Perbandingan sikap Imam Hasan as dan Imam Husain as terhadap musuh mereka

Hasan bin Ali memilih berdamai dengan Muawiyah padahal ia memiliki banyak pasukan. Namun adiknya, Husain bin Ali memerangi Yazid padahal ia tidak memiliki banyak pasukan dan ia bisa berdamai. Pasti salah satu di antara mereka berdua salah. Syiah telah mengkafirkan sebagian pembesar Ahlul Bait, seperti Abbas dan anaknya Abdullah. Syiah juga membenci keturunan putri-putri nabi selain yang dari Fathimah dan berkata bahwa mereka bukanlah putri-putri nabi. Lalu mana kecintaan mereka terhadap Ahlul Bait?

Jawaban:

Ada dua pertanyaan yang tidak berkaitan satu sama lain dalam pertanyaan ini.

  1. Mengapa Hasan as berdamai sedangkan Husain as berperang?
  2. Syiah tidak mencintai sebagian Ahlul Bait nabi. Syiah meyakini bahwa ayat yang berbunyi: “Barang siapa di dunia ini buta maka di akhirat ia juga buta…” adalah diturunkan untuk Abbas. Syiah juga mengkafirkan Abdullah putra Abbas dan dalam kitab Al Kafi disebutkan bahwa Abdullah orang yang bodoh dan jahil.

Dalam Rijal Kasyi juga ditemukan bahwa dua anak Abbas yang bernama Abdullah dan Ubaidillah dilaknat.

Mengenai pertanyaan pertama, itu pun juga pernah ditanyakan sebelumnya, dan berkali-kali telah dijawab. Kondisi di setiap zaman tidaklah sama dan mungkin saja kondisi saat Imam Hasan menjadi Imam berbeda dengan kondisi saat adiknya menjadi Imam. Sebagaimaa kita lihat nabi telah berdamai dalam peristwia Hudaibiah. Dalam peristiwa itu sampai-sampai beliau bersedia kata “Rasulullah” dihapus dari samping namanya. Namun nabi yang telah berdaimai itu juga pada tahun berikutnya memerangi musyrikin Makkah dan memenangkannya.

Penanya adalah Salafi. Bukankah kaum Salafi menghormati para sahabat dan keluarga nabi? Hasan as dan Husain as adalah cucu kesayangan nabi dan begitu banyak pujian nabi tentang mereka dalam kitab-kitab riwayat.[1] Lalu layakkah orang yang mengaku Salafi berkata demikian tentang cucu nabi?

Mengenai riwayat yang mengatakan bahwa ayat di atas diturunkan mengenai Abbas, dan riwayat tersebut dinukil dalam Rijal Kashi[2] dan Ushul Kafi[3], saya ingin jelaskan bahwa Rijal Kashi menyebutkan bahwa sanad riwayat tersebut berujung pada Ja’far bin Ma’ruf dan ulama Rijal bersepakat bahwa Ja’far bin Ma’ruf tidak dapat dipercaya.[4]

Adapun riwayat yang dinukil dari Al Kafi, perawinya adalah Hasan bin Abbas bin Harish yang mana ulama Rijal pun menyebut mereka dha’if (lemah) dan riwayat-riwayatnya tidak berharga.

Jadi perawi riwayat di atas tidak dapat dipercaya. Oleh karenanya hadits itu tidak bisa dituduhkan sebagi keyakinan Syiah.

Penanya juga sempat menanyakan (namun saya tidak tulis pertanyaan itu) tentang Imam Ali as pernah berdoa, “Ya Tuhan, laknatlah kedua anak fulan..” dan yang dimaksud adalah Abdullah bin Abbas dan Ubaidillah bin Abbas. Saya jelaskan pula di sini bahwa riwayat tersebut dinukil oleh Muhammad bin Sanan yang mana ulama Rijal pun menyebutnya dha’if.[5]

Orang-orang yang menyusun pertanyaan-pertanyaan seperti ini sama sekali tidak memiliki niat mencari kebenaran, namun yang diinginkan hanya mewujudkan syubhat. Istilahnya mereka hanya menitik beratkan satu masalah namun melupakan masalah-masalah lainnya. Misalnya jika ada satu riwayat yang menjelekkan anak Abbas dalam Rijal Kashi, mereka sengaja tidak mau menyebutkan riwayat-riwayat lain yang ada di situ yang memuji ibnu Abbas.

Ulama Syiah dalam kitab-kitab Rijalnya menjelaskan keagungan dan keikhlasan Abdullah bin Abbas serta kecintaannya kepada Imam Ali as. Anda dapat merujuk kepada kitab Mu’jam Rijalul Hadits.[6]

Adapun mengenai apakah Zainab dan Ruqayah adalah anak kandung Rasulullah saw ataukah anak angkatnya, itu merupakan pembahasan sejarah yang tidak ada kaitannya dengan akidah Syiah maupun Wahabi.

[1] Fathul Bari, jilid 7, halaman 94, hadits 3749; Mustadrak Al Hakim, jilid 2, halaman 166; Musnad Ahmad, jilid 36, halaman 111, hadits 21777.

[2] Halaman 53.

[3] Jilid 1, halaman 247.

[4] Mu’jam Rijalul Hadits, jilid 10, halamn 235.

[5] Rijal Kashi, halaman 52.

[6] Mu’jam Rijalul Hadits, jilid 1, halaman 235.

Bukankah keyakinan Syiah tentang Bada’ membuktikan mereka yakin para Imam lebih tinggi dari Tuhan

Bada’ termasuk kepercayan dan akidah Syiah, padahal di sisi lain mereka meyakini para Imam mengetahui ilmu ghaib. Apakah para Imam lebih tinggi dari Tuhan?

