Konsep kemunculan seorang juru selamat di akhir zaman, yang akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman, adalah keyakinan fundamental dalam Islam, khususnya di kalangan Syiah. Figur penantian ini adalah Imam Mahdi (A.S.), putra Imam Hasan Al-Askari (A.S.), yang menurut keyakinan telah hidup dalam kegaiban sejak abad ke-9 Masehi. Umat Islam yang meyakininya, dikenal sebagai Muntazhirun (para penanti), hidup dalam kesiapan dan pengharapan akan munculnya sang Imam.
Kemunculan Imam Mahdi (A.S.), atau yang dikenal dengan istilah Zhuhur, tidak akan terjadi begitu saja tanpa didahului oleh tanda-tanda. Para perawi dan ulama telah menukilkan banyak riwayat dari para Imam Maksum (A.S.) yang menjelaskan rentetan peristiwa yang akan menjadi pertanda dekatnya hari kebangkitan tersebut. Di antara semua tanda, bulan Ramadan memiliki posisi yang sangat istimewa. Bulan suci ini, yang merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an dan bulan penuh ampunan, disebut-sebut sebagai periode kritis di mana beberapa tanda paling penting dan dahsyat akan terjadi.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam tiga peristiwa besar yang disebutkan dalam riwayat akan terjadi pada bulan Ramadan sebelum kemunculan Imam Mahdi (A.S.), yaitu: terjadinya dua gerhana di luar kebiasaan, kemunculan suara dahsyat dari langit (Shihah), dan bai’at (pembaiatan) pasukan Sufyani dari Bani Kalb. Analisis ini akan menggabungkan teks riwayat, pandangan ulama, serta beberapa interpretasi ilmiah dan teologis untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif.
1. Mukjizat Kosmik: Gerhana di Waktu yang Mustahil
Salah satu tanda yang paling unik dan menarik perhatian para ulama adalah peristiwa gerhana yang terjadi di luar perhitungan astronomi normal. Tanda ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan sebuah manifestasi kekuasaan Ilahi yang dirancang untuk menjadi ujian dan penyadaran bagi seluruh umat manusia, terutama bagi mereka yang dengan tulus menantikan Imam Mahdi (A.S.).
a. Deskripsi Peristiwa Berdasarkan Riwayat
Sejumlah riwayat dari Imam Muhammad Al-Baqir (A.S.) dan Imam Ja’far Ash-Shadiq (A.S.) dengan jelas menyebutkan tanda ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tsa’labah Azdi, Imam Baqir (A.S.) bersabda:
“Dua tanda sebelum kemunculan Qaim (A.S.) adalah: gerhana matahari pada pertengahan bulan Ramadan dan gerhana bulan pada akhir bulan tersebut.”
Ketika perawi terheran-heran dan bertanya, “Wahai putra Rasulullah, bukankah biasanya gerhana matahari terjadi di akhir bulan dan gerhana bulan di pertengahan bulan?” Imam Baqir (A.S.) menegaskan dengan jawaban yang sangat mendalam:
“Aku mengetahui apa yang aku katakan. Kedua tanda ini belum pernah terjadi sejak turunnya Nabi Adam (A.S.) ke bumi.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa peristiwa ini akan menjadi sebuah anomali total. Dalam riwayat lain, Abu Basir meriwayatkan dari Imam Shadiq (A.S.) bahwa tanda kebangkitan Imam Mahdi (A.S.) adalah gerhana matahari pada tanggal 14 atau 23 Ramadan, yang akan mengacaukan perhitungan para astronom. Variasi penyebutan tanggal (13, 14, 15, 23, 25) ini mungkin merujuk pada fase-fase berbeda dari peristiwa yang sama atau perbedaan dalam periwayatan, namun intinya tetap sama: gerhana terjadi di luar siklus yang telah ditetapkan Allah di alam semesta.
