Solusi tekanan jiwa: Optimisme

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Salah satu cara agar kita selalu terhindar dari gangguan dan tekanan jiwa, kita harus selalu menyikapi segala hal dengan bijak dan berpandangan positif. Tidak hanya para psikolog saja yang menekankan masalah ini, Al Qur’an pun juga demikian. Agar kita dapat berpandangan positif, kita harus menjalankan dua langkah penting berikut: berpandangan luas terhadap kondisi yang ada, dan berbaik sangka kepada Allah.

  • Berpandangan luas terhadap kondisi yang ada

Kebanyakan dari tekanan-tekanan jiwa diakibatkan oleh faktor-faktor seperti penyesalan akan masa lalu, kehilangan kesempatan, mengalami kekalahan, ketertinggalan, takut akan masa depan, dan lain sebagainya. Para Imam maksum mengajarkan kita untuk merenung dan berfikir secara positif terhadap keadaan yang ada. Namun renungan dan fikiran ini haruslah bersifat melebar dan luas tanpa melupakan hakikat-hakikat maknawiyah. Dalam dua ayat, Al Qur’an melarang manusia untuk berpandangan sempit dalam menilai permasalahan serta mengingatkan akan adanya hal-hal ghaib di balik panggung materi ini. Dalam ayat 22 dan 23 surah Al Hadid kita membaca:

“Tidak ada satupun bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahduz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang sedemikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak suka orang yang sombong lagi berbangga diri.”[1]

Al Qur’an menekankan kita agar tidak berpandangan sempit dalam menilai permasalahan. Disebutkan dalam kitab suci tersebut:

“Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu yang padahal itu baik bagi kalian dan mungkin saja kalian menyukai sesuatu yang padahal itu buruk bagi kalian.”[2]

Dalam fiqih Islam terdapat sebuah kaidah yang dikenal dengan kaidah maisur yang artinya adalah “memandang keadaan yang ada”. Berdasarkan kaidah ini, manusia seharusnya memahami dan menjalankan tugas-tugasnya dan menjauh dari kegelisahan dan ketidak tenangan. Rasulullah saw bersabda:

“Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukanlah; dan jika aku melarang kalian, maka tinggalkanlah.”

Imam Ali as. juga berkata:

“Suatu kewajiban tidak akan gugur hanya karena susah dikerjakan (meski susah, kita harus berusaha mengerjakannya, karena itu adalah kewajiban kita; tak masalah apapun hasilnya).”[3]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa ketika manusia menghadapi permasalahan dalam hidupnya, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikannya, dan hendaknya ia mengurangi kegelisahannya dengan cara penyesuaian diri dengan kondisi yang ada. Pada hakikatnya pesan asli riwayat-riwayat di atas adalah fleksibilitas manusia dalam menjalani kehidupannya; karena jika demikian, manusia akan terhindar dari tekanan-tekanan psikis dan stres.[4]

  • Berbaik sangka kepada Tuhan

Menurut pandangan riwayat Islami, orang yang suka berburuk sangka kepada sesamanya menunjukkan buruknya diri sendiri. Orang yang buruk, selalu berburuk sangka kepada siapa saja. Imam Ali as. berkata:

“Orang yang buruk, tidak akan pernah berprasangka baik  kepada siapapun, karena segala yang ia lihat tak lain adalah cerminan keburukan dirinya sendiri.”[5]

Suka berburuk sangka adalah sebuah penyakit jiwa yang menjadi sebab berbagai macam penyelewengan dan ketergelinciran dalam perjalanan spiritual. Dalam sebuah suratnya yang ditulis kepada Malik Al Asytar, Imam Ali as. berkata:

“Sesungguhnya sifat pelit, pengecut, penakut, adalah sifat-sifat buruk yang berkumpul pada satu sifat: berburuk sangka kepada Allah.”[6]

Berbaik sangka, adalah kunci yang sangat penting untuk kesehatan ruhani. Imam Shadiq as.berkata:

“Sesungguhnya Allah akan berbuat sesuai dengan prasangka hamba-Nya, baik ketika hamba berprasangka baik atau buruk.”[7]

Imam Ali as. juga berkata:

“Prasangka baik adalah (sumber) ketenangan hati dan selamatnya agama.”[8]

“Orang yang tidak mau berbaik sangka, ia akan merasa takut kepada semua orang.”[9]

Prasangka baik kepada Allah swt. bergantung pada kadar iman dan harapan seorang hamba terhadap Tuhannya.[10] Jika kita memperhatikan lebih lanjut, kita akan mendapati bahwa sifat berprasangka baik kepada Tuhan ini tidak akan ditemukan kecuali dalam diri orang yang benar-benar tidak menaruh harapan kepada selain Allah swt.[11] Saat kegembiraan dan kesenangan dianugerahkan oleh Allah swt. kepadanya, ia akan bersyukur, dan jika Allah swt. Menimpakan musibah dan cobaan, ia bersabar.[12]

Dalam doa ‘Arafah Imam Husain as. disebutkan:

“Apa yang dimiliki oleh orang-orang yang kehilangan-Mu? Dan apa yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang memiliki-Mu?”[13]

Jadi orang yang selalu berprasangka baik kepada Allah swt. tidak akan pernah berhadapan dengan jalan buntu apa lagi terjerumus dalam stres dan tekanan mental; semakin berat musibah dan cobaan yang ia hadapi, semakin besar pula kesabaran dan ketegarannya.

[1] Al Hadid, ayat 22 – 23.

[2] An Nisa’, ayat 11.

[3] Al Qawaidul Fiqhiyah, Nashir Makarim Syirazi, jilid 3, halaman 169 – 184.

[4] Ushul e Behdasht e Ravani (Prinsip-Prinsip Kesehatan Jiwa), Sayid Abul Qasim Husaini, halaman 195 dan 197.

[5] Ghurarul Hikam wa Durarul Kalim, Abdul Wahid Amadi.

[6] Nahjul Balaghah, surat ke 53.

[7] Tafsir Majma’ul Bayan, Abu Ali Fadhl bin Hasan Thabrasi, tafsir surah Al Fushilat ayat 23; Ushul Al Kafi, Muhammad ibn Ya’qub Kulaini, jilid 2, halaman 72.

[8] Ghurarul Hikam wa Durarul Kalim, Abdul Wahid Amadi.

[9] Ibid.

[10] Mustadrakul Wasail, Husain Nuri, jilid 2, halaman 296.

[11] Bihar Al Anwar, Muhammad Baqir Majlisi, jilid 70, halaman 369.

[12] Nahjul Balaghah, khutbah 98.

[13] Mafatihul Jinan, Syaikh Abbas Qummi, doa ‘Arafah Imam Husain as.