Adab Berqurban dalam Ajaran Ahlul Bait

Bagi orang yang menunaikan ibadah haji, wajib untuk berqurban di hari ke-10 bulan Dzul Hijjah di kota Mina.

Berqurban bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji

Namun bagi yang tidak melakukan ibadah haji tersebut, disunahkan juga untuk berqurban dan membagi-bagikan daging qurban kepada sesama.

Imam Shadiq as pernah berkata, “Di hari Nahr (yakni Idul Adha) tidak ada amal yang lebih baik dari berqurban.”

Syaikh Shaduq menjelaskan hadis beliau dengan berkata, “Para pembesar berkeyakinan bahwa berqurban secara umum sangatlah dianjurkan, baik di Mina maupun di luar Mina, baik di hari Idul Adha maupun tidak; namun berqurban di Mina dan di hari Idul Adha pahalanya lebih banyak.”

Bahkan berhutang untuk berqurban pun dianjurkan

Dalam kitab Man La Yahduruhul Faqih milik Syaikh Shaduq jil. 2 hal. 213 disebutkan:

وَ جَاءَتْ أُمُّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِلَى النَّبِيِّ ص فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَحْضُرُ الْأَضْحَى وَ لَيْسَ عِنْدِي ثَمَنُ الْأُضْحِيَّةِ فَأَسْتَقْرِضُ وَ أُضَحِّي فَقَالَ اسْتَقْرِضِي وَ ضَحِّي فَإِنَّهُ دَيْنٌ مَقْضِیٌّ.

Ummu Salamah mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah! Telah tiba hari Idul Adha dan saya tidak punya uang untuk berqurban. Apakah aku boleh mencari hutang untuk berqurban?” Rasulullah saw menjawab, “Cari hutang dan berqurbanlah. Karena itu adalah hutang yang bakal terlunasi (jangan mengkhawatirkan hutang itu karena Allah akan melunasinya).”

Memakan daging hewan qurban sendiri

Imam Baqir as berkata:

«قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ (ع) كَانَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ (ع) لَا يَأْكُلُ يَوْمَ الْأَضْحَى شَيْئاً حَتَّى يَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ»

“Imam Ali as di hari Idul Adha tidak memakan makanan apapun sampai beliau memakan makanan dari binatang qurbannya.”

– Man La Yahduruhul Faqih, jil. 1, hal. 508

Dalam riwayat-riwayat lainnya juga disebutkan bahwa memberikan hadiah dan membagikan daging qurban sangat dimustahabkan.

Bagaimana cara membagikan daging hewan qurban?

Para Aimah ma’shum as membagikan sepertiga daging qurban kepada para tetangga, sepertiga kepada orang yang membutuhkan dan sepertiga lainnya untuk keluarganya.

«وَ كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ وَ أَبُو جَعْفَرٍ (ع) يَتَصَدَّقَانِ بِثُلُثٍ عَلَى جِيرَانِهِمْ وَ بِثُلُثٍ عَلَى السُّؤَّالِ وَ بِثُلُثٍ يُمْسِكَانِهِ لِأَهْلِ الْبَيْت»

“Yang biasa dilakukan oleh Ali bin Husain as dan Abu Ja’far as di hari qurban adalah, mereka mensedekahkan sepertiga qurubannya kepada para tetangga, sepertiga kepada orang yang meminta dan membutuhkan lalu sepertiga lainnya kepada anggota keluarganya.”

– Man La Yahduruhul Faqih, jil. 1, hal. 493

Sumber: YJC

Hukum orang tua dan keluarga memakan daging aqiqah anaknya dalam Fikih Ahlul Bait

Pertanyaan:

Apa hukum memakan daging aqiqah anak sendiri?

Jawaban:

Memakan daging aqiqah anak sendiri dalam ajaran fikih Ahlul Bait as adalah makruh, terutama bagi sang ibu, lebih makruh lagi.

Tidak hanya bapak dan ibu saja yang makruh memakan daging aqiqah tersebut, begitu pula orang-orang yang harus dinafkahi sang ayah, misalnya kakak atau adik anak yang diaqiqahi mereka makruh memakan daging aqiqah yang dimaksud.

