Pusat terpenting bagi para Syiah yang rindu dan pencinta yang berjiwa lara akan Sang Penghulu, Sang Penyelamat, Baginda Imam Mahdi afs (semoga jiwa kami menjadi tebusannya), adalah Masjid Suci Jamkaran, yang terletak di dekat kota suci Qom. Berdasarkan statistik, setiap tahunnya lebih dari dua puluh juta pencinta yang rindu, dari seluruh penjuru tanah air Islam dan dunia, mendatangi pusat spiritual ini. Mereka menunaikan shalat Tahiyatul Masjid dan shalat khusus untuk Baginda Pemilik Zaman afs (semoga Allah mempercepat kedatangannya) di tempat suci ini, menyampaikan rahasia hati kepada Imam yang gaib dari pandangan mata namun hadir di mana-mana serta mengawasi perbuatan, membri pertolongan, yang mendengar seruan “Wahai Putra Hasan!”, berbicara tentang masalah-masalah material dan spiritual mereka, serta dengan hati yang pedih mengadukan lamanya masa penantian.

Mereka yang memiliki pengetahuan yang lebih mendalam, saat mengunjungi pusat langit ini, melupakan semua kebutuhan pribadi mereka, menyingkirkan segala masalah kehidupan yang menjerat, dan hanya memohon satu hal: “Kemunculan Sang Pembawa Kebahagiaan, Penyelamat Umat Manusia, Imam Keduabelas, Baginda Wali al-‘Ashr afs (semoga jiwa dan seluruh jiwa alam menjadi tebusannya).” Karena, jika hajat ini terkabul, tidak akan ada lagi masalah yang tersisa; dan jika hajat ini tidak terwujud, penyelesaian masalah-masalah lainnya tidak akan menyelesaikan masalah yang mendasar.
Sejarah Suci Jamkaran
Yang pasti, masjid ini didirikan lebih dari seribu tahun yang lalu atas perintah langsung Baginda Sang Penyelamat afs (semoga jiwa kami menjadi tebusannya) dalam keadaan sadar, bukan dalam mimpi. Sepanjang abad dan zaman, masjid ini telah menjadi tempat berziarah bagi kaum Syiah, menjadi pusat pertemuan bagi para penanti, dan tempat manifestasi Baginda Pemilik Zaman as.
Seorang ulama besar, Mirza Husain Nuri (wafat 1320 H), dalam buku berharganya Najm ats-Tsaqib yang ditulis atas perintah Mirza Besar (mungkin Mirza Shirazi), dan oleh Mirza Shirazi sendiri dipuji dalam pengantarnya dengan mengatakan, “Untuk meluruskan keyakinan mereka, hendaknya merujuk buku ini agar dengan pancaran cahaya petunjuknya, mereka sampai ke tujuan keyakinan dan iman,” menyebutkan sejarah pendirian Masjid Suci Jamkaran sebagai berikut:
Seorang faqih (ahli fikih) yang saleh, Hasan bin Muhammad bin Hasan al-Qummi, sezaman dengan Syaikh Shaduq, dalam kitab Tarikh Qum dari kitab Munis al-Hazin fi Ma’rifat al-Haqq wa al-Yaqin — sebuah karya Syaikh Shaduq — menukil kisah pembangunan Masjid Jamkaran dengan redaksi berikut:
Kisah Hasan bin Mitslah al-Jamkarani
Hasan bin Mitslah al-Jamkarani, seorang yang saleh dan terpercaya, berkata:
“Pada malam Selasa, 17 Ramadhan 373 H, aku sedang tidur di rumahku ketika sekelompok orang datang ke pintu rumahku. Waktu itu sudah lewat tengah malam. Mereka membangunkanku dan berkata, ‘Bangunlah dan penuhilah panggilan Imam Muhammad al-Mahdi, Pemilik Zaman as, karena beliau memanggilmu.’
Hasan bin Mitslah berkata, ‘Aku pun bangun dan bersiap-siap.’ Ketika sampai di pintu rumah, aku melihat sekelompok orang terhormat. Aku memberi salam. Mereka menjawab dan menyambutku dengan baik, lalu membawaku ke tempat yang sekarang menjadi Masjid (Suci Jamkaran).
