Solusi tekanan jiwa: Kembali kepada fitrah dan hati nurani

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Ketenangan jiwa pada prinsipnya kembali kepada fitrah manusia. Fitrah adalah sesuatu yang alamiah pada diri manusia yang keberadaannya tidak terbatas pada obyek dan masa tertentu saja. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an bahwa penyakit-penyakit jiwa yang dialami oleh hamba-hamba pendosa berakar pada fitrah mereka. Oleh karena itu kembali kepada fitrah adalah cara terbaik menangani dan bahkan mengatasi tekanan jiwa. Dalam pembahasan fitrah penting sekali kita membahas beberapa masalah di bawah ini:

  1. Peranan fitrah dan syahwat
  2. Mengalirnya fitrah
  3. Kriteria-kriteria fitrah
  4. Fitrah, satu-satunya obat ketenangan jiwa
  5. Dampak-dampak melenceng dari fitrah

A. Peranan fitrah dan syahwat

Dalam ajaran Islam, manusia dapat menempuh salah satu di antara dua perjalanan: perjalanan naik ke atas yang disebut dengan as sair al ufuqi, yakni perjalanan yang dipimpin oleh akal dan fitrah (jiwa yang tenang); yang kedua perjalanan menurun kebawah yang disebut as sair an nuzuli, yang dipimpin oleh nafsu dan syahwat (jiwa yang sakit). Dalam diri manusia selalu berkecamuk dua dorongan antara mengikuti fitrah atau mengikuti syahwat. Saat seseorang memilih salah satu di antara keduanya, yang kedua itu tidaklah sirna, namun hanya melemah dan tersembunyi; pada saat-saat tertentu bisa jadi sisi yang terlupakan itu muncul kembali. Keduanya selalu bersifat seperti itu selamanya hingga akhir umur manusia. Tidak diragukan bahwa berat atau ringannya salah satu dari kedua itu dalam timbangan jiwa manusia memberikan dampak-dampak tertentu.

Imam Ali as. berkata:

“Allah swt. menciptakan para malaikat dan hanya memberi mereka akal. Lalu Allah swt. menciptakan binatang dan hanya memberi mereka syahwat tanpa memberi akal. Namun Allah swt. menciptakan manusia dengan memberi mereka akal sekaligus syahwat. Maka orang yang akalnya mengalahkan syahwatnya, ia lebih tinggi dari para malaikat dan orang yang syahwatnya mengalahkan akal, ia lebih rendah dari binatang.”[1]

Imam Ali as. membandingkan antara akal dan syahwat. Lalu tentang syahwat beliau berkata:

“Kesalahan-kesalahan yang mana merupakan syahwat, bagaikan kuda yang liar yang membawa penunggangnya kemana-mana dan melemparkannya ke dalam api neraka; dan ketakwaan adalah akal, bagaikan tunggangan yang jinak dan tenang yang membawa penunggangnya masuk ke dalam sorga abadi.”[2]

B. Mengalirnya fitrah

Kata fitrah pada awal mulanya disebutkan dalam Al Qur’an dan orang-orang Arab sebelumnya tidak mengetahui maknanya.[3] Fitrah sama seperti insting dan naluri, namun berada lebih tinggi darinya. Lebih dari itu, insting identik dengan perkara-perkara materi, namun fitrah identik dengan perkara-perkara maknawi dan manusiawi. Al Qur’an menjelaskan bahwa fitrah mengalir pada diri setiap manusia dan tetap padanya. Disebutkan: “Allah Tuhan kami yang telah memberikan nikmat keberadaan (telah menciptakan) kepada semuanya dan memberinya petunjuk menuju kesempurnaan.”[4] “Dan Dia yang telah memberikan kadar pada segalanya dan mengarahkannnya.”[5] “Ia yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.”[6] “Dan mengilhamkan padanya keburukan dan kebaikannya.”[7] “Ia telah menjelaskan jalan menuju sorga dan neraka dan juga jalan kebenaran serta kebatilan.”[8] “Ia telah memudahkan jalan petunjuk kepadanya.”[9] Perlu kita yakini bahwa Allah swt. tidak memaksakan surga dan neraka bagi manusia, manusia sendiri yang memilih jalan apa yang harus ditempuh.[10] Lalu Al Qur’an memerintahkan manusia untuk mengikuti fitrahnya:

