Masjid suci Jamkaran

Sejarah dibangunnya masjid Jamkaran berkaitan langsung dengan Syaikh Hasan bin Matslah Jamkarani. Ia mengaku pernah bertemu dengan Imam Mahdi as, imam ke-12 kaum Syiah yang memerintahkannya membangun masjid tersebut.

Di kalangan Syiah sendiri banyak dibahas mengenai masalah bertemu dengan Imam Mahdi as itu. Sebagian ulama, berdasarkan riwayat-riwayat, membenarkan kemungkinan bertemu dengan beliau hanya dalam mimpi saja. Sebagian ulama berlandaskan surat yang pernah ditulis oleh Imam Mahdi as kepada penggantinya yang terakhir menyatakan bahwa manusia tidak mungkin bertemu dengan Imam Mahdi as dalam keadaan bangun/tidak tidur. Sebagian dari isi surat tersebut berbunyi:

“Ghaib yang sempurna (kubra) telah dimulai. Tidak akan nampak lagi (daku) setelah itu, kecuali dengan izin Allah… Tak lama lagi syiah-syiah kami mengaku pernah melihat kami, namun dengarlah, semua yang mengaku pernah bertemu denganku sebelum keluarnya Sufyani dan Teriakan Langit adalah pembohong…”

Meskipun demikian, sebagian ulama seperti Syaikh Abbas Qumi dalam Mafatihul Jinan dan Muhaddits Nuri dalam kitabnya, dengan menyebutkan sanad riwayat, pernah menukilkan cerita-cerita pertemuan sebagian orang dengan Imam Mahdi, dan dengan merujuk kepada sebagian riwayat mereka menganggap bertemu dengan beliau dalam keadaan bangun/tidak tidur adalah mungkin.

Alhasil masalah ini masih menjadi perdebatan para ulama hingga saat ini.

Hasan bin Matslah Jamkarani dalam riwayat yang masyhur yang kelihatannya adalah satu-satunya riwayat terpercaya berkenaan dengan dibangunnya masjid tersebut berkata:

“Aku di selasa malam tanggal 17 Ramadhan tahun 373 H. tidur di rumahku. Tiba-tiba sekumpulan orang datang ke rumahku dan membangunkanku dari tidur. Mereka berkata, “Bangunlah, jawablah pemimpinmu Al Mahdi yang sedang menginginkanmu.”

Mereka membawaku ke suatu tempat yang kini adalah masjid Jamkaran. Aku memperhatikan dengan serius, aku melihat ada tahta yang digelar di atasnya karpet indah, dan duduk di atasnya seorang pemuda berusia 30 tahun dan juga ada seorang lelaki tua duduk di sebelahnya. Orang tua itu adalah nabi Muhammad saw., beliau memerintahkanku untuk duduk. Imam Mahdi as memanggilku dengan namaku seraya berkata: “Pergilah ke Hasan Muslim (seorang petani di tanah ini) dan katakan kepadanya, tanah ini adalah tanah mulia dan Allah memilih tanah ini daripada tanah-tanah lainnya. Oleh karena itu kalian jangan bercocok tanam di tanah ini.”

Aku berkata padanya, “Wahai tuanku, aku memerlukan suatu bukti agar orang yang mendengar perkataanku mau percaya, karena kalau tidak mereka pasti tidak mau mendengar ucapanku.”

Beliau berkata, “Hanya pergilah dan lakukan perintahku itu. Aku akan memberikan tanda-tanda dan bukti itu. Dan juga, pergilah ke Sayid Abul Hasan (salah satu ulama di Qom) dan katakan padanya agar Hasan Muslim didatangkan dan memberikannya upah keuntungan beberapa tahun dari tanah pertanian itu. Dan dengan uang itu bangunlah sebuah masjid di tanah ini. Katakan kepada semua orang agar merindukan tempat ini dan memuliakannya, serta shalat empat rakaat (di dalam masjidnya).

Lalu imam berkata, “Barang siapa melakukan shalat dua rakaat di sini bagaikan shalat dua rakaat di Ka’bah.”

Aku berjalan. Namun tak jauh aku berjalan, kedua kalinya ia memanggilku dan berkata, “Belilah seekor domba dari domba-domba milik Ja’far Khashani. Semeblih domba itu di tanah ini dan infakkan dagingnya kepada semua orang yang sakit. Dengan izin Allah mereka akan sembuh.”

Hasan bin Matslah Jamkarani berkata, “Aku kembali ke rumah dan menghabiskan malamku untuk berfikir sampai subuh. Setelah shalat subuh aku pergi mendatangi Ali Al Mundzir dan menceritakan peristiwa itu. Lalu kami pergi ke tempat tersebut dan aku melihat ada rantai-rantai yang diletakkan sebagai tanda batas pembangunan masjid. Lalu kami pergi ke Qom mendatangi Sayid Abul Hasan Ridha.

