Syahid Awal adalah gelar kehormatan bagi Abu ‘Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Jamaluddin Makki ‘Amili (734–786 H), salah satu fuqaha terbesar Syiah pada abad ke-8 Hijriah. Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki keluasan ilmu fikih, penguasaan lintas mazhab, serta keberanian intelektual yang akhirnya mengantarkannya pada kesyahidan.
Ia adalah guru bagi banyak ulama besar setelahnya, dan karya-karyanya—terutama al-Lum‘ah ad-Dimasyqiyyah—hingga kini tetap menjadi rujukan utama dalam pendidikan fikih Syiah.
Kedudukan Ilmiah dan Kepribadian
Syahid Awal merupakan tokoh sentral dalam tradisi fikih Syiah. Kitab al-Lum‘ah ad-Dimasyqiyyah karya beliau adalah salah satu buku pelajaran fikih paling populer di hauzah ilmiah Syiah, yang selama berabad-abad diajarkan bersama syarah terkenalnya, al-Raudhah al-Bahiyyah karya Syahid Tsani.
Diriwayatkan bahwa Syahid Awal menulis kitab al-Lum‘ah hanya dalam waktu tujuh hari, sebuah fakta yang menunjukkan ketajaman intelektual dan penguasaannya atas fikih.
Ulama besar seperti Shahib al-Jawahir memuji Syahid Awal sebagai faqih yang mampu menembus persoalan-persoalan fikih paling rumit dengan mudah. Muhammad Baqir Khunsari bahkan menyamakan kedudukannya dalam fikih dengan Syekh Shaduq dalam hadis, dan dalam ilmu kalam menempatkannya sejajar dengan Syekh Mufid dan Sayid Murtadha. Banyaknya murid membuatnya disejajarkan dengan Syekh Thusi, sementara ketelitian ilmiahnya disamakan dengan Ibnu Idris al-Hilli.
Kelahiran dan Keluarga
Syahid Awal lahir pada tahun 734 H di Jizzin (Jazjin), salah satu desa di wilayah Jabal ‘Amil, Lebanon. Ayahnya, Jamaluddin Makki, adalah seorang ulama terkemuka pada masanya.
Ia dikenal dengan berbagai julukan, seperti:
- Ibnu Makki
- Imam al-Faqih
- Asy-Syahid
- Syahid Awal
Syahid Awal memiliki tiga putra—Ridhauddin Abu Thalib Muhammad, Dhiyauddin Abul Qasim Ali, dan Jamaluddin Abu Manshur Hasan—yang semuanya menjadi ulama dan faqih. Istrinya, Ummu ‘Ali, juga seorang faqihah dan pendakwah Ahlulbait. Putrinya, Fatimah, yang dikenal dengan julukan Sitt al-Masyayikh, adalah salah satu tokoh perempuan alim terkemuka di Jabal ‘Amil.
Pendidikan dan Perjalanan Ilmiah
Syahid Awal mempelajari ilmu-ilmu dasar dari ayahnya dan ilmu matematika dari pamannya, Syekh Asaduddin Jazini. Pada usia 16 tahun (750 H), ia hijrah ke Hillah, Irak, pusat keilmuan Syiah saat itu.
Pada usia 17 tahun, ia memperoleh ijazah ijtihad dan periwayatan hadis dari Fakhrul Muhaqqiqin, putra Allamah Hilli. Beberapa tahun kemudian, ia kembali memperoleh izin serupa dari Tajuddin Ibnu Mu‘ayyah.
Setelah kembali ke Jizzin pada 755 H, ia mendirikan sebuah madrasah yang menjadi pusat pengajaran fikih dan ushul fikih paling maju di Jabal ‘Amil. Selain itu, Syahid Awal juga melakukan banyak perjalanan ilmiah ke berbagai wilayah dunia Islam.
Hubungan dengan Ulama Ahlusunah
Syahid Awal dikenal memiliki hubungan intelektual yang luas dengan ulama Ahlusunah. Dalam salah satu ijazahnya, ia menyebut telah meriwayatkan hadis dari sekitar 40 ulama Sunni di Makkah, Madinah, Baghdad, Damaskus, Baitul Maqdis, dan Palestina.
Ia meriwayatkan hadis dari kitab-kitab utama seperti:
- Shahih Bukhari
- Shahih Muslim
- Sunan Abu Dawud
- Jami‘ Tirmidzi
- Musnad Ahmad
Kehidupannya di Damaskus—yang mayoritas Sunni—menunjukkan keterbukaannya dalam interaksi ilmiah lintas mazhab.
Aktivitas Mengajar dan Murid-Murid
Syahid Awal adalah pendidik besar. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:
- Fadhil Miqdad
- Hasan bin Sulaiman al-Hilli
- Zainuddin Ali bin Khazin al-Ha’iri
- Putra-putrinya sendiri dan istrinya
Banyak dari muridnya kemudian menjadi tokoh penting dalam perkembangan fikih Syiah.
Pandangan tentang Pemerintahan dan Kepemimpinan
Syahid Awal memandang bahwa masyarakat manusia memerlukan:
- Hukum (syari‘at) sebagai pengatur
- Penguasa (imam atau wakilnya) sebagai pelaksana
Menurutnya, kepemimpinan yang sah bersumber dari penetapan Ilahi, bukan semata pilihan manusia. Pada masa ghaibnya Imam Mahdi (a.s.), faqih yang memenuhi syarat bertindak sebagai wakil umum Imam, dan keputusannya memiliki legitimasi keagamaan yang sama dengan wakil khusus.
Ia menegaskan bahwa menerima jabatan dari penguasa adil tidak hanya boleh, tetapi dapat menjadi wajib, jika penolakan jabatan itu menyebabkan kerusakan sosial atau tidak adanya orang lain yang layak.
Kesyahidan yang Tragis
Kesyahidan Syahid Awal terjadi akibat konspirasi dan fitnah. Pada masa Sultan Saifuddin Barquq, sekelompok orang yang memusuhinya menuduh Syahid Awal menyimpang dalam akidah. Sekitar 70 orang bersaksi palsu di hadapannya, dan lebih dari seribu orang menguatkan tuduhan itu di pengadilan Beirut.
Syahid Awal dipenjara selama satu tahun. Setelah melalui persidangan yang tidak adil, ia dijatuhi hukuman mati. Pada usia 52 tahun, tepatnya Kamis, 9 Jumadil Ula 786 H, ia dieksekusi di Benteng Damaskus.
Riwayat menyebutkan bahwa ia:
- Dipenggal dengan pedang
- Digantung
- Dilempari batu
- Dan akhirnya jasadnya dibakar
Karya-Karya Ilmiah
Syahid Awal menulis banyak karya dalam fikih, ushul fikih, hadis, dan akhlak. Seluruh karyanya kini dihimpun dalam “Mausu‘ah asy-Syahid al-Awwal” sebanyak 21 jilid. Beberapa karya pentingnya antara lain:
- al-Lum‘ah ad-Dimasyqiyyah
- ad-Durus asy-Syar‘iyyah fi Fiqh al-Imamiyyah
- al-Qawa‘id wa al-Fawa’id
- adz-Dzikra
- al-Bayan
- al-Alfiyyah fi Fiqh ash-Shalah
- Arba‘un Haditsan
Sumber: Wikishia

Dukung Kami