Jawaban:

Pertanyaan di atas diutarakan berdasarkan sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh Nashir Qafari, yang termasuk sekongkol Salafi.

Kitab tulisan Syaikh Qafari penuh dengan tuduhan yang tidak berdalil terhadap Syiah, yang tentunya ia belajar dari gurunya, Ibnu Taimiyah. Pantas di dalam penuh dengan tuduhan yang tidak masuk akal. Sebagai contoh saya jelaskan beberapa di antaranya; Ia menulis, “Di Iran Imam Khumaini menambahkan namanya sebelum dua syahadat dalam adzan.”[1]

Saya heran mengapa penanya hanya membaca buku orang seperti ini.

Penanya bertanya tentang bada’, lalu berkata bahwa Syiah meyakini bada’; kemudian secara mengherankan ia menyimpulkan bahwa Syiah menganggap para Imamnya lebih tinggi dari Tuhan. Nalar apakah yang telah digunakannya hingga berdalih seperti ini?

Saya akan menjelaskan kedua masalah di atas:

Pertama, bada’ yakni seorang manusia merubah nasib baiknya karena telah melakukan perbuatan buruk. Begitu juga, manusia dapat merubah nasib buruknya dengan melakukan amal perbuatan baik. Allah swt berfirman: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”[2]

Seorang ahli hadits besar dari kalangan Ahlu Sunah, Jalaluddin Suyuthi dalam kitabnya Ad Durr Al Mantsur, dalam menafsirkan ayat tersebut membawakan beberapa riwayat dari nabi yang intinya manusia dapat merubah sebagian dari nasib yang telah ditakdirkan Tuhan dengan melakukan amal perbuatan baik, misalnya berbuat baik kepada orang tua, atau bersedekah, dan lain sebagainya. Misalnya salah satu hadits yang ia bawakan seperti “Sedekah dapat menolak bala’.”[3]

Bada’ dengan pengertian seperti ini dapat diterima oleh semua Muslimin. Bada’ bukan berarti Tuhan tidak tahu akan takdir hambanya. Sebagai contoh, kaum nabi Yunus telah ditakdirkan untuk menerima adzab karena pertentangannya. Nabi mereka telah memberitahukan mereka bahwa Tuhan hendak mengadzab mereka, beliau pun pergi meninggalkan kawasan yang mereka tinggali itu dan menjauhinya. Namun ternyata mereka menyesal, mereka mendengar perkataan seseorang lalu mereka bersama-sama pergi gurun dan meratapi dosa mereka serta maningisinya. Allah swt menerima taubat mereka dan akhirnya Ia tidak menurunkan siksaan-Nya. Kisah ini disebutkan dalam ayat yang berbunyi:

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.”[4]

Mengenai peristiwa tersebut dapat dikatakan bahwa Tuhan pada mulanya hendak menurunkan adzab kepada umatnya. Namun terjadi bada’ dan Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan. Ungkapan ini hanya berlaku bagi manusia sendiri, bukan bagi Tuhan; yakni, dari sudut pandang manusia Tuhan tidak jadi menurunkan siksaan-Nya karena umatnya telah bertaubat; namun dari sudut pandang Tuhan, Ia sejak awal sudah tahu bahwa mereka akan bertaubat. Lalu mengapa kita menggunakan istilah bada’? Alasannya karena nabi dulu pernah menggunakan istilah tersebut, dan Bukhari pernah menukilnya dalam Shahih nya.[5]

Ada satu hal menarik, Wahabi sendiri dalam membahas “bertawasul kepada amal saleh” mereka menukilkan hadits bada’. Rasulullah saw bersabda:

“Ada tiga orang yang lari ke goa karena menghindar dari hujan. Tiba-tiba jatuh reruntuhan batu yang akhirnya menutup pintu goa. Mereka saling berbicara satu sama lain dan berkata, “Sungguh demi Tuhan, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian selain kejujuran. Siapapun di antara kalian yang pernah melakukan amal kebaikan, maka mintalah kepada tuhan untuk menyelamatkan kita dari kematian atas kehormatan amal tersebut.”…”

Bada’ tidak dapat diartikan sebagai kebodohan Tuhan. Karena Tuhan Maha Suci dari sifat yang sedemikian. Kita sebagai manusia yang memiliki sudut pandang terbatas melihat seolah fenomena yang sudah ditakdirkan Tuhan berubah-ubah. Saat dikatakan “terjadi bada’ bagi Tuhan”, itu hanyalah ungkapan emosional saja, tidak bisa dikaitkan secara hakiki dengan ilmu yang Tuhan miliki. Karena Tuhan sejak semulanya mengetahui segala sesuatu dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi; kita yang tidak tahu.

Oleh karena itu, bada’ tidak bertentangan dengan ke-Maha Tau-an Tuhan.

Jadi, jika kami meyakini bahwa Imam-Imam maksum memiliki ilmu ghaib, itu bukan berarti mereka lebih tinggi dari Tuhan; ilmu mereka adalah ilmu yang diberikan Tuhan, itupun terbatas; sedangkan ilmu sebenarnya yang dimiliki Tuhan tidaklah terbatas. Ilmu para Imam adalah karunia, sedang ilmu Tuhan adalah ilmu dari dzat-Nya sendiri.

[1] Ushul Madzah Asy Syiah, jilid 3, halaman 154.

[2] Ar-Ra’d, ayat 39.

[3] Ad Durr Al Mantsur, jilid 6, halaman 661.

[4] Yunus, ayat 98.

