Apakah menurut Syiah ada ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihapus?

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Mengapa orang-orang Syiah meyakini bahwa ada ayat-ayat tertentu yang telah dihapus dari Al Qur’an? Bahkan mereka menuduh Abu Bakar dan Umar telah merubah-rubah ayat Al Qur’an?!

Jawaban:

Apa bukti anda mengatakan Syiah meyakini ada ayat Al Qur’an yang telah dihapus? Sama sekali tidak ada keyakinan seperti itu di dalam Syiah. Coba anda merujuk kitab akidah kami yang tertua seperti ‘Aqaidul Imamiyah yang disusun oleh Syaikh Shaduq; anda akan menyadari hal yang sebenarnya.

Bahkan dari sejak sebelum masa Syaikh Shaduq, Fadhl bin Syadzan (260 H.) menegaskan bahwa keyakinan terhadap terubahnya Al Qur’an adalah keyakinan para penentang Syiah. Ia menekankan bahwa Al Qur’an benar-benar terjaga dari segala perubahan, pengurangan atau penambahan.

Penanya hanya dengan membaca sebuah riwayat lalu dengan mudahnya berkata bahwa Syiah meyakini tahrif Al Qur’an. Padahal setiap apa yang ada dalam riwayat kami bukan berarti itu juga akidah kami. Anda harus membaca akidah kami dari kitab-kitab akidah yang bertumpu pada tafsiran-tafsiran Al Qur’an yang benar, hadits-hadits mutawatir, dan juga akal. Dan sama sekali tidak ada keyakinan sedemikian rupa dalam kitab-kitab akidah Syiah.

Pasti riwayat yang anda baca itu salah anda fahami. Riwayat tersebut tidak menjelaskan kurang atau bertambahnya ayat Al Qur’an, namun penafsiran dan penjelasan Al Qur’an, semacam asbab nuzul. Seperti inilah jika anda tidak memahami riwayat Ahlul Bait; anda mengira penjelasan-penjelasan tersebut bagian dari Al Qur’an, padahal tidak.

Inilah riwayat yang dijadikan andalan oleh sang penanya:

  1. Dalam Ushul Al Kafi dalam tafsir ayat Dzarr disebutkan:

“…dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?… “[1]

Lalu setelah itu ada kalimat tambahan “Bahwa Muhammad adalah utusan-Ku dan Ali adalah pemeritah orang-orang yang beriman?”

Jawabannya, anggap saja riwayat ini memang benar. Namun itu tidak berarti kalimat tambahan tersebut merupakan bagian dari ayat Al Qur’an. Kalimat tersebut hanya ingin menafsirkan bahwa di alam Dzarr tersebut umat manusia juga telah diperintahkan untuk mengimani Rasulullah saw dan Imam Ali as.

  1. Dalam sebuah hadits yang lain yang berkenaan dengan sebuah ayat tentang nabi disebutkan:

“…maka orang-orang yang beriman kepadanya,” lalu ada kata-kata: “yakni kepada Imam,” kemudian ayat dilanjutkan: “memuliakannya, menolongnya…”[2]

Jawabannya, jika anda mengkaji riwayat tersebut dari awal sampai akhir, anda akan menyadari bahwa saat itu Rasulullah saw memang ingin menjelaskan kedudukan Imam Ali as yang akan menjadi pengganti sepeninggal beliau nanti. Lalu beliau kembali mengingatkan, “Orang-orang yang beriman adalah orang yang mengimani nabinya lalu membantunya (memberinya dukungan).”

Iman kepada nabi adalah iman kepada apapun yang diturunkan kepadanya; dan jelas salah satu hal yang diturunkan kepada beliau adalah perkara Imamah Imam Ali as dan keturunannya.

Jadi penggalan kata itu adalah penekanan terhadap keyakinan agama sebagai penjelas ayat Al Qur’an, bukan sebagai ayat Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu salah jika dikira Syiah menambah ayat Al Qur’an.

  1. Dalam sebuah hadits, dalam menafsirkan ayat yang berbunyi “bagai kegelapan-kegelapan”, Imam menjelaskan bahwa kegelapan-kegelapan tersebut adalah fulan, fulan dan fulan. Telah ditukil riwayat tersebut dari tafsir Ali bin Ibrahim, yang mana sanadnya sangat bermasalah. Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa itu bukanlah tulisan Ali bin Ibrahim, namun seseorang yang bernama Abbas bin Muhammad; ia adalah seorang yang tak dikenal. Ia pun menukilnya dari dua orang yang bernama Ali bin Ibrahim dan Ziyad bin Mundzir, yang dikenal dengan Abil Jarud.

Apa yang ditukil dari Ali bin Ibrahim semua berkenaan dengan surah Al Fathihah, Al Baqarah dan sebagian dari surah Ali Imran. Adapun surah Ali Imran ayat 45 hingga akhir ditukil dari Ziyad bin Mundzir yang dikenal dengan Abil Jarud, dan kebetulan ayat tersebut yang mana berada dalam surah An Nur, berkaitan dengan bagian riwayat yang mana perawinya adalah Ziyad bin Mundzir.

Dengan demikian, hadits tersebut tercantum pada kitab yang tidak dikenal penulisnya, dan sanadnya pun sangat bermasalah, yakni sanadnya tersambung pada Zaid Ja’fi yang mana Najashi menyebutnya sebagai orang yang sering mencapur aduk antara riwayat yang sahih dan tidak.[3]

Apakah dapat dibenarkan anda menuduh Syiah dengan sebuah tuduhan yang berasal dari riwayat seperti ini?

Penanya juga dalam kelanjutan pertanyaannya berkata: Imam di akhir ayat menjelaskan tentang “Orang-orang yang beruntung” demikian: “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi pemerintah zalim dan tidak menyembah mereka. Mereka adalah fulan, fulan dan fulan.”

Sebenarnya apa masalah riwayat ini? Imam hanya menjelaskan siapakah “pemerintah zalim” (taghut) itu yang beberapa di antara mereka adalah tiga orang yang disebutnya. Apakah ini termasuk tahrif dan perubahan Al Qur’an?

Tahrif adalah menambahkan dan mengurangi ayat Al Qur’an, bukan menafsirkan ayat-ayatnya.

Kalau hanya karena ada penggalan kata-kata penafsiran di tengah-tengah Al Qur’an anda menyebutnya sebagai tahrif, lalu bagaimana dengan riwayat ini: Dalam Shahih Muslim Aisyah menukilkan ayat yang berbunyi: “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha…” lalu ditambahinya, “shalat Ashar”.[4]

[1] Al A’raf, ayat 172.

[2] Al A’raf, ayat 157.

[3] Adz Dzari’ah ila Tashanif As Syiah, jilid 4, bagian Tafsir Ali bin Ibrahim; Kulliyyat fi Ilmi Ar Rijal, halaman 228.

[4] Shahih Muslim, bab Dalil orang yang berkata bahwa Shalat Wustha adalah shalat Ashar, jilid 1, halaman 37-448.