Peran luar biasa kaum perempuan dalam masyarakat menurut Imam Khumaini

Imam Khumaini dalam salah satu ceramahnya pernah berkata, “Baik dan buruknya sebuah komunitas masyarakat tergantung dengan baik dan buruknya kaum perempuan di dalam mereka. Kaum perempuan adalah satu-satunya kaum yang bisa mempersembahkan individu-individu terbaik kepada sebuah masyarakat. Berkat keberadaan merekalah, tidak hanya seseorang, masyarakat seutuhnya pun dapat diarahkan menuju nilai-nilai luhur manusiawi. Begitu juga sebaliknya.”[1]

Pada kesempatan lainnya beliau juga mengatakan, “Orang yang bisa mendidik umat manusia adalah perempuan. Kebahagiaan dan kesengsaraan sebuah umat tergantung pada bagaimana kaum perempuannya. Dengan caranya yang baik mendidik anak, kaum perempuan dapat memakmurkan sebuah negara.”[2]


[1] Pesan Imam Khumaini di hari 25/1/69

[2] Ceramah di Qom, 17/12/57, kitab Sima ye Zan dar Kalam e Emam Khomaini

Sumber: hawzah.net

Tragedi Syahidnya Imam Ja’far Shadiq as

Imam Ja’far Shadiq as diracun oleh kaki tangan Mansur Davaniqi hingga akhirnya beliau wafat pada tahun 148 Hijriah. Ada perbedaan riwayat mengenai tanggal berapa beliau wafat, ada yang bilang pertengahan bulan Rajab dan ada yang menyebutkan tanggal 25 Syawal. Beliau wafat pada usianya yang ke-65.

Ketika Mansur Davaniqi menjabat sebagai khalifah dan menyaksikan semakin bertambah banyaknya pegikut Imam Ja’far Shadiq as, ia sering mendatangkan Imam Ja’far Shadiq as ke istananya di Iraq dan sampai lima kali atau lebih beliau mau dibunuh. Tapi karena mukjizat yang disaksikannya, berkali-kali itu pula Mansur mengurungkan niatnya.

Syaikh Thusi meriwayatkan dari Salimah, budak Imam Shadiq as, ia berkata: Menjelang akhir hayatnya, aku bersama beliau. Saat itu beliau pingsan. Ketika sadar, beliau berkata kepadaku, “Berilah 70 koin emas keada Hasan bin Ali bin Ali bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib as yang dikenal dengan Aftas, berikan juga beberapa koin kepada beberapa orang lainnya.” Aku bertanya, “Apakah engkau memberi kepada orang yang pernah menyerangmu dengan pisau dan hendak membunuhmu?” Beliau menjawab, “Apakah engkau tidak ingin Allah menjadikanku orang terpuji karena silatur rahmi? Yang mana Allah swt berfirman:

وَ الَّذِین َ يَصِلُونَ ما اَمَرَاللهُ بِهِ اَن يُوصَلَ وَ يَخشَونَ رَبَهُّم وَ يَخافُونَ سُوءَ الحِسَابِ

“dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Ar Ra’d : 21)

Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai Salimah, ketahuilah bahwa Allah swt menciptakan surga yang wangi nan jauh di sana dan harumnya aroma surga itu bisa mencapai penciuman kita setelah dua ribu tahun. Aroma itu tidak akan pernah tercium oleh orang yang memutus hubungan kekeluargaan dan memotong tali silatur rahmi.”

Sumber: Ahlolbait.com

Benarkah Ziarah Syah Abdul Adzim Hasani Menyamai Ziarah Imam Husain as?

Banyak sekali riwayat Ahlul Bait as yang mejelaskan bahwa pahala menziarahi Syah Abdul Adzim Hasani menyamai pahala menziarahi Imam Husain as di Karbala. Benarkah demikian?