[5] Shahih Al Bukhari, jilid 4, halaman 172, Kitab Ahadits Al Anbiya’, hadits nomor 3465, dan Kitab Al Buyu’, hadits nomor 2215.

Para sahabat nabi adalah manusia-manusia terbaik; mengapa Syiah mencaci mereka?

Secara alami dan dalam sejarah telah terbukti bahwa sahabat-sahabat nabi adalah orang-orang terbaik yang pernah ada di masa itu. Lalu mengapa Syiah menuduh para sahabat sebagai kafir?

Jawaban:

Jika anda bertanya kepada para pengikut agama nabi Musa as, tentang siapakah sahabat-sahabat nabi terbaik yang mereka kenal? Mereka akan menjawab, “Para sahabat Musa as.” Padahal kita sering membaca dalam Al Qur’an tentang apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabat Musa as saat beliau tidak ada. Bukankah mereka telah murtad di belakang nabi Musa as? Sebagai gantinya Tuhan, mereka menyembah anak sapi.

Nabi Musa as mengajak sahabat terbaiknya dari Bani Israil ke miqat namun karena sifat keras kepala yang dimilikinya, beliau menyebutnya umat yang paling tolol. Ia bertanya kepada Tuhan karena perbuatan tolol sahabatnya itu, “Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?”[1]

Al Qur’an telah menjelaskan sebagian dari sahabat-sahabat nabi Musa as:

“Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya.”[2]

Bahkan Allah swt pernah mencela seluruh sahabat nabi Musa as secara keseluruhan:

“Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.”[3]

Jika anda bertanya kepada pengikut Injil tentang sahabat siapakah yang paling setia? Mereka pasti menjawab sahabat nabi Isa as.

Padahal dalam kitab mereka disebutkan bahwa salah satu dari sahabatnya (hawwariyun) yang telah sengaja menunjukkan di mana nabi Isa as berada lalu dengan demikian beliau ditangkap dan dihukum.[4]

Dengan demikian, kenyataan yang ada berbeda dengan apa yang telah dibayangkan oleh penanya. Yang jelas jika ada sekelompok orang murtad, Allah akan menggantikan mereka dengan hamba-hamba-Nya yang setia. Ia berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”[5]

Kami memohon kepada penanya untuk menelaah lebih lanjut kitab-kitab tafsir yang ada di sekitar anda.

Justru sebenarnya ayat di atas menjadi saksi bahwa ada sebagian orang yang akan murtad. Sebagaimana ayat di bawah ini menjadi saksi bahwa ada sebagian sahabat yang telah murtad saat itu:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”[6]

[1] Al-A’raf, ayat 155.

[2] Al-Baqarah, ayat 93.

[3] Al-Baqarah, ayat 92.

[4] Awailul Maqalat fil Madzahib wal Mukhtarat, halaman 4.

[5] Al-Maidah, ayat 54.

[6] Ali-Imran, ayat 144.

Banyak perbedaan riwayat tentang Imam Mahdi as; mana yang benar?

Ada banyak riwayat mengenai nama ibu, hari lahir dan umur Imam Mahdi saat ia muncul nanti. Begitu juga tempat ia muncul, lamanya ia ghaib, masa pemerintahannya, dan seterusnya. Manakah yang benar di antara itu semua?

Jawaban:

Permasalahan Imam Mahdi adalah masalah akidah yang telah diterima oleh semua umat Islam. Para ulama Ahlu Sunah pun telah menulis banyak buku seputar Imam Mahdi, misalnya akhir-akhir ini ada buku yang telah dicetak di Saudi Arabia dengan judul Baina Yaday Sa’ah, yang kandungannya cukup bagus.

Syiah meyakini, begitu lebih dari empat puluh ulama Ahlu Sunah, bahwa Imam Mahdi as putra Imam Hasan Askari as telah dilahirkan di dunia dan sempat dibesarkan oleh orang tuanya. Namun sepeninggal ayahnya beliau dighaibkan.

Spesifikasi kehidupan beliau bukanlah termasuk perkara akidah, jadi tidak terlalu penting. Nama ibunya entah Narjis atau Riyhana, ataukah Susan, tidak begitu mempengaruhi akidah kita. Begitu pula masalah-masalah semacamnya.

Yang terpenting untuk diyakini adalah, beliau saat ini juga hidup di dunia ini. Namun di manakah beliau? Itu rahasia. Adapun ungkapan-ungkapan dalam doa seperti, “Andai aku tahu di mana engkau berada..” dan semisalnya, hanyalah ungkapan kecintaan kita terhadap beliau.

Masalah ini tak ada jauh berbeda dengan masalah Isra’ Mi’raj nabi Muhammad saw. Semuanya meyakini mukjizat tersebut secara umum. Namun detil-detil peristiwa Isra’ Mi’raj yang dijelaskan dalam riwayat-riwayat wahid, tidak terlalu berkaitan dengan akidah kita; yang intinya benar atau tidaknya riwayat-riwayat tersebut tidak akan menggoyahkan keyakinan kita terhadap kebenaran Isra’ Mi’raj itu sendiri.

Isu tentang peristiwa Saqifah

Yang jelas Ali hanya duduk di rumah… Pertamanya, Anshar menentang Abu Bakar dan bersikeras untuk membai’at Sa’ad bin ‘Ubadah namun akhirnya semuanya membai’at Abu Bakar. Bai’at mereka mungkin memiliki salah satu dari beberapa alasan ini:

1. Mereka dipaksa membai’at.

2. Akhirnya mereka sadar bahwa Abu Bakar layak untuk menjadi khalifah.

3. Mereka asal membai’at begitu saja, tanpa ada tujuan.

Karena yang pertama dan ketiga tidak mungkin, maka tidak ada kemungkinan keempat; jadi yang benar adalah yang kedua. Betul bukan?

