Imam Ali as enggan menjadi khalifah sepeninggal Utsman bin Affan?

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, Muslimin berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib untuk membai’atnya. Ali berkata, “Tinggalkanlah aku, carilah selainku.” Jika Ali memang khalifah Tuhan, lalu mengapa ia meminta umatnya untuk mencari orang lain?

Jawaban:

Kekhalifahan dapat kita bagi menjadi dua macam yang perbedaan keduanya sangat jelas sekali:

  1. Kekhalifahan yang ditetapkan (di-nash-kan). Yang mana penetapan khalifah tersebut dilakukan oleh Tuhan sendiri. Oleh karenanya kekhalifahan sedemikian rupa tidak mungkin bisa digagalkan, dibatalkan dan diingkari. Penetapan khalifah ini telah dijelaskan oleh nabi dan semua orang berkewajiban untuk mengimani kekhalifahan ini.
  2. Kekhalifahan yang dipilih umat. Kekhalifahan tersebut ditetapkan oleh pilihan terbanyak umat. Yang mana kami tidak menerima adanya kekhilafahan bentuk kedua.

Penjelasannya begini, Muslimin setelah terbunuhnya Utsman bin Affan meminta Ali bin Abi Thalib untuk menjadi khalifah sebagaimana khalifah-khalifah sebelumnya dengan cara dibai’at. Namun Ali bin Abi Thalib menolak keinginan mereka.

Penolakan tersebut bukan berarti Ali tidak merasa dirinya adalah khalifah, namun yang ia maksud adalah cara mereka untuk meyakini siapakah khalifah itu yang salah dan tidak bisa diterima.

Lagi pula sangat aneh, mereka meminta Ali untuk menjadi khalifah dalam kondisi yang memprihatinkan, yakni tidak terlihat lagi aura spiritualitas dalam diri sahabat-sahabat waktu itu; kebanyakan telah terbuai dengan kecintaan dunia dan materi.

Coba kita telaah kembali sejarah dan kita baca lagi kisah Thalhah, Zubair, Abdur Rahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Abi Sarh.

Khalifah sebelumnya telah menyerahkan seperlima kekayaan Afrika kepada Marwan bin Hakam. Perbuatan itu benar-benar tidak dibenarkan sampai ada beberapa sahabat lain yang mengkritik dan menyalahkannya.

Sampai ada penyair yang berkata, “Engkau telah menyerahkan seperlima kekayaan Afrika kepada Marwan dan kau memilihnya. Engkau condong untuk menmbela keluargamu sendiri.”

Dalam keadaan seperti ini Imam berkata, “Aku tidak layak untuk menjadi khalifah di antara kalian. Pergilah dan carilah orang lain.” Namun kerena masyarakat Muslimin terus medesaknya, dan demi terjaganya persatuan mereka, Ali tidak menemukan jalan selain menjadi khalifah untuk mereka. Namun sebelum memulai harinya sebagai “khalifah yang diinginkan umatnya”, ia berpidato terang-terangan menyalahkan khalifah-khalifah sebelumnya dan meminta semua orang untuk mengembalikan harta yang telah diterima dari khalifah ke Baitul Maal. Ia berkata:

“Demi Tuhan, dengan uang haram yang telah kalian ambil dari Baitul Maal kalian menjadikannya mahar untuk wanita-wanita kalian, membeli budak-budak perempuan kalian… Sungguh aku akan mengembalikannya ke Baitul Maal. Sesungguhnya keadilan seperti itu. Jika ada yang tidak menyukai keadilan, hendaknya mereka lebih tidak menyukai lagi kezaliman.”[1]

Penanya dalam buku itu tidak menukilkan ucapan Ali bin Abi Thalib secara sempurna. Di sini kami akan menukilkan ucapannya secara sempurna agar kita faham mengapa beliau mulanya menolak permintaan mereka. Ia berkata yang intinya: “Carilah orang selainku. Kalian telah berubah dan hati kalian telah ternodai. Betapa harta benda telah menyelewengkan kalian dari jalan yang benar. Sungguh jika kalian memintaku untuk menjadi pemimpin kalian, aku akan bawa kalian ke tempat yang aku kehendaki dan tentunya aku tidak akan mendengarkan sanggahan, kritikan, atau cacian siapapun terhadap caraku.”[2]

Dengan ucapannya itu Ali bin Abi Thalib telah menjelaskan bagaimana keadaan mereka dan khalifah mereka di saat itu. Ia hanya menginginkan jalannya, bukan jalan orang-orang sebelumnya.

