Pengaruh buruk tekanan jiwa

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Efek dan pengaruh tekanan jiwa pada tubuh berbeda-beda sesuai dengan perbedaan sistim fisiologi. Efek-efek yang paling penting tekanan jiwa terhadap sistim-sistim fisiologi adalah sebagai berikut:

Pengaruhnya pada sistim urat syaraf

Sakit kepala yang sangat dan disertai rasa pusing, migrain, sakit kepala sebelah yang juga dirasakan pada kening, getaran pada tangan, kaki dan kelopak mata, gagap (susah berbicara) khususnya dalam keadaan marah, cederung tergesa-gesa, gemetarnya beberapa anggota tubuh, lemahnya tubuh secara keseluruhan, lumpuhnya tangan, kaki atau separuh badan, lesu serta lemasnya tangan dan kaki.

Pengaruhnya pada sistim pernafasan

Sinosit dan asma (sesak nafas).

Pengaruhnya pada sistim aliran darah

Mengerasnya pembuluh darah, gangguan jantung kronis, bertambahnya tekanan darah, jantung begitu cepat berdetak dan otot-ototnya melemah.

Pengaruhnya pada sistim pencernaan

Bengkak dan gangguan pada lidah, spasm (bengkak) pada kerongkongan, naiknya asam lambung dan maag, gangguan pada usus duabelas jari, pembengkakan pada usus dan disertai oleh pendarahan, muntah-muntah dan berkurangnya nafsu makan.

Efek-efek di atas pada sendirinya akan menimbulkan beberapa macam penyakit seperti berikut:

  1. Gangguan metabolisme

Goiter (penyakit yang disebabkan oleh membengkaknya kelenjar tiroid), diabetes, kegemukan dan kekurusan yang berlebihan, impotensi, batu ginjal dan gangguan-gangguan pertahanan tubuh (kelemahan tubuh dalam menciptakan antibody).

  1. Gangguan kulit

Gangguan jiwa dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kulit, seperti timbulnya jerawat, penyakit urtikaria, noda-noda putih pada kulit, dan masih banyak lagi.[1]

Stres dan depresi memiliki keterikatan yang sangat erat. Depresi merupakan dampak yang ditimbulkan oleh tekanan jiwa/stres dan tanda-tandanya dapat dilihat, seperti bergetar dan lain sebagainya.[2]

[1] Estress e Daemi (Stres Berkepanjangan), Pierre Lou & Hendri Lou, halaman 24 – 51.

[2] Ibid, halaman 107.