Saat sampai di rumahnya, pembantunya bertanya padaku, “Apakah engkau dari Jamkaran?” Aku menjawab, “Ya.” Pembantu berkata, “Sayid telah menunggumu dari sebelum subuh.” Kami masuk ke dalam rumahnya dan ia begitu menyambutku dan berkata, “Wahai Hasan bin Matslah, aku bermimpi ada seorang yang berkata kepadaku: “Hasan bin Matslah dari Jamkaran akan datang kepadamu. Apapun yang ia katakan, benarkanlah perkataannya dan percayailah dia. Karena perkataannya adalah perkataan kami. Jangan tolak ucapannya.” Semenjak bangun tidur sampai sekarang aku menunggumu.

Setelah itu aku menceritakan peristiwa yang sebenarnya. Sayid segera memerintahkan agar kuda-kudanya disiapkan dan dibawa ke luar. Kami pun berangkat ke Jamkaran. Sesampai di dekat sebuah desa di Jamkaran, kami melihat domba-domba Ja’far Kashani. Aku mendatangi domba-domba itu. Salah satu dari domba-domba itu melihatku dan mendekatiku. Ja’far sendiri heran dan mengaku tidak pernah ada domba itu di antara domba-dombanya sebelumnya. Akhirnya aku membawa domba itu ke masjid dan menyembelihnya dan setiap orang yang sakit memakan dagingnya. Dengan izin Allah mereka sembuh dari penyakit masing-masing. Abul Hasan Ridha, memanggil Hasan Muslim untuk mengambil uang yang dipegangnya untuk membangun masjid. Ia menutupinya dengan kayu, lalu mengambil rantai-rantai dan paku-paku yang ada di situ untuk dibawa ke Qom, kemudian diletakkan di rumahnya. Setiap orang yang punya masalah atau sakit menyentuh rantai-rantai itu, Allah menyelesaikan masalah dan menyembuhkan mereka. Sepeninggal Sayid Abul Hasan, rantai-rantai tersebut juga hilang dan tidak terlihat lagi.”

Kebanyakan umat Syiah setiap malam rabu dalam seminggu, dan juga malam pertengahan bulan Sya’ban (hari lahirnya Imam Mahdi as) berkumpul di masjid itu dan melakukan amal ibadah seperti shalat tahiyah masjid dan shalat dua rakaat Istighatsah dengan Imam Mahdi, yang dikenal dengan Shalat Imam Mahdi dengan tata cara khusus.

Mengenal Sayyidah Fathimah Ma’shumah

Nama beliau adalah Fathimah, dan julukan yang paling dikenal adalah Ma’shumah. Ayahnya adalah imam ketujuh umat Syiah, Imam Musa bin Ja’far as, sedang ibunya adalah Najmah Khatun. Ibu itu juga merupakan ibu dari imam kedelapan. Oleh karena itu, Fathimah Ma’shumah adalah saudari Imam Ali Ar Ridha as.

Beliau dilahirkan pada tanggal 1 Dzulqa’dah tahun 173 H. di Madinah. Tak lama setelah kelahirannya, ia tertimpa musibah kepergian ayah tercinta di penjara Harun Ar Rasyid di Baghdad. Oleh karena itu, ia diasuh dan dibesarkan oleh saudaranya sendiri, Imam Ali Ar Ridha as.

Pada tahun 200 H., Imam Ali Ar Ridha as dipaksa untuk pergi ke tempat yang terasing di Marv oleh khalifah masa itu, Ma’mun Abbasi. Imam tanpa membawa siapapun dari keluarganya pergi menuju Marv dan tinggal di sana.

Setahun setelah itu, Fathimah Ma’shumah merasa rindu dengan kakaknya dan bertekad pergi menyusul ke Marv, propinsi Khurasan, Iran, bersama sanak saudaranya. Di setiap kota mereka berhenti, mereka selalu mendapatkan sambutan yang meriah. Dalam perjalanannya itu, Fathimah Ma’shumah bagaikan Zainab menyebarkan berita kezaliman khalifah terhadap kakaknya yang diasingkan di Marv. Dengan demikian ia menunjukkan ketidak relaannya terhadap kekhalifahan Bani Abbas.

Oleh karena itu, saat Fathimah Ma’sumah sampai di salah satu kota yang bernama Sava, ia dan rombongannya berhadapan dengan utusan-utusan khalifah dan akhirnya mereka bertikai dan seluruh lelaki di rombongan itu mati terbunuh. Bahkan ada yang menukilkan bahwa Fathimah Ma’shumah juga diracun dalam peristiwa itu.

Entah karena sakit akibat racun ataukah murungnya beliau, beliau tidak mampu melanjutkan perjalanannya ke Khurasan. Ia mendengar ada sebuah kota yang bernama Qom di dekat situ dan ingat bahwa ayahnya pernah berkata Qom adalah pusat umat Syiah. Beliau menuju Qom untuk singgah di sana. Penduduk Qom pun mendengar kabar tersebut dan mereka menyambut beliau dengan luar biasa. Musa bin Khazraj tokoh keluarga As’ari menjamu Fathimah Ma’shumah dan mempersilahkannya tinggal di rumahnya.