Jawaban:

Padahal sebelumnya penyanya pernah menyatakan bahwa semua sahabat telah membai’at Abu Bakar, namun di sini ia berkata bahwa Anshari tidak membai’atnya, namun akhirnya mereka pun membai’at Abu Bakar.

Sejarah mencatat bahwa dalam peristwia Saqifah, hanya pemimpin kaum Aus yang membai’at Abu Bakar; karena kaum Aus berkeyakinan bahwa kalau sampai orang-orang Khazraj memilih seorang pemimpin untuk mereka, mereka pasti akan membanggakan itu dan kaum Aus tidak akan mendapatkan apa-apa, oleh karenanya pemimpin Kaum Aus bangkit membai’at Abu Bakar.[1]

Kalau begini kenyataannya, bagaimana bisa dikatakan semua kaum Anshar membai’at Abu Bakar?

Sepertinya penanya mengira peristiwa Saqifah berjalan lancar dan tengan tanpa ada perdebatan dan percekcokan. Jika ia membaca sejarah Saqifah dengan benar, pasti ia akan fahami bagaimana kenyataannya.

Baiklah, di sini saya akan menggambarkan peristiwa Saqifah untuk para pembaca secara singkat:

Hanya ada tiga orang dari kaum Muhajirin saat itu, mereka adalah Abu Bakar, Umar dan Abi ‘Ubaidah Jarrah.

Thabari menulis: Kaum Muhajirin sedang bersiap untuk memandikan dan mengkafani jenazah Rasulullah Saw. Sedangkan kaum Anshar berkumpul di Saqifah membentuk satu kelompok. Mereka sengaja mengadakan suatu perundingan guna menentukan khalifah tanpa dihadiri kaum Muhajirin. Tiba-tiba datang dua orang penentang Sa’ad bin ‘Ubadah yang bernama Mu’an bin ‘Uday dan ‘Uwaiyam bin Sa’idah datang[2] dan berkata kepada Abu Bakar: “Bibit fitnah telah tertanam! Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk membai’at Sa’ad bin ‘Ubadah menjadi khalifah.” Abu Bakar tanpa memberitahukan orang-orang Muhajirin yang lainnya bergegas menuju Saqifah bersama Umar dan Abu Ubaidah. Dengan demikian mereka meninggalkan upacara pemandian dan pemakaman jenazah nabi.

Mereka sampai di Saqifah sedang Sa’ad bin ‘Ubadah berpidato yang isinya:

“Wahai kaum Anshar, kalian telah memeluk Islam lebih dahulu. Oleh karena itu kalian memiliki keutamaan dibanding yang lainnya. Bangkitlah dan genggamlah tali kendali urusan ini.”

Abu Bakar berkata: “Tuhan telah mengutus Muhammad saw sebagai nabi dan kaum Muhajirin lah yang telah mengimaninya terlebih dahulu.”

Lalu Abu Bakar menyinggung masalah pertikaian antara dua kabilah dalam Anshar, yakni Uais dan Khazraj; yang mana jika Uais berkuasa, pasti Khazraj tidak terima, begitu juga sebaliknya.

Ketika pembicaraan Abu Bakar telah usai, Habbab bin Mundzir, seorang sahabat dari Anshar bangkit dan berkata, “Hai Anshar, bangkitlah, rebutlah kekuasaan ini! Banyak penentang kalian yang hidup di bawah bayangan kalian, namun mereka sama sekali tidak akan berani menentang kalian.” Lalu ia menghadap ke arah Abu Bakar seraya berkata, “Sumpah demi Tuhan, tidak ada yang bisa menentang perkataanku kecuali aku akan menghantam hidungnya dengan pangkal pedang ini!”

Umar berkata kepadanya, “Semoga Tuhan membunuhmu!”

Ia menjawab, “Engkau yang akan dibunuh Tuhan!”

Akhirnya semua orang bangkit merampas pedangnya dan menenangkannya.

Tak lama kemudian Umar berpidato. Nada bicaranya begitu keras dalam menentang perkataan Habbab bin Mundzir. Ia berkata: “Arab tidak akan pernah tunduk di hadapan kalian dan mustahil menerima kalian sebagai khalifah. Sungguh nabi dari pihak selain Anshar.”

Sejenak suasana menjadi sepi. Lalu berdirilah Basyir bin Sa’ad, dari kabilah Khazraj. Ia adalah sepupu Sa’ad bin ‘Ubadah yang begitu membencinya. Ia memecah keheningan dengan berteriak, “Nabi dari Quraisy, dan keluarga nabi lebih layak untuk memimpin setelahnya.”

Abu Bakar menggunakan kesempatan ini lalu berkata, “Bai’atlah salah satu di antara Umar atau Abu Ubaidah.” Ucapannya itu sebenarnya tidak terlalu serius, hanya pembukaan agar kedua orang tersebut membawa Abu Bakar maju ke depan. Lalu keduanya membai’at Abu Bakar. Tanpa basa basi, Abu Bakar menjulurkan tangannya untuk dibai’at. Basyir bin Sa’ad pun juga senang dan membai’atnya.

Habbab bin Mundzir dari Anshar berkata, Engkau adalah anak durhaka Khazraj yang penuh kedengkian! Dengan demikian, pimpinan Aus yang sempat senang dengan pengunduran diri kaum Khazraj berbincang-bincang dengan anggota kabilah lalu berkata kepada mereka, “Jika Khazraj mencuri kekhilafahan ini, artinya mereka akan mendapatkan keutamaan, jadi lebih baik kita membai’at Abu Bakar.”

