Kegiatan-kegiatan spiritual untuk kurangi stress

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Salah satu cara yang harus selalu kita gunakan untuk menghadapi masalah-masalah dalam mengarungi samudera kehidupan ini menguatkan sisi spiritual kita, yakni menjalin hubungan yang baik secara spiritual dengan sumber kekuatan, yaitu Allah swt. Usaha tersebut dapat dicapai dengan pendekatan diri kepada-Nya dengan cara-cara berikut ini:

  • Doa dan zikir

Doa adalah meminta pertolongan dari Allah sang pemilik kekuatan nirbatas. Saat manusia berdoa kepada Tuhannya, ia akan merasakan ketenangan dan berkobarnya api harapan. Ia juga dapat merasakan ada kekuatan besar di atasnya karena ia telah menyatukan hatinya dengan sang pemilik kekuatan yang tak terbatas. Apa lagi jika seorang manusia berada dalam kondisi penuh bahaya yang sedikit sekali kemungkinan ia selamat, saat itu juga fitrahnya menyeru agar ia bersimpuh dan berdoa agar Allah swt. menyelamatkannya.[1] Adapun kebalikannya, orang yang enggan berdoa dan mengingat Allah swt. akan mendapatkan kehidupan yang penuh kesengsaraan,[2] karena orang yang beriman dan selalu ingat Tuhan tidak memandang materi sebagai segala-galanya sehingga jika seandainya ia mengalami kerugian materi ia harus terkapar kesusahan dan kehilangan kesabaran.

Dalam berdoa, terjadi semacam jalinan batin antara seorang hamba dengan Tuhan, dan sering kali jalinan ini berbeda-beda tergantung dengan pelakunya. Di saat seseorang tidak bisa mencurahkan isi hatinya untuk mengadu meskipun kepada orang yang terdekat sekalipun, namun di hadapan Tuhan ia bebas mengadukan apa saja. Dengan demikian derita yang ia rasakan menjadi lebih ringan. Imam Ali as. berkata:

“Wahai yang nama-Nya adalah obat dan dzikir-Nya adalah kesembuhan.”[3]

  • Shalat

Shalat adalah meminta pertolongan kepada Allah swt. dengan adab-adab tertentu yang ia miliki. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa orang yang beriman hendaknya mencari pertolongan dari kesabaran dan shalat.[4] Banyak sekali penelitian yang telah dilakukan terhadap ritual-ritual peribadatan dalam berbagai mazhab dan terbukti bahwa ibadah dan doa memiliki dampak positif dalam diri manusia: dirasakannya ketenangan, semangat lebih besar untuk hidup, berkurangnya stres, jernihnya fikiran, sehatnya jiwa, dan seterusnya. Bahkan ibadah-ibadah semacam ini dapat dikategorikan sebagai obat penenang jiwa yang ampuh.[5] Shalat dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi seorang hamba karena:

  1. Ketika seorang hamba berdiri untuk menjalankan ibadah shalat, pikiran dan ingatannya akan terpalingkan dari kesusahan dan tekanan yang sedang dialaminya, hatinya hanya terfokus kepada Tuhan. Ketika seseorang tidak hanyut dalam perasaan sedih dalam menghadapi permasalahan, saat itu itu juga beban permasalahan tersebut akan terasa lebih ringan baginya.
  2. Dalam shalat terjadi jalinanan perasaan antara seorang hamba dengan Tuhannya dan ikatan inilah yang menciptakan kekuatan dalam hatinya sehingga ia dapat merasakan ketenagan.
  3. Shalat memiliki adab-adab yang dapat mengantar jiwa manusia ke alam ketenangan.
  4. Memahami dan menghayati setiap dzikir yang dibaca di dalamnya, khususnya ayat yang berbunyi “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya pada-Mu kami minta pertolongan”, ayat yang mengilhamkan tekat pada diri kita untuk tidak pernah tunduk dan menyembah selain Allah swt.[6]

