Ukiran-ukiran istimewa pada batu cincin Ma’shumin as

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Mau tahu apa yang terukir pada batu-batu cincin para Ma’shumin as?

Di bawah ini adalah ukiran-ukiran di atas batu cincin yang dikenakan oleh Rasulullah saw dan para Ma’shumin lainnya:

Rasulullah saw

Diriwayatkan bahwa cincin Rasulullah saw[1] perak dan batunya berwarna hitam berukir dua baris kalimat:

محمد رسول الله

Muhammad Rasulullah

Imam Ali as

Dinukil dari Imam Shadiq as bahwa ukiran di batu cincin Imam Ali as adalah kalimat:

الملك لله

Artinya: “Kerajaan (kekuasaan) milik Allah.”[2]

Fathimah Azzahra as

Yang terukir di batu cincin Fathimah Azzahra as adalah kalimat:

أمن المتوکلون

Artinya: “Telah aman orang-orang yang bertawakal.”[3]

Imam Hasan as

Dinukil dari Imam Ridha as bahwa ukiran di batu cincin Imam Hasan as adalah kalimat:

العزة لله

Artinya: “Kemuliaan hanya milik Allah.”[4]

Di riwayat lain disebutkan, ukiran beliau adalah kalimat:

حسبي الله

Artinya: “Cukup Allah bagiku.”[5]

Imam Husain as

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa ukiran di batu cincin Imam Husain as juga kalimat:

حسبي الله

Artinya: “Cukup Allah bagiku.”

Diriwayatkan pula bahwa Imam Husain as memiliki cincin dengan batu akik yang diwariskan oleh ibu dan kakaknya. Lalu pada suatu malam beliau bermimpi bertemu nabi Isa as dan bertanya kepadanya, “Apa yang sebaiknya aku ukir di atas batu ini?” Nabi menjawab, “Ukirlah kalimat ini:

لا إله الا الله الملك الحق المبین

karena itu adalah awal Taurat dan akhir Injil.”[6]

Imam Sajjad as

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa ukiran batu cincin beliau adalah kalimat:

الحمد لله العلي العظیم

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang Maha Tinggi dan Maha Hidup.”[7]

Juga dinukil oleh Allamah Majlisi bahwa ukiran salah satu batu cincin beliau adalah kalimat:

و ما توفیقی الا بالله

Artinya: “Tidak ada satupun taufik untukku kecuali dari Allah.”[8]

Imam Baqir as

Allamah Majlisi menukil bahwa salah satu ukiran di batu cincin Imam Baqir as adalah kalimat ayat Qur’an yang berbunyi:

رب لا تذرني فردا

Artinya: “Ya Tuhanku jangan Kau biarkan daku sendiri (tanpa keturunan).”[9]

Imam Shadiq as

Seorang perawi bertanya kepada Imam Shadiq as, “Wahai Imam, apakah boleh seseorang mengukir selain namanya di atas batu cincinnya?” Sang Imam menjawab, “Di batu cincinku terukir kalimat:

الله خالق کل شيء

(yang artinya Allah pencipta segala sesuatu).”[10]

Imam Kadhim as

Diriwayatkan oleh Al Bazanthi bahwa ukiran batu cincin Imam Kadhim as adalah kalimat

حسبي الله

(cukup Allah swt bagiku) dengan hiasan bunga dan bulan sabit di atasnya.[11]

Imam Ridha as

Saat beliau ditanya tentang ukiran apa yang ada di batu cincinnya, beliau menjawab:

ما شاء الله لا قوة الا بالله

Artinya: “Hanya Allah yang berkehendak dan tiada kekuatan selain dari-Nya.”[12]

Imam Jawad as

Ukiran salah satu batu cincin Imam Jawad as adalah kalimat:

نعم القادر ألله

Artinya: “Allah adalah sebaik-baiknya pemilik kekuatan.”[13]

Imam Hadi as

Ukiran batu cincin beliau adalah kalimat:

ألله الملك

Artinya: “Allah Sang Penguasa.”[14]

Imam Hasan Askari as

Dinukil oleh Allamah Majlisi as bahwa ukiran batu cincin Imam Askari adalah kalimat:

إن الله شهید

Artinya: “Sesungguhnya Allah maha menyaksikan.”[15]

Imam Mahdi aj

Sebagaimana yang kita yakini, Imam Mahdi aj adalah pewaris para nabi dan manusia-manusia suci. Di tangan beliaulah cincin-cincin ayah dan datuk-datuknya.

[1] Al Kafi, jil. 6, hal. 474; Al Bihar, jil. 16, hal. 123; Al Wasail, jil. 5, hal. 79

[2] Al Wasail, jil. 5, hal. 78; Al Bihar, jil. 42, hal. 68; ‘Uyun Akhbar Al Ridha, jil. 2, hal. 56

[3] Bihar Al Anwar, jil. 43, hal. 9

[4] Al Kafi, jil. 6, hal. 474; Amali Al Shaduq, hal. 456; Bihar Al Anwar, jil. 11, hal. 62; Uyun Akhbar Al Ridha, jil. 2, hal. 54; Al Wasail, jil. 5, hal. 100; Makarim Al Akhlaq, hal. 91

[5] Al Kafi, jil. 473; Al Wasail, jil. 5, hal. 98

[6] Al Ghaibah, hal. 297

[7] Al Kafi, jil. 6, hal. 473; Al Wasail, jil. 5, hal. 98

[8] Bihar Al Anwar, jil. 46, hal. 14; Al Fushul Al Muhimmah, jil. 2, hal. 187

[9] Al Fushul Al Muhimmah, jil. 2, hal. 884; Al Bihar, jil. 46, hal. 345

[10] Al Kafi, jil. 6, hal. 473; Al Wasail, jil. 5, hal. 98; Al Bihar, jil. 47, hal. 10

[11] Al Kafi, jil. 6, hal. 473; Al Bihar, jil. 48, hal. 10; Al Wasail, jil. 5, hal. 99

[12] Al Kafi, jil. 6, hal. 473; Al Wasail, jil. 5, hal. 100

[13] Al Bihar, jil. 50, hal. 115; Al Fushul Al Muhimmah, jil. 2, hal. 1039

[14] Makarim Al Akhlaq, hal. 91

[15] Bihar Al Anwar, jil. 50, hal. 238