Setelah para pembesar Aus membai’at Abu Bakar, mulailah percekcokan terjadi, dan Sa’ad bin ‘Ubadah yang sedang sakit hampir saja terbunuh.

Umar berteriak, buhuhlah Sa’ad! Semoga Tuhan membunuhnya. Ia adalah orang munafik dan penebar fitnah. Anak Sa’ad yang bernama Qais bin Sa’ad marah atas kelancangan Umar dan menggenggam jenggotnya seraya berkata, “Kalau sampai ada satu helaipun rambut ayahku tercabut, aku tidak akan membiarkan ada satupun gigimu yang tersisa.”

Muhajirin yang hadir di Saqifah tidak merasa cukup hanya dengan bai’at itu saja. Mereka pergi keluar Saqifah dan mendatangi masjid. Secara bertahap mereka mengambil bai’at dari setiap orang. Namun mereka terhambat dengan keberadaan 18 orang dari Bani Hasyim di rumah Fathimah Azzahra as. Mereka tidak mau membai’at Abu Bakar, bagi mereka pemimpin yang sebenarnya adalah Ali as. Mereka memaksa 18 orang tersebut sedemikian rupa yang mana apa yang seharusnya tak terjadi akhirnya terjadi juga dan sejarah telah mencatatnya, saya tidak ingin menyinggungnya di sini.[3]

Dengan ulasan di atas, ada beberapa poin yang menjadi jelas:

  1. Apa yang terjadi di Saqifah, semuanya berada di luar kemaslahatan Islam dan umatnya. Yang ada hanyalah pertikaian antar kelompok yang saling berebut kekuasaan. Anshar membanggakan pertolongannya terhadap nabi saat berhijrah, Muhajirin membanggakan kebersamaan mereka dengan nabi. Mereka saling membanggakan diri dan melupakan perintah Tuhan dan pesan nabi-Nya.
  2. Pada dasarnya, dari sekumpulan orang yang hadir di Saqifah, hanya ada empat orang yang membai’at Abu Bakar; dua orang dari Muhajirin, yakni Umar dan Abu ‘Ubaidah, dan dua orang lagi dari Anshar, yang bernama Basyir bin Sa’ad dari Khazraj dan Usaid bin Khadhir dari Uais. Selebihnya sama sekali tidak dijelaskan bagaimana pendapat mereka, karena mereka dianggap telah terwakili oleh pemimpin mereka.
  3. Peristiwa Saqifah berlangsung dengan penuh pertikaian dan kekerasan yang tak patut.

Akhirnya bai’at pun terjadi dan Sa’ad bin ‘Ubadah pimpinan kaum Khazraj terbunuh di tengah gurun dan dikira jin adalah pembunuhnya, lalu dikenal dengan sebutan “dibunuh jin”.

Thabari menukil dari Umar bin Khattab mengenai Saqifah: “Sungguh peristiwa yang tak terorganisir dan tidak jelas, sama seperti yang sering terjadi di masa Jahiliah.”[4] Bahkan setelah itu Umar sendiri berkata dengan jelas, “Sungguh bai’at Abu Bakar adalah keputusan yang tak dilandasi oleh pemikiran. Semoga Tuhan menjauhkan kita dari keburukannya.”[5]

[1] Tarikh Thabari, jilid 2, halaman 458.

[2] Tarikh Thabari, jilid 2, halaman 458.

[3] Silahkan merujuk Tarikh Thabari, jilid 2, peristiwa tahun 11, halaman 456; Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, halaman 137; ‘Aqdul Farid, jilid 2, halaman 249; dan masih banyak lagi…

[4] Tarikh Thabari, jili d2, halaman 459.

[5] Ibid, jilid 2, halaman 446.

Bukankah peristiwa Karbala membuktikan bahwa Imam Husain as tidak punya ilmu ghaib?

Jika memang benar para Imam mengetahui ilmu ghaib, lalu mengapa Husain bin Ali tidak membawa air secukupnya agar bisa diminum oleh sahabat-sahabatnya di tengah perjalananan? Apakah ia tidak tahu kalau ia bakal membutuhkan air? Mengapa ia tidak memperhatikan ayat yang berbunyi: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…”[1]

Jawaban:

Bukankah anda tadi berkata kita tidak layak mencela sahabat nabi? Mengapa anda meremehkan Al Husain dengan menuduhnya tidak menghiraukan ayat Al Qur’an?

Jika kita menelaah lebih dalam mengenai sejarah Karbala, anda akan mengetahui bahwa sebenarnya Imam Husain as membawa air cukup dalam perjalanannya. Hanya saja air tersebut habis karena kejadian-kejadian tertentu, misalnya saat tentara Hurr Al Riyahi datang kehausan, beliau memberikan air-air tersebut kepada mereka. Bahkan beliau sendiri membantu meminumkan air kepada seseorang yang begitu kelelahannya sampai tidak bisa minum dengan sendirinya.

Husain adalah putra Ali yang mana Mu’awiyah menutup sungai Furat bagi diri dan tentaranya. Lalu dengan menyerang mereka beliau berhasil mengambil sungai Furat namun memberi izin kedua belah pihak untuk memanfaatkan air sungai itu.

Imam Husain as dan para sahabatnya di hari kedua Muharram tiba di tanah Karbala; dikepung, tidak diberi air dan tidak bisa ke mana-mana, lalu akhirnya mati di hari kesepuluh. Harus seberapa banyakkah mereka membawa bekal air jika ternyata kejadiannya seperti ini?