Ketika kuperhatikan baik-baik, kulihat sebuah dipan diletakkan dengan permadani indah terbentang di atasnya, serta bantal-bantal yang baik. Seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun bersandar di atas dipan itu dengan empat bantal. Seorang lelaki tua duduk di hadapannya, memegang sebuah kitab dan membacakannya untuk pemuda itu.
Lebih dari enam puluh lelaki, sebagian berpakaian putih dan sebagian hijau, mengelilinginya dan sedang shalat di tanah. Lelaki tua itu, yang ternyata adalah Nabi Khidhir as (semoga keselamatan atas Nabi dan keluarganya, dan atasnya), mendudukkanku. Kemudian Sang Imam as memanggilku dengan namaku dan bersabda:
‘Pergilah kepada Hasan bin Muslim dan katakan: “Engkau sudah beberapa tahun menggarap tanah ini, sementara kami (ingin) merobohkannya. Engkau sudah bercocok tanam selama lima tahun, dan tahun ini engkau mulai lagi, menggarapnya. Tidak diizinkan lagi bagimu untuk bercocok tanam di tanah ini. Engkau harus mengembalikan semua keuntungan yang telah kau peroleh dari tanah ini, agar di tempat ini dapat dibangun sebuah masjid.”*
Katakan kepada Hasan bin Muslim: “Tempat ini adalah tanah yang mulia. Allah Yang Maha Tinggi telah memilih dan memuliakan tanah ini dari tanah-tanah lainnya. Engkau mengambilnya dan menggabungkannya dengan tanahmu! Allah telah mengambil dua putramu yang masih muda, namun engkau masih belum sadar juga! Jika engkau tidak menghentikan perbuatan ini, bencana Allah akan menimpamu dari arah yang tidak kau sangka-sangka.”‘
Hasan bin Mitslah berkata, ‘Wahai Tuanku, aku memerlukan bukti dalam hal ini, karena orang-orang tidak akan menerima ucapanku tanpa tanda dan bukti.’
Imam as bersabda: ‘Pergilah dan sampaikan risalahmu. Kami akan meninggalkan tanda di sini sebagai bukti kebenaran ucapanmu. Pergilah menemui Sayid Abul Hasan (ar-Radha) dan katakan agar dia bangkit dan datang, membawa orang itu (Hasan bin Muslim), mengambil keuntungan beberapa tahun darinya, dan memberikannya kepada orang lain agar mereka dapat membangun masjid. Dan sisa dana (untuk pembangunan) ambil dari wilayah Rahq* dan bawa dari daerah Ardehal yang merupakan milik kami, lalu sempurnakanlah pembangunan masjid itu. Kami telah mewakafkan separuh dari Rahq untuk masjid ini, agar setiap tahun dananya diambil dan digunakan untuk pemeliharaan masjid.
‘Sampaikan kepada orang-orang agar mereka menyukai dan memuliakan tempat ini. Dan (ajaklah) mereka melakukan shalat empat rakaat di sini:
- Dua rakaat shalat Tahiyatul Masjid: Pada setiap rakaat membaca surah Al-Fatihah sekali dan surah Al-Ikhlas (Qul Huwallahu Ahad) tujuh kali. Bacaan tasbih rukuk dan sujud juga tujuh kali.
- Dua rakaat shalat Khusus untuk Pemilik Zaman (Shalat Imam Zaman afs): Dilakukan dengan tata cara sebagai berikut: Saat membaca surah Al-Fatihah dan sampai pada ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, ayat itu diulang seratus kali, kemudian melanjutkan Al-Fatihah hingga selesai. Rakaat kedua dilakukan dengan cara yang sama. Tasbih rukuk dan sujud juga tujuh kali. Setelah salam, membaca tahlil (La ilaha illallah) dan Tasbih Fatimah az-Zahra as. Kemudian meletakkan kepala di atas sajadah (bersujud) dan membaca shalawat atas Nabi dan keluarganya sebanyak seratus kali.”
Dan ini adalah nukilan langsung dari lisan mulia Imam as yang bersabda:
“Barangsiapa yang menunaikan kedua shalat ini, seolah-olah dia menunaikannya di Baitul ‘Atiq (Ka’bah).”