Fathimah Ma’shumah tinggal selama 17 hari di kota itu dan menghabiskan hari-harinya dengan ibadah dan berdoa. Akhirnya pada hari ke-10 Rabi’ul Tsani, menurut riwayat lain tanggal 12 Rabi’ul Tsani, tahun 201 H., beliau meninggal dunia dalam menanam rindunya kepada sang kakak. Ia menutupkan matanya di keterasingan tanpa kakak tercintanya.

Saat kubur telah disiapkan, mereka bingung siapakah yang harus menguburkan jasad mulianya? Akhirnya datang dua orang penunggang kuda yang wajahnya tertutupi. Salah satunya turun ke dalam liang lahat dan salah satunya mengangkat jasad beliau untuk diturunkan ke dalam kubur. Setelah upacara pemakaman usai, mereka berdua pergi tanpa berbicara kepada siapapun.

Setelah itu, Musa bin Khazraj membuat pelindung makam dengan kain agar tak terkena terik matahari. Pada akhirnya, di tahun 256, datanglah Zainab putri Imam Jawad as lalu ia membangun kubah bagi makamnya. Dengan demikian kota Qom menjadi tempat berziarah para pecinta Ahlul Bait dan perindunya.

Anjuran Imam Ali as terkait pemungutan pajak

Imam Ali as memberikan banyak wejangan kepada Ziyad bin Abih saat menempatkannya di posisi Abdullah bin Abbas sebagai gubernur Persia.

Dalam wejangan tersebut Imam Ali as menekankan agar ia tidak memajukan waktu pemungutan pajak.

Lalu Imam as juga berkata, “Bertindaklah berdasarkan keadilan. Jauhi kekerasan dan penganiyayaan.”

Menurut Imam Ali as, kekerasan dan penganiayaan akan meninbulkan kekacauan; rakyat akan memberotak karenanya.

Nahul Balaghah, Kata Hikmah Imam Ali as no 485

Merasa cukup adalah kekayaan abadi

Imam Ali as dalam kitab Nahjul Balaghah menukil ucapan Rasulullah saw yang berbunyi:

“Rasa cukup (qana’ah) adalah kekayaan abadi.”

Jika kita renungkan, kita akan memahami bahwa kita tidak punya umur untuk meraih segala kekayaan di dunia ini, yang artinya sampai kapanpun kita berusaha mengumpulkan kekayaan, selama itu juga kita merasa miskin.

Betapa banyak orang kaya yang selalu merasa banyak masalah dan tidak tenang.

Namun jika kita memiliki sedikit kekayaan dan merasa cukup dengannya, kekayaan itu benar-benar berarti.

Nahul Balaghah, Kata Hikmah Imam Ali as no 484

Ziarah Asyura

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا اَبا عَبْدِ اللَّهِ

assalaamu ‘alaika yaa abaa ‘abdillaah

Salam atasmu wahai Abu Abdillah

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يَا بْنَ رَسُولِ اللَّهِ

assalamu ‘alaika yabna rosuulillaah

Salam bagimu wahai putra Rasulullah

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا خِيَرَةَ اللَّهِ وَابْنَ خِيَرَتِهِ

assalaamu ‘alaika yaa khiyarotalloohi wabna khiyarotih

Salam atasmu wahai pilihan Allah dan anak pilihan-Nya

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يَا بْنَ اَميرِ الْمُؤْمِنينَ وَابْنَ سَيِّدِ الْوَصِيّينَ

assalaamu ‘alaika yabna amiiril mu’miniina wabna sayyidil washiyyiin

Salam atasmu wahai putra Amirul Mukminin dan puntra tuan para washi

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يَا بْنَ فاطِمَةَ سَيِّدَةِ نِساَءِ الْعالَمينَ

assalaamu ‘alaika yabna faathimata sayyidati nisaa’il ‘aalamiin

Salam atasmu wahai putra Fathimah, ratu wanita-wanita seluruh dunia

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا ثارَ اللَّهِ وَابْنَ ثارِهِ

assalaamu ‘alaika yaa tsaarolloohi wabna tsaarih

Salam atasmu wahai “darah Allah” dan anak “darah-Nya”

وَالْوِتْرَ الْمَوْتُورَ

wal witrol mauwtuur

dan salam untukmu wahai yang terbunuh dan belum menuntut pembunuhnya

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ وَعَلَی الاَْرْواحِ الَّتي حَلَّتْ بِفِناَئِكَ