Kami hanya ingin menyinggung bahwa Ahlul Bait as selalu menggunakan cara-cara yang manusiawi. Tidak seperti Bani Umayyah yang menghalangi Imam Husain as untuk meminum air di tengah gurun tandus.

Ahlul Bait as meskipun mendapatkan ilmu ghaib dari Allah swt, mereka tetap harus bersikap selayaknya orang biasa dan tidak bisa menggunakannya seenaknya.

[1] Al-Anfal, ayat 60.

Apakah menurut Syiah mencaci para khulafa adalah ibadah?

Padahal Ahlu Sunah tidak pernah mencaci Ahlul Bait. Namun mengapa Syiah menganggap mencaci para sahabat, khususnya para khulafa, adalah ibadah?

Jawaban:

Syiah adalah pengikut Imam Ali bin Abi Thalib as yang berkata kepada sahabat-sahabatnya:

“Aku tidak suka kalian mencela dan mencaci. Daripada kalian mencela dan mencaci, lebih baik kalian memperingatkan mereka.”[1]

Oleh karena itu, celaan-celaan yang pernah anda dengar adalah perbuatan orang-orang tidak berbudaya dan berpendidikan. Padahal Rasulullah saw sendiri pernah bersabda, “Mencela orang yang beriman adalah kefasikan.” Oleh karena itu:

Syiah tidak mencaci semua sahabat. Total keseluruhan sahabat nabi jumlahnya mencapai seratus ribu orang. Kurang lebih lima belas ribu orang dari mereka telah tercatat dalam sejarah, sedang yang lainnya tidak diketahui. Orang berakal manakah yang mau melempar anak panah ke ruangan gelap dan mencaci orang yang tidak dikenal?

Dia antara lima belas sahabat, banyak di antara mereka yang tidak ikut andil dalam terwujudnya penderitaan-penderitaan yang menimpa Ahlul Bait. Sebagian lagi memang benar-benar mentaati nabi dalam hal menjadikan Ali bin Abi Thalib as sebagi Imamnya. Syiah tidak mungkin mencela orang-orang seperti mereka. Adapun mereka yang menzalimi keluarga nabi dan merampas hak-haknya, Syiah tidak pernah berhanti mengkritik mereka. Tuhan pun melakukan hal yang sama, misalnya terhadap Walid bin ‘Uqbah yang disebut fasik,[2] atau sekelompok orang yang meninggalkan nabi di khutbah Jum’at karena urusan dagangan.[3]

Sayang sekali orang-orang Salafi menganggap kritikan terhadap orang-orang sedemikian rupa sebagai perbuatan yang menyebabkan kemurtadan.

Jika anda merujuk pada Shahih Al Bukhari, pada tafsir surah An-Nur, hadits ke-4720, anda akan menemukan ada dua sahabat besar yang bernama Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah yang sedang bercekcok di masjid dan di hadapan nabi. Sa’ad bin ‘Ubadah berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz, “Demi Tuhan engkau telah berbohong!” Usaid bin Hadhir berkata kepada Sa’ad bin Ubadah, “Demi Tuhan, engkau adalah termasuk para pembohong dan munafik yang membela orang munafik!” Begitu pula peristiwa Ammar Yasir dengan Khalid bin Walid, terjadi di hadapan nabi.[4]

Dengan melihat percekcokan dan caci maki yang terjadi di hadapan beliau, Rasulullah saw tidak berkata, “Karena kalian telah menyebut sahabatku sebagi pembohong dan munafik, maka kalian telah keluar dari Islam.”

Rasulullah saw hanya menyebut mereka sebagai “kelompok yang membangkang”. Ketika beliau melihat Ammar Yasir yang mukanya berlumuran debu dan tanah, beliau berkata: “Selamat bagi Ammar yang dibunuh oleh kelompok pembangkang. Ammar mengajak mereka menuju surga namun mereka mengajak Ammar menuju neraka.”[5]

Dan, kami juga mendengar bahwa mazhab Asy’ari tidak memfatwakan bahwa mengkafirkan dan melaknat sahabat dapat menyebabkan kemurtadan.[6]

[1] Nahjul Balaghah, kata-kata singkat no 206.

[2] Al Hujurat, ayat 6.

[3] Al Jumu’ah, ayat 11.

[4] Mustadrak Al Hakim, jilid 3, halaman 29.

[5] Shahih Muslim, jilid 4, halaman 2234, hadits 2916; Thabaqat Ibnu Sa’ad, jilid 3, halaman 252; Mustadrak Al Hakim, jilid 3, halaman 149; Jami’ Al Ushul, jilid 9, halaman 44, hadits ke-6583.

[6] Al Fashl, Ibnu Hazm, jilid 4, halaman 204.

Bukankah Imam Shadiq as memerintahkan kecintaan kita kepada Abu Bakar dan Umar?

Imam Ja’far Shadiq as saat ditanya oleh seorang perempuan, “Apakah aku harus mencintai Abu Bakar dan Umar?”, beliau menjawab, “Ya, cintai mereka.” Begitu pula Imam Baqir as menyebut Abu Bakar dengan sebutan As Shiddiq. Lalu mengapa anda tidak begitu?

Jawaban:

Penanya hanya menukilkan sepenggal hadits saja, tidak seluruhnya.

