Bulan Ramadhan bukan hanya bulan turunnya Al-Qur’an, tetapi juga bulan yang bersejarah bagi keluarga suci Nabi Muhammad SAW. Di malam pertengahan bulan yang penuh berkah ini, tepatnya pada tahun ketiga Hijriah, seorang putra lahir dari pasangan suci Ali bin Abi Thalib AS dan Fatimah Az-Zahra AS, yang kemudian dikenal dengan nama Hasan, sang cucu tercinta Rasulullah SAW. Kelahirannya menyelimuti kota Madinah dengan kebahagiaan dan menjadi awal dari lahirnya generasi penerus perjuangan Islam yang akan menjadi pemimpin pemuda penghuni surga.
Artikel ini akan menyajikan secara lengkap dan detail riwayat kelahiran Imam Hasan AS berdasarkan teks Farsi yang merujuk pada berbagai sumber primer Syiah dan Sunni, mulai dari tanggal kelahiran, prosesi pemberian nama yang penuh misteri ilahiah, hingga pelaksanaan syariat dan tradisi Islami atas kelahiran buah hati Rasulullah ini.
Bagian 1: Kelahiran Sang Cahaya di Bulan Ramadhan
1.1. Waktu Kelahiran
Imam Hasan Mujtaba AS lahir pada tahun ketiga Hijriah. Pendapat yang paling masyhur (terkenal) di kalangan ulama Syiah dan Sunni menyatakan bahwa bayi yang diberkahi ini lahir pada malam pertengahan bulan Ramadhan, yaitu malam yang paling utama di bulan-bulannya Allah. Meskipun demikian, terdapat pula pendapat lain yang dinukil dalam kitab-kitab kedua mazhab mengenai tanggal pastinya, namun pendapat pertama tetap yang paling dikenal dan diterima secara luas.
1.2. Kebahagiaan di Rumah Nabi
Kelahiran Imam Hasan disambut dengan suka cita yang mendalam. Beliau adalah cucu pertama bagi Rasulullah SAW. Sebagai seorang kakek yang penyayang, Nabi SAW segera mendatangi rumah putrinya untuk menyambut anggota baru keluarga tersebut. Saat pertama kali melihat bayi itu, beliau tidak langsung mendapukannya dalam balutan kain kuning.
Dalam sebuah riwayat, ketika bayi itu dibawa ke hadapan Rasulullah SAW dengan dibungkus kain kuning, beliau bersabda, “Bukankah aku telah melarang kalian membungkus bayi dengan kain kuning?” Kemudian beliau membuang kain itu dan menggantinya dengan kain putih yang bersih. Tindakan ini menunjukkan perhatian besar Rasulullah terhadap detail-detail kebaikan dan kesucian, bahkan dalam hal membungkus bayi yang baru lahir.
Bagian 2: Misteri Ilahiah di Balik Pemberian Nama “Hasan”
Proses penamaan Imam Hasan AS adalah salah satu kisah paling menarik yang menunjukkan hubungan erat antara langit dan bumi, serta posisi agung keluarga ini di sisi Allah SWT. Terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan asal-usul nama ini, namun riwayat yang paling kuat dan terkenal melibatkan malaikat Jibril sebagai perantara wahyu.
2.1. Riwayat Utama: Penamaan Langsung oleh Allah (Riwayat Imam Sajjad AS)
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ali Zainal Abidin AS dan tercatat dalam kitab-kitab seperti Amali, Ilal al-Syarai’, dan Uyun Akhbar al-Ridha karya Syekh Shaduq, serta sumber-sumber lainnya.
Kronologi lengkapnya adalah sebagai berikut:
- Permintaan Nama dari Ibu: Setelah Sayidah Fatimah AS melahirkan Hasan, ia berkata kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib AS, “Berilah nama untuk putra ini.”
- Sikap Tawadhu’ Imam Ali: Imam Ali AS, dengan penuh adab, menjawab, “Aku tidak akan mendahului Rasulullah SAW dalam menamainya.”
- Kedatangan Rasulullah: Tak lama kemudian, Rasulullah SAW datang. Setelah merapikan balutan bayi tersebut (mengganti kain kuning dengan putih), beliau bertanya kepada Ali, “Apakah engkau sudah memberinya nama?”
- Kembalikan pada Rasul: Ali AS kembali menjawab, “Aku tidak akan mendahuluimu wahai Rasulullah.”
- Kembalikan pada Allah: Mendengar jawaban menantu dan saudaranya itu, Rasulullah SAW pun bersabda, “Aku pun tidak akan mendahului Tuhanku dalam menamainya.”
Di saat itulah, turun wahyu dari Allah Tabaraka wa Ta’ala kepada malaikat Jibril. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah lahir seorang putra bagi Muhammad. Pergilah kepadanya, sampaikan salam-Ku, ucapkan selamat, dan katakan kepadanya: Sesungguhnya kedudukan Ali di sisimu adalah seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Maka berilah nama putra ini dengan nama putra Harun!”