assalaamu ‘alaika wa ‘alal arwaahil lati hallat bifinaa’ik

Salam atasmu dan untuk arwah yang berada di sekitarmu

عَلَيْكُمْ مِنّي جَميعاً سَلامُ اللَّهِ اَبَداً

‘alaikum minnii jamii’an salaamulloohi abada

Sampai kapanpun salamku dan seluruh salam Allah untuk kalian

ما بَقيتُ وَبَقِيَ اللَّيْلُ وَالنَّهارُ

maa baqiitu wa baqiyal lailu wan nahaar

sampai kapanpun selama aku masih hidup dan siang malam silih berganti

يا اَبا عَبْدِ اللَّهِ

yaa abaa ‘abdillaah

Wahai Abu Abdillah

لَقَدْ عَظُمَتِ الرَّزِيَّةُ

laqod ‘adzumatir roziyyah

sungguh besar duka ini

وَجَلَّتْ وَعَظُمَتِ الْمُصيبَةُ بِكَ عَلَيْنا

wa jallat wa ‘adhumatil mushiibatu bika ‘alaina

dan berat pula bagi kami musibah yang menimpamu

وَعَلی جَميعِ اَهْل ِالاِْسْلامِ

wa ‘ala jamii’i ahlil islaam

dan juga bagi seluruh umat Islam

وَجَلَّتْ وَعَظُمَتْ مُصيبَتُكَ فِي السَّمواتِ

wa jallat wa ‘adzumat mushiibatuka fis samaawaat

Musibahmu ini telah diagungkan di langit

عَلی جَميعِ اَهْلِ السَّمواتِ

‘ala jamii’i ahlis samaawaat

dan sangat berat bagi seluruh penghuninya

فَلَعَنَ اللَّهُ اُمَّةً

fa la’analloohu ummatan

Semoga Allah melaknat umat

اَسَّسَتْ اَساسَ الظُّلْمِ وَالْجَوْرِ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِ

assasat asaasad dzulmi wal jauri ‘alaikum ahlal bait

yang telah mempersiapkan kondisi sehingga kalian dizalimi, wahai Ahlul Bait

وَلَعَنَ اللَّهُ اُمَّةً دَفَعَتْكُمْ عَنْ مَقامِكُمْ

wa la’analloohu ummatan dafa’atkum ‘an maqoomikum

dan semoga Allah melaknat umat yang telah menghalangi kalian dari kedudukan kalian

وَاَزالَتْكُمْ عَنْ مَراتِبِكُمُ الَّتي رَتَّبَكُمُ اللَّهُ فيها

wa azaalatkum ‘an marootibikum mullatii rottabakumulloohu fiihaa

dan telah melucuti martabat yang telah ditetapkan Allah untuk kalian

وَلَعَنَ اللَّهُ اُمَّةً قَتَلَتْكُمْ

wa la’analloohu ummatan qotalatkum

Semoga Allah melaknat umat yang telah membunuh kalian

وَلَعَنَ اللَّهُ الْمُمَهِّدينَ لَهُمْ بِالتَّمْكينِ مِنْ قِتالِكُمْ

wa la’analloohul mumahhidiina lahum bit tamkiini min qitaalikum

dan juga umat yang telah mewujudkan segala sarana bagi terbunuhnya kalian

بَرِئْتُ اِلَی اللَّهِ وَاِلَيْكُمْ مِنْهُمْ

wa bari’tu ilalloohi wa ilaikum minhum

Aku berserah diri padamu dan pada kalian dan berpaling dari mereka

وَمِنْ اَشْياعِهِمْ وَاَتْباعِهِمْ وَاَوْلِياَّئِهِم

wa min asyaa’ihim wa atbaa’ihim wa awliyaa’ihim

begitu pula dari pengikut-pengikut mereka

يا اَبا عَبْدِ اللَّهِ

yaa abaa ‘abdillaah

Wahai Abu Abdillah

اِنّي سِلْمٌ لِمَنْ سالَمَكُمْ

innii silmun liman saalamakum

sungguh aku berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian

وَحَرْبٌ لِمَنْ حارَبَكُمْ

wa harbun liman haarobakum

dan memerangi orang yang memerangi kalian

اِلی يَوْمِ الْقِيامَةِ

ilaa yaumil qiyaamah

sampai hari kiamat nanti

وَلَعَنَ اللَّهُ آلَ زِيادٍ

wa la’analloohu aala ziyaad

Semoga Allah melaknat keluarga Ziyad

وَآلَ مَرْوانَ

wa aala marwaan

keluarga Marwan

وَلَعَنَ اللَّهُ بَني اُمَيَّةَ قاطِبَةً

wa la’analloohu banii umayyata qootibah

Semoga Allah melakyat Bani Umayyah seluruhnya

وَلَعَنَ اللَّهُ ابْنَ مَرْجانَةَ

wa la’analloohubna marjaanah

begitu pula Ibnu Marjanah

وَلَعَنَ اللَّهُ عُمَرَ بْنَ سَعْدٍ

wa la’analloohu ‘umarobna sa’ad

Semoga Allah melaknat Umar bin Sa’ad

وَلَعَنَ اللَّهُ شِمْراً

wa la’analloohu syimro

Semoga Allah laknat Syimir

وَلَعَنَ اللَّهُ اُمَّةً اَسْرَجَتْ وَاَلْجَمَتْ وَتَنَقَّبَتْ لِقِتالِكَ

wa la’analloohu ummatan asrojat wa aljamat wa tanaqqobat liqitaalik

dan semoga Ia melaknat umat yang telah mempersiapkan kuda-kuda mereka untuk bergegas membunuhmu