Tingginya ketenangan jiwa seseorang yang menghayati shalat dan hanyut dalam cinta Ilahi tidak dapat digambarkan dengan mudah. Pada suatu hari Abu Darda’ bercerita:

“Beberapa saat sebelum fajar menyingsing, aku melihat Imam Ali as. di tempat ibadahnya tergeletak di atas tanah. Aku mendekatinya dan menggerakkan tubuhnya, namun aku lihat ia tidak bergerak sedikitpun. Aku bergegas ke rumahnya dan memberikan kabar ini kepada istri beliau, Fathimah Az Zahra. Sesampai di rumah putri nabi itu bertanya, “Siapakah kamu?” Aku menjawab, “Aku adalah Abu Darda’, pembantumu.” Ia bertanya: “Ada apakah gerangan?” Aku menjawab, “Aku menemukan imam Ali as. tergeletak meninggal dunia dalam keadaan beribadah!” Namun mendengar itu Fathimah Az Zahra hanya menanggapi, “Biarkan saja, memang ia seperti itu saat beribadah karena begitu takut akan Allah swt.”[7]

Sebuah contoh menarik lainnya adalah dicabutnya sebatang anak panah dari tubuh Imam Ali as. saat ia berada dalam keadaan shalat tahajjud. Dalam keadaan itu karena shalatnya yang begitu dalam dan khusyu’ ia tidak merasakan sakitnya anak panah dicabut dari tubuhnya.[8]

Elexis Carl mengakui bahwa shalat adalah pembawa ketenangan dan ketentraman maknawi dan keadaan inilah yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang sedang berhadapan dengan tekanan jiwa. Tak jarang orang-orang mendapatkan kesembuhannya di tempat mereka beribadah. Sertbut seorang psikolog Inggris sependapat dengan William James tentang shalat dan ia berkata:

“Dengan sholat kita bisa mencapai segunung kebahagiaan yang mana kita tidak akan bisa mencapainya lagi kecuali dengan cara itu”[9]

  • Bertawasul

Salah satu keyakinan yang dimiliki oleh umat Islam adalah tawasul. Tawasul adalah salah satu cara seseorang melampiaskan beban perasaan dalam hatinya. Keyakinan akan tawasul (bahwa para hamba-hamba yang terdekat dengan Tuhan dapat membantu kita—pent.) membuat kita merasa yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah kehendak Allah swt. (yakni tauhid af’ali) dan para wali-wali-Nya adalah perantara-Nya dalam mencurahkan rahmat dan karunia, di samping itu perkataan mereka juga didengar oleh Tuhan, dan mereka juga bisa memberikan syafaat dengan izin-Nya.[10] Oleh karena itu saat kita sedang berada dalam kesusahan, kita disarankan untuk bertawasul kepada mereka, menjadikan mereka sebagai perantara turunnya rahmat dari sisi Allah swt. Kenyataan ini telah terbukti, banyak sekali hamba-hamba Allah swt. yang bersimpuh mengadu kepada mereka dan mereka pun mendapatkan bantuan dan hajat-hajatnya terpenuhi. Bertawasul dapat menguatkan kadar tawakal (penyerahan diri kepada Allah swt.) seseorang. Dengan menjalin hubungan dengan wali-wali Alalh swt. yang memiliki kedudukan tinggi di sisi-Nya dan juga memiliki pengaruh dalam pengaturan alam semesta, dapat membuat kita merasa tentram dan tidak kesepian.[11]

  • Ziarah ke tempat-tempat suci

Ibadah yang dilakukan secara bersama-sama dapat dipastikan memiliki pengaruh tersendiri dalam mengurangi tekanan jiwa pada seseorang. Kegiatan seperti ini telah ada jauh sebelum Islam, bahkan jauh sebelum sejarah dicatat. Mereka bersama-sama berkumpul dan menciptakan satu rasa dan perasaan, saling dekat satu samalain, saling membagi kebahagiaan dan mencurahkan kesedihan, yang mana dengan demikian rasa sakit yang mereka rasakan dengan sendirinya akan berkurang. Salah satu kegitatan yang seperti itu adalah berziarah bersama-sama. Saat ini pun kita dapat melihat fenomena ini, orang-orang berkumpul dengan pakaian rapi, bersih, wangi, beribadah bersama dengan khusyu’ dan penghayatan. Dengan mengingat esensi yang dimiliki ajaran ini, kesucian dan keagungannya dapat terlihat dengan jelas.[12]