Riwayat di atas lengkapnya demikian:

Ada seorang perempuan yang bernama Ummu Khalid. Ia diberi tanah oleh walikota Madinah waktu itu yang bernama Yusuf bin Umar. Abu Bashir berkata, “Imam Shadiq as berkata kepadaku: “Apakah engkau ingin mendengarkan perkataannya?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau menceritakan, “Kalo begitu, izinkan ia masuk.” Lalu beliau berkata lagi, “Duduklah di dekatku…” Perempuan itu masuk dan mengucapkan kata-katanya. Tak lama kemudian perempuan itu menanyakan Imam Shadiq as tentang dua orang. Lalu Imam menjawab, “Cintailah mereka.” Perempuan itu terkejut dan berkata, “Apakah engkau mau aku berkata pada Tuhanku bahwa engkau memerintahkanku untuk mencintai mereka?” Imam menjawab, “Ya.”

Lalu perempuan itu bertanya kembali, “Orang yang duduk di sampingmu ini memerintahkanku untuk tidak mencintai mereka. Namun Katsir An Nawa’ (seorang yang bermazhab Zaidiah) memerintahkanku untuk mencintai mereka. Bagimu, siapakah yang lebih mulia, orang ini atau Katsir An Nawa’?” Imam menjawab, “Abu Bashir lebih mulia di mataku.”[1]

Dalam riwayat itu Imam Shadiq as menjalankan suatu taktik dalam mengutarakan pendapatnya. Jika ia menyatakan pendapat yang sebenarnya secara langsung, pasti akan banyak masalah yang bakal menimpa beliau. Apa lagi perempuan itu adalah orang yang dekat dengan khalifah waktu itu.

Kita harus mengkaji riwayat secara utuh, tidak bisa sepenggalannya saja.

Adapun hadits yang kedua, yakni yang berkenaan dengan Imam Baqir as, diriwayatkan oleh Ali bin Isa Arbali (693 H.), dari Urwah bin Abdullah (seorang ahli Rijal abad ke-2). hadits itu memiliki dua cacat besar:

Dari segi sanad: penukil riwayat tersebut adalah Issa Arbali yang hidup pada tahun 693 H. Ia meriwayatkannya dari seseorang yang bernama Urwah bin Abdullah yang hidup di masa hayat Imam Baqir as (tahun 57-114 H.). Permasalahannya adalah, bagaimana mungkin ia bisa menukil sebuah hadits tanpa sanad dari seseorang yang terbentang jauh jarak waktu antara keduanya?

Dalam kitab-kitab Rijal Syiah, hanya ada satu orang bernama Urwah bin Abdullah, yang mana Syaikh Thusi menyebutnya sebagai salah satu dari sahabat Imam Shadiq as. Namun orang itu tidak begitu dikenal jelas.[2]

Dalam kitab-kitab Rijal Suni, Urwah bin Abdullah bin Qusyair Ja’fi dikenal dengan sebutan Abu Shal. Ia meriwayatkan hadits tersebut dari Abdullah bin Zubair. Orang yang belajar hadits dari Abdullah bin Zubair, lazimnya dari segi spiritual dan keyakinan sama dengan gurunya; padahal keduanya sangat bertentangan. Jelas kita tidak bisa menerima perkataan orang itu.[3]

Juga, jika kita membaca hadits tersebut secara seksama, begitu jelas terasa bahwa hadits tersebut dibuat-buat. Ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ja’far tentang menghias pedang. Beliau menjawab, “Abu Bakar As Shiddiq juga menghias pedang.” Aku bertanya, “Engkau menyebutnya As Shiddiq?” Lalu ia loncat dari tempat duduknya dan berdiri serta berkata kencang, “Ya, As Shiddiq! Ya, As Shiddiq! Ya, As Shiddiq! Barang siapa tidak menyebutnya As Shiddiq Tuhan tidak akan mendengar perkataannya di dunia dan di akhirat!”

Seorang Imam Syiah yang digambarkan dalam hadits tersebut sama sekali bertentangan dengan Imam yang kita kenal. Imam adalah orang yang berwibawa tinggi dan tidak berlaga sedemikian rupa.

[1] Raudhatul Kafi, jilid 8, halaman 19.

[2] Tanqihul Maqal, jilid 2, halaman 251, nomor 788.

[3] Tahdzibul Kamal fi Asma’ Ar Rijal, jilid 10, halaman 27, nomor 3909.

Apakah menurut Syiah ada ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihapus?

Mengapa orang-orang Syiah meyakini bahwa ada ayat-ayat tertentu yang telah dihapus dari Al Qur’an? Bahkan mereka menuduh Abu Bakar dan Umar telah merubah-rubah ayat Al Qur’an?!

Jawaban:

Apa bukti anda mengatakan Syiah meyakini ada ayat Al Qur’an yang telah dihapus? Sama sekali tidak ada keyakinan seperti itu di dalam Syiah. Coba anda merujuk kitab akidah kami yang tertua seperti ‘Aqaidul Imamiyah yang disusun oleh Syaikh Shaduq; anda akan menyadari hal yang sebenarnya.

Bahkan dari sejak sebelum masa Syaikh Shaduq, Fadhl bin Syadzan (260 H.) menegaskan bahwa keyakinan terhadap terubahnya Al Qur’an adalah keyakinan para penentang Syiah. Ia menekankan bahwa Al Qur’an benar-benar terjaga dari segala perubahan, pengurangan atau penambahan.

Penanya hanya dengan membaca sebuah riwayat lalu dengan mudahnya berkata bahwa Syiah meyakini tahrif Al Qur’an. Padahal setiap apa yang ada dalam riwayat kami bukan berarti itu juga akidah kami. Anda harus membaca akidah kami dari kitab-kitab akidah yang bertumpu pada tafsiran-tafsiran Al Qur’an yang benar, hadits-hadits mutawatir, dan juga akal. Dan sama sekali tidak ada keyakinan sedemikian rupa dalam kitab-kitab akidah Syiah.

