: “Saudariku, jangan lupakan aku dalam shalat malam.” Sayyidah Zainab karena ibadahnya dijuluki “Abidah.”

Hijab dan Kesucian Diri
Mengenai hijab dan kesucian diri Sayyidah Zainab, Abdullah Mamaqani mengatakan bahwa sebelum peristiwa Karbala tidak ada seorang pria pun yang melihatnya. Diriwayatkan dari Yahya Mazini, salah seorang sahabat Imam Husain (as) dan syuhada Karbala, bahwa meskipun di Madinah ia cukup lama menjadi tetangga rumah Imam Ali (as), ia tidak pernah melihat Zainab dan tidak pernah mendengar suaranya. Menurut riwayatnya, ketika Zainab (sa) pergi berziarah ke makam Rasulullah (saw), Imam Ali dan Hasanain berjalan di sekelilingnya agar tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Kesabaran dan Keteguhan
Sayyidah Zainab dianggap sebagai perwujudan dan simbol kesabaran yang indah dan pahlawan kesabaran. Ketahanan di jalan menjaga batas-batas agama, pengendalian diri terhadap kesulitan-kesulitan, tidak menunjukkan kelemahan di hadapan musuh, dan tidak mengeluh di hadapan orang banyak disebutkan sebagai bagian dari ciri-ciri kesabaran Zainab (sa). Ia pada hari Asyura, ketika melihat jasad saudaranya yang berlumuran darah, berkata: “Ya Allah, terimalah dari kami (keluarga Nabi) kurban dan yang terbunuh di jalan-Mu ini.” Juga ia dalam menjawab Ibnu Ziyad yang bertanya bagaimana ia melihat perbuatan Allah terhadap saudaranya dan Ahlulbaitnya, berkata: “MAA RA’ATTU ILLA JAMILA; aku tidak melihat kecuali keindahan.”

Kemaksuman
Sebagian ulama, seperti Abdullah Mamaqani dan Ja’far Naqdi, dari para fakih Syiah pada abad keempat belas Qamariyah, dengan memperhatikan keutamaan dan ciri-ciri Sayyidah Zainab, meyakini kemaksumannya. Sayyid Nuruddin Jazairi menganggapnya memiliki kemaksuman sughra.

Pendampingan Imam Husain (as) dalam Peristiwa Karbala dan Pencerahan Setelahnya

Peristiwa terpenting dalam masa kehidupan Zainab (sa) dianggap sebagai peristiwa Karbala. Sayyidah Zainab dalam peristiwa Karbala hingga saat kesyahidan Imam Husain (as) selalu bersamanya. Setelah kesyahidan Imam Husain (as) ia juga ditawan bersama para penyintas lainnya dan dibawa ke Kufah dan Syam. Dikatakan bahwa tidak jelas apakah Sayyidah Zainab menemani saudaranya dari Madinah atau bergabung dengannya kemudian. Juga cara Zainab keluar dari Madinah hingga ke Makkah tidak disebutkan dalam sumber-sumber. Yang jelas adalah bahwa Zainab ketika Imam Husain (as) keluar dari Makkah menuju Irak, ia bersama saudaranya.

Zainab (sa) karena perlawanannya terhadap musuh-musuh dan pengungkapan-pengungkapannya serta memperkenalkan kedudukan dan kezaliman yang menimpa Ahlulbait (as) setelah kesyahidan saudaranya Imam Husain, diperkenalkan sebagai pembawa panji kebangkitan Karbala. Juga khotbah-khotbah dan pencerahan-pencerahannya dianggap sebagai rahasia kelangsungan epik Asyura dan kebangkitan masyarakat. Muhammad Muhammadi Isytihardi, penulis karya-karya keagamaan, menyebutkan tiga misi Zainab (sa) setelah Asyura sebagai berikut: kepemimpinan para penyintas, dukungan dan penjagaan terhadap Imam Sajjad (as), dan penyampaian pesan para syuhada kepada masyarakat.