بِاَبي اَنْتَ وَاُمّي

bi abii anta wa ummii

Sungguh, demi ayah dan ibuku, engkau ini…

لَقَدْ عَظُمَ مُصابي بِكَ

laqod ‘adhuma mushoobii bik

sungguh besar musibah yang kurasa karena engkau ini

فَاَسْئَلُ اللَّهَ الَّذي اَکْرَمَ مَقامَكَ

fa as’alulloohal ladzii akroma maqoomak

Maka aku mohon Allah yang telah memuliakanmu dengan kedudukanmu

وَاَکْرَمَني بِكَ

wa akromani bik

dan yang telah memuliakanku karenamu

اَنْ يَرْزُقَني طَلَبَ ثارِكَ

ayyarzuqoni tholaba tsaarik

agar menganugerahiku kesempatan menuntut pembunuhmu

مَعَ اِمامٍ مَنْصُورٍ مِنْ اَهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ صَلَّی اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ

ma’a imaamin manshuur min ahli baiti muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa aalih

bersama seorang imam yang “tertolong” dari Ahlul Bait Muhammad saw

اَللّهُمَّ اجْعَلْني عِنْدَكَ وَجيهاً بِالْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلامُ

allohummaj’alni ‘indaka wajiihan bil husaini ‘alaihis salaam

Ya Allah, jadikanlah aku orang yang terpandang di hadapan-Mu karena Husain as

فِي الدُّنْيا وَالآخِرَةِ

fiddunyaa wal aakhiroh

baik di dunia maupun di akhirat

يا اَبا عَبْدِاللَّهِ اِنّي اَتَقَرَّبُ اِلی اللَّهِ

yaa abaa ‘abdillaah inni ataqorrobu ‘ilallooh

Wahai Abu Abdillah, sungguh aku mendekatkan diri kepada Allah

وَاِلي رَسُولِهِ وَاِلی اميرِالْمُؤْمِنينَ

wa ilaa rosuulihi wa ilaa amiril mu’miniin

dan kepada Rasul-Nya, Amirul Mukminin,

وَ اِلی فاطِمَةَ وَاِلَی الْحَسَنِ

wa ilaa faathimata wa ilal hasan

kepada Fathimah, Hasan,

وَاِلَيْكَ بِمُوالاتِكَ

wa ilaika bimuwaalaatik

dan juga mendekatkan diri kepadamu dengan menjunjungmu

وَبِالْبَراَئَةِ مِمَّنْ قاتَلَكَ

wa bil baroo’ati mimman qootalak

dan dengan berpaling dari orang yang telah memusuhimu

وَ نَصَبَ لَكَ الْحَرْبَ

wa nashoba lakal harb

dan memerangi dirimu

وَ بِالْبَرائَةِ مِمَّنْ اَسَّسَ اَساسَ الظُّلْمِ وَالْجَوْرِعَلَيْكُمْ

wa bil baroo’ati mimman assasa asaasad dzulmi wal jauri ‘alaikum

dan juga berpaling dari orang-orang yang telah menyulut api kezaliman terhadap kalian