Hasan bin Mitslah berkata, ‘Dalam hatiku berkata, “Engkau mengira tempat ini tanah biasa? Ini adalah masjid Baginda Pemilik Zaman as.”‘ Kemudian beliau memberiku isyarat untuk pergi.
Setelah berjalan beberapa langkah, beliau memanggilku kembali dan bersabda:
‘Di kambing gembalaan Ja’far al-Kasyani ada seekor kambing. Belilah kambing itu. Jika orang-orang memberimu uangnya, belilah dengan uang mereka; jika tidak, bayarlah sendiri. Besok malam, bawa kambing itu ke sini dan sembelih di tempat ini. Kemudian, pada hari Rabu, 18 Ramadhan, bagikan dagingnya kepada orang-orang sakit dan mereka yang menderita penyakit yang sulit disembuhkan, agar Allah Yang Maha Tinggi menyembuhkan mereka semua.
‘Kambing itu berwarna belang (hitam dan putih). Bulunya sangat lebat. Ada tujuh tanda bulat berwarna putih dan hitam, masing-masing seukuran satu dirham, di kedua sisinya — tiga tanda di satu sisi dan empat tanda di sisi lainnya.'”
Kemudian aku berjalan lagi. Sekali lagi beliau memanggilku dan bersabda: “Kami berada di sini selama tujuh atau tujuh puluh hari.”
Hasan bin Mitslah berkata, ‘Aku pulang ke rumah dan sepanjang malam aku memikirkannya hingga subuh. Setelah shalat Subuh, aku pergi menemui Ali Mundzir dan menceritakan kisah itu kepadanya.
Bersama Ali Mundzir, kami pergi ke tempat kejadian semalam. Dia berkata, “Demi Allah, tanda yang disebutkan Imam as telah diletakkan di sini, yaitu batas-batas masjid telah ditandai dengan pasak-pasak dan rantai.”
Kemudian kami pergi menemui Sayid Abul Hasan ar-Radha. Ketika sampai di rumahnya, para pelayan dan pembantunya berkata, “Apakah kalian dari Jamkaran?” Kami jawab, “Ya.” Mereka berkata, “Sejak pagi tadi, Sayid Abul Hasan menantikan kalian.”
Aku masuk dan memberi salam. Beliau menjawab dengan baik, sangat menghormatiku, dan mendudukkanku di tempat yang baik. Sebelum aku bicara, beliau memulai pembicaraan dan berkata, “Wahai Hasan bin Mitslah! Aku sedang tidur. Seseorang dalam mimpiku berkata, ‘Besok pagi seorang bernama Hasan bin Mitslah akan datang dari Jamkaran menemuimu. Percayailah apa yang dia katakan dan benarkan ucapannya, karena ucapannya adalah ucapan kami. Jangan sekali-kali menolak ucapannya.’ Aku terbangun dari tidur dan sejak saat itu menantikanmu.”
Hasan bin Mitslah menceritakan kisahnya secara rinci kepadanya. Sayid Abul Hasan memerintahkan agar kuda-kuda dipasang pelana. Mereka pun berkuda menuju desa (Jamkaran).
Ketika mendekati desa, mereka melihat Ja’far sang penggembala menggembalakan kambingnya di pinggir jalan. Hasan bin Mitslah pergi ke tengah kawanan kambing. Kambing yang dimaksud datang dari belakang kawanan dan berlari ke arahnya. Hasan bin Mitslah menangkap kambing itu dan hendak membayarnya, tetapi Ja’far berkata, “Demi Allah! Sampai hari ini aku tidak pernah melihat kambing ini dan dia tidak pernah ada dalam kawananku, kecuali hari ini aku melihatnya di tengah kawanan. Berapa pun usahaku untuk menangkapnya, tidak berhasil.”
Mereka pun membawa kambing itu ke tempat yang dimaksud dan menyembelihnya di sana.
Sayid Abul Hasan ar-Radha datang ke tempat yang telah ditentukan, memanggil Hasan bin Muslim, dan mengambil keuntungan dari tanah itu darinya.