Di Karbala
Syaikh Mufid meriwayatkan dari Imam Sajjad (as) bahwa pada malam Asyura, Zainab (sa) duduk di sampingnya ketika Imam Husain (as) pergi ke kemahnya dan melantunkan syair tentang ketidaksetiaan dunia. Imam Sajjad mengatakan bahwa bibinya mendengar syair itu, dengan gelisah mendatangi ayahnya. Ayahnya menatapnya dan berkata: “Saudariku, jangan biarkan setan merenggut kesabaranmu.” Kemudian matanya penuh air mata dan bersabda: “Jika burung qatha (burung batu) dibiarkan, ia akan tidur.” Zainab (sa) berkata: “Aduhai celakaku! Apakah nyawamu akan dirampas dengan paksa?…” Kemudian ia menampar wajahnya sendiri dan merobek kerah bajunya dan jatuh pingsan. Husain (as) menuangkan air ke wajahnya dan menasihatinya untuk bertakwa dan bersabar dan bersabda: “… Ketahuilah bahwa penduduk bumi dan penduduk langit akan mati dan segala sesuatu akan binasa, kecuali Allah… Ayahku, ibuku, dan saudaraku lebih baik dariku [dan semuanya telah meninggalkan dunia]…” Husain (as) menghiburnya dengan perkataan ini dan menyumpahnya agar setelah kesyahidan saudaranya tidak merobek kerah baju, tidak menampar wajahnya, dan tidak gelisah.

Pada sore Asyura, ketika atas perintah Syimr, tubuh Imam Husain (as) dihujani panah, Zainab (sa) keluar dari kemah dan menyeru Umar bin Sa’d (komandan pasukan musuh) demikian: “Putra Sa’d, apakah Aba Abdillah (Imam Husain) dibunuh sementara kamu menonton?!” Ibnu Sa’d tidak menjawab. Kemudian Zainab (sa) berseru apakah tidak ada seorang muslim pun di antara kalian? Tidak seorang pun yang menjawabnya. Berdasarkan sebagian sumber, Zainab (sa) setelah kesyahidan Imam Husain (as), mendatangi sisi saudaranya dan berkata: “Ya Allah, terimalah kurban ini dari kami.” Juga diriwayatkan bahwa ia menghadap ke Madinah dan menyeru kepada Nabi (saw), mengadukan kesyahidan saudaranya dan penawanan Ahlulbaitnya. Diriwayatkan bahwa perkataan dan ratapan Zainab (sa) mempengaruhi kawan dan lawan dan membuat semua orang menangis.

Menurut riwayat sumber-sumber, dua dari anak-anak Sayyidah Zainab (sa) gugur sebagai syuhada pada hari Asyura. Sayyid Muhammad Kazhim Qazwini mengatakan bahwa dalam kitab-kitab maqtal, ia tidak menemukan laporan tentang ratapan atau tangisan Zainab (sa) atas kesyahidan anak-anaknya. Menurutnya, Sayyidah Zainab karena saudaranya Imam Husain, tidak menampakkan kesedihan dan dukanya atas kesyahidan anak-anaknya.

Di Kufah
Lihat juga: Khotbah Sayyidah Zainab di Kufah dan Debat Sayyidah Zainab dengan Ubaidillah bin Ziyad
Setelah kesyahidan Imam Husain (as), para tawanan termasuk Zainab (sa) dibawa ke Kufah. Dikatakan bahwa menurut laporan-laporan historis, kepemimpinan kafilah tawanan berada di tangan Zainab (sa). Saat memasuki Kufah, Zainab (sa) berkhutbah di hadapan para hadirin, sedemikian rupa sehingga semua orang tercengang dan terpengaruh. Hizyam bin Syarik Asadi, salah seorang sahabat Imam Sajjad (as), tentang khotbah Sayyidah Zainab (sa) mengatakan: “Demi Allah, aku tidak pernah melihat seseorang seperti Zainab dalam kefasihan berbicara; seolah-olah ia berbicara dari lisan Amirul Mukminin Ali (as). Ia membentak orang-orang agar diam! Dengan bentakan itu, tidak hanya kumpulan besar itu yang diam, tetapi suara lonceng unta pun berhenti.” Di akhir khotbah yang mana kekacauan kota dan pemberontakan terhadap pemerintahan terasa, komandan pasukan militer, untuk mencegah pemberontakan, mengirim tawanan Karbala ke Darul Imarah, pusat pemerintahan Ubaidillah bin Ziyad, gubernur Kufah.

