Kebutuhan manusia akan martabat dan kehormatan

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Abraham Maslow berkata bahwa semua manusia, kecuali orang-orang yang sakit jiwa, memiliki kecenderungan untuk menghormati diri sendiri dan juga sesamanya. Kita dapat mengkaji masalah ini dalam dua kategori terpisah:

  1. Kecenderungan untuk memiliki kekuatan, keberhasilan dan kecukupan
  2. Kepemimpinan dan kecenderungan untuk mendapatkan pengakuan (penghormatan orang lain terhadap individu)

Tergapainya kehormatan dan kemuliaan akan menciptakan rasa percaya diri dan sebaliknya, orang yang tidak merasa memiliki kemuliaan akan mewujudkan perasaan hina dan lemah.[1] Berdasarkan fakta ini, kebanyakan dari prilaku-prilaku buruk besumber dari tidak dimilikinya kemuliaan dan kehormatan.

Freud berkata:

“Gangguan-gengguan kejiwaan harus dianalisa pada rasa percaya diri.”[2]

Penghormatan dan kemuliaan yang paling mendalam dan sehat adalah penghormatan hak oleh orang lain terhadap seseorang, bukan kemasyhuran lahiriah dan pujian-pujian bohong.

Dalam pembahasan ini, poin terpenting yang harus kita perjelas adalah perbedaan pandangan Islam dan pandangan materialisme terhadapnya; karena seorang materialis berusaha mendapatkan kecintaan dan kekuatan juga penghormatan dari orang lain karena dorongannya untuk menjadi lebih dari yang lainnya (bersaing dengan sesamanya), namun seorang mukmin mencari kepribadian yang sesuai dengan risalah Ilahi, karena dalam pandangan Islam kemuliaan adalah miliki Tuhan, utusan-Nya, dan orang-orang yang beriman. Dalam salah satu doa Imam Zainal Abidin as. disebutkan: “Tuhanku, berikanlah kemuliaan padaku dan jauhkan rasa sombong dariku.”[3]

Islam melarang kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kemuliaan dan kehormatan diri sendiri. Para Imam kita, meskipun mereka sesungguhnya mengenakan pakaian-pakaian yang kasar, (saat bertemu banyak orang) mereka melapisinya dengan pakaian yang bagus.[4]

Imam Ali as., dalam rangka membungkam mulut orang-orang kafir, secara terang-terangan membantu orang-orang miskin.[5]

Imam Ridha as. selalu menghias dirinya saat bertemu banyak orang dan mengenakan pakaian yang indah. Namun saat berada di rumah sendiri ia mengenakan pakaian yang kasar.[6]

Para Imam maksum memerintahkan umatnya untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kemuliaan dirinya di tengah-tengah masyarakat, karena: “Orang yang beriman adalah orang yang mulia.”

Dengan penjelasan lain, seorang Muslim harus menjaga image ke-Musliman nya, dan ini juga termasuk risalah beragama. Imam Ali Zainal Abidin as. berkata dalam Sahifah-nya:

“Ya Tuhan, saat dalam keadaan yang darurat, jadikanlah aku senantiasa berpegang teguh pada-Mu, dan saat aku membutuhkan aku senantiasa meminta kepada-Mu, dan saat aku lemah aku senantiasa bersandar pada-Mu, dan di saat yang membahayakan aku senantiasa meminta pertolongan dari-Mu, dan jangan Kau biarkan aku memohon kepada selain-Mu.”[7]

Dalam Al Qur’an kehormatan dan kemuliaan sangat ditekankan sekali, karena manusia adalah makhluk terbaik di alam semesta. Allah swt. berfirman:

“Dan Kami telah memuliakan keturunan Adam.”[8]

Karl memberikan penjelasan bahwa manusia lebih berumur lama dan lebih giat berusaha daripada hewan-hewan lainnya, yang mana dengan kekuatan berfikirnya lah manusia membangun peradaban seperti yang dilihat sekarang ini.[9]

Imam Ali as. berwasiat kepada Imam Hasan as.:

“Kamu harus bijaksana dan tidak menjatuhkan dirimu dalam kehinaan, meskipun kaupikir dengan kehinaan itu engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Karena aku yakin tidak ada yang bisa kau dapat sesuatu jika kau membayarnya dengan kemuliaan diri. Janganlah menjadi budak dan pengabdi orang lain, karena Allah swt. telah menciptakanmu sebagai orang yang merdeka.”[10]

Karena kemuliaan dan kehormatan diri inilah Al Qur’an menyebut penciptaan manusia sebagai sebaik-baiknya penciptaan: “Maka maha suci Allah, pencipta yang paling baik.”[11] Oleh karena itu sikap kita perlu diperhatikan agar kemuliaan senantiasa terjaga:

“Saat ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak penting, mereka melaluinya (tidak mengerjakannya).”[12]

“Saat orang-orang bodoh berbicara buruk kepada mereka, mereka tidak mempedulikannya.”[13]

Tentang pentingnya kemulian, cukup kita saksikan bahwa Islam melarang kita untuk menjadi hamba selain Tuhan. Hanya Allah swt. yang layak disembah dan sujud di hadapan-Nya. Tidak ada yang memiliki hak disembah kecuali Allah swt, karena syiar Islam adalah “Tiada Tuhan selain Allah swt.” Orang yang menginginkan kehormatan dan kemuliaan harus tahu bahwa itu semua adalah milik-Nya.

“Jika (kalian) mengnginkan kemuliaan, sesungguhnya kemuliaan semuanya adalah milik Allah.”[14]

[1] Anggize va Syakhsiyat (Motifasi dan Kepribadian), Abraham Maslow, halaman 82 dan 83.

[2] Ravanshenashi e Afsordeghi, Bernez, halaman 69.

[3] Shahifah Sajjadiyah, doa ke-20 (Makarimul Akhlak).

[4] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, jilid 3, bab 8 (Ahkam Malabis), halaman 351.

[5] Ibid, bab 3, hadis ke 2, jilid 3, halaman 343.

[6] Ibid, bab 29, hadis ke  3, jilid 3, halaman 376.

[7] Shahifah Sajjadiyah, doa ke-20 (Makarimul Akhlak).

[8] Al Isra’, ayat 70.

[9] Ensan Movjudi Nashenakhte (Manusia Makhluk Misterius), Alexis Karl, halaman 73 dan 74.

[10] Nahjul Balaghah, surat ke 31.

[11] Al Mu’minun, ayat 14.

[12] Al Furqan, ayat 72.

[13] Al Furqan, ayat 63.

[14] Al Fathir, ayat 10.