Kecuali jika kakak atau adik tadi sudah bukan orang yang harus dinafkahi oleh sang ayah, misal kakak atau adik itu sudah menikah dengan orang lain (karena jika sudah menikah, ayah tidak lagi harus menafkahi mereka).

Lalu bagaimana jika anak yang diaqiqahi itu sendiri? Apakah ia boleh memakan daging aqiqah? Ia pun tak terkecualikan, makruh hukumnya bagi anak yang diaqiqahi untuk memakan daging aqiqahnya sendiri.

Tidak hanya makruh mengkonsumsi daging hewan aqiqah dalam kasus seperti ini, bahkan sisa-sisanya pun juga makruh, seperti jeroan, tulang-tulangan dan lain sebagainya.

Hal ini bertolak belakang dengan Qurban, dimana saat berqurban seorang yang melakukan Qurban (dalam hadits disebutkan) hendaknya tidak makan apapun kecuali memakan yang ia qurbankan.

Sumber: Portal Anhar

Amalan dan Anjuran Ahlul Bait as di Hari ‘Arafah

Hari ‘Arafah adalah hari ke-9 bulan Dzul Hijjah, tepat sehari sebelum hari raya ‘Idul Qurban.

Berdasarkan fikih Syi’ah, para jama’ah haji harus melakukan Wuquf di Padang ‘Arafah sejak dhuhur hingga maghrib. Bagi umat Islam, hari ‘Arafah termasuk salah satu hari yang sangat banyak fadhilahnya.

Dalam kitab-kitab doa dan amalan-amalan Ahlul Bait as, disebutkan bahwa yang paling berfadhilah di hari ‘Arafah adalah berdoa dan beristighfar. Membaca ziarah Imam Husain as dan juga doa ‘Arafah di hari ini sangatlah dianjurkan.

Mengapa disebut ‘Arafah?

‘Arafah dari bahasa ‘Arab yang memiliki arti “mengetahui” yang diiringi dengan pemahaman, tafakkur dan tadabbur.[1]

Yang disebut Padang ‘Arafah adalah suatu tempat di Makkah. Ada yang mengatakan tempat itu dikenal dengan ‘Arafah karena lokasinya yang terletak di antara gunung-gunung.

Fadhilah dan Keutamaan

Hari ‘Arafah adalah hari dimulainya Manasik Haji. Para jama’ah haji di hari ini berkumpul di padang ‘Arafah, membaca doa, beristighfar serta bersyukur karena mendapatkan taufik dan kesempatan menunaikan ibadah haji.

Dari kalangan Ai’mah Ahlul Bait as banyak riwayat yang menjelaskan fadhilah hari ini serta doa-doa apa saja yang layaknya dibaca di hari ‘Arafah. Beberapa di antara amalan yang paling dianjurkan adalah membaca Do’a ‘Arafah Imam Husain as dan Do’a ‘Arafah Imam Sajjad as.

Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait as disebutkan bahwa di hari ‘Arafah ini pintu pengampunan dosa dan pengabulan doa.[2]

Hukum Fikih terkait Hari ‘Arafah

Dalam fikih Syi’ah para jama’ah haji wajib berada di ‘Arafah untuk Wuquf dari duhur tanggal 9 Dzulhijjah hingga maghrib. Yakni di saat-saat itu jama’ah haji harus berada di ‘Arafah dan tidak boleh keluar dari sana. Wuquf ini adalah salah satu rukun haji, yakni jika ada jama’ah haji yang tidak pergi ke ‘Arafah untuk berdiam diri sejenak sekalipun di sana maka hajinya batal.[3]

Adapun dalam fikih Ahlu Sunnah, terdapat berbedaan pendapat:

  • Wuquf dari maghrib hari ke-10 hingga waktu sahur hari ke-10;
  • Wuquf dari waktu sahur hari ke-9 hingga waktu sahur hari ke-10;
  • Wuquf dari duhur hari ke-9 hingga fajar hari ke-10.

Amalan-amalan yang dimustahabkan

Banyak amalan yang dimustahabkan di hari ‘Arafah, di antaranya adalah:

  • Banyak-bayak beristighfar;
  • Membaca Doa ‘Arafah Imam Husain as;
  • Membaca Doa ‘Arafah Imam Sajjad as;
  • Mandi;
  • Membaca Ziarah Imam Husain as;
  • Bermalam di Mina hingga pagi;
  • Beredekah;
  • Berpuasa.