Menurut laporan Syaikh Mufid, Ubaidillah setelah sampainya kepala-kepala para syuhada dan tawanan Karbala ke Kufah, di istana Darul Imarah telah mengadakan majelis umum dan kepala terpenggal Imam Husain (as) diletakkan di hadapannya dan ia memukulkan tongkat ke gigi-gigi beliau. Tawanan Karbala dan di antara mereka Zainab (sa) dimasukkan ke Darul Imarah tanpa dikenal. Sayyidah Zainab di sana berdebat dengan Ubaidillah bin Ziyad dan mencegah keputusan Ubaidillah untuk membunuh Imam Sajjad (as) dan berkata kepada Ibnu Ziyad bahwa jika ia hendak membunuh Imam Sajjad (as), ia juga harus membunuhnya bersama Imam.

Di Syam
Setelah peristiwa Karbala, Yazid bin Muawiyah meminta Ubaidillah untuk mengirim kafilah tawanan bersama kepala-kepala para syuhada ke Syam. Oleh karena itu, keluarga Imam Husain (as) dikirim ke arah Syam. Karena propaganda buruk Bani Umayyah terhadap keluarga Imam Ali (as) di Syam dan kokohnya pemerintahan Yazid, saat masuknya para tawanan ke Syam, orang-orang mengenakan pakaian baru dan menghiasi kota dan bersuka cita; namun khotbah-khotbah Sayyidah Zainab dan Imam Sajjad (as) di Syam, di satu sisi mengubah permusuhan penduduk Syam terhadap Ahlulbait (as) menjadi kecintaan dan di sisi lain, membuat kemarahan umum tertuju kepada Yazid. Oleh karena itu, Yazid sambil menyatakan penyesalan, merasa bahwa membunuh Imam Husain (as) alih-alih memperbaiki posisinya, justru memberikan pukulan-pukulan telak pada fondasi pemerintahannya.

Yazid telah menyiapkan sebuah majelis yang dihadiri oleh para bangsawan dan pemuka Syam. Ia di hadapan keluarga Imam Husain yang seperti tawanan berada di hadapannya, melantunkan syair-syair menghina dan kafir dan tentang kemenangannya, ia mengatakan hal-hal dan menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk kepentingannya. Juga ia dengan tongkat yang ada di tangannya, berlaku kurang ajar terhadap kepala terpenggal Imam Husain (as). Setelah itu, Zainab (sa) dari sudut majelis bangkit menantang perkataan Yazid dan dengan suara lantang, menyampaikan khotbah tentang kebenaran Imam Husain (as) dan kebatilan perbuatan Yazid. Ia, dalam khotbah ini, menghina, menegur, dan mempermalukan Yazid di hadapan para pemuka dan tokoh Syam dan mengutuk kejahatan-kejahatannya dan menyiapkan landasan kebangkitan masyarakat dan goyahnya pemerintahan Yazid.

Pencerahan-pencerahan Zainab (sa) dianggap sebagai penyebab hilangnya kegembiraan kemenangan Ibnu Ziyad dan Yazid serta Bani Umayyah. Dikatakan bahwa akibat pencerahan Sayyidah Zainab (sa), Yazid terpaksa meminta maaf dan menyatakan penyesalan dan menimpakan pembunuhan Imam Husain (as) kepada Ubaidillah bin Ziyad. Setelah itu, Zainab (sa) dan para tawanan Karbala meminta kepada Yazid agar mereka dapat berkabung untuk Imam Husain (as) di Syam dan Yazid pun menerimanya.

