Jumat, Januari 2

Syahid Tsani: Ulama Besar Syiah yang Menguasai Lima Mazhab Islam

Syahid Tsani (زین‌الدین بن نورالدین علی بن احمد عاملی جبعی) atau yang dikenal dengan Zainuddin bin Nuruddin Ali bin Ahmad Amili Juba’i adalah salah satu ulama besar Syiah abad ke-10 Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah keilmuan Islam. Ia lahir pada tahun 911 H dan wafat sebagai syahid pada 955 atau 965 H. Di kalangan dunia Islam, ia dikenal sebagai seorang faqih, mujtahid, pendidik, dan ilmuwan lintas mazhab yang keilmuannya diakui baik oleh ulama Syiah maupun Ahlusunah.

Keistimewaan Syahid Tsani bukan hanya pada keluasan ilmunya, tetapi juga pada keberaniannya mengajarkan dan memberi fatwa berdasarkan lima mazhab Islam: Ja‘fari, Hanafi, Syafi‘i, Maliki, dan Hanbali—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada masanya.


Kelahiran dan Latar Keluarga

Syahid Tsani lahir pada 13 Syawal 911 H di desa Juba‘, wilayah Jabal ‘Amil (Lebanon selatan), sebuah kawasan Syiah yang terkenal sebagai pusat keilmuan. Ia juga dikenal dengan julukan Ibnu Hajah Nahārīrī, dan secara luas masyhur dengan gelar Syahid Tsani (Syahid Kedua).

Keluarganya merupakan keluarga ulama terkemuka yang dijuluki “Silsilatuz Zahab” (rantai emas), karena hampir seluruh anggotanya adalah ilmuwan besar Syiah, di antaranya:

  • Syekh Nuruddin Ali, ayahnya, seorang alim terkemuka
  • Abu Manshur Jamaluddin Hasan, putranya, dikenal sebagai Shahib Ma‘alim
  • Sayid Muhammad bin Ali ‘Amili, cucu dari jalur putri, dikenal sebagai Shahib Madarik
  • Keturunan lainnya termasuk Imam Musa Shadr, Syahid Sayid Muhammad Baqir Shadr, dan Bintul Huda Shadr

Syahid Tsani menikah dua kali. Istri pertamanya adalah putri gurunya sendiri, Muhaqqiq Karaki.


Masa Pendidikan dan Awal Keilmuan

Dalam autobiografinya, Syahid Tsani menulis bahwa ia tidak mengingat dengan pasti kapan mulai belajar, tetapi pada usia sembilan tahun (920 H) ia telah menghafal Al-Qur’an secara sempurna. Pendidikan awalnya ia peroleh dari ayahnya sendiri, mempelajari bahasa Arab dan fikih, termasuk kitab Mukhtashar asy-Syarā’i‘ dan al-Lum‘ah ad-Dimasyqiyyah.

Setelah wafatnya sang ayah pada 925 H, ia melanjutkan studinya ke berbagai pusat keilmuan Islam.


Perjalanan Ilmiah: Dari Lebanon hingga Istanbul

Mays, Karak, dan Juba‘

Syahid Tsani belajar selama bertahun-tahun kepada Muhaqqiq Karaki, mendalami kitab-kitab utama fikih seperti Syarā’i‘ al-Islam dan Qawā‘id al-Ahkām. Ia kemudian melanjutkan studi ke Karak Nuh, mempelajari ushul fikih, nahwu, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Damaskus

Di Damaskus, ia mempelajari:

  • Ilmu kedokteran
  • Astronomi
  • Filsafat Isyraq (Suhrawardi)
  • Ilmu qira’at Al-Qur’an
    Ia juga membaca Shahih Bukhari dan Shahih Muslim langsung kepada ulama Ahlusunah dan memperoleh ijazah periwayatan hadis.

Mesir dan Hijaz

Pada 942 H, ia berangkat ke Mesir dan belajar kepada 16 ulama besar, mempelajari:

  • Ilmu bahasa Arab
  • Ushul fikih
  • Logika
  • Tafsir
  • Balaghah dan ‘Arudh

Setelah 18 bulan, ia menunaikan umrah dan haji, lalu kembali ke Lebanon.


Mencapai Derajat Ijtihad

Pada usia 33 tahun (944 H), Syahid Tsani telah mencapai derajat ijtihad, dan pada 948 H, keilmuannya diakui secara luas. Ia dikenal mampu berfatwa berdasarkan metodologi masing-masing mazhab, bukan sekadar menghafal pendapatnya.


Mengajar Lima Mazhab dan Meraih Marja‘iyyah Ilmiah

Setelah melakukan perjalanan ke Irak, Palestina, dan akhirnya Konstantinopel (Istanbul), Syahid Tsani diangkat menjadi pengelola dan pengajar Madrasah Nuriyyah di Baalbek. Di sana, ia mengajarkan lima mazhab fikih Islam secara resmi, hingga meraih kedudukan tinggi sebagai otoritas ilmiah lintas mazhab.


Pandangan dan Pemikiran Penting

Beberapa pandangan penting Syahid Tsani antara lain:

Kritik terhadap Fokus Berlebihan pada Filsafat

Ia mengkritik sebagian penuntut ilmu yang terlalu sibuk mempelajari logika dan filsafat, namun mengabaikan ilmu-ilmu inti agama. Menurutnya, jika hal tersebut menghalangi kewajiban utama, maka mempelajarinya bisa menjadi haram.

Keikhlasan dalam Ilmu

Ia menegaskan bahwa niat adalah inti dari pendidikan. Ilmu tanpa keikhlasan bisa menjadi sia-sia, bahkan menjadi dosa, meskipun secara lahiriah tampak sebagai amal ibadah.


Karya-Karya Monumental

Syahid Tsani menulis sekitar 79 karya, yang kini dihimpun dalam 29 jilid “Mausu‘ah asy-Syahid ats-Tsani”. Beberapa karya terkenalnya:

  • al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum‘ah ad-Dimasyqiyyah
  • Masalik al-Afham fi Syarh Syarā’i‘ al-Islam
  • Maniyyat al-Murid fi Adab al-Mufid wa al-Mustafid
  • al-Bidayah fi ‘Ilm ad-Dirayah (karya pionir Syiah dalam ilmu hadis)
  • Kasyf ar-Ribah ‘an Ahkam al-Ghibah

Kesyahidan

Terdapat dua riwayat utama tentang kesyahidannya. Riwayat yang paling masyhur menyebutkan bahwa ia ditangkap atas tuduhan menyebarkan Syiah dan mengklaim ijtihad. Ia ditangkap di Mekkah, dibawa ke Istanbul, lalu dibunuh tanpa dihadapkan kepada Sultan Sulaiman.

Syahid Tsani wafat pada 5 Rabi‘ul Awwal 965 H, dalam usia 54 tahun. Jenazahnya dibiarkan selama tiga hari sebelum akhirnya dilemparkan ke laut.

Sumber: Wikishia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dukung Kami Dukung Kami