“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang suci, yang mana fitrah telah diciptakan berdasarkan itu.”[11]

Islam disebut dengan hanif yang artinya adalah suci dan simbang (saat tubuh bertumpu pada titik di antara dua kaki).[12] Karena agama ini adalah agama keseimbangan, maka ketika seseorang bertentangan dengan fitrahnya dan ajaran agamanya berarti ia telah kehilangan keseimbangan batinnya dan tidak normal.[13] Menurut Al Qur’an, keluar dari jalur fitrah dan agama suci Ibrahimi ini adalah suatu bentuk penyakit jiwa yang disebut dengan kebodohan:

“Dan barang siapa enggan akan agama Ibrahim, maka tak lain ia telah membiarkan dirinya sendiri bodoh.”[14]

Dalam Tafsir Al Mizan disebutkan bahwa menolak agama Ibrahim as. sama seperti kebodohan dan tidak faham akan keuntungan dan kerugian bagi diri sendiri. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Akal adalah sesuatu yang dengannya Allah swt. disembah dan dengannya pula surga itu digapai.”[15]

C. Kriteria-kriteria fitrah

Fitrah memiliki banyak sekali kriteria yang di antaranya adalah:

  1. Bersifat umum

Fitrat bagi seluruh umat manusia sama. Oleh karena itu kita dapat menciptakan satu hukum global yang berlaku bagi semuanya. Sebagai contoh, kita harus memperlakukan orang lain dengan sebagaimana kita suka diperlakukan sedemikian rupa dan tidak boleh sebaliknya.[16] Rasulullah saw. juga bersabda:

“Bersikaplah kepada sesamamu sebagaimana kamu ingin disikapi seperti itu oleh mereka.”[17]

  1. Murni dan jauh dari polesan

Seorang anak kecil, selama ia tidak mempelajari sifat-sifat buruk seperti berbohong dari lingkungan sekitar dan keluarganya, mereka akan selalu berkata jujur. Rasulullah saw. mengibaratkan hati anak-anak kecil seperti ladang yang masih kosong dan benih apa saja yang ditebar di atasnya pasti akan tumbuh besar.[18] Dalam riwayat lainnya beliau bersabda:

“Setiap manusia dilahirkan pada fitrah yang suci, lalu orang tuam mereka lah yang menjadikannya pengikut Yahudi atau Masehi.”[19]

  1. Neraca kebaikan dan keburukan

Berdasarkan Al Qur’an, seseungguhnya manusia menyadari keadaan dirinya, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya.[20] Allah swt. telah menjelaskan jalan-jalan menuju surga dan neraka kepadanya.[21] Ia yang telah mengilhamkan kepadanya kebaikan dan keburukannya.[22] Ustad Muhammad Taqi Ja’fari menyebut fitrah sebagai neraca kebaikan dan keburukan, sebuah neraca yang menunjukkan jalan kepada manusia melalui empat tahapan:

  1. Pemahaman akan kebaikan dan keburukan
  2. Mewujudkan dorongan untuk berkembang
  3. Menyingkap dan memberikan aturan dalam rangka memenuhi dorongan-dorongan untuk berkembang menuju kesempurnaan
  4. Menunjukkan jalur menuju perkembangan dan jalur ketergelinciran

Fitrah yang ada di diri manusia dalam menimbang masalah bekerja dengan dua bentuk:  menimbang realita-realita berdasarkan fitrah yang jelas dan rasional serta mewujudkan reaksi emosional terhadap prilaku diri sendiri. Jadi fitrah memiliki dua dimensi emosional dan rasional yang mana keduanya digunakan untuk menimbang kebaikan dan keburukan.[23]