وَاَبْرَءُ اِلَی اللّهِ وَ اِلی رَسُولِهِ

wa abro’u ilallooohi wa ilaa rosuulih

dan aku berpaling kepada Allah dan Rasul-Nya

مِمَّنْ اَسَسَّ اَساسَ ذلِكَ

mimman assasa asaasa dzaalik

dari orang-orang yang memulai kezaliman itu

وَبَنی عَلَيْهِ بُنْيانَهُ

wa bana ‘alaihi bunyaanah

menyusun siasat untuk menzalimi kalian

وَجَری في ظُلْمِهِ وَجَوْرِهِ عَلَيْكُمْ

wa jaro fi dzulmihi wa jaurihi ‘alaikum

lalu menjalankan siasat itu terhadap kalian

وَعلی اَشْياعِكُمْ

wa ‘ala asyaa’ikum

dan pengikut-pengikut kalian

بَرِئْتُ اِلَی اللَّهِ وَاِلَيْكُمْ مِنْهُمْ

bari’tu ilalloohi wa ilaikum minhum

Aku berpaling kepada Allah dan kalian dari diri mereka

وَاَتَقَرَّبُ اِلَی اللَّهِ ثُمَّ اِلَيْكُمْ

wa ataqorrobu ilalloohi tsumma ilaikum

Dan aku mendekatkan diri kepada Allah, kemudian kepada kalian

بِمُوالاتِكُمْ وَمُوالاةِ وَلِيِّكُمْ

bimuwaalaatikum wa muwaalaati waliyyikum

dengan cara menjunjung junjungan kalian

وَبِالْبَرائَةِ مِنْ اَعْداَئِكُمْ

wa bil baroo’ati min a’daa’ikum

juga dengan cara berpaling dari musuh-musuh kalian

وَالنّاصِبينَ لَكُمُ الْحَرْبَ

wannaashibiina lakumul harb

dan orang-orang yang telah menabuh genderang perang melawan kalian

وَبِالْبَرائَةِ مِنْ اَشْياعِهِمْ وَاَتْباعِهِمْ

wa bil baroo’ati min asyaa’ihim wa atbaa’ihim

juga berpaling dari seluruh pengikut mereka

اِنّي سِلْمٌ لِمَنْ سالَمَكُمْ

inni silmun liman saalamakum

Aku damai dengan orang yang berdamai denganmu

وَحَرْبٌ لِمَنْ حارَبَكُمْ

wa harbun liman haarobakum

memerangi orang yang memerangi kalian

وَوَلِيُّ لِمَنْ والاکُمْ

wa waliyyun liman waalaakum

menyertai orang yang menjadikan kalian sebagai walinya

وَعَدُوُّ لِمَنْ عاداکُمْ

wa ‘aduwwun liman ‘aadaakum

dan memusuhi orang yang memusuhi kalian

فَاَسْئَلُ اللَّهَ الَّذي اَکْرَمَني بِمَعْرِفَتِكُمْ

fa as’alukalloohal ladzii akromanii bima’rifatikum

Maka aku memohon kepada Allah yang telah memuliakanku dengan cara mengenal kalian

وَمَعْرِفَةِ اَوْلِياَئِكُمْ

wa ma’rifati awliyaa’ikum

dan mengenal sahabat-sahabat kalian

وَرَزَقَنِي الْبَرائَةَ مِنْ اَعْداَئِكُمْ

wa rozaqoniyal baroo’ata min a’daa’ikum

dan mengkaruniai aku keberpalingan dari musuh-musuh kalian

اَنْ يَجْعَلَني مَعَكُمْ فِي الدُّنْيا وَالآخِرَةِ

ayyaj’alanii ma’akum fiddunyaa wal aalkhiroh

agar menjadikanku selalu bersama kalian di dunia dan di akhirat

وَاَنْ يُثَبِّتَ لي عِنْدَکمْ قَدَمَ صِدْقٍ فِي الدُّنْيا وَالآخِرَةِ

wa ay yutsabbita lii ‘indakum qodama shidqin fid dunyaa wal aakhiroh

agar mengkokohkan langkahku bersama kalian di dunia dan di akhirat dengan langkah yang tulus

وَاَسْئَلُهُ اَنْ يُبَلِّغَنِي الْمَقامَ الْمَحْمُودَ لَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ

wa as’aluhu ay yuballighoniyal maqoomal mahmuuda lakum ‘indallooh

Aku memohon-Nya agar menyampaikanku di kedudukan yang terpuji bagi kalian di sisi Allah

وَ اَنْ يَرْزُقَني طَلَبَ ثاري مَعَ اِمامٍ هُديً

wa ay yarzuqoni tholaba tsaarii ma’a imaamin huda

dan mengkaruniaku penuntutan atas darah kalian yang tertumpah bersama sang imam hidayah

ظاهِرٍ ناطِقٍ [بِالْحَقِّ] مِنْكُمْ

dhoohirin naatiqin bil haqqi minkum

dari keturunan kalian yang hadir dan seraya menyerukan kebenaran

وَاَسْئَلُ اللَّهَ بِحَقِّكُمْ وَبِالشَّاْنِ الَّذي لَكُمْ عِنْدَهُ

wa as’alullooha bihaqqikum wa bis sya’nil ladzi lakum ‘indah

Aku memohon Allah demi hak kalian dan kemuliaan yang kalian miliki

اَنْ يُعْطِيَني بِمُصابي بِكُمْ اَفْضَلَ ما يُعْطي مُصاباً بِمُصيبَتِهِ مُصيبَةً ما اَعْظَمَها

ay yu’thiyani bi mushoobii bikum afdhola maa yu’thii mushoobam bimushiibatihi mushiibatam maa a’dhomahaa

agar memberikan aku pahala sebesar-besarnya atas musibah yang telah menimpa kalian, musibah yang begitu dahsyat

وَاَعْظَمَ رَزِيَّتَها فِي الاِْسْلامِ

wa a’dhoma roziyyataha fil islaam

dan sangat berat dalam Islam

وَفي جَميعِ السَّمواتِ وَالاَْرْضِ

wa fii jamii’is samaawaati wal ardh

dan juga bagi penduduk langit serta bumi

اَللّهُمَّ اجْعَلْني في مَقامي هذا

alloohummaj’alni fii maqoomii haadzaa

Ya Allah, jadikanlah aku di kedudukanku ini

مِمَّنْ تَنالُهُ مِنْكَ صَلَواتٌ وَرَحْمَةٌ وَمَغْفِرَةٌ

mimman tanaaluhu minka sholawaatuw warohmatuw wamaghfiroh

termasuk orang-orang yang diliputi shalawat, rahmat dan ampunan dari-Mu

اَللّهُمَّ اجْعَلْ مَحْيايَ مَحْيی مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Allohummaj’al mahyaaya mahyaa muhammadin wa aali muhammad

Ya Allah, jadikanlah hidupku bagai hidup Muhammad dan keluarga Muhammad

وَمَماتي مَماتَ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

wa mamaati mamaata muhammadin wa aali muhammad

dan kematianku bagai kematian Muhammad dan keluarganya

اَللّهُمَّ اِنَّ هذا يَوْمٌ تَبرَّکَتْ بِهِ بَنُو اُمَيَّةَ

allohumma inna haadzaa yaumun tabarrokat bihi banuu umayyah

Ya Allah, hari ini adalah hari di mana Bani Umayah sedang berpesta

وَابْنُ آکِلَةِ الَْآکبادِ

wabnu aakilatil akbaad

dan juga anak-anak “pemakan jantung”

اللَّعينُ ابْنُ اللَّعينِ

al la’iinubnul la’iin

yang terlaknat putra terlaknat

عَلی لِسانِكَ وَلِسانِ نَبِيِّكَ صَلَّی اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ

‘alaa lisaanika wa lisaani nabiyyika shollalloohu ‘alaihi wa aalih

oleh lidah-Mu dan lidah nabi-Mu saw

في کُلِّ مَوْطِنٍ وَمَوْقِفٍ وَقَفَ فيهِ نَبِيُّكَ صَلَّی اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ

fi kulli mauthinin wa mauqifin waqofa fiihi nabiyyuka shollalloohu ‘alaihi wa aalih

di setiap tempat yang pernah ditempati dan keadaan yang pernah dialami nabi-Mu saw

اَللّهُمَّ الْعَنْ اَبا سُفْيانَ

allohummal’an abaa sufyaan

Ya Allah, laknatlah Abu Sufyan

وَمُعاوِيَةَ وَ يَزيدَ بْنَ مُعاوِيَةَ

wa mu’aawiyata wa yaziidabna mu’aawiyah

dan Muawiyah, serta Yazid putra Muawiyah

عَلَيْهِمْ مِنْكَ اللَّعْنَةُ اَبَدَ الاْبِدينَ

‘alaihim minkal la’natu abadal aabidiin

Semoga laknat-Mu selalu untuk mereka selama-lamanya

وَهذا يَوْمٌ فَرِحَتْ بِهِ آلُ زِيادٍ وَآلُ مَرْوانَ

wa haadza yaumun farihat bihi aalu ziyaad wa aalu marwaan

Dan ini adalah hari kebahagiaan Keluarga Ziyad dan Keluarga Marwan

بِقَتْلِهِمُ الْحُسَيْنَ صَلَواتُ اللَّهِ عَلَيْهِ

biqotlihimul husain sholawaatulloohi ‘alaih

atas terbunuhnya Husain as di tangan mereka

اَللّهُمَّ فَضاعِفْ عَلَيْهِمُ اللَّعْنَ مِنْكَ وَالْعَذابَ الاَْليمَ

allohumma fadhoo’if ‘alaihimul la’na minka wal ‘adzaabal aliim

Ya Allah, maka tambahkanlah laknat dan adzab pedih bagi mereka semua

اَللّهُمَّ اِنّي اَتَقَرَّبُ اِلَيْكَ في هذَاالْيَوْمِ وَفي مَوْقِفي هذا

alloohumma inni ataqorrobu ilaika fii hadzal yaum wa fii mauqifii haadzaa

Ya Allah, sungguh aku mendekatkan diri pada-Mu di hari ini, dan di tempatku ini,

وَاَيّامِ حَياتي

wa ayyaami hayaatii

dan di setiap hariku,

بِالْبَراَئَهِ مِنْهُمْ وَاللَّعْنَةِ عَلَيْهِمْ

bil baroo’ati minhum wal la’nati ‘alaihim

dengan berpaling dari mereka dan melaknat mereka semua

وَبِالْمُوالاتِ لِنَبِيِّكَ وَآلِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمُ اَلسَّلامُ

wa bil muwaalaati linabiyyika wa aali nabiyyika ‘alaihi wa ‘alaihimus salaam

dan dengan menjunjung nabi-Mu beserta keluarganya saw

Lalu ucapkan 100 kali:

اَللّهُمَّ الْعَنْ اَوَّلَ ظالِمٍ ظَلَمَ حَقَّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَآخِرَ تابِعٍ لَهُ عَلی ذلِكَ

allohummal’an awwala dzoolimin dzolama haqqo muhammadin wa aali muhammad wa aakhiro taabi’in ‘ala dzaalik

Ya Allah, laknatlah dari orang pertama kali menzalimi Muhammad dan haknya, hingga orang terakhir yang mengikutinya dalam hal ini

اَللّهُمَّ الْعَنِ الْعِصابَةَ الَّتي جاهَدَتِ الْحُسَيْنَ

alloohummal’anil ‘ishoobatal latii jaahadatil husain

Ya Allah, laknatlah kelompok yang telah memerangi Al Husain

وَشايَعَتْ وَبايَعَتْ وَتابَعَتْ عَلي قَتْلِهِ

wa syaaya’at wa baaya’at wa taaba’at ‘ala qotlih

dan berjanji serta mengikuti mereka dalam memeranginya.

اَللّهُمَّ الْعَنْهُمْ جَميعاً

allohummal’an hum jamii’a

Ya Allah, laknatlah mereka semua.

Lalu ucapkanlah 100 kali pula:

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا اَبا عَبْدِ اللَّهِ

assalaamu ‘alaika yaa abaa abdillaah

assalaamu ‘alaika yaa abaa ‘abdillaah

Salam bagimu wahai Abu Abdillah

وَعَلَی الاَرْواحِ الَّتي حَلَّتْ بِفِناَئِكَ

wa ‘alal arwaahil latii hallat bifinaa’ik

dan bagi arwah yang ada di sekitarmu

عَلَيْكَ مِنّي سَلامُ اللَّهِ اَبَداً

‘alaika minnii salaamullaahi abada

bagimu salam Allah dariku selamanya

ما بَقيتُ وَبَقِيَ اللَّيْلُ وَالنَّهارُ

maa baqiitu wa baqiyal lailu wan nahaar

selama siang dan malam tetap silih berganti

وَلا جَعَلَهُ اللَّهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنّي لِزِيارَتِكُمْ

wa laa ja’alal loohu aakhirol ‘ahdi minnii liziyaaratikum

dan semoga Allah tidak menjadikan ini kesempatan terakhir berziarah kepada kalian

اَلسَّلامُ عَلَی الْحُسَيْنِ

assalaamu ‘alal husain

Salam bagi Husain

وَعَلی عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ

wa ‘ala ‘aliyyibnil husain

dan Ali bin Husain

وَعَلی اَوْلادِ الْحُسَيْنِ

wa ‘ala awlaadil husain

dan anak-anak Husain

وَعَلی اَصْحابِ الْحُسَيْنِ

wa ‘ala ashhaabil husain

dan sahabat-sahabat Husain

Lalu ucapkanlah:

اَللّهُمَّ خُصَّ اَنْتَ اَوَّلَ ظالِمٍ بِاللَّعْنِ مِنّي

allohumma khussho anta awwala dzoolimin billa’ni minni

Ya Allah, kumohon laknatlah secara khusus orang pertama yang zalim

وَابْدَاءْ بِهِ اَوَّلاً ثُمَّ الثّانِيَ وَالثّالِثَ وَالرّابِعَ

wabda’ bihi awwalan tsummat tsaani wat tsaalits war roobi’

mulailah darinya, lalu yang kedua, dan ketiga, juga keempat

اَللّهُمَّ الْعَنْ يَزيدَ خامِساً

alloohummal ‘an yaziida khoomisa

dan laknatlah Yazid sebagai yang kelima

وَالْعَنْ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ زِيادٍ

wal’an ‘ubaidalloohibna ziyaad

dan laknatlah Ubaidillah bin Ziyad

وَابْنَ مَرْجانَةَ وَعُمَرَ بْنَ سَعْدٍ

wabna marjaanah wa ‘umarobna sa’d

Ibnu Marjanah, dan Umar bin Sa’ad

وَشِمْراً وَآلَ اَبي سُفْيانَ

wa syimro wa aala abii sufyaan

Syimir dan keluarga Abu Sufyan

وَآلَ زِيادٍ وَآلَ مَرْوانَ اِلي يَوْمِ الْقِيامَةِ

wa aala ziyaad wa aala marwaan ilaa yaumil qiyaammah

dan keluarga Ziyad dan keluarga Marwan, hingga hari kiamat

Lalu bersujud dan ucapkan:

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَمْدَ الشّاکرينَ لَكَ

alloohumma lakal hamdu hamdas syaakiriina lak

Ya Allah, segala puji bagi-Mu, pujian layaknya orang-orang yang bersyukur

عَلی مُصابِهِمْ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلی عَظيمِ رَزِيَّتي

‘ala mushoobihim alhamdu lillaaahi ‘ala ‘adzimi roziyyatii

atas musibah yang telah menimpa mereka. Segala puji bagi-Mu atas beratnya kesedihanku ini

اَللّهُمَّ ارْزُقْني شَفاعَةَ الْحُسَيْنِ يَوْمَ الْوُرُودِ

allohummar zuqnii syafaa’atal husain yaumal wuruud

Ya Allah beri aku syafaat Husain di hari kiamat

وَثَبِّتْ لي قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَكَ مَعَ الْحُسَيْنِ

wa tsabbit lii qodama shidqin ‘indaka ma’al husain

Kokohkan aku dengan langkah yang tulus bersama-Mu dan bersama Husain

وَاَصْحابِ الْحُسَيْنِ

wa ashhaabil husain

dan sahabat-sahabat Husain

الَّذينَ بَذَلُوا مُهَجَهُمْ دُونَ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلامُ

alladzii badzaluu muhajahum duunal husain ‘alaihis salaam

yang telah mengorbankan jiwa dan raga untuk beliau.