Pasti riwayat yang anda baca itu salah anda fahami. Riwayat tersebut tidak menjelaskan kurang atau bertambahnya ayat Al Qur’an, namun penafsiran dan penjelasan Al Qur’an, semacam asbab nuzul. Seperti inilah jika anda tidak memahami riwayat Ahlul Bait; anda mengira penjelasan-penjelasan tersebut bagian dari Al Qur’an, padahal tidak.

Inilah riwayat yang dijadikan andalan oleh sang penanya:

  1. Dalam Ushul Al Kafi dalam tafsir ayat Dzarr disebutkan:

“…dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?… “[1]

Lalu setelah itu ada kalimat tambahan “Bahwa Muhammad adalah utusan-Ku dan Ali adalah pemeritah orang-orang yang beriman?”

Jawabannya, anggap saja riwayat ini memang benar. Namun itu tidak berarti kalimat tambahan tersebut merupakan bagian dari ayat Al Qur’an. Kalimat tersebut hanya ingin menafsirkan bahwa di alam Dzarr tersebut umat manusia juga telah diperintahkan untuk mengimani Rasulullah saw dan Imam Ali as.

  1. Dalam sebuah hadits yang lain yang berkenaan dengan sebuah ayat tentang nabi disebutkan:

“…maka orang-orang yang beriman kepadanya,” lalu ada kata-kata: “yakni kepada Imam,” kemudian ayat dilanjutkan: “memuliakannya, menolongnya…”[2]

Jawabannya, jika anda mengkaji riwayat tersebut dari awal sampai akhir, anda akan menyadari bahwa saat itu Rasulullah saw memang ingin menjelaskan kedudukan Imam Ali as yang akan menjadi pengganti sepeninggal beliau nanti. Lalu beliau kembali mengingatkan, “Orang-orang yang beriman adalah orang yang mengimani nabinya lalu membantunya (memberinya dukungan).”

Iman kepada nabi adalah iman kepada apapun yang diturunkan kepadanya; dan jelas salah satu hal yang diturunkan kepada beliau adalah perkara Imamah Imam Ali as dan keturunannya.

Jadi penggalan kata itu adalah penekanan terhadap keyakinan agama sebagai penjelas ayat Al Qur’an, bukan sebagai ayat Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu salah jika dikira Syiah menambah ayat Al Qur’an.

  1. Dalam sebuah hadits, dalam menafsirkan ayat yang berbunyi “bagai kegelapan-kegelapan”, Imam menjelaskan bahwa kegelapan-kegelapan tersebut adalah fulan, fulan dan fulan. Telah ditukil riwayat tersebut dari tafsir Ali bin Ibrahim, yang mana sanadnya sangat bermasalah. Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa itu bukanlah tulisan Ali bin Ibrahim, namun seseorang yang bernama Abbas bin Muhammad; ia adalah seorang yang tak dikenal. Ia pun menukilnya dari dua orang yang bernama Ali bin Ibrahim dan Ziyad bin Mundzir, yang dikenal dengan Abil Jarud.

Apa yang ditukil dari Ali bin Ibrahim semua berkenaan dengan surah Al Fathihah, Al Baqarah dan sebagian dari surah Ali Imran. Adapun surah Ali Imran ayat 45 hingga akhir ditukil dari Ziyad bin Mundzir yang dikenal dengan Abil Jarud, dan kebetulan ayat tersebut yang mana berada dalam surah An Nur, berkaitan dengan bagian riwayat yang mana perawinya adalah Ziyad bin Mundzir.

Dengan demikian, hadits tersebut tercantum pada kitab yang tidak dikenal penulisnya, dan sanadnya pun sangat bermasalah, yakni sanadnya tersambung pada Zaid Ja’fi yang mana Najashi menyebutnya sebagai orang yang sering mencapur aduk antara riwayat yang sahih dan tidak.[3]

Apakah dapat dibenarkan anda menuduh Syiah dengan sebuah tuduhan yang berasal dari riwayat seperti ini?

Penanya juga dalam kelanjutan pertanyaannya berkata: Imam di akhir ayat menjelaskan tentang “Orang-orang yang beruntung” demikian: “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi pemerintah zalim dan tidak menyembah mereka. Mereka adalah fulan, fulan dan fulan.”

Sebenarnya apa masalah riwayat ini? Imam hanya menjelaskan siapakah “pemerintah zalim” (taghut) itu yang beberapa di antara mereka adalah tiga orang yang disebutnya. Apakah ini termasuk tahrif dan perubahan Al Qur’an?

Tahrif adalah menambahkan dan mengurangi ayat Al Qur’an, bukan menafsirkan ayat-ayatnya.

Kalau hanya karena ada penggalan kata-kata penafsiran di tengah-tengah Al Qur’an anda menyebutnya sebagai tahrif, lalu bagaimana dengan riwayat ini: Dalam Shahih Muslim Aisyah menukilkan ayat yang berbunyi: “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha…” lalu ditambahinya, “shalat Ashar”.[4]

[1] Al A’raf, ayat 172.

[2] Al A’raf, ayat 157.

[3] Adz Dzari’ah ila Tashanif As Syiah, jilid 4, bagian Tafsir Ali bin Ibrahim; Kulliyyat fi Ilmi Ar Rijal, halaman 228.

[4] Shahih Muslim, bab Dalil orang yang berkata bahwa Shalat Wustha adalah shalat Ashar, jilid 1, halaman 37-448.