Memang betul, banyak riwayat yang menyatakan hal itu.[1] Dalam teks doa ziarah Syah Abdul Adzim Hasani pun disebutkan ungkapan-ungkapan yang mengindikasikan hal itu, seperti ungkapan di bawah ini:

السّلامُ عَلَیک یا مَنْ بِزِیارَتِهِ ثَوابُ زِیارَةِ سَیدِ الْشّهَدآءِ یرْتَجی

“Salam atasmu wahai yang semua orang mendambakan pahala ziarah Imam Husain as dengan menziarahimu.”[2]

Muhaddis Qummi dalam menjelaskan siapa itu Abdul Adzim Hasani mengatakan: Ia memiliki kedudukan dan martabat tinggi, dan hal itu lebih jelas dari jelasnya keberadaan matahari. Beliau adalah keturunan suci Rasulullah saw dan termasuk ahli hadis dan perawi riwayat-riwayat Syiah, ulama dan hamba Allah yang saleh serta zuhud. Beliau dikenal dengan sifat wara’, taqwa dan termasuk golongan para sahabat Imam Jawad serta Imam Hadi as. Beliau meriwayatkan banyak hadis dari kedua Imam tersebut.

Imam Hadi as pernah mendoakan beliau agar mendapatkan ketegaran hati dan langkah dalam agama di dunia dan akherat. Jika kita ingin melihat sapa saja para pengikut sejati Rasulullah saw dan Ahlul Bait as, beliau adalah salah satu yang terbaik. Beliau termasuk para pewaris dan khalifah penerus Rasulullah saw.

Saat Rasulullah saw ditanya, wahai Rasulullah saw, siapakah para penerus dan khalifahmu? Beliau mejawab: Mereka adalah orang-orang yang dating setelahku, meriwayatkan hadis-hadis dan sunahku. Para khalifah dan pewaris nabi adalah orang-orang yang menghidupkan sunah dan ajaran Ilahi.

Oleh karena itu mengharapkan pahala ziarah Imam Husain as dengan cara menziarahi Syah Abdul Adzim Hasani bukanlah hal yang mustahil. Karena kedudakannya adalah kedudukan pengganti Nabi dan para Imam.

Dalam teks doa ziarah beliau juga disebutkan ungkapan ini:

اَلسّلامُ عَلَی الْعَبْدِ الصّالِحِ الْمُطیعِ للّهِ رَبّ الْعالَمینَ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَمیرِ الْمُؤْمِنینَ

“Salam atasmu wahai hamba saleh yang mentaati Allah swt Tuhan Semesta Alam dan Rasulnya serta Amirul Mukminin.”

Salah satu kemiripan kriteria antara beliau dengan Imam Husain as adalah di tempat beliau berpijak nama Rasulullah saw dan ajaran Ahlul Bait as hidup dikenal.

Abdul Adzim Hasani lahir pada tahun 173 Hijriah di zaman Imam Musa Kadhim as di kota Madinah. Ayahnya adalah Abdullah dan ibunya adalah Fathimah. Istri beliau bernama Khadijah putri Qasim bin Hasan bin Zayd bin Imam Hasan Al Mujtaba as.

Abdul Adzim setelah memasuki kota Ray (sebuah daerah di kota Tehran saat ini) hidup secara sembunyi-sembunyi di rumah salah satu pengikut Ahlul Bait di kota itu. Tak lama kemudian beliau jatuh sakit dan wafat pada tahun 252 Hijriah di zaman Imam Hadi as.

Untuk membuka peta lokasi makam beliau, klik di sini.

Sumber: Hauzah.net


[1] Hurr Amili, Wasail Syiah, jil. 14, hal. 575; Muhaddis Nuri, Mustadrak Al Wasail, jil. 10, hal. 367, bab 73; Syaikh Shaduq, Tsawabul A’mal, hal. 99; Ibnu Quwalaih Qummi, Kamil Al-Ziyarat, hal. 324.

[2] Ruh va Rayhan, hal. 112.