Jika Imam Ali as tahu ia tidak akan mati saat menggantikan nabi di tempat tidurnya lalu apa istimewanya?

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Saat Rasulullah saw berhijrah menuju Madinah, ia membawa Abu Bakar bersamanya. Ia juga memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di ranjangnya untuk menggantikannya. Jika Ali sendiri tahu bahwa ia tidak akan terbunuh di situ, sedang Abu Bakar berada dalam bahaya jiwanya dan jiwa nabinya, manakah yang lebih utama, Abu Bakar atau Ali?

Jawaban:

Rasulullah saw tidak bertujuan membagi sahabatnya menjadi dua kelompok: ada yang ikut dengannya, dan ada yang ditinggalkannya.

Pada dasarnya tidurnya Ali bin Abi Thalib di ranjang nabi adalah bentuk pengorbanan yang sangat besar. Tidak satupun yang mau melakukan tugas itu. Saat Ali tidur di ranjang nabi, semua orang akan mengira bahwa nabi ada di situ dan tidak pergi meningalkan Makkah. Bahkan sampai-sampai ayat Al Qur’an turun mengenai keberanian Ali:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”[1]

Oleh karena itu tidak masuk akal jika pengorbanan Ali bin Abi Thalib tidak dapat diberi nilai yang tinggi. Apa lagi jika kita simpulkan bahwa nabi tidak mementingkan jiwa Ali.

Ungkapan anda tentang Ali tahu bahwa ia tidak akan terbunuh sama sekali tidak berdasar. Yang tercatat dalam sejarah sebenarnya adalah seperti ini: seusai malam Hijrah, Ali bersama Hind bin Abi Halah di pertengahan malam mendatangi Rasulullah. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka: orang-orang kafir kini tidak akan bisa mengganggu kalian.[2] Ucapan dan keyakinan Rasulullah saw mengenai keamanan tersebut berkaitan dengan malam kedua atau ketiga, bukannya malam pertama.[3]

[1] Al Baqarah, ayat 207; Usdul Ghabah, jilid 4, halaman 25; Mustadrak Hakim, jilid 3, halaman 133; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 330.

[2] Ucapan tersebut pernah ditukil oleh Ibnu Hisyam Thabari dan Ibnu Atsir.

[3] Forugh e Abadiyat, jilid 1, halaman 428-429