Sumber: WikiShia


[1] Raghib Isfahani, Mufradat, hal. 560.

[2] Shaduq, Man La Yahdhuruhul Faqih; Kullaini, Al-Kafi, jil. 4, hal. 146 dan 561.

[3] Musawi Syahrudi, Jami’ul Fatawa Manasik Hajj, hal. 173 dan 174.

Sekilas Sejarah Imam Jawad as dan Tragedi Syahidnya Beliau

Imam ke-9 umat Islam Syi’ah adalah Imam Jawad as. Beliau lahir pada tahun 195 Hijiah di kota Madinah. Nama beliau adalah Muhammad, yang dikenal dengan Al-Jawad. Julukan-julukan lain beliau di antaranya adalah Al-Rodhi, At-Taqi dan Al-Muttaqi.

Imam Muhammad Jawad berusia 8 tahun saat ayahnya wafat di tahun 203 H. Sepeninggal sang ayah, yaitu Imam Ridha as, beliau yang mejadi Imam umat Islam Syi’ah.

Ma’mun si khalifah Bani Abbas, sebagaimana khalifah-khalifah sebelumnya, sangat mengkhawatirkan pengaruh spiritual para Imam Ma’shum as terhadap para pengikutnya. Oleh karena itu mereka sering berupaya mengawasi Aimah as dan bahkan bersiasat untuk menakhlukkan mereka.

Salah satu upaya yang dilakukan Ma’mun adalah menikahkan putrinya dengan Imam Jawad as.

Pernikahan beliau

Ma’mun menikahkan putrinya, Ummul Fadhl, dengan Imam Jawad as dengan niat agar putrinya bisa menjadi pengintai terhadap beliau yang barang kali juga bisa menakhlukkan beliau dari dalam rumah.

Alasan lain Ma’mun menikahkan putrinya dengan Imam Jawad as adalah untuk mengajak beliau bersepaham dengannya. Karena ia kira dengan cara itu Imam as akan terlena dengan harta dan kedudukan yang diberikan Ma’mun, lalu jika ia berhasil pasti martabat sang Imam as akan runtuh dan para pengikutnya akan bercerai berai.

Dengan cara itu pula Ma’mun berupaya mencegah kaum ‘Alawi agar tidak memberontak melawan pemerintahannya. Karena dengan alasan pernikahan itu Ma’mun merasa sebagai orang yang dekat dan dicintai oleh sang Imam as sehingga para pengikut Ahlul Bait as pun segan dengannya.

Para Imam suci as tahu dengan apa yang bakal terjadi di kemudian hari. Oleh karena itu yang mereka lakukan selalu berdasarkan perhitungan.

Dengan berbagai pertimbangan, Imam Jawad as bersedia menikahi putri Ma’mun. Salah satu alasannya adalah agar para pengikut beliau aman dari ancaman Ma’mun.

Namun bagaimanapun juga, Imam Jawad as selalu berhasil mengelak dari tiap tipu muslihat Ma’mun yang sudah direncanakan sebelumnya dan meski beliau menikahi putri Ma’mun, si Ma’mun tak kunjung juga berhasil menipu Imam Jawad as.

Masa kepempimpinan beliau

Imam Jawad as memimpin umat Islam Syiah selama 17 tahun bersamaa dengan masa-masa kekhalifahan Ma’mun.

Ketika Imam Ridha as dipanggil untuk menghadap Ma’mun dari kota Madinah menuju kota Thus (Masyhad yang saat ini di Iran), Imam Jawad as masih berusia anak-anak. Ia bersama anggota keluarga lainnya tetap tinggal di Madinah.

Pada tahun 202 H., Imam Jawad as pergi dari Madinah menuju kota Marv untuk menemui ayahnya, lalu kembali ke Madinah setelah itu.

Salah satu sifat yang paling dikenal dimiliki oleh Imam Jawad as adalah kedermawanannya.

Ibadah haji dan traged syahidnya beliau

Pada suatu hari Imam Jawad as pergi menunaikan ibadah Haji. Setelah itu beliau kembali ke Madinah. Selama Ma’mun kenjadi khalifah, beliau tinggal di kota itu.

