Perbandingan sikap Imam Hasan as dan Imam Husain as terhadap musuh mereka

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Hasan bin Ali memilih berdamai dengan Muawiyah padahal ia memiliki banyak pasukan. Namun adiknya, Husain bin Ali memerangi Yazid padahal ia tidak memiliki banyak pasukan dan ia bisa berdamai. Pasti salah satu di antara mereka berdua salah. Syiah telah mengkafirkan sebagian pembesar Ahlul Bait, seperti Abbas dan anaknya Abdullah. Syiah juga membenci keturunan putri-putri nabi selain yang dari Fathimah dan berkata bahwa mereka bukanlah putri-putri nabi. Lalu mana kecintaan mereka terhadap Ahlul Bait?

Jawaban:

Ada dua pertanyaan yang tidak berkaitan satu sama lain dalam pertanyaan ini.

  1. Mengapa Hasan as berdamai sedangkan Husain as berperang?
  2. Syiah tidak mencintai sebagian Ahlul Bait nabi. Syiah meyakini bahwa ayat yang berbunyi: “Barang siapa di dunia ini buta maka di akhirat ia juga buta…” adalah diturunkan untuk Abbas. Syiah juga mengkafirkan Abdullah putra Abbas dan dalam kitab Al Kafi disebutkan bahwa Abdullah orang yang bodoh dan jahil.

Dalam Rijal Kasyi juga ditemukan bahwa dua anak Abbas yang bernama Abdullah dan Ubaidillah dilaknat.

Mengenai pertanyaan pertama, itu pun juga pernah ditanyakan sebelumnya, dan berkali-kali telah dijawab. Kondisi di setiap zaman tidaklah sama dan mungkin saja kondisi saat Imam Hasan menjadi Imam berbeda dengan kondisi saat adiknya menjadi Imam. Sebagaimaa kita lihat nabi telah berdamai dalam peristwia Hudaibiah. Dalam peristiwa itu sampai-sampai beliau bersedia kata “Rasulullah” dihapus dari samping namanya. Namun nabi yang telah berdaimai itu juga pada tahun berikutnya memerangi musyrikin Makkah dan memenangkannya.

Penanya adalah Salafi. Bukankah kaum Salafi menghormati para sahabat dan keluarga nabi? Hasan as dan Husain as adalah cucu kesayangan nabi dan begitu banyak pujian nabi tentang mereka dalam kitab-kitab riwayat.[1] Lalu layakkah orang yang mengaku Salafi berkata demikian tentang cucu nabi?

Mengenai riwayat yang mengatakan bahwa ayat di atas diturunkan mengenai Abbas, dan riwayat tersebut dinukil dalam Rijal Kashi[2] dan Ushul Kafi[3], saya ingin jelaskan bahwa Rijal Kashi menyebutkan bahwa sanad riwayat tersebut berujung pada Ja’far bin Ma’ruf dan ulama Rijal bersepakat bahwa Ja’far bin Ma’ruf tidak dapat dipercaya.[4]

Adapun riwayat yang dinukil dari Al Kafi, perawinya adalah Hasan bin Abbas bin Harish yang mana ulama Rijal pun menyebut mereka dha’if (lemah) dan riwayat-riwayatnya tidak berharga.

Jadi perawi riwayat di atas tidak dapat dipercaya. Oleh karenanya hadits itu tidak bisa dituduhkan sebagi keyakinan Syiah.

Penanya juga sempat menanyakan (namun saya tidak tulis pertanyaan itu) tentang Imam Ali as pernah berdoa, “Ya Tuhan, laknatlah kedua anak fulan..” dan yang dimaksud adalah Abdullah bin Abbas dan Ubaidillah bin Abbas. Saya jelaskan pula di sini bahwa riwayat tersebut dinukil oleh Muhammad bin Sanan yang mana ulama Rijal pun menyebutnya dha’if.[5]

Orang-orang yang menyusun pertanyaan-pertanyaan seperti ini sama sekali tidak memiliki niat mencari kebenaran, namun yang diinginkan hanya mewujudkan syubhat. Istilahnya mereka hanya menitik beratkan satu masalah namun melupakan masalah-masalah lainnya. Misalnya jika ada satu riwayat yang menjelekkan anak Abbas dalam Rijal Kashi, mereka sengaja tidak mau menyebutkan riwayat-riwayat lain yang ada di situ yang memuji ibnu Abbas.

Ulama Syiah dalam kitab-kitab Rijalnya menjelaskan keagungan dan keikhlasan Abdullah bin Abbas serta kecintaannya kepada Imam Ali as. Anda dapat merujuk kepada kitab Mu’jam Rijalul Hadits.[6]

Adapun mengenai apakah Zainab dan Ruqayah adalah anak kandung Rasulullah saw ataukah anak angkatnya, itu merupakan pembahasan sejarah yang tidak ada kaitannya dengan akidah Syiah maupun Wahabi.

[1] Fathul Bari, jilid 7, halaman 94, hadits 3749; Mustadrak Al Hakim, jilid 2, halaman 166; Musnad Ahmad, jilid 36, halaman 111, hadits 21777.

[2] Halaman 53.

[3] Jilid 1, halaman 247.

[4] Mu’jam Rijalul Hadits, jilid 10, halamn 235.

[5] Rijal Kashi, halaman 52.

[6] Mu’jam Rijalul Hadits, jilid 1, halaman 235.