Stress karena melahirkan dan tekanan jiwa

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Kelahiran buah hati adalah kenangan besar yang paling membekas di hati setiap wanita; kenangan yang dipenuhi dengan begitu dahsyat tekanan jiwa dan emosi. Pada mulanya seorang wanita merasakan kebahagiaan dan kegembiraan, lalu muncul rasa takut dan kekhawatiran, ketakutan akan apa yang mungkin menimpanya di kemudian hari. Bagi sebagian ibu, terdengarnya tangisan seorang bayi yang lemah begitu menghkawatirkan. Terkadang seorang ibu secara tidak jelas merasa takut dan malu. Stres yang muncul di saat melahirkan ini terkadang sampai membuat sang ibu terdorong untuk membunuh bayinya. Bagi sebagian orang itu, setelah dilaluinya masa-masa pengasingan dan kebingungan yang lama, menjalani masa kehamilan yang disertai rasa takut dan malu.[1] Al Qur’an begini mengisahkan rasa sakit yang diderita oleh Sayidah Maryam as. saat melahirkan putranya:

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggurkan buah yang masak kepadamu, maka makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.”[2]

Kesedihan Sayidah Maryam as. lebih dikarenakan tuduhan-tuduhan masyarakat yang tidak berjiwa sehat. Mengenai sebab kesedihan Sayidah Maryam as., Imam Shadiq as. berkata:

“Karena ia (Maryam as.) tidak melihat satu orangpun di antara kaumnya yang memiliki jiwa mulia yang dapat menyelamatkannya dari tuduhan dan fitnah.”[3]

Imam Ali as. menjelaskan bahwa Sayidah Maryam as. memakan buah kurma untuk memulihkan kesehatan tubuhnya:

“Tidak ada makanan yang lebih baik dari kurma untuk dimakan oleh seorang ibu yang sedang mengandung. Karena Allah swt. berfirman kepadanya: “Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu…”[4]

Ada pula riwayat dari beliau yang menukil dari perkataan Rasulullah saw. mirip dengan riwayat sebelumnya, begitu pula Allamah Thabathabai dalam Al Mizan menerangkan bahwa di kalangan Ahlu Sunnah juga banyak riwayat serupa dan banyak lagi riwayat-riwayat di kalangan syiah mengenai masalah ini dan silsilah periwayatannya sampai pada Imam Baqir as.

Oleh karena itu, kenyataan stres melahirkan yang dialami Sayidah Maryam as. memang ada, begitu pula tekanan jiwa yang disebabkan tuduhan-tuduhan kaumnya.

[1] Estress e Daemi (Stres Berkepanjangan), Pierre Lou & Hendri Lou, halaman 179 – 181 dan halaman 207 – 209; Anggize va Syakhsiyat (Motifasi dan Kepribadian), Abraham Maslow, halaman 76.

[2] Maryam as., ayat 23 – 26.

[3] Bihar Al Anwar, jilid 14, halaman 226.

[4] Wasailus Syi’ah, jilid 25, halaman 31.