  1. Mencela diri sendiri saat berbuat salah

Karena fitrah bersifat condong kepada kesempurnaan, maka saat seseorang melenceng dari jalur menuju kesempurnaan dirinya secara alamiah akan merasakan penyesalan dan cacian terhadap diri sendiri. Al Qur’an menyebut keadaan fitrah ini dengan sebutan nafsul lawwamah (jiwa yang mencaci).[24] Dengan mekanisme pencacian terhadap diri sendiri, fitrah mendorong manusia untuk kembali kepada jalan yang benar. Dalam keadaan ini muncul kegelisahan dan tekanan jiwa dan terkadang tingkat keparahannya tinggi serta mendorong seseorang untuk bunuh diri.[25]

Penyesalan dan taubat nabi Adam as.,[26] keadaan Qabil setelah membunuh saudaranya,[27] penyesalan manusia di hari kiamat atas kawan-kawannya yang sesat,[28] adalah contoh-contoh yang diisyarahkan Al Qur’an dalam menggambarkan nafsul lawwamah.

D. Fitrah, satu-satunya obat ketenangan jiwa

Poin penting yang perlu disinggung dalam masalah kesehatan jiwa adalah tidak cukupnya dijalankannya satu atau dua ajaran agama saja dalam mencapai kebahagiaan. Manusia harus menjalankan semua ajaran Tuhan[29] agar ia dapat mencapai kebahagiaan abadi. Al Qur’an menyebut seluruh ajaran-ajaran suci Islam sebagai jembatan yang lurus (shiratul mustaqim).[30] Seorang manusia harus memiliki keimanan dan pandangan yang benar agar tidak melenceng dari jalan yang lurus,[31] karena jalan-jalan yang lain hanyalah jalan kesesatan. Sekumpulan ajaran-ajaran Al Qur’an adalah dzikrullah (dzikir dan mengingat Allah swt.). Menjalankan dan memperhatikan semua ajaran itu membuat manusia berada dalam ketentraman, ketenangan jiwa, pertumbuhan dan kedekatan kepada Allah swt.[32] Sebaliknya melenceng dari fitrah adalah kesesakan jiwa.[33] Al Qur’an menyebutkan bahwa shiratul mustaqim itu adalah jalan Allah yang lurus dan selain orang-orang yang beriman, beramal saleh, orang yang saling menasehati akan kebaikan dan kesabaran, adalah orang-orang yang merugi.[34]

E. Dampak-dampak melenceng dari fitrah

Orang yang melenceng dari fitrah bagaikan seekor laba-laba yang melilit diri dengan sarangnya sendiri, semakin banyak hal yang dilakukannya, kebingungan dan kesesatannya semakin jauh pula.[35] Berjalan di luar jalur fitrah adalah pelencengan yang besar dan membuat hati menjadi terhijabi, cacat, akal menjadi kalah nafsu memenangi.[36] Dalam keadaan ini akan timbul berbagai macam penyakit hati yang di antaranya adalah:

  1. Hati bagai besi yang berkarat

Imam Shadiq as. berkata:

“Dengan berbuat dosa, muncul satu titik hitam dalam hatinya yang mulanya putih bersih. Jika ia terus menerus berbuat dosa, maka titik hitam itu akan semakin banyak hingga seluruh hatinya menjadi hitam. Dalam keadaan ini hati seperti besi yang berkarat. Oleh karena itu Allah swt. berfirman: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya apa yang telah mereka lakukan telah menutupi hati mereka.”[37]

  1. Hijab yang menutupi hati

Hijab yang menutupi hati membuat manusia tidak dapat melihat hakikat-hakikat.[38] Mreka adalah orang-orang yang mata kepalanya terbuka namun mata hatinya buta.[39]

  1. Rasa takut yang sangat

Rasa takut yang sangat membuat seseorang lari dari peperangan yang diwajibkan Allah. Meskipun mereka nampaknya adalah orang yang bersatu dan bicaranya menarik, namun nyatanya mereka bercerai-berai dan tidak berguna. Al Qur’an berkata tentang orang-orang yang berpenyakit ini:

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang berada dalam kegelapan gulita lalu kilatan petir menyambar dan membuat mereka begitu takut akan kematian (mereka khawatir petir itu akan menyambar mereka).”[40]

“Rasa takut telah menguasai hati mereka… Kalian menyangka mereka bersatu, namun nyatanya hati-hati mereka bercerai-berai.”[41]

“Dhahir mereka terhiasi dan indah, perkataan-perkataan mereka juga menarik, namun kenyataannya mereka bagaikan kayu kering dan rapuh yang menyangga sebuah dinding.”[42]

[1] Wasailus Syiah, Allamah Hurr Amili, jilid 11, bab 9, hadis ke-2, halaman 164 (jihadun nafs).