Jibril AS segera turun ke bumi, menyampaikan salam dan ucapan selamat dari Allah SWT, lalu menyampaikan perintah tersebut.
Rasulullah SAW bertanya, “Apakah nama putra Harun itu?”
Jibril menjawab, “Syubbar.”
Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya lisanku adalah lisan Arab.”
Jibril kemudian berkata, “Maka berilah nama Hasan.”
Demikianlah, atas perintah langsung Allah SWT, bayi mungil itu diberi nama Hasan. Nama ini bukan sekadar pilihan orang tua, melainkan sebuah nama yang diturunkan dari langit, menghubungkan beliau dengan para nabi Bani Israil, sekaligus menegaskan kemuliaan dan posisinya di sisi Allah.
2.2. Riwayat Alternatif dan Statusnya
Selain riwayat utama di atas, terdapat riwayat lain yang dinukil dalam beberapa kitab Syiah dan Sunni, yang menyebutkan:
- Ada riwayat yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib AS menamai putranya dengan nama “Harb” (yang berarti perang). Namun, ketika Rasulullah SAW mengetahuinya, beliau memerintahkan untuk menggantinya menjadi “Hasan”.
- Riwayat lain menyebutkan bahwa Ali AS menamai putra pertamanya dengan “Hamzah” (nama paman Nabi). Ketika Husein lahir, beliau menamainya “Ja’far” (nama saudara Nabi, Ja’far bin Abi Thalib). Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan bersabda, “Aku diperintahkan untuk mengganti nama kedua putraku ini,” lalu beliau menamai mereka “Hasan” dan “Husein”.
Penilaian Ulama:
Pengarang kitab Kasyf al-Ghummah, seperti dikutip dalam teks, menyatakan bahwa riwayat-riwayat alternatif ini terlihat janggal (ba’id), bertentangan dengan pendapat masyhur, dan dianggap lemah (dhaif). Bahkan, Baqir Syarif al-Qurasyi dalam kitab Hayat al-Hasan menegaskan bahwa riwayat-riwayat serupa termasuk dalam kategori hadis palsu (maudhu’) dan rekayasa.
2.3. Bukti Historis: Nama Surgawi yang Tak Dikenal di Zaman Jahiliah
Untuk menguatkan bahwa nama Hasan dan Husein adalah nama-nama pilihan langit, para ulama merujuk pada riwayat dari sumber Sunni. Dalam kitab Dzakha’ir al-‘Uqba karya Thabari, disebutkan bahwa Imran bin Sulaiman berkata:
“Al-Hasan dan Al-Husein adalah dua nama dari nama-nama penghuni surga, dan kedua nama itu tidak pernah digunakan pada masa Jahiliah.”
Pernyataan ini menjadi bukti penting bahwa nama-nama ini bukan berasal dari tradisi Arab pra-Islam, melainkan murni berasal dari wahyu ilahi.
Bagian 3: Pelaksanaan Sunnah dan Tradisi Islami atas Kelahiran Imam Hasan AS
Rasulullah SAW tidak hanya memberi nama, tetapi juga secara langsung mempraktikkan seluruh rangkaian sunnah terkait kelahiran bayi. Hal ini menjadi teladan bagi seluruh umat Islam hingga akhir zaman.
3.1. Azan dan Iqamah di Telinga Bayi
Di antara sunnah pertama yang dilakukan adalah mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri bayi. Rasulullah SAW sendiri yang melakukannya untuk cucunya, Imam Hasan AS. Tujuannya adalah agar kata-kata pertama yang didengar oleh seorang muslim adalah kalimat tauhid, pengagungan kepada Allah, dan seruan menuju kemenangan (falah).
3.2. Akikah (Menyembelih Kambing)
Rasulullah SAW juga melaksanakan akikah untuk Imam Hasan AS, yaitu menyembelih kambing sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak. Menurut sebagian riwayat, akikah ini dilakukan pada hari ketujuh kelahiran.
Dalam riwayat Syekh Kulaini dalam Al-Kafi, setelah menyembelih, Rasulullah SAW membaca doa:
“Bismillah, ‘aqiqatun ‘anil Hasan…”
( Dengan nama Allah, ini adalah akikah dari Hasan…)
Kemudian beliau melanjutkan doa:
“Allahumma ‘azhimha bi’azhmihi, wa damaha bidamihi, wa sya’raha bisya’rihi, Allahumma aj’alhu wiqa’an li Muhammadin wa aalih.”
(Ya Allah, jadikanlah tulang kambing ini sebagai pengganti tulangnya, darahnya sebagai pengganti darahnya, dan bulunya sebagai pengganti rambutnya. Ya Allah, jadikanlah ia sebagai penjaga (perisai) bagi Muhammad dan keluarganya.)
Doa ini mengandung makna perlindungan dan keselamatan bagi sang bayi, seolah-olah akikah tersebut menjadi tebusan baginya dari segala marabahaya.
3.3. Mencukur Rambut dan Bersedekah Perak
Pada hari ketujuh, Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk mencukur rambut kepala Imam Hasan AS. Setelah dicukur, beliau menyuruh untuk menimbang rambut tersebut dan bersedekah perak seberat timbangan rambut itu. Tradisi ini menunjukkan nilai keseimbangan antara spiritual dan sosial dalam Islam; setiap kelahiran harus disertai dengan kepedulian kepada fakir miskin.
3.4. Perbedaan dengan Tradisi Jahiliah
Setelah mencukur rambut, Rasulullah SAW mengoleskan khaluq (sejenis wewangian) di kepala bayi. Dalam riwayat yang dinukil dari Asma’ (perawi hadits), beliau bersabda, “Wahai Asma’, mengoleskan darah (pada kepala bayi) adalah perbuatan Jahiliah!” Tradisi Jahiliah memang biasa mengoleskan darah hewan kurban ke kepala bayi, dan Rasulullah SAW dengan tegas melarangnya serta menggantinya dengan wewangian yang suci dan bersih.
3.5. Khitan
Beberapa riwayat Ahlusunnah menyebutkan bahwa pada hari ketujuh, Rasulullah SAW juga melaksanakan khitan untuk Imam Hasan. Namun, dalam pandangan Syiah, salah satu keistimewaan para Imam Maksum AS adalah mereka dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan (mukhtun). Praktik khitan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW lebih merupakan bentuk mengikuti sunnah secara lahiriah.
3.6. Ta’widz (Doa Perlindungan)
Sebagai wujud kasih sayang dan perlindungan dari gangguan makhluk, Rasulullah SAW membacakan doa perlindungan (ta’widz) untuk kedua cucunya, Hasan dan Husein. Beliau membaca:
“U’iidzuka bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithaanin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammah.”
(Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap godaan setan, dari binatang berbisa, dan dari setiap mata yang hasad.)
Dalam riwayat lain, beliau juga membaca:
“U’iidzuka min ‘ainil ‘aain, wa nafsin naafis.”
(Aku melindungi kalian dari pandangan mata yang jahat dan dari hembusan (iri hati) orang yang hasad.)
Bagian 4: Kuniyah dan Gelar (Laqab) Imam Hasan AS
Setelah penamaan, pemberian kuniyah (panggilan kehormatan dengan sebutan “Abu…” atau “Ummu…”) juga menjadi tradisi.
4.1. Kuniyah
Kuniyah Imam Hasan AS berdasarkan riwayat yang masyhur adalah “Abu Muhammad” (Ayah dari Muhammad). Beliau tidak memiliki kuniyah lain selain ini. Dalam sebuah hadis dari Imam Baqir AS, hikmah pemberian kuniyah di usia dini adalah untuk menghindarkan anak dari celaan atau panggilan buruk di masa depan. Dengan memiliki nama kehormatan seperti “Abu Muhammad”, seorang anak akan dijaga dari perundungan atau ejekan yang mungkin menimpanya di masa dewasa.
4.2. Gelar-gelar (Alqab)
Imam Hasan AS memiliki banyak gelar mulia yang mencerminkan akhlak dan kepribadiannya yang agung. Beberapa di antaranya adalah:
- As-Sibt (cucu): Gelar khusus untuk keturunan Nabi SAW.
- Az-Zaki (yang suci)
- Al-Mujtaba (yang terpilih): Gelar yang paling terkenal untuk beliau.
- Sayyid (pemimpin): Sesuai dengan sabda Nabi SAW bahwa beliau adalah pemuda pemimpin penghuni surga.
- At-Taqi (yang bertakwa)
- Ath-Thayyib (yang baik)
- Al-Wali (wali Allah)
Dalam kitab Kasyf al-Ghummah, disebutkan bahwa gelar yang paling terkenal untuk Imam Hasan adalah “At-Taqi”, namun gelar yang paling utama dan paling pantas adalah gelar yang langsung diberikan oleh Rasulullah SAW kepadanya, yaitu “Sayyid”.
Kesimpulan
Kisah kelahiran Imam Hasan Mujtaba AS bukanlah sekadar catatan sejarah tentang peristiwa kelahiran seorang tokoh. Ia adalah narasi penuh makna tentang bagaimana seorang manusia mulia disambut ke dunia oleh para manusia termulia.
Dari kelahirannya yang diberkahi di bulan Ramadhan, proses penamaan yang melibatkan wahyu Allah dan malaikat Jibril, hingga pelaksanaan seluruh tuntunan Islam oleh kakeknya, Rasulullah SAW, semuanya menegaskan bahwa Imam Hasan AS adalah buah hati surgawi yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dan panutan.
Beliau adalah “Sayyid” yang digariskan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan umat, seorang “Mujtaba” yang terpilih secara langsung oleh Allah, dan seorang “Abu Muhammad” yang akan melahirkan generasi penerus yang menjaga kemurnian ajaran Islam. Kisah ini mengajarkan kita tentang cinta, ketundukan kepada syariat, dan kemuliaan Ahlul Bait Nabi SAW.
Sumber: Beytoote

Dukung Kami