Dalam agama Islam, terdapat berbagai tempat suci seperti kota Makkah, Madinah, Atabat, Masyhad, Qom, Goa Hira, Sumur Zamzam, Mina, Arafah, Shafa, Marwa, dan masih banyak lagi, yang mana merupakan tempat berziarahnya hamba-hamba Allah; yang sebagian dari itu adalah wajib, dan sebagian lainnya disunahkan namun penuh penekanan dalam menjalankannya.

Ziarah adalah mengikat janji, bertumpu pada tauhid dan menyatukan jiwa dengan kebenaran wahyu. Ziarah adalah baiat dan sumpah setia kepada para imam, para wali Allah swt. yang terdekat dengan-Nya.

Dalam agama Islam, khususnya mazhab Syi’ah, ziarah begitu ditekankan kepada para pemeluknya. Berziarah ibaratnya seseorang sedang berada di rumah orang yang dicintainya, orang yang memahami sakit dan deritanya. Di situ ia mengadukan permasalahannya. Di rumah itu ia merasa tentram karena ia merasa tidak sendiri lagi dan sedang berada di bawah naungan rahmat dan kekuatan Allah swt. Al Marhum Naraqi menulis:

“Arwah-arwah kudus yang memiliki kekuatan tersendiri, khususnya arwah para nabi, para imam dan para wali Allah swt., setelah terbebas dari kurungan jasad ini, terbang menuju alam tajarrud. Di alam itu mereka berada di ujung ufuk tertinggi yang mana pengetahuan mereka dapat menjangkau segala hal yang ada di dunia. Apa yang terjadi di dunia dapat dengan jelas mereka saksikan. Mereka juga memiliki pengaruh dengan izin Allah atas urusan-urusan dunia. Mereka menyaksikan orang-orang yang berziarah kepada mereka. Mereka faham dengan jelas apa yang diinginkan peziarahnya. Kemudian dengan ziarah itu Allah menghantarkan angin rahmat kepada mereka, memenuhi kebutuhan, memaafkan dosa dan menjauhkan mereka dari kesusahan. Arwah-arwah suci itu dengan izin-Nya dapat memberikan syafaat untuk mereka. Inilah rahasia mengapa ziarah nabi dan para imam begitu ditekankan.”[13]

Selama ini dan sampai kapanpun ziarah terbukti memiliki efek dalam memberikan pemecahan permasalahan dan perubahan dalam kehidupan.

[1] Yunus, ayat 22: “Dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata.”

[2] Mafatihul Jinan, doa Kumail

[3] Ibid.

[4] Al Baqarah, ayat 45 dan 153: “Dan carilah pertolongan (dari Allah) melalui perantara sabar dan shalat. Sesungguhnya yang seperti itu adalah berat kecuali bagi orang-orang yang takut pada Tuhannya.”

[5] Naqsh e Din dar Behdasht e Ravan, sekumpulan makalah hal 286.

[6] Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 2, halaman 761.

[7] Al Amali, Syaikh Thusi, majelis ke-18.

[8] Olguhaye Raftari e Emam Ali, Muhammad Dashti, halaman 342.

[9] Naqsh e Din dar Behdasht e Ravan, sekumpulan makalah halaman 106.

[10] Mafatihul Jinan, doa ziarah Jamiah Kabirah.

[11] Ravanshenashi e Salamat, M. Robin Dimato, jilid 2, halaman 762.

[12] Naqsh e Din dar Behdasht e Ravan, sekumpulan makalah, halaman 128 – 131, menukil dari Will Durant: Sejarah Peradaban.

[13] Jami’us Sa’adat