Sepeninggal ma’mun, khalifah setelahnya yaitu Mu’tashim, pada tahun 220 H. ia memanggil Imam Jawad as untuk mendatangi kota Baghdad bersama istrinya, Ummul Fadhl.

Menurut berbagai riwayat, di tahun itulah Mu’tashim memerintahkan anak buahnya untuk meracuni Imam Jawad as.

Beliau wafat pada akhir bulan Dzul-Qa’dah tahun 220 H. dan makam beliau saat ini berada di kota Kadhimain, Iraq.

Sumber: Tabnak.ir

Imam Mahdi aj dan Dajjal di depan Ka’bah

Sayid Ibnu Thawus dalam kitab Iqbal meriwayatkan dari Aban bin Muhammad, bahwa pada suatu tahun Imam Shadiq as pergi menunaikan ibadah haji. Saat itu beliau berada di bawah Ka’bah berdoa. Abdullah bin Hasan di sisi kanan, Hasan bin Hasan di sisi kiri, dan Ja’far bin Hasan[1] berdiri di belakang beliau.

Pada waktu itu Ibad Abu Katsir Bashri memanggil Imam, “Wahai Abu Abdillah.”

Imam diam tidak menjawabnya.

Ibad tiga kali memanggil beliau seperti itu namun Imam tidak menjawab. Akhirnya Ibad memanggil beliau dengan menyebut nama, dan berkata, “Hai Ja’far!”

Imam pun menjawab, “Wahai Abu Katsir, apa yang kau inginkan? Katakan.”

Ibad berkata, “Aku memiliki sebuah kitab yang ditulis di dalamnya bahwa akan ada seorang yang bakal menghacurkan rumah Ka’bah.”

Beliau menjawab, “Abu Katsir, kitabmu berbohong. Demi Tuhan aku tahu orang yang kau maksud. Ia adalah Dajjal, kakinya berwarna kuning, betisnya terluka, lehernya kecil, kepalanya besar, berdiri di samping Rukun Yamani. Ia melarang semua orang bertawaf dan membubarkan mereka. Saat itu Allah swt akan mengutus seseorang dari keturunanku dan ia akan membinasakannya bagaikan kaum ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun.”

Sumber: Biharul Anwar, jil. 51, hal. 376.

Ahlolbait.com


[1] Ketiga orang itu adalah putra Hasan Al-Mutsanna putra Imam Hasan Al-Mujtaba as.

Cerita bertemunya Imam Zaman aj dengan tukang besi

Ada seorang ahli ilmu ghaib, berhasil mendapatkan ilham untuk mengetahui di mana ia bisa menemukan Imam Zaman aj, yang mana saat itu beliau berada di sebuah pasar. Ia pun bergegas menuju pasar itu.

Sesampai di tujuan, ia melihat seseorang yang menurutnya adalah Imam Zaman aj, ia berada bersama seorang pandai besi. Ia melihat si pandai besi itu sepertinya tidak tahu kalau ada Imam Zaman aj di dekatnya, seperti itu yang ia kira. Ternyata perkiraannya salah, karena tak lama kemudian bapak tua si pandai besi itu berkata kepada Imam Zaman aj, “Wahai putra Rasulullah saw, di sini panas sekali. Engkau ingin kubawakan air minum?”

Tak lama kemudian ada seorang wanita tua mendatangi pandai besi. Ia berkata kepadanya, “Anakku sakit. Aku perlu uang tujuh Dirham untuk membayar biaya pengobatannya. Aku hanya punya gembok ini yang tidak ada kuncinya. Di pasar ini tidak ada yang mau membelinya kecuali hanya seharga enam Dirham saja. Mohon belilah gembok ini dengan harga tujuh Dirham.”

Pak tua si pandai besi memeriksa gembok tersebut dan berkata, “Barangmu ini meski tidak ada kuncinya laku 10 Dirham. Jika kuncinya dibuat, bisa laku 12 Dirham. Mana yang kamu mau? Semuanya bisa saya lakukan.”

Akhirnya si nenek memilih untuk menjualnya kepada pandai besi. Pandai besi membayar 10 Dirham kepada nenek itu. Lalu Imam Zaman aj berkata kepadanya, “Tidak perlu kau bersusah payah mencariku dengan ilmu ghaibmu. Jika seorang Muslim berperilaku seperti pak tua ini, aku yang akan datang.”

ana.press

Imam Ali Ridha as dan orang yang meragukannya

Husain bin Umar bin Yazid dulunya termasuk orang yang hanya mempercayai Imamah hanya berlanjut sampai Imam Musa bin Ja’far Al-Kadhim as saja dan tidak mempercayai bahwa Imam Ali Ridha as sebagai Imam.