Mari kita sebutkan satu persatu seperti apa kondisi yang menguasai umat saat itu:

  1. Sunah nabi telah terubah secara bertahap. Misalnya kini bangsa Arab telah diutamakan dari bangsa selain Arab; tuan telah dimuliakan daripada budaknya; dan…
  2. Korupsi seperti yang telah dilakukan oleh Utsman, misalnya membagikan harta Baitul Maal secara tidak adil, memberikan keluarganya dari Bani Umayah terhadap Imarat, dan masih banyak lagi. Yang mana itu semua mendorong umat Islam untuk memberontak dan membunuhnya.
  3. Sifat tamak[3] yang tersimpan dalam diri orang-orang yang mendesak Ali bin Abi Thalib untuk menjadi khalifah agar ia dapat memanfaatkan kesempatan politik.[4]
  4. Adanya desakan-desakan terhadap Ali bin Abi Thalib untuk menjabat sebagai khalifah.[5]
  5. Keberadaan Mu’awiyah dan kebenciannya terhadap Ali bin Abi Thalib, karena di zaman nabi ada salah satu dari keluarga dekatnya yang terbunuh di tangan Ali saat peperangan melawan kaum kafir. Mu’awiyah pun tak pernah lelah menggunakan cara apapun untuk menuduh Ali bin Abi Thalib sebagai pembunuh Utsman bin Affan.[6]
  6. Semua fitnah dan kondisi yang ada di zaman Utsman telah diperkirakan oleh Ali bin Abi Thalib sepuluh tahun sebelumnya.[7] Ternyata kini keadaannya lebih parah dari segala yang telah diperkirakannya.

Segalanya telah diterangkan oleh Ali bin Abi Thalib sehingga sempurnalah hujjah bagi mereka. Dengan demikian setelah mereka membai’atnya, tidak ada yang boleh berhak untuk mengangkat suara memprotesnya. Oleh karena itulah suatu saat kemudian Ali berkata kepada mereka, “Sungguh bai’at kalian atasku tidaklah merupakah keputusan yang terburu-buru dan tanpa pemikiran sebelumnya.”[8]

Mengenai diamnya ia dalam peristiwa Saqifah dan bersedianya dia untuk menerima pemerintahan pasca terbunuhnya Utsman berkata:

“Maka aku mengangkat tanganku saat melihat sekelompok orang berpaling dari Islam dang menginginkan binasanya agama Muhammad Saw. Aku takut jika aku tidak menolong Islam dan pemeluknya maka kelak tidak terlihat sedikitpun sisa dari agama ini. Melihat binasanya Islam dengan mata kepalaku sendiri lebih menyakitkan bagiku daripada melepaskan hakku sebagai pemimpin kalian. Sungguh kekuasaan hanyalah sesaat saja dan kelak pasti tiada.”[9]

[1] Nahj Al Balaghah, khutbah ke-15.

[2] Nahj Al Balaghah, khutbah ke-92.

[3] Ibid, khutbah ke-164; Al Milal wa An Nihal, Shahristani, halaman 32 dan 33.

[4] Ibid, hikmah ke-191 dan 202.

[5] Ibid, khutbah ke-172.

[6] Ibid, surat ke 10, 28, dan 64.

[7] Syarh Nahj Al Balaghah, Ibnu Abi Al Hadid, halaman 195.

[8] Ibid, khutbah ke-136 dan surat ke-54.

[9] Ibid, surat Ali bin Abi Thalib kepada penduduk Mesir, nomor 63.