b. Analisis dan Kemungkinan Penjelasan Ilmiah
Para ulama dan pemikir Muslim telah mencoba memahami bagaimana peristiwa yang secara ilmiah mustahil ini dapat terjadi. Beberapa kemungkinan diajukan:
- Kemungkinan Pertama: Mukjizat Murni (Tidak Melalui Sebab Alamiah yang Dikenal)
Penjelasan ini adalah yang paling langsung dan teologis. Peristiwa ini adalah mukjizat (khariq al-‘adah), yaitu sesuatu yang melampaui hukum alam yang biasa. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kekuasaan mutlak Allah dan menjadi peringatan keras bagi manusia. Seperti mukjizat para nabi, kejadian ini tidak perlu dijelaskan dengan hukum fisika yang kita kenal. Cukuplah kita mengimani bahwa itu akan terjadi, dan belum pernah terjadi sebelumnya. - Kemungkinan Kedua: Adanya Penghalang Fisik dari Luar Angkasa
Kemungkinan ini mencoba memberikan penjelasan saintifik. Mungkin saja sebuah benda langit yang besar, seperti asteroid atau komet, mendekati sistem tata surya dan posisinya sedemikian rupa sehingga menghalangi sinar matahari mencapai bumi. Jika benda ini berada di antara bumi dan matahari pada pertengahan bulan Ramadan (saat bulan purnama dan bumi seharusnya tidak berada dalam bayangan bulan), maka akan terjadi gerhana matahari di pertengahan bulan. Benda yang sama, beberapa hari kemudian, mungkin memantulkan atau menghalangi cahaya bulan dengan cara yang menyebabkan gerhana bulan di akhir bulan. Ini adalah kemungkinan yang menarik, namun bergantung pada keberadaan dan pergerakan benda langit yang sangat tidak biasa. - Kemungkinan Ketiga: Perubahan Fisik pada Matahari
Penjelasan ini dianggap oleh sebagian penulis sebagai yang paling mendekati realitas ilmiah, terutama jika dikaitkan dengan tanda-tanda lain yang disebutkan dalam riwayat tentang perubahan pada matahari. Kemungkinannya adalah terjadinya ledakan besar atau gejolak dahsyat di permukaan matahari (solar flare raksasa) yang menyebabkan pola radiasi dan cahayanya berubah secara drastis. Fluktuasi cahaya ini bisa menyebabkan kegelapan pada waktu yang tidak seharusnya, menyerupai gerhana. Penafsiran ini diperkuat oleh sebuah riwayat dari Imam Ali (A.S.) yang menyebutkan bahwa setelah terjadinya “Shihah” (teriakan langit) pada 23 Ramadan, matahari akan tampak berubah warna, menjadi kekuningan, dan akhirnya gelap dan hitam. Kegelapan matahari ini dapat ditafsirkan sebagai bukti terjadinya fenomena yang disebut sebagai gerhana bulan pada tanggal 25 Ramadan. Dengan kata lain, “gerhana” yang dimaksud dalam riwayat mungkin merujuk pada fenomena langit yang lebih luas, bukan hanya peristiwa astronomis semata.
Terlepas dari penjelasan ilmiahnya, inti dari tanda ini adalah untuk memperdalam keyakinan kaum Muslimin tentang konsep Mahdawiyah dan untuk memberikan perhatian khusus kepada para mukmin yang tulus bahwa kemunculan Imam Mahdi (A.S.) sudah sangat dekat.
2. Suara yang Mengguncang Dunia: Shihah atau Teriakan Langit
Jika gerhana adalah tanda visual yang membingungkan para ilmuwan, maka Shihah adalah tanda auditori yang akan mengguncang jiwa setiap insan. Shihah termasuk dalam salah satu dari lima tanda pasti (al-‘alamat al-khamsah) menjelang kemunculan Imam Mahdi (A.S.).
a. Waktu dan Bentuk Terjadinya Shihah
Menurut riwayat dari Imam Baqir (A.S.), Shihah akan terjadi pada bulan Ramadan, tepatnya pada malam Jumat, tanggal 23 Ramadan, yang juga merupakan malam Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam yang penuh berkah itu, kesunyian akan dipecahkan oleh suara yang sangat dahsyat dari langit. Suara ini bukanlah suara biasa, melainkan suara Malaikat Jibril Al-Amin. Setiap makhluk akan mendengarnya dalam bahasa ibunya masing-masing, sehingga tidak ada keraguan tentang asal-usul pesannya. Isi seruan Jibril adalah:
“Pagi telah dekat. Ketahuilah, kebenaran ada pada Imam Mahdi (A.S.) dan pengikutnya.”
Dampak dari suara ini sangat luar biasa. Orang yang tidur akan terbangun dengan gempar, orang yang berdiri akan jatuh terduduk, dan orang yang duduk akan terpaku di tempatnya karena rasa takut yang mencekam. Bahkan, riwayat menyebutkan bahwa para pengantin wanita akan keluar dari kamar mereka karena panik. Suara ini akan terdengar dari ujung timur hingga ujung barat bumi, menjangkau seluruh umat manusia.
b. Tugas dan Ancaman bagi Mukmin
Kekuatan Shihah bukan hanya secara spiritual, tetapi juga fisik. Riwayat menyebutkan bahwa efeknya begitu kuat hingga dapat menyebabkan 70.000 orang menjadi tuli dan 70.000 orang lainnya menjadi bisu. Oleh karena itu, para Imam (A.S.) memberikan panduan khusus kepada para pengikut setia mereka untuk menyelamatkan diri dari dampak buruk suara tersebut. Tindakan yang dianjurkan adalah:
- Setelah memuji Allah, segera melaksanakan shalat Subuh di hari Jumat tersebut.
- Mengunci pintu rumah dan menutup semua jendela rapat-rapat.
- Melindungi diri, mungkin dengan berada di dalam ruangan tertutup.