Suatu hari ia bercerita:

Pada suatu hari bersama ayahku kami mendatangi Imam Kadhim as. Ayahku menanyakan tujuh pertanyaan. Imam pun menjawab enam pertanyaan tersebut dan tidak menjawab yang ketujuh.

Selang beberapa masa, di hatiku aku berkata, aku akan menanyakan tujuh pertanyaan yang sama kepada Ali bin Musa Al-Ridha, jika ia bisa menjawabnya sama seperti ayahnya, aku mempercayainya sebagai Imam setelah ayahnya.

Akhirnya aku menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, dan beliau pun menjawabnya tepat seperti ayahnya. Begitu pula ia tidak menjawab pertanyaan ketujuh.

Lalu saat aku hendak berpamitan, beliau berkata kepadaku, “Setiap pengikut kami di dunia ini akan mengalami cobaan dan kesulitan; jika mereka sabar, Tuhan akan memberikan pahala ribuan syahid kepada mereka.”

Saat itu aku masih tidak faham dalam rangka apa beliau mengatakan hal itu.

Tak lama kemudian kakiku sakit dan penyakit itu sangat menyusahkanku. Sampai pada musim haji, waktu aku pergi haji aku pun bertemu Imam Ridha as. Akhirnya aku mengadukan penyakitku kepadanya dan memintanya berdoa untukku agar penyakitku segera sembuh.

Imam pun berdoa untuk kesembuhan kakiku. Ternyata tak lama kemudian kakiku benar-benar sembuh.[1]

Sumber: ahlolbait.com


[1] Bihar Al-Anwar, jil. 49, hal. 67, h. 88; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 248, h. 7.

Mengenal Siapa itu Fathimah Ma’shumah

Fathimah yang terkenal dengan Fathimah Ma’shumah adalah putri Imam Musa Al-Kadhim as, saudari Imam Ali Ridha as. Ia pergi ke Iran untuk menemui saudaranya, Imam Ridha as, lalu di tengah-tengah perjalanannya ia jatuh sakit dan wafat di kota Qom, dan akhirnya ia dimakamkan di kota itu. Dalam referensi-referensi sejarah kuno tidak banyak dijelaskan mengenai kehidupan beliau, termasuk tanggal lahir dan juga tanggal wafat beliau.

Umat Islam Syiah sangat mengagungkan Fathimah Ma’shumah dan meyakini keutamaan ziarahnya. Banyak sekali riwayat yang dinukil mengenai keutamaan menziarahi Fathimah Ma’shumah dan juga syafaatnya kepada umat Islam, yang mana surga adalah ganjaran ziarah itu. Bahkan disebutkan dalam kitab-kitab riwayat bahwa, Fathimah Ma’shumah adalah satu-satunya wanita setelah Fathimah Azzahra as yang mana doa ziarahnya dinukil langsung dari Imam Ahlul Bait as.

Sedikitya informasi sejarah mengenai beliau

Dzabihullah Mahallati dalam kitab Rayahin Al-Syari’ah mengatakan bahwa tidak banyak informasi sejarah yang tercatat mengenai beliau, termasuk tanggal lahir, wafat, umur dan kapan beliau berangkat dari madinah menuju Iran. Bahkan juga tidak diketahui apakah beliau wafat sebelum wafatnya Imam Ridha as ataukah sesudahnya.[1]

Garis keturunan

Fathimah Ma’shumah adalah putri Imam Kadhim as, putri Imam Ridha as. Syaikh Mufid dalam kitab Al-Irsyad menyebutkan adanya dua anak perempuan dari Imam Kadhim as yang dikenal dengan Fathimah Kubro dan Fathimah Sughro, tapi tidak jelas yang manakah Fathimah Ma’shumah.[2]