Kemudian dana dari Rahq juga diambil dari penduduknya, dan pembangunan masjid pun dimulai. Atap masjid ditutup dengan kayu.
Sayid Abul Hasan ar-Radha membawa rantai dan pasak itu ke Qom dan menyimpannya di rumahnya. Setiap orang yang menderita penyakit sulit sembuh, jika mengusap-usap dirinya dengan rantai itu, seketika itu juga dia sembuh.
Setelah Abul Hasan ar-Radha wafat dan dimakamkan di daerah Musawiyan (sekarang Jalan Azar), salah seorang anaknya jatuh sakit. Ia masuk ke ruangan, membuka peti, namun tidak menemukan rantai dan pasak itu lagi.”
Bibliografi Masjid Suci Jamkaran
Sumber-sumber sejarah pendirian Masjid Suci Jamkaran atas perintah Baginda Pemilik Zaman afs (semoga jiwa kami menjadi tebusannya), berdasarkan urutan waktu, adalah sebagai berikut:
- Orang pertama yang mencatat hal ini dalam bukunya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Babawaih, yang terkenal dengan nama Syaikh Shaduq (wafat 381 H). Beliau merincinya dalam kitab “Munis al-Hazin fi Ma’rifat al-Haqq wa al-Yaqin”. Mengingat peristiwa pendirian masjid ini terjadi pada masa Syaikh Shaduq, dan beliau tinggal di Qom, secara alami beliau mendengar dan menukil semua detailnya secara langsung dari Hasan bin Mitslah, Sayid Abul Hasan ar-Radha, dan saksi mata lainnya.
Kitab Munis al-Hazin, seperti puluhan karya berharga Syaikh Shaduq lainnya, telah hilang seiring waktu dan tidak sampai kepada kita. - Hasan bin Muhammad bin Hasan al-Qummi, sezaman dengan Syaikh Shaduq, penulis kitab berharga “Tarikh Qum”, menukil kisah peristiwa itu dari kitab Syaikh Shaduq. Kitab Tarikh Qum disusun pada masa Syaikh Shaduq, tahun 378 H, dalam 20 bab.
- Hasan bin Ali bin Hasan bin Abdul Malik al-Qummi menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia pada tahun 865 H.
- Teks Arab kitab itu tidak sampai kepada Mulla Muhammad Baqir al-Majlisi (wafat 1110 H), tetapi terjemahan Persia-nya sampai kepada beliau, dan beliau meriwayatkan hadis-hadis terkait Qom dari kitab itu dalam jilid “As-Sama’ wa al-‘Alam” (dari Bihar al-Anwar).
- Sayid Ni’matullah al-Jaza’iri, penulis Anwar an-Nu’maniyyah (wafat 1112 H), melihat terjemahan Persia-nya dan menyalin kisah pendirian Masjid Suci Jamkaran dengan tulisan tangannya sendiri.
- Murid cendekiawan Allamah al-Majlisi, Mirza Abdullah al-Afandi (wafat 1130 H), melihat sebuah naskah terjemahan Persia-nya dalam 20 bab di Qom, melaporkannya dalam karya berharganya, dan menegaskan bahwa terjemahan ini dilakukan pada tahun 865 H atas perintah Khawaja Fakhruddin Ibrahim.
- Sayid Amir Muhammad Asyraf, sezaman dan murid Allamah al-Majlisi, penulis Fadhail as-Sadat (wafat 1145 H), melihat teks Arabnya dan menukil darinya.
- Sayid Muhammad bin Muhammad Hasyim ar-Radawi al-Qummi pada tahun 1179 H, atas permintaan Muhammad Shalih al-Mu’allim al-Qummi, menulis sebuah buku terkait hal ini dan menamakannya “Khulashat al-Buldan”. Buku ini memuat hadis-hadis tentang kemuliaan Qom dan sejarah pendirian Masjid Suci Jamkaran.
- Perlu dicatat bahwa Agha Muhammad Ali al-Kermanshahi, putra Wahid al-Bahbahani (wafat 1216 H), memiliki akses ke teks Arab Tarikh Qum dan dalam catatan pinggirnya (hasyiyah) pada kitab Naqd ar-Rijal karya at-Tafrishi, menyebutkan biografi “Hasan bin Mitslah” dan ringkasan kisah pendirian Masjid Suci Jamkaran yang dinukil dari teks Arabnya.