- Yang terpenting, menutup telinga dan segera bersujud sambil mengucapkan:
“Subhan Rabbina al-Quddus” (Maha Suci Tuhan kami, Yang Maha Suci).
Imam Baqir (A.S.) bersabda, barangsiapa yang melakukan hal ini akan selamat, dan barangsiapa yang mengabaikannya akan binasa.
Selain itu, pada periode inilah umat diperintahkan untuk menyimpan persediaan makanan untuk satu tahun bagi diri sendiri dan keluarga. Imam Baqir (A.S.) menjelaskan bahwa setelah Shihah, akan muncul perpecahan, konflik berkepanjangan, dan kelaparan yang meluas. Persiapan ini adalah bentuk kewaspadaan menghadapi masa-masa sulit sebelum kemunculan sang Imam.
c. Kemunculan Sufyani dan Tipu Daya Setan
Pada hari yang sama, di sore harinya, tipu daya besar akan terjadi. Iblis atau salah satu agennya (setan) akan berseru dari arah yang berlawanan, antara bumi dan langit, untuk mengelabui manusia. Seruan itu berbunyi:
“Ketahuilah, kebenaran ada pada Usman dan pengikutnya.”
Para ulama menafsirkan bahwa “Usman” yang dimaksud di sini adalah Usman bin ‘Anbasah, yang lebih dikenal dengan julukan Sufyani, seorang tokoh kejam dari keturunan Bani Umayyah yang akan memberontak sebelum kemunculan Imam Mahdi. Tujuan seruan setan ini adalah untuk menciptakan fitnah dan keraguan, membelah umat yang baru saja disatukan oleh suara kebenaran dari langit. Inilah ujian terbesar bagi manusia: membedakan antara suara malaikat yang membawa kebenaran dan suara setan yang membawa kesesatan.
3. Pengkhianatan di Bulan Suci: Bai’at 30.000 Orang dari Suku Bani Kalb dengan Sufyani
Tanda ketiga di bulan Ramadan adalah momentum politik-militer yang sangat penting, yaitu bergabungnya kekuatan besar dengan pasukan Sufyani.
a. Latar Belakang Kebangkitan Sufyani
Sufyani adalah seorang figur antagonis utama dalam eskatologi Islam. Ia digambarkan sebagai seorang yang kejam, bengis, dan memproklamirkan diri sebagai khalifah. Pemberontakannya dimulai pada bulan Rajab, beberapa bulan sebelum Ramadan. Ia dengan cepat memperluas pengaruhnya dan membantai siapa saja yang menentangnya, terutama para pecinta Ahlulbait (A.S.).
b. Peran Strategis Bani Kalb
Pada bulan Ramadan, kekuatan Sufyani akan mencapai puncaknya ketika ia berhasil mendapatkan dukungan militer yang besar. Nabi Muhammad (S.A.W.) dalam sebuah sabdanya meramalkan: “Sufyani berperang dengan 360 penunggang sampai ke Damaskus, dan pada bulan Ramadan, 30.000 (dalam riwayat lain disebut 20.000) orang dari suku Bani Kalb bersekutu dengannya.”
Suku Bani Kalb memiliki hubungan kekerabatan dengan Sufyani dan secara geografis bermukim di wilayah yang strategis, meliputi daerah Ramla (Palestina timur), gurun pasir di Yordania barat, dan wilayah barat daya Suriah hingga dekat Damaskus. Dukungan mereka sangat signifikan karena mereka adalah penduduk asli wilayah yang akan menjadi pusat kekuasaan Sufyani. Bai’at ini menandai berdirinya kekuatan militer Sufyani secara formal dan menjadikannya ancaman nyata bagi seluruh penduduk Syam (Suriah Raya) dan sekitarnya. Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa bulan Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan persiapan perang besar antara kebenaran dan kebatilan.
Kesimpulan: Ramadan sebagai Puncak Penantian
Bulan Ramadan, dengan segala kemuliaannya, akan menjadi saksi bisu atas rangkaian peristiwa dramatis yang menjadi pintu gerbang menuju zaman baru. Tiga tanda besar ini—gerhana yang membingungkan akal, seruan langit yang mengguncang jiwa, dan persekutuan pasukan kezaliman—bekerja secara sinergis. Gerhana menghancurkan kepongahan ilmiah manusia, Shihah memberikan petunjuk ilahi yang jelas, dan konspirasi Sufyani menjadi ujian akhir bagi kesetiaan manusia kepada kebenaran.
Bagi para penantian sejati, bulan Ramadan yang penuh dengan tanda-tanda ini bukanlah bulan untuk berpangku tangan. Ia adalah bulan untuk mempersiapkan diri, baik secara spiritual dengan memperkuat iman dan mengamalkan amalan yang diajarkan, maupun secara fisik dengan mempersiapkan kebutuhan hidup. Inilah saatnya untuk benar-benar memahami makna penantian aktif: menanti dengan kesiapan, bukan hanya dengan angan-angan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: iqna

Dukung Kami