Wafat dan Tempat Pemakaman

Dikatakan bahwa mengenai waktu, tempat, dan cara wafatnya Sayyidah Zainab (sa), dalam sumber-sumber historis hingga abad kedelapan Qamariyah tidak terdapat informasi yang akurat dan informasi yang ada hanya mencakup hingga saat kafilah tawanan memasuki Madinah. Meskipun demikian, wafatnya Sayyidah Zainab (sa) pada malam Ahad, 15 Rajab tahun 62 SH dianggap sebagai pendapat yang masyhur. Tanggal 14 Rajab dan tahun 65 SH juga merupakan pendapat-pendapat lain dalam hal ini.

Mengenai tempat pemakaman Sayyidah Zainab (sa), terdapat beberapa pandangan:

Syam: Tempat pemakaman Sayyidah Zainab di Syam dianggap sebagai pendapat yang masyhur. Lokasi haramnya berada di selatan Damaskus dan karena keberadaan Haram Sayyidah Zainab (sa) di tempat itu, daerah ini dikenal sebagai “Kota Sayyidah Zainab.”
Mesir: Sebagian sejarawan menganggap makam Zainab (sa) berada di Mesir. Tempat ini yang dikenal sebagai Maqam Sayyidah Zainab atau Masjid Sayyidah Zainab, terletak di daerah Sayyidah Zainab, Kairo. Sayyid Muhammad Kazhim Qazwini dalam kitab Zainab al-Kubra minal Mahdi ilal Lahd, menganggap pendapat ini sebagai kemungkinan yang terkuat.
Madinah: Sayyid Muhsin Amin, menganggap pemakaman Baqi di Madinah sebagai tempat pemakaman Sayyidah Zainab (sa).
Di kota Sinjar, di utara negara Irak, terdapat sebuah ziarah yang oleh penduduk setempat dianggap sebagai tempat pemakaman Sayyidah Zainab. Tentu saja para peneliti menganggap pemakaman Zainab (sa) di tempat ini tanpa alasan historis.

Muhammad Jawad Mughniyah dalam kitab Al-Husain wa Bathalatu Karbala dengan menolak pendapat ketiga mengatakan bahwa karena para ulama terpercaya seperti Kulini, Syaikh Shaduq, Syaikh Mufid, dan Syaikh Thusi, tidak menyebutkan tempat pemakaman Sayyidah Zainab, tidak dapat mengunggulkan salah satu dari tiga pendapat tersebut atas yang lain. Kemasyhuran Syam dan Mesir juga saling bertentangan dan dari segi ini juga tidak ada yang lebih unggul. Oleh karena itu tidak dapat menentukan tempat pemakamannya dengan pasti; tetapi tanpa keraguan, menziarahi tempat-tempat ziarah yang ada di Syam dan Mesir, karena penghormatan terhadap Ahlulbait, adalah baik. Dalam kitab Maqtal Jami’ Sayyidusy Syuhada juga ketiga pandangan dikritik dan tidak ada yang diunggulkan atas yang lain. Di antara kritik terhadap ketiga pandangan adalah bahwa meskipun Sayyidah Zainab termasuk tokoh besar dan penting Islam, dalam kitab-kitab kuno yang terpercaya, tidak disebutkan nama tempat pemakaman Sayyidah Zainab di Syam, Mesir, dan Madinah. Oleh karena itu tidak satu pun dari ketiga tempat ini dapat dianggap dengan pasti sebagai tempat pemakaman Sayyidah Zainab (sa).

Mengenai makam masyhur di Damaskus juga dikatakan bahwa nama pemilik makam ini hingga abad kedelapan Qamariyah tercatat sebagai Ummu Kultsum; tetapi setelah tanggal itu, secara bertahap makam tersebut dinisbatkan kepada Zainab Kubra.

Ziarah Zainabiyah atau Tel Zainabiyah, di dekat Haram Imam Husain (as) juga dinisbatkan kepada Zainab (sa). Dikatakan bahwa Tel Zainabiyah adalah tempat berdirinya Sayyidah Zainab pada hari Asyura dan dari sana ia menyaksikan peristiwa-peristiwa Karbala termasuk kesyahidan saudaranya.

Sumber: wikishia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dukung Kami Dukung Kami