Ibnu Jauzi yang termasuk ulama Ahlu Sunah di Abad ke-6 Hijriah menyebutkan adanya 4 anak perempuan di antara anak-anak Imam Kadhim as yang bernama Fathimah; namun ia juga tidak menyebutkan yang mana yang disebut Fathimah Ma’shumah.[3] Menurut Muhammad bin Jarir Thabari Saghir, penulis Dalailul Imamah, nama ibu Fathimah Ma’shumah adalah Najmah Khatun, yang juga merupakan ibu Imam Ridha as.[4]

Tanggal lahir dan wafat

Dalam referensi-referensi kuno Syiah tidak pernah disebutkan sejarah dan tanggal lahir Fathimah Ma’shumah. Menurut Redha Ustadi, kitab yang paling pertama yang menyinggung tanggal lahir dan wafat beliau adalah kitab Nurul Afaq tulisan Jawad Syah Abdul Azim[5] yang terbit pada tahun 1344 Hijriah.[6] Dalam kitab itu disebutkan tanggal lahir Fathimah Ma’shumah adalah 1 Dzulqa’dah tahun 173 Hijriah dan tanggal wafat beliau 10 Rabi’ul Tsani tahun 201 Hijriah. Lalu setelah kitab itu, kitab-kitab lainnya menyebutkan hal yang sama merujuk ke kitab tersebut.[7] Oleh karena itu dalam penanggalan resmi Iran (sebagai penghormatan kepada Fathimah Ma’shumah) hari pertama bulan Dzulqa’dah ditetapkan sebagai Hari Anak Perempuan Nasional. Sebagian ulama seperti Ayatullah Mar’asyi Najafi, Ayatullah Syubairi Zanjani, Ridha Ustadi dan Dzabihullah Mahallati menentang pendapat tersebut dan menganggap tanggal-tanggal tersebut dibuat-buat.

Julukan-julukan beliau

Beliau dikenal dengan julukan Ma’shumah dan Karimah Ahlul Bait.[8] Disebutkan bahwa julukan “Ma’shumah” diambil dari sebuah riwayat dari Imam Ridha as.[9] Dalam riwayat yang ditulis oleh Allamah Muhammad Baqir Majlisi dalam kitab Zadul Ma’ad dikatakan bahwa Imam Ridha as mengenang beliau dengan sebutan Ma’shumah.[10]

Fathimah Ma’shumah juga dikenal dengan Karimah Ahlul Bait.[11] Julukan ini dipercaya berkaitan dengan mimpi Sayid Mahmud Mar’asyi Najafi, ayah dari Ayatullah Mar’asyi Najafi, yang mana ia pernah bermimpi salah satu Imam Ahlul Bait as menyebut Fathimah Ma’shumah dengan sebutan Karimah Ahlul Bait.

Pernikahan

Kitab Rayahin Al-Syari’ah juga tidak menyinggung pernikahan beliau, apakah beliau pernah menikah atau tidak dan apakah beliau punya anak.[12] Namun meski demikian, yang masyhur diyakini saat ini adalah bahwa beliau tidak pernah menikah.[13] Ada beberapa alasan yang disebutkan sebagai bukti bahwa beliau belum menikah, misalnya Ya’qubi menulis bahwa Imam Kadhim as berwasiat kepada putri-putrinya agar tidak menikah.[14] Namun pendapat tersebut ditentang dan mereka mengatakan bahwa wasiat seperti itu tidak pernah disebutkan dalam wasiat-wasiat yang diriwayatkan oleh Kulaini dari Imam Kadhim as dalam kitab Al-Kafi.[15] Alasan lainnya seperti tidak ditemukannya orang yang sepadan untuk menjadi suaminya.[16]

Perjalanan ke Iran dan tiba di kota Qom hingga wafat

Menurut kitab Tarikh e Qom, Fathimah Ma’shumah berangkat dari Madinah menuju Iran pada tahun 201 Hijriah untuk menemui saudaranya, yaitu Imam Ali Ridha as. Namun di perjalanan beliau sakit lalu wafat.[17] Menurut yang dipercayai Sayid Ja’far Murtadha Amuli, beliau wafat di daerah Saweh karena diracun.[18]

Mengenai bagaimana beliau dimakamkan di kota Qom ada dua pendapat, yang pertama dikatakan bahwa saat beliau sakit di daerah Saweh beliau meminta orang-orang di sekitarnya untuk membawanya ke kota Qom. Menurut pendapat kedua, orang-orang Qom yang meminta beliau untuk datang ke kota itu. [19]

