Antara Qadha dan Qadar dengan tekanan jiwa

Perhatian

Jika Anda mengcopy tulisan yang ada di Hauzah Maya, mohon cantumkan sumbernya atau link yang mengarahkan kembali ke situs ini.

Salah satu cara terbaik yang diajarkan Islam untuk menghadapi tekanan jiwa adalah keyakinan akan Qadha dan Qadar. Dalam pandangan ini, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang bersifat kebetulan, dan segalanya berada dalam pengaturan Allah swt. Seorang yang beriman, meskipun ia meyakini bahwa tidak ada jabr (yakni segala perbuatan yang kita lakukan kita lah yang bertanggung jawab) dalam hidup ini, tetap berkeyakinan bahwa Allah swt. adalah suber segala gerak dan efek serta Ia lah pencipta semua maujud.[1] Dengan pola pikir seperti ini, seorang manusia tidak akan berhadapan dengan jalan buntu dalam hidupnya, segala musibah yang menimpa adalah atas kehendak-Nya dan segala perkara telah ditakdirkan-Nya.

Imam Ali as. berkata:

“Segala perkara mengikuti qadha dan qadar. Mati dan hidup manusia ada dalam pengaturan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak boleh hanya bersandar pada pemikirannya saja (tanpa mengingat adalanya qadha dan qadar).”[2]

Oleh karena itu, orang-orang yang beriman selalu mengembalikan segala urusannya kepada kehendak Allah;[3] ketika mereka mengambil keputusan, mereka bertawakal[4] lalu berusaha, dan mereka tidak pernah takut akan kegagalan:

“Katakanlah: apakah kalian mengharap dari kami selain dari dua kebaikan (kemenangan atau kesyahidan)?”[5]

Dalam pandangan orang-orang yang beriman, kegagalan secara materi memiliki banyak hikmah, yang salah satunya mungkin agar menjadi wasilah dan perantara kesuksesan-kesuksesan lainnya. Rasulullah saw. bersabda:

“Sungguh menakjubkan, Allah swt. tidak mentakdirkan kebahagiaan dan kesusahan bagi seorang yang beriman melainkan ada kebaikan di dalamnya untuknya. Saat Ia menguji hambanya dengan kesusahan, itu adalah untuk menghapus dosa-dosanya; adapun jika mencurahkan karunia dan kesenangan, maka itu adalah rahmat dari-Nya.”[6]

[1] Al Kahf, ayat 39.

[2] Nahjul Balaghah, hikmah 16.

[3] Al Kahf, ayat 23.

[4] Ali Imran, ayat 159.

[5] At Taubah, ayat 52.

[6] Tuhaful ‘Uqul, Ibnu Syu’bah, halaman 47.