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 5 dan 16.

[3] Fitrah, Murtadha Muthahari, halaman 29: “Ibnu Abbas berkata: “Makna fitrah sebelumnya aku tidak mengetahui hingga pada suatu hari aku melihat dua orang Arab Baduwi yang sedang berselisih akan sumur. Yang satu berkata ana fatartuha, yakni “aku yang telah menggali sumur itu”, dan yang satu juga berkata yang sama. Baru setelah itu aku mengerti arti fitrah.

[4] Thaha, ayat 50.

[5] Al A’la, ayat 3.

[6] Al ‘Alaq, ayat 5.

[7] As Syams, ayat 91.

[8] Al Balad, ayat 10.

[9] Abasa, ayat 20.

[10] Al Isra’, ayat 20.

[11] Ar Ruum, ayat 30.

[12] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 16, halaman 178.

[13] Ibid, jilid 5, halaman 112.

[14] Al Baqarah, ayat 30.

[15] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 1, halaman 300.

[16] Barresi e Moqademati Oshul e Ravanshenashi e Eslami, Sayid Abul Qasim Husaini, halaman 347: Bani Israil berkata kepada nabi Musa as.: “Tauratmu banyak sekali. Pilihlah sesuatu bagi kami yang memungkinkan untuk kami hafal.” Nabi Musa as. Berkata: “Berprilakulah kepada orang lain sebagaimana kamu ingin orang lain berprilaku seperti itu kepada kalian.” Ajaran ini dalam agama Kristen dikenal dengan ajaran emas.

[17] Tuhaful Uqul, Ibnu Syu’bah, halaman 40.

[18] Nahjul Fashahah, halaman 441.

[19] Tafsir Al Mizan, Sayid Muhammad Husain Thabathabai, jilid 16, halaman 187, menukil dari Bukhari dan Suyuthi.

[20] Al Qiyamah, ayat 14 – 15.

[21] Al Balad, ayat 10.

[22] As Syams, ayat 7 – 8.

[23] Wejdan (fitrah), Muhammad Taqi Ja’fari, halaman 192 – 194.

[24] Al Qiyamah, ayat 2.

[25] Ushul e Behdasht e Ravani (Prinsip-Prinsip Kesehatan Jiwa), Sayid Abul Qasim Husaini, halaman 252 – 256.

[26] Al Baqarah, ayat 35 – 37.

[27] Al Maidah, halaman 30 -31.

[28] Al Furqan, ayat 27 dan 28.

[29] Al Baqarah, ayat 85.

[30] Az Zukhruf, ayat 43.

[31] Ushul Al Kafi, Muhammad ibn Ya’qub Kulaini, jilid 1, halaman 43.

[32] Ar Ra’d, ayat 28: “Tidakkah dengan mengingat Allah maka hati-hati akan menjadi tentram?”

[33] Al An’am, ayat 125 – 126: “Ia menjadikan hatinya sesak dan berat seperti seorang yang sedang berada dalam ketingian.”

[34] Al Ashr, ayat 2 dan 3.

[35] Al Ankabut, ayat 41.

[36] Mafatihul Jinan, Syaikh Abbas Al Qummi, doa Shabah.

[37] Al Muthaffifin, ayat 14; Tafsir Nur At Tsaqalain, Ali ibn Jum’ah Arusi Huwaizi, jilid 2, halaman 101 – 103 dan jilid 6, halaman 153.

[38] Al Isra’, ayat 45 – 46: “Dan Kami jadikan di hati mereka sesuatu yang menutupi hingga mereka tidak bisa memahami dan juga Kami jadikan penghalang bagi pendengaran mereka.”

[39] Al Baqarah, ayat 18; Al Hajj, ayat 46; Thaha, ayat 124 – 126.

[40] Al Baqarah, ayat 19.

[41] Al Hasyr, ayat 2, 3, dan 14.

[42] Al Munafiqun, ayat 4.