Di kota Qom, Fathimah Ma’shumah tinggal di rumah seseorang yang bernama Musa bin Kazraj Asy’ari dan setelah tinggal di situ selama 17 hari beliau wafat. Jenazah beliau pun dimakamkan di pekuburan yang saat itu dikenal dengan Babelan. [20]

Kedudukan beliau bagi umat Syiah

Ulama Syiah sangat mengagungkan Fathimah Ma’shumah dan banyak riwayat yang menyebutkan fadhilah dan keutamaan menziarahi beliau. Allamah Majlisi dalam kitab Biharul Anwar meriwayatkan sebuah hadis dari Imam Ja’far Shadiq as, yang mana berdasarkan riwayat tersebut, pengikut Ahlul Bait as dengan syafa’at Fathimah Ma’sumah dapat masuk surga.[21]

Syusytari dalam Qamus Al-Rijal menulis: Di antara anak-anak Imam Musa Al-Kadhim as, tidak ada yang sebanding dengan Fathimah Ma’shumah.[22] Syaikh Abbas Qumi juga menyebut Fathimah Ma’shumah sebagai putri terbaik Imam Musa bin Ja’far as.[23]

Berdasarkan riwayat dari Imam Shadiq as, Imam Kadhim as dan Imam Jawad as, surga adalah ganjaran orang yang menziarahi Fathimah Ma’shumah.[24] Namun dalam riwayat lain dinyatakan bahwa balasan surga itu hanya didapat oleh orang yang menziarahi beliau dengan penuh makrifat dan keyakinan yang benar.[25]

Riwayat mengenai doa ziarah beliau

Allamah Majlisi dalam kitab-kitabnya Zad Al-Ma’ad, Bihar Al-Anwar dan Tuhfah Al-Zair meriwayatkan doa ziarah yang dinukil dari Imam Ridha as untuk Fathimah Ma’shumah.[26]

Sampai saat ini diyakini bahwa di kalangan para wanita, hanya Fathimah Azzahra as dan Fathimah Ma’shumah saja yang doa-doa ziarah mereka diriwayatkan secara langsung dari Imam Ahlul bait as.[27]


[1] Mahalati, Rayahin Al-Syariah, jil. 5, hal. 31.

[2] Mufid, Al-Irsyad, jil. 2, hal. 244.

[3] Ibnu Jauzi, Tadzikratul Khowash, hal. 315.

[4] Thabari, Dalailul Imamah, hal. 309.

[5] Ustadi, Ashanai ba Hazrat Abdol Azim wa Masader e Syarh e Hal e U, hal. 301.

[6] Ibid, hal. 397.

[7] Ibid, hal. 301.

[8] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 23 dan 41; Asgharinejad, Nazari bar Asomi wa Alqob e Hazrat Masumeh.

[9] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 29.

[10] Majlisi, Zadul Ma’ad, hal. 547.

[11] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 41.

[12] Mahalati, Rayahin Al-Syari’ah, jil. 5, hal. 31.

[13] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 150.

[14] Ya’qubi, Tarikh Al-Ya’qubi, jil 2, hal. 361.

[15] Qureshi, Hayatul Imam Musa bin Ja’far, jil. 2, hal. 497.

[16] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 151.

[17] Qomi, Tarikh e Qom, hal. 213.

[18] Amuli, Hayatus Siyasiyah Lil Imam Ridha as, jil. 1, hal. 428.

[19] Ibid.

[20] Ibid.

[21] Majlisi, Biharul Anwar, jil. 99, hal. 267.

[22] Syusytari, Tawarikh Al-Nabi wa Al-Aal, hal. 64.

[23] Qumi, Muntaha Al-Aamaal, jil. 2, hal. 378.

[24] Kamil Al-Ziyarat, hal. 536; Majlisi, Bihar Al-Anwar, jil. 99, hal. 265.

[25] Majlisi, Bihar Al-Anwar, jil. 99, hal. 266.

[26] Majlisi, Zad Al-Ma’ad, hal. 548; Majlisi, Bihar Al-Anwar, jil. 99, hal. 266; Majlisi, Tuhfah Al-Zair, hal. 4.

[27] Mahdi Pur, Karimah Ahlul Bait, hal. 126.

Referensi: WikiShia