- Peneliti dan pencari yang tak tertandingi, Mirza Husin an-Nuri (wafat 1320 H), setelah pencarian panjang, berhasil mendapatkan delapan bab dari terjemahan Tarikh Qum (Jannat al-Ma’wa, hal. 47 dan Bihar, jilid 53, hal. 234). Beliau merinci kisah pendirian Masjid Suci Jamkaran dari terjemahan Tarikh Qum, berdasarkan salinan tulisan tangan Sayid Ni’matullah al-Jaza’iri, dalam karya-karya berharganya:
- Jannat al-Ma’wa, cetakan Beirut, Dar al-Mahjat al-Baidha’, 1412 H, hal. 42–46.
- Yang sama, sebagai lampiran Bihar al-Anwar, cetakan Beirut, Mu’assasah al-Wafa’, 1403 H, jilid 53, hal. 230–234.
- Najm ats-Tsaqib, cetakan Tehran, ‘Ilmiyyah Islamiyyah, tanpa tahun, hal. 212–215.
- Kalimat at-Thayyibah, cetakan batu, Bombay, 1303 H, hal. 337.
- Mustadrak al-Wasa’il, cetakan Qom, Mu’assasah Al al-Bait, 1407 H, jilid 3, hal. 432 dan 447.
- Syaikh Muhammad Ali al-Kachuyi al-Qummi (wafat 1335 H) merincinya dari kitab-kitab Khulashat al-Buldan, Najm ats-Tsaqib, Kalimat at-Thayyibah, dalam kitab berharganya “Anwar al-Musya’syayin”, cetakan Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi, 1423 H, jilid pertama, hal. 441–449 (cetakan batu 1327 H, jilid pertama, hal. 184–189).
- Haj Syaikh Ali al-Yazdi al-Ha’iri (wafat 1333 H) merincinya dalam kitab “Al-Izham an-Nashib”, cetakan Beirut, Mu’assasah al-A’lami, 1397 H, jilid kedua, hal. 58–62, yang dinukil dari Muhaddits an-Nuri, dari terjemahan Tarikh Qum.
- Semua penulis yang menulis tentang Tarikh Qum setelah Muhaddits an-Nuri, menukil kisah lengkap pendirian Masjid Suci Jamkaran darinya. Syaikh Muhammad Hasan Nasir asy-Syari’ah (wafat 1380 H), dalam Tarikh Qom, cetakan Qom, Mu’assasah Mathbu’ati Dar al-‘Ilm, 1342 S, hal. 147–156, adalah salah satunya.
- Semua ulama kontemporer yang menulis buku terkait hal ini, seperti ulama kontemporer Ayatullah Haj Syaikh Muhammad al-Gharawi dalam kitab berharganya “Al-Mukhtar min Kalimat al-Imam al-Mahdi afs”, cetakan Qom, 1414 H, jilid pertama, hal. 440–448, juga merujuk peristiwa ini.
- Belakangan ini, kisah pendirian Masjid Suci Jamkaran telah diuraikan secara luas dalam buku-buku independen dan berdokumen. Untuk mendapatkan informasi lebih luas mengenai karya-karya yang disebutkan, silakan merujuk kepada bibliografi (kitabnama) tentang Baginda al-Mahdi afs di bawah judul-judul di atas.
Catatan Kaki Terjemahan:
- Hasan bin Muslim: Seorang petani yang menggarap tanah tempat masjid akan didirikan.
- Rahq: Nama sebuah wilayah.
- Tasbih Fatimah az-Zahra as: Yaitu membaca “Allahu Akbar” 34 kali, “Alhamdulillah” 33 kali, dan “Subhanallah” 33 kali.
- afs: Singkatan dari ‘ajjalallahu farajahu (semoga Allah mempercepat kedatangannya) untuk Imam Mahdi.
- as: Singkatan dari ‘alaihis salam (semoga keselamatan atasnya).
Sumber